![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Drrrtttt.... ponsel Bill berdering. Ia segera mengambil ponselnya dari dalam saku. Setelah dilihat, ternyata Ibunya yang tengah menghubunginya.
"Sayang...." Sapa Alice, 'sayang' adalah sebutan yang biasa digunakan saat memanggil putra satu satunya itu.
"Kenapa?" Tanya Bill dengan suara dingin lantaran kesal karena Alice telah mengganggu acara makan malamnya bersama Lusia.
"Kamu udah liat berita terpanas hari ini belum?" Tanya Alice bersemangat.
"Apa jangan jangan... Ibu orangnya? Mungkin aja dia yang udah siarin soal berita kehamilan Lusia!!" Gumam Bill. Ia menyipitkan matanya sejenak.
"Itu Ibu yang siarin...." Lanjutnya dengan diiringi tawaan kecil. Sontak keduanya pun langsung terkejut setelah mendengar ucapan Alice.
"Tuh kan, bener. Sialan! Apa Lusia bakal marah?"
"Hmmm... iya iya. Aku tau," Cetus nya. Bill kemudian langsung mengakhiri panggilan tersebut. Ia menatap kedua bola mata Lusia yang ternyata juga tengah menatapnya.
"Kamu... marah?" Tanya Bill memastikan. Namun Lusia membalasnya dengan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis.
2 jam telah berlalu. Setelah selesai makan malam, keduanya pun bangkit dari kursi untuk menuju tempat pembayaran. Namun ditengah langkahnya menuju tempat pembayaran, Lusia tak sengaja menabrak seorang wanita yang ternyata adalah Maria, adik tirinya sendiri.
"Kamu?!!!!" Lusia terkejut, setelah melihat adiknya bersama dengan Jiang. Kenapa lagi lagi Jiang Jiang dan Jiang yang bersama Maria?!!! Dan mengapa bukan pria selain Jiang?
"Kakak? Kok kamu di sini?" Bukan hanya Lusia yang terkejut, tapi begitu juga dengan Maria yang sama sama terkejutnya setelah melihat saudranya sendiri.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu ada di sini?" Ia membulatkan keduanya bola matanya, menatap Maria penuh dengan rasa jengkel.
"Ka--kalian, kakak dan adik?" Jiang yang belum mengetahui status keduanya pun lantas bertanya karena penasaran.
"Bu--bukan! Di--dia..." Maria berusaha menyanggah setelah tadi tak sengaja memanggil Lusia dengan sebutan 'kakak'. Ia memang tak ingin publik mengetahui bahwa mereka adalah saudara tiri. Entah mengapa Maria merasa malu jika mengaku kalau ia adalah adik tiri dari Lusia.
"Iya. Kami kakak adik" Lusia menyela, dia tak ingin adiknya itu berbohong.
"Aiya... udahlah. Kita mau makan malam, jadi jangan ganggu" Kata Maria sembari menarik lengan Jiang. Ia membawanya menuju sebuah kursi yang berjarak jauh dari tempat mereka berdiri sebelumnya.
Lusia yang masih berdiri di tempat itu bersama Bill hanya bisa geleng kepala. Mereka pun kembali berjalan menuju tempat pembayaran. Setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil untuk segera kembali ke kediaman Amedeo.
__ADS_1
Sementara itu, Maria malah asyik duduk berhadapan dengan Jiang. Seperti biasa, ia selalu mengenakan pakaian mini layaknya anak kecil yang belum mengerti apa apa. Maria hanya mengenakan atasan tanktop serta rok yang begitu mini. Hal itu membuat banyak pria sejuk memandangnya.
"Kamu pesen apa? Biar aku yang bayar" Ujar Jiang dengan menunjukkan sebuah buku menu di tangannya.
"Ini aja deh... " Maria menunjuk sebuah ramyeon extra pedas yang bahkan tidak kuat jika hanya dimakan oleh satu orang. Yah.., minimal tiga atau empat orang.
"Kamu yakin?" Tanya Jiang memastikan bahwa Maria tidak sedang bercanda. Kemudian Maria tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sebagai tanda jawaban.
Selang beberapa waktu, makanan yang mereka pesan pun akhirnya di hidangkan. Mereka menikmati makanan masing masing. Soda adalah minuman pendamping makanan pedas yang paling tepat, itulah yang dipikirkan oleh Maria.
