[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 26


__ADS_3

Happy Reading~


Hembusan udara malam membuat kota itu semakin dingin. Beberapa kendaraan di jalanan itu terlihat sepi karena aktivitas manusia yang biasanya membuat jalanan padat kini mereka beristirahat di udara dingin seperti saat ini. Lusia memilih beberapa pakaian di lemarinya. Ia mencari-cari sebuah pakaian yang seharusnya tidak digunakan malam itu.


"Ah, ketemu!" Lontar nya sembari mengeluarkan pakaian tersebut dari lemarinya. Dia mencoba memakai pakaian itu dan memastikannya melalui cermin, karena pakaian yang ia coba sudah semestinya cocok, ia hanya tinggal menata gaya rambut dan bermake-up.


Setelah selesai dengan semuanya, Lusia pun mencari alamat di undangan tersebut dengan menggunakannya google map. Ia mengendarai mobil itu tanpa di dampingi oleh Vien. Karena dia tidak mau jika ada yang mengetahui keberadaannya nanti.


Cukup lama ia menghabiskan waktu menuju tempat tersebut. Begitu tiba, Lusia merasa kaget karena ternyata acara tersebut di adakan di sebuah tempat karaoke. Dia sendiri tidak tau kenapa ada acara perusahaan yang di adakan di tempat seperti ini. Dengan perasaan ragu, dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung karaoke.


"𝘒𝘢𝘺𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴!" Batinnya. Sudah cukup lama Lusia berkeliling di tempat itu, namun ia masih belum menemukan Calvin. Apalagi tempat ruangan karaoke yang dibooking oleh Calvin tidak tercantum dalam undangan. Untuk mempersingkat waktu, Lusia pun mencoba untuk menghubungi Calvin.


Drrrttt..... Drttt..... Setelah mengetahui seseorang meneleponnya, Calvin pun mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Lusia.


"Halo? Apa kamu udah sampe?" Tanya Calvin sekaligus membuka pembicaraan.


"Aku udah keliling di tempat ini. Tapi aku ngga tau dimana ruangan kamu" Cakap nya sambil melihat lihat sekitar barangkali ia menemukan Calvin.


"Oh ya, aku lupa ngga kasih tau kamu. Aku ada di ruangan 19"


Lusia pun segera mengakhiri panggilan tersebut dan mencoba untuk menemukan ruangan 19. Selang beberapa waktu Lusia akhirnya mampu menemukan ruangan tersebut. Perlahan ia mendekati ruangan itu dan membuka pintu ruangan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat banyak orang yang sedang berpesta dengan bernyanyi nyanyi cempreng. Mereka juga tidak luput dari segelas wine yang telah disediakan. Lusia melangkah mundur, dia tidak berani masuk ke sana karena pernah mengalami hal buruk sebelumnya.


Flashback on....


"Lus, nanti ada acara pesta. Aku yang adain, kamu mau ikut?" Ajak Nara sekaligus bertanya pada Lusia yang sedang terdiam di bangkunya. Nara yang sebelumnya tidak pernah berbuat baik pada Lusia tiba tiba saja mengajaknya untuk ke pesta. Rasa curiga terus terlintas di benaknya. Tidak mungkin juga sosok Nara yang selalu kejam padanya tiba tiba saja ingin berbuat baik.


"Udah...kamu ikut aja deh!" Timpal Catarin yang juga berada di sana.


"Ngga usah khawatir, kalo kamu mau ikut....kita janji ngga bakal bully kamu lagi" Kata Ray meyakinkan Lusia.


Karena kata kata Ray yang membuat Lusia semakin yakin kalau mereka tidak sedang menipunya, ia pun akhirnya ikut dengan mereka. Saat malam itu juga Lusia dijemput oleh Nara dan 2 sejoli nya ke rumah. Mereka sengaja menjemput Lusia karena mereka yakin Lusia tidak akan bisa datang tepat waktu jika berjalan kaki menuju tempat pesta.


Tak lama setelah itu, mereka berempat pun tiba di sebuah gedung karaoke. Di sana ramai orang orang yang sedang berpesta serta meminum wine. Dengan perasaan tidak enak, Lusia terpaksa masuk ke dalam gedung karaoke tersebut bersama Nara dan yang lain. Begitu mereka memasuki ruangan yang sudah di booking oleh Nara, Nara sendiri langsung mengunci pintu masuk ruangan itu yang sontak membuat Lusia panik.

__ADS_1


"Kenapa di kunci?" Tanya Lusia merasa kalau ada yang tidak beres. Namun mereka hanya menanggapinya dengan tersenyum ke arah Lusia. Wajah Lusia memucat, tangannya gemetaran dan keringat dingin terus keluar.


"Ngga papa dong kalo di kunci, apa salahnya?" Cetus Nara sambil mendekati Lusia. Ia memberikan segelas wine padanya.


"Wine?" Lusia ragu. Ia yakin kalau Nara sedang menjebaknya.


"Iya, kamu minum wine itu!" Geram Catarin. Lusia menolak, dia lebih memilih untuk melempar segelas wine itu ke lantai. Namun naas, serpihan gelas itu malah mengenai kaki Nara.


"Gila, ya?!!!" Nara kesal. Dia pun mendorong Lusia ke lantai dengan keras.


"Uh!"


"Udah udah, lagipula bukan ini misi kita" Lontar Ray dengan wajah cemberut. Nara pun mencoba untuk meredakan amarahnya dengan dibantu oleh Catarin.


"Ini, cepet minum" Nara kembali memberi segelas wine pada Lusia. Namun Lusia masih menolak hingga membuat Ray jadi tidak sabar.


"Biarin aja dia ngga mau minum wine itu. Intinya aku bisa bergairah" Sontak kata kata yang terlontar dari mulut Ray itu membuat Lusia jadi tidak dapat berkata apa apa. Sekarang ia tahu, alasan kenapa mereka membawanya ke tempat seperti ini adalah ingin menjebak Lusia dengan menggunakan Ray.


Diberangi dengan itu, Nara dan Catarin pun merekamnya dari kejauhan. Ray yang sudah tidak dibaluti dengan kain itu perlahan mendekati Lusia. Lusia panik, tubuhnya seakan membeku karena tidak dapat bergerak.


"Ja---jangan!" Teriaknya dengan raut wajah ketakutan. Namun Ray yang sudah tidak sabar itupun langsung meraih tubuh Lusia dan memulai aksinya. Dia membuka seluruh pakaian Lusia dan melemparnya jauh jauh, Lusia yang tidak bisa menahan tubuh Ray akhirnya terpaksa diam saja. Meskipun sudah beberapa kali mencoba untuk mendorong Ray, tetapi tenaganya itu tidak mampu untuk menyingkirkan Ray dari hadapannya.


"Kamu sendiri yang bikin aku jadi kaya gini" Ucap Ray dengan suara lirih.


"Kenapa aku?"


"Dua gunung kembar punya kamu itu terlalu besar, apalagi bibir kamu juga menggoda banget! Di tambah sama setiap lekukan di tubuh kamu itu bener bener sempurna"


Lusia hanya bisa merintih dalam hatinya. Sebenarnya ia juga sudah menangis namun sengaja tidak mengeluarkan air mata. Sudah cukup lama mereka melakukan adegan yang benar benar membuat Ray merasa puas. Sedangkan Lusia masih terbaring lemas di sofa lebar itu. Tubuhnya yang tanpa dibaluti dengan kain itu benar benar membuat malu harga dirinya.


Setelah selesai, Nara serta Catarin pun menyelesaikan rekamannya. Kemudian Ray langsung memakai pakaiannya dan segera keluar dari ruangan itu bersama Nara dan Catarin.


"Hhhhh....., apa aku itu wanita murahan?" Ucap Lusia dengan di iringi tawa kecil. Kini hanya tersisa Lusia saja yang berada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Kenapa aku hidup gini??!!! Apa ngga boleh sekali aja aku itu hidup bebas dan bahagia?!!!!" Teriaknya sambil terus mengeluarkan air mata dari kedua bola matanya. Setelah cukup lama menenangkan diri, Lusia pun mengambil pakaiannya yang sudah berserakan di lantai. Ia memakai kembali pakaian tersebut dan langsung berlari keluar dari ruangan itu.


Bruk!! Ia tak sengaja menabrak seorang pria ketika hendak keluar dari gedung karaoke. Ternyata pria itu adalah Ethan yang sedang berdua dengan Lili, teman yang juga satu kelas dengannya. Perasaan positif dan negatif terus terlintas di benak nya.


"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯?" Batin Lusia sambil bertanya tanya.


"Kamu kenapa ada di sini? Terus...apa kamu habis nangis? Kamu ngga kenapa napa, kan?" Pertanyaan dari Ethan justru membuat Lusia menjadi semakin sedih. Ethan yang melihat kedua mata Lusia bengkak lantas mengetahui kalau Lusia habis menangis.


"Ngga usah perduliin aku!" Lusia pun pergi meninggalkan tempat itu. Ethan yang masih berada di sana lantas berusaha mengejar Lusia dan lebih memilih untuk meninggalkan Lili sendirian.


Grep! Ethan meraih lengan Lusia. Ia kemudian memeluk erat tubuh Lusia. Air mata kembali keluar dari kedua bola mata miliknya. Perasaan sedih bercampur dengan kesal membuatnya tidak ingin lepas dari pelukan Ethan.


"Hu.... Huhu..... "


"Jangan nangis.... kamu baik baik aja kok" Ucap Ethan sambil mengelus kepala Lusia. Ia mencoba untuk menenangkannya.


"Apa salah aku? Kenapa aku hidup gini?" Katanya dengan rintihan tangis.


"Kamu ngga punya salah. Kamu ngga salah, Lusia. Justru aku yang salah karena ngga bisa jagain kamu"


"Ethan....... Hiks.... Hiks.... "


"Kamu mau ceritain apa yang terjadi?" Tanya Ethan yang masih setia memeluk erat tubuh Lusia. Lusia pun mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Ray, dia udah.... Hiks....." Ucapnya terjeda. Meskipun Lusia belum melanjutkan ucapannya, namun Ethan sudah mengerti apa maksud dari Lusia.


"Huh...." Hembus Ethan.


"𝘗𝘢𝘯𝘵𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘦𝘵 𝘭𝘪𝘢𝘵 𝘙𝘢𝘺 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘦𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘰𝘬𝘦. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘙𝘢𝘺 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘦 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘓𝘶𝘴𝘪𝘢" Batin Ethan dengan perasaan bersalah.


Flasback off....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2