[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 28


__ADS_3

Happy Reading~


Suasana kediaman Amedeo berubah mencekam. Tidak ada diantara pasangan itu yang kini berbicara lagi. Bill segera memikirkan cara agar mereka tidak mengungkit soal cucu dan cucu. Tapi bagaimana dengan Lusia? Bill khawatir Lusia akan membongkar semua kebohongan mereka. Meskipun sebenarnya Lusia juga merasa terpojok karena masalah ini.


"Kenapa diem?" Tanya Alice yang sudah mulai curiga dengan keduanya. Pandangannya mengarah pada pasangan itu.


"Kalian baik baik aja, kan?" Lanjut Alice. Ia mulai merasa khawatir karena keduanya tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Lusia mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, dia menatap Alice sambil tersenyum.


"Ibu, kita baik baik aja kok. Mungkin karena belum saatnya, kita masih dalam proses," Bohong Lusia. Alice tersenyum. Dia merasa lega setelah mendengar jawaban dari sang menantu. Alice kira mereka memang tidak bisa memiliki anak, namun setelah Lusia berkata demikian, ia menjadi yakin dan yakin kalau mungkin saja ini belum saatnya.


"Hmmm..... Ya udah, mungkin emang kalian lagi dalam proses. Semoga kalian bisa cepet kasih kita cucu ya" Seloroh Jasper setelah mendengar penjelasan dari Lusia. Bill menatap Lusia, dia melihat raut wajah Lusia yang seperti orang baik baik saja. Dalam hati Bill berkata, "Sialan, kenapa dia ngga keliatan panik? Apa dia udah berharap aku bakalan jadi suami yang sebenernya setelah ini? Jangan mimpi!"


"Karena udah terlalu larut, Ayah sama Ibu pamit dulu ya! Padahal kita udah tungguin kalian di rumah ini hampir 2 jam, hehe... Tapi ngga masalah" Papar Alice sembari mengangkat tas kecilnyanya dan beranjak dari sofa dengan diikuti oleh Jasper.


"Maaf, kita ngga tau kalian dateng ke sini. Jadi kita sengaja pulang larut dari restoran" Cetus Lusia merasa tidak enak karena telah membuat mertuanya menunggu kedatangan mereka yang sudah hampir 2 jam lamanya.


"Dadah, hasilkan yang terbaik, ya!" Mereka berdua pun langsung menuju mobil untuk kembali pulang. Setelah kepulangan orang tua dari Bill, suasana di rumah itu menjadi hening. Lusia yang melihat Bill hanya terdiam dari tadi pun mendekatinya.


"Ngga usah berharap" Lontar Bill tiba tiba. Sontak Lusia dibuat keheranan dengan ucapannya.


"Lagipula apa yang bisa aku harapin dari kamu?" Papar Lusia. Dia mencoba untuk berani menjawab agar tidak dikira rendahan meskipun Bill ada suaminya yang selama ini tidak pernah menganggap Lusia sebagai istrinya.


"Kamu jangan berharap punya anak dari aku. Itu maksudnya" Bill tersenyum sambil mengucapkan kata kata ini. Ia menghelai rambutnya dan menatap Lusia tajam tajam.

__ADS_1


"Kalo kamu mau punya anak, kamu bisa sewa pria lain di luar sana yang mau bergairah sama kamu! Mana mungkin mereka nolak pesona kamu?"


Bukannya menangis, Lusia malah tersenyum tipis. Padahal matanya sudah berkaca kaca setelah kata kata itu terlontar dari mulut Bill. Sebenarnya dia sudah tidak tahan ingin mengeluarkan air mata ini setelah terbendung di kedua bola matanya, tapi semua itu tidak akan menyelesaikan masalah.


"Sejak awal juga aku ngga ada harapan buat punya anak dari kamu. Aku udah curiga, pernikahan kita ini emang ngga bener. Tapi aku juga ngga tau alasan kamu mau nikah sama aku, orang rendahan! Orang rendahan yang kamu pungut dari keluarga miskin dan ngga pantas buat hidup!"