"Apa kamu tau?" Ucap Jiang di tengah tengah menikmati makanan. Maria menghentikan suapan nya, ia memandang Jiang penuh dengan harapan.
"Kamu cantik banget...." Lanjutnya. Maria pun jadi salah tingkah setelah mendengar kata kata yang baru saja terlontar dari mulut pria dihadapannya.
"Emangnya biasanya aku ngga cantik?" Kesal Maria. Jiang tertawa kecil, ia kemudian mengelus kepala wanita itu.
"Cantik, kok"
ZRASHHH!!!! Seseorang dengan segelas jus ditangannya tak sengaja menumpahkan jus itu ke pakaian Maria. Sontak Maria yang sedang asyik mengobrol pun langsung terkejut. Ia bangkit dari kursinya, dan menatap orang yang baru saja menumpahkan jus ke pakaiannya.
"Ngg... ngga papa kok" Ia tersenyum, lalu wanita itupun pergi dari hadapannya.
"Ah... sial" Ucapnya lirih sembari duduk kembali ke kursi.
"Ayo ikut, kalo gini kamu bisa masuk angin" Ajaknya. Ia langsung menarik lengan Maria tanpa persetujuan dari wanita itu. Jiang membawanya ke sebuah ruang ganti yang bersebelahan dengan toilet.
"Kamu..."
"Ngga papa, sini aku bantu bersihin" Jiang melepas rok mini yang tengah dipakai oleh Maria. Jantungnya berdetak kencang, dan wajahnya memerah semerah apel. Namun sebelum itu, Jiang terlebih dahulu mengunci pintunya rapat rapat agar tidak ada orang yang asal masuk ke dalam ruang ganti tersebut.
"Kalo rok nya basah, aku pake apa?" Tanya Maria merasa bingung lantaran rok nya akan dibersihkan. Tentu saja rok tersebut akan menjadi basah setelah dibersihkan dengan menggunakan air.
BRAK! Jiang mendorong tubuhnya ke lantai, dan posisi mereka sekarang ini adalah bertubrukan. Maria menyeringai, ia paham apa yang akan Jiang lakukan setelah ini.
"Warna rambut kamu bagus.... apa warna abu itu selera kamu?" Tanya Jiang. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang kini berada di bawah tubuh kekar nya.
"Iya, aku suka warna abu" Balasnya dengan suara yang begitu manja. Niatnya adalah ingin menggoda pria itu.
__ADS_1
Lantas Jiang pun dengan mudahnya tergoda. Perlahan ia membuka resleting celananya dan menunjukkan benda berharganya pada Maria. Apa kalian pikir itu adalah yang pertama kalinya? Tentu saja ini bukanlah yang pertama kalinya. Melainkan yang ketiga kalinya setelah kejadian yang tak disengaja di dalam kamar hotel waktu itu.
"Apa kalian saudara kandung?"
"Bukan... "
"Lalu?"
"Aku dan Lusia adalah saudara tiri. Aku benci, benci, benci banget sama dia!"
"Emmm.... hmmppp!!!"
"Apa kamu mahasiswi?" Imbuhnya bertanya lagi. Maria pun membalasnya dengan anggukan pelan.
"Apa ngga masalah kalo aku lakuin ini sama kamu?"
"Ngga papa. Lagipula aku juga menikmatinya"
☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎
"Bill, berhenti"
Ckitttt____ Bill menghentikan mobilnya, ia terkejut saat Lusia memintanya untuk menghentikan mobil. Bill mengira bahwa ada sesuatu yang ditabrak olehnya.
"Kenapa? Aku nabrak orang?" Tanya Bill dengan raut wajah panik kalang kabut.
"Aku khawatir...."
"Kenapa?" Tanyanya lagi. Ia mendekatkan wajahnya pada Lusia. Yah, wajahnya terlihat begitu serius.
"Maria... dia baik baik aja, kan?" Lusia menatap kedua bola mata Bill. Ia sempat ingin tertawa saat melihat raut wajah Bill yang menurutnya begitu lucu.
"Yah, baik baik aja lah. Emang dia anak kecil? Lagipula buat apa kamu khawatir sama dia? Dia kan udah dewasa. Pasti bisa jaga diri sendiri" Balas Bill dengan suara dingin. Ia kemudian melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Huh, semoga aja sih... "
Bersambung....
__ADS_1