[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 24


__ADS_3

Happy Reading~


2 Minggu telah berlalu. Suasana kota di sana sedang mengalami musim dingin. Kota yang sebelumnya selalu panas pada saat siang hari kini menjadi begitu dingin meskipun pada saat siang hari. Lusia tengah bersiap siap untuk pergi ke kantor. Dia memakai pakaian yang elegan seperti hari hari sebelumnya meskipun ini adalah musim dingin. Berbeda dengan Bill yang memakai pakaian tebalnya.


Setibanya di kantor, Lusia di sambut oleh banyak para pekerja yang bertemu dengannya. Mereka yang saat awal kedatangan Lusia terlihat sinis, kini sudah berubah dengan senyuman lebar mereka. Manusia juga memang butuh beradaptasi dengan manusia yang lain. Setelah 2 minggu ini, Lusia juga sudah terbiasa bekerja tanpa Vien. Layaknya sebagai seorang bos yang sebenarnya.


Kring... Kring....


Suara panggilan melalui telepon perusahaan itu berbunyi di meja kerjanya. Lusia segera mengangkat panggilan tersebut.


"Selamat pagi, Nyonya" Sapa wanita itu sekaligus membuka pembicaraan.


"Ah, iya... pagi"


"Ada apa?" Tanya Lusia.


"Ada klien yang ingin menjadwalkan pertemuan dengan Nyonya saat makan siang nanti"


"Oh... oke"


Lusia pun mengakhiri panggilan tersebut dan mulai melanjutkan pekerjaannya. Ia sangat disibukkan oleh lembaran lembaran dokumen yang harus di tanda tangani hari ini.


Waktu berjalan begitu cepat, waktu makan siang pun tiba. Beberapa dari mereka berjalan menuju ke restoran yang berada di perusahaan MGK tersebut. Terkecuali dengan Lusia, ia malah mengisi waktu luang makan siangnya untuk bertemu dengan salah seorang klien. Mereka membuat janji akan bertemu di cafe hipster yang tidak jauh dari area perusahaan MGK.


Setibanya di cafe tersebut, Lusia melihat seorang klien yang sudah ada janji dengannya. Secepat mungkin ia melangkah menghampiri klien tersebut.


"Selamat siang, maaf udah ganggu waktu makan siang" Ucap pria tersebut dengan lembut. Matanya terus menatap pada dua gunung kembar miliknya dan membuatnya sedikit risih.


"Ah, ngga masalah"


"Gimana kalo kita pesen minuman hangat dulu?" Ajak pria itu. Lusia pun mengangguk sebagai tanda jawabannya.


Selang beberapa waktu, minuman yang mereka pesan pun akhirnya di hidangkan. Pria itu mulai meminumnya dan diikuti dengan Lusia yang juga meminum minuman itu.

__ADS_1


"Kenalin, saya Calvin dari perusahaan RH Group" Ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangannya pada Lusia. Ternyata namanya adalah Calvin, pria pemilik perusahaan RH Group. Lusia menerima uluran tangan itu dan membalasnya dengan memperkenalkan diri,


"Saya Lusia"


"Hmmm, ngga baik juga kalo keluar pake pakaian terbuka gitu waktu musim dingin" Seloroh Calvin yang sontak membuat Lusia jadi malu setengah mati.


"Ah, i--itu..." Lusia tidak dapat berkata apa apa selain tertunduk malu. Benar juga, seharusnya dia tidak memakai pakaian seperti ini di saat musim dingin.


"Pake ini," Ucap Calvin sembari melepaskan jaket tebalnya dan memberikannya pada Lusia. Tetapi kebaikan Calvin di tolak mentah mentah olehnya karena dia tidak mau jika ada seorang lelaki yang berusaha mendekatinya dengan cara seperti ini.


"Maaf, aku ngga masalah kok pake ini. Nanti kalo udah sampe perusahaan aku bakal ganti pakaian tebal" Bohong Lusia.


"Ya udah kalo itu kemauan kamu" Calvin pun memahaminya.