"Tapi kalo kamu suruh aku buat punya anak dari pria lain di luar sana.... Maaf, aku bukan wanita rendahan kaya gitu yang mau di ajak berhubungan kapan aja" Lanjutnya dengan jari telunjuk yang disodorkan pada dada lapang milik Bill. Bill sendiri dibuat heran dengan perangainya, apalagi dengan ucapan Lusia barusan yang membuatnya terharu.


"It's okey ka--" Ucap Bill terjeda ketika Lusia menyela nya begitu saja.


"Daripada orang tua kamu beranggapan buruk tentang aku, mendingan kita cerai! Aku ngga mau mereka ngira kalo aku itu wanita yang ngga bisa hasilin anak!"


Plak!! Tangan Bill mendarat di pipi mulus Lusia. Lusia tersentak, hatinya bergetar dan tidak dapat berkata apa apa. Kedua bola matanya itu kini mengeluarkan air mata karena Lusia sudah tidak dapat menahannya lebih lama lagi.


"Lusia!!!!" Teriak Bill memanggil nama Lusia ketika Lusia sudah tidak tampak di ruangan itu. Dia hanya bisa menghela nafas kesal dan mengacak acak rambutnya yang sudah rapih.


"Agghhhh!!!!"


*******


Lusia menatap wajahnya di cermin. Pipinya terlihat memar karena Bill telah menampar nya. Dia tersenyum dan berkata pada dirinya di cermin itu, "Ayo Lusia, akhiri diri kamu... Kamu emang ngga berguna. Kamu adalah manusia yang sengsara sejak lahir"


Dia kemudian memecah kaca cerminnya dan mengambil serpihan kaca itu untuk di tusuk kan nya. Namun tiba tiba Bill memasuki ruangan kamar tersebut dengan raut wajah sinis. Lusia mengumpat kan serpihan kaca itu di tangannya dari Bill. Bill yang melihat kaca itu telah pecah lantas mengerti apa yang akan Lusia lakukan dengan serpihan itu.

__ADS_1


"Jangan aneh aneh, kamu cuman bisa repotin aku" Sembur Bill dengan langkah kaki yang perlahan mendekatinya.


"Pelayan!!!" Teriak Bill. Selang beberapa waktu salah seorang pelayan pun datang menghampiri Bill di dalam kamar tersebut.


"Bersihin serpihan kaca itu,," Perintah Bill yang kemudian langsung dikerjakan oleh sang pelayan.


Lusia segera beranjak meninggalkan ruangan kamar itu untuk menghindar dari Bill. Namun Bill langsung meraih tangannya yang hendak keluar dari kamar.


"Lusia!!!!" Bill kesal, mulutnya ingin sekali mengeluarkan kata kata kasar pada Lusia, namun tidak bisa ia lakukan.


"Apa?!!! Lepas!" Lusia melepas genggaman tangan Bill dan langsung meninggalkannya. Karena tidak ingin masalahnya semakin panjang, Bill memutuskan untuk beristirahat di kamarnya sendiri, lagipula tidak masalah karena ini juga sudah begitu larut dan sudah seharusnya untuk beristirahat.


*****


Pelayan lain yang sempat melihat salah seorang pelayan membersihkan serpihan kaca di ruangan kamar Lusia lantas ikut masuk ke dalam. Sebelum masuk, dia sempat melihat sekitar apakah ada Tuan atau Nyonya di sana. Tapi karena tidak ada, diapun nekat menerobos masuk ke dalam ruangan kamar tersebut.


"Kamu ngapain?" Tanya pelayan itu merasa heran dengan sesuatu yang sedang dikerjakan oleh temannya. Namanya adalah Lala, pelayan yang baru masuk sekitar 2 bulan yang lalu.


"Aku ngga paham betul, tapi kayanya Tuan sama Nyonya lagi berantem. Tadi Tuan suruh aku buat bersihin serpihan kaca ini" Jelasnya.


"Siapa yang udah pecahin cermin ini? Bukannya cermin ini mahal banget?" Tanyanya lagi karena belum puas dengan jawaban dari temannya.


"Udah ah, aku juga ngga tau. Daripada jadi wartawan, mendingan bantuin aku aja deh" Tukasnya merasa jengkel dengan pertanyaan Lala. Lala pun tersenyum kecil dan kemudian membantu membersihkan serpihan kaca tersebut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2