[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 23


__ADS_3

Happy Reading~


Mentari pagi menyinari kediaman Amedeo. kicauan burung terlintas di telinga Lusia, suasana rumah itu terdengar berisik karena aktivitas para pelayan yang memulai tugas mereka. Lusia yang baru terbangun dari tidur lelapnya itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa kotoran setelah kemarin sibuk dengan tugasnya.


Setelah selesai, ia pun menuju ke ruang makan. Tempat yang begitu sepi, tidak ada satupun orang di ruangan tersebut. Hanya ada puluhan makanan yang dihidangkan namun masih terlihat utuh. Ia menoleh ke segala sisi ruangan mencari keberadaan seseorang. Tapi tak nampak seorang pun yang ia temukan.


Lusia duduk di kursi ruang makan yang biasa ia tempati. Melihat sebuah kursi kosong di sampingnya bukanlah hal biasa. Pikirannya terus tertuju pada pria yang sangat ia cintai meskipun pria itu tidak mencintainya. Dengan perasaan sebal, dirinya memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, ia tidak jadi sarapan karena suaminya itu tidak kunjung datang.


Ketika tiba di halaman rumah untuk menaiki mobilnya, di sana Lusia melihat Bill yang baru saja keluar dari mobil. Entah sejak kapan ia pergi meninggalkan rumah hanya untuk bekerja. Dengan cepat ia menarik lengan Bill dan menatap matanya penuh arti.


"Lepas, aku sibuk" Desis Bill dengan perasaan kesal. Lusia yang merasa bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan itu jadi terheran heran dengan sikap Bill yang terlalu posesif.


"Udah sarapan?" Bukannya melepaskan lengan Bill, ia malah bertanya.


"Ngga" Balasnya dengan wajah yang tampak cuek tidak seperti biasanya. Lusia pun segera melepaskan lengan Bill, dan di sana Bill langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Nyonya, ayo kita berangkat" Ajak Vien sambil melihat ke arah jarum jam