Setelah acara pembahasan mengenai perusahaan, akhirnya perusahaan mereka pun akan bekerja sama dalam waktu 1 tahun ke depan. Karena perusahaan RH yang cukup maju dan perusahaan MGK yang paling populer, hal itu membuat kedua perusahaan mampu bekerja sama. Lusia pun pamit untuk kembali ke perusahaan nya agar dapat secepatnya menyelesaikan dokumen yang akan ia tanda tangani. Ketika hendak beranjak meninggalkan kursi, Calvin tiba tiba memanggil namanya.


"Ah, Lusia" Lusia menoleh. Dan terlihat Calvin menunjukkan senyum lebar padanya.


"Iya?" Tanya Lusia yang dibuat heran dengan sikap Calvin.


"Kenapa dia bisa tau umur aku?" Batinnya.


"Emang umur kamu berapa?" Tanya Lusia merasa penasaran.


"Umur aku 22 tahun,"


"Jadi, aku mau kita akrab aja, layaknya sebagai teman. Bukan sebagai klien atau semacamnya," Imbuhnya.


"Oke, aku paham" Setelahnya Lusia langsung segera pergi agar Calvin tidak memanggil namanya lagi. Ia menaiki sebuah mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi perusahaan.


Selang beberapa waktu Lusia pun akhirnya tiba di perusahaannya. Ia mendapati sosok Bill yang tengah mematung di ruangan kerja miliknya. Dengan rasa penuh heran, Lusia perlahan mendekati Bill yang tengah mematung itu.


"Bill?" Sahut Lusia. Bill yang sedari tadi sudah menatap Lusia dari kejauhan itu hanya terdiam tak membalas sahutan dari istrinya.

__ADS_1


"Kok kamu di sini?" Tanya Lusia buncah.


"Loh? Sejak kapan ada yang ngelarang aku buat ke sini?" Bill yang hampir dibuat kesal oleh Lusia itu berusaha agar tidak mengeluarkan amarahnya.


"Ah, ngga ada sih. Aku cuman penasaran kenapa kamu tiba tiba ada di sini"


"Aku cuman pengin liat cara kerja kamu. Tapi kayanya waktu aku udah habis cuman buat nungguin kamu balik ke perusahaan"


"Oh ya! Kamu jangan pake pakaian gini di musim dingin" celetuknya sambil menyentuh lengan pendek Lusia.


"Ya ampun, aku emang salah udah pake ginian" Batinnya, ia benar benar dibuat malu oleh dua pria sekaligus dalam waktu satu hari.


Bill pun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu. Lusia yang tak sengaja melihat sosok Leon yang ternyata berada di luar ruangan lantas memanggilnya.


"Leon,"


"Iya, Nyonya?"


"Tuan Bill udah nungguin saya sejak kapan?" Tanya Lusia memastikan kalau seharusnya Bill tidak menunggunya terlalu lama.


"Sudah sekitar 1 jam yang lalu, Nyonya"


"A---apa?!!" Lusia pun jadi merasa tidak enak pada Bill yang tengah menunggunya begitu lama. Berarti sejak kepergiannya 1 jam lalu menuju cafe, Bill sudah menunggunya di sini.


"Kalau begitu, saya permisi" Cakap Leon. Lusia pun mengangguk sebagai tanda jawaban. Setelah kepegian mereka, Lusia memutuskan untuk segera melanjutkan pekerjaannya agar bisa cepat selesai dan ia bisa bersantai.


Detik demi detik, waktu demi waktu, akhirnya Lusia mampu menyelesaikan semua pekerjaannya itu. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.36 ia pun harus pulang. Karena seorang wanita tidak boleh pulang terlalu larut, apalagi dia sudah bersuami.


Tidak memakan waktu lama, Lusia akhirnya tiba di kediaman Amedeo. Namun sayangnya ia belum melihat mobil milik Bill yang seharusnya sudah terparkir di garasi. Sembari menunggu kepulangan Bill, Lusia mencoba untuk bermain ponsel terlebih dahulu di kamarnya. Tetapi sudah cukup lama ia menanti kepulangan sang suami, Bill belum juga kunjung pulang. Untuk menghilangkan rasa kantuk di matanya itu, dia mencoba untuk meminta dibuatkan kopi oleh salah seorang pelayan yang masih berada di dapur.


"Pelayan, tolong buatin saya kopi ya" Ucapnya sambil tersenyum lebar ke arah pelayan itu.


"Baik Nyonya"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2