[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 21


__ADS_3

Happy Reading~


Baru beberapa langkah Lusia meninggalkan ruangan itu, Ray juga ikut menyusul pergi dengan alasan ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar.


Setibanya di toilet, Lusia merasa was was karena Ray. Wajahnya itu terus saja terlintas di pikirannya sampai membuatnya tidak bisa fokus makan malam. Lusia segera mengambil ponselnya di saku rok dan mencoba untuk menelepon Leon. Krietttt___ belum sempat ia menelepon Leon, seseorang tiba tiba memasuki ruangan toilet tersebut. Dan ternyata orang itu adalah Ray.


"Lusia" Sapa Ray dengan senyuman kejam yang tampak di bibirnya itu. Lusia ketakutan dan tidak dapat berbuat apa apa. Di tambah lagi Ray yang terus mendekat Lusia dengan langkah kaki perlahan itu membuatnya semakin terpojok.


"Ma---maaf, aku minta maaf udah dateng ke sini. Plis.... jangan sakiti aku," Rintih Lusia dengan tatapan ke lantai, matanya tidak berani menatap sosok lelaki yang pernah membully nya habis habisan di sekolah.


"Apa aku harus turuti omongan kamu?"


"A---aku mohon, aku emang salah udah ikut makan malam di rumah kamu. Ta---tapi, buat kali ini aja, jangan sakiti aku" Ucap Lusia terus memohon pada Ray. Karena toilet yang terletak di lantai atas itu membuat Ray jadi semakin bebas untuk menyakiti Lusia.


Brak!!!! Ray mendorong tubuh Lusia dan mengenai cermin di toilet tersebut. Alhasil cermin itu pecah dan melukai bagian kepala Lusia. Ray yang sudah mendorong Lusia itu tidak merasa bersalah. Justru dia mengambil sebuah kain pel dengan tongkat panjang yang tidak terpakai untuk memukuli nya.


Buakkk!!!!! Buakk!!!!


"Aaa!!!!! Sa... sakit....." Lusia terus merintih kesakitan namun tak ada seorang pun yang mendengar rintihannya itu. Dia mencoba untuk keluar dari ruangan toilet tersebut, namun usahanya untuk bisa keluar dari sana sia sia saja.


"Aku heran kenapa kamu bisa nikah sama CEO itu. Kamu pelet dia?" Sindir Ray dengan tangannya yang memegang dagu Lusia. Tetapi sedekat apapun wajah mereka, Lusia tetap tidak menatap mata Ray dan hanya bisa memejamkan kedua bola matanya.


"Ngga...."


"Cerai! Cerai in dia!!!!" Teriak Ray sambil menarik rambut Lusia dengan sekuat tenaga nya.


"Ra---ray.... a--aku, aku min-ta tolong sa-ma ka--kamu, lepa--sin...." Dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini. Nafasnya sudah tidak beraturan jika berbicara. Namun Ray masih tetap menarik rambut Lusia dengan tenanganya itu.

__ADS_1


Sretttttt__________ Ray mengambil pisau yang tergeletak di bawah cermin dan melukai kaki putih Lusia dengan pisau itu. Meskipun rasa sakit ini sudah tidak tertolong, namun Lusia berusaha agar tetap kuat menahannya. Secepat mungkin dia memukul bagian kepala Ray menggunakan tangannya dan mengambil ponsel miliknya yang sempat terjatuh.


"Punya nyali juga ternyata," Dengus Ray dengan tatapan kesal pada Lusia.


"Aku harus cepet telfon Leon buat segera ke sini!" Batinnya sambil terfokus dengan telepon itu tanpa memperhatikan Ray.


"Kamu mau coba buat kabur?" Tanya Ray sambil memperlihatkan kunci yang ia pegang. Tanpa Lusia sadari ternyata Ray sudah mengunci pintu kamar mandi saat ia masuk ke dalam ruangan kamar mandi ini. Kini masalah utamanya adalah kunci yang dipegang oleh Ray.


"Tolong!!!!!!!" Teriak Lusia. Ia mengeluarkan semua tenaganya agar bisa menghasilkan suara yang keras. Harapannya adalah seseorang bisa mendengar suara teriakannya. Tidak ada sedikitpun rasa takut yang terlihat di wajah Ray. Justru Ray tiba tiba mendekat ke arah pintu dan membukakan pintu kamar mandi itu. Lusia yang melihatnya hanya ternganga heran dengan sikap Ray yang tiba tiba berubah.


"Ngga mau keluar?" Papar Ray sambil beranjak keluar meninggalkan ruangan kamar mandi itu. serta Lusia. Lusia pun segera ikut keluar sebelum Ray mulai menyakitinya lagi.


"Ngga mungkin juga kalo aku balik lagi ke ruang makan dengan penampilan yang udah berantakan" Batin Lusia sambil melihat penampilannya yang kini sudah berantakan.


"Aku harus telfon Leon dan suruh dia buat ke sini" Lanjut batinnya. Ia pun menelepon Leon dan tak lama setelahnya Leon mengangkat panggilan dari Lusia.


"Halo Nyonya, ada apa?" Tanya Leon sekaligus membuka pembicaraan.


"Bantu?"


"Iya,"


"Baik Nyonya, saya akan langsung ke lantai atas"


Lusia pun mengakhiri panggilannya. Selang beberapa waktu Leon akhirnya tiba di lantai atas dan mendapati Lusia yang tengah terduduk kesakitan. Segera mungkin Leon berlari menghampiri Lusia.


"Nyonya kenapa begini?" Tanya Leon benar benar merasa khawatir dengan keadaan Lusia saat ini. Lusia tersenyum, namun tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Karena tidak tega melihat sang Nyonya seperti ini, Leon akhirnya membawa Lusia menuju ke mobil terlebih dahulu sebelum kembali ke acara makan malam yang terletak di ruang makan rumah itu.

__ADS_1


"Nyonya tunggu di sini, saya akan panggilkan Tuan" Ucap Leon ketika sudah membawa Lusia ke dalam mobil. Lusia hanya mengangguk sebagai tanda jawaban. Tak lama setelahnya Leon pun tiba di ruang makan dan menghampiri Bill yang masih sibuk dengan makanan di meja.


"Tuan, Nyonya dalam keadaan tidak baik. Dia sudah saya bawa ke mobil," Ucap Leon dengan suara pelan membisiki Bill yang tengah ditatap oleh Somi dan istrinya.


"Oke," Balasnya dengan suara yang juga pelan.


"Ada apa?" Tanya Somi merasa heran dengan tingkah laku Bill serta Loen.


"Saya ada sedikit masalah. Kami izin kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan masalahnya. Terima kasih telah mengundang kami" Bohongnya. Kemudian Bill dan Leon pun langsung bergegas pergi menuju mobil. Sedangkan Somi dan Jime masih terus menatap Bill penuh rasa curiga.


"Bukannya istri dia belum balik dari toilet sejak tadi?" Tanya Somi pada istrinya.


"Iya ya, Ray juga ngga balik balik ke sini. Padahal tadi dia bilang mau ambil ponselnya yang ketinggalan di kamar"


"Bener juga"


Bill sontak merasa terkejut ketika melihat Lusia sudah dalam keadaan tidak baik baik saja saat ini. Pertanyaan terus muncul di benaknya alasan kenapa Lusia jadi seperti ini. Bill segera memberi perintah agar Leon mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.


Tidak menggunakan waktu lama mereka pun tiba di sebuah rumah sakit ternama di kota ini. Mereka segera membawa Lusia menuju ruangan pasien dan tak lama setelahnya doker pun masuk ke dalam ruangan pasien tersebut. Sedangkan Bill dan Leon diminta untuk keluar dan menunggu pasien di ruang tunggu khusus.


"Tuan tuan boleh keluar terlebih dahulu.... pasti Nyonya tidak apa apa karena hanya mengalami sedikit luka" Ucap dokter itu menenangkan keduanya meskipun Bill sebenarnya merasa tenang tenang saja.


"Apa aku keliatan khawatir?" Tanya Bill pada sekretaris nya itu sambil tertawa lepas.


"Apa apaan dia? Kenapa tiba tiba gini?" Batin Leon sambil merasa heran dengan sikap bos nya.


"Ngga, Tuan keliatan baik baik aja" Balas Leon berbohong.

__ADS_1


"Ckck! Dokter itu bodoh banget" Celetuknya masih dengan diiringi tawa.


Bersambung.....


__ADS_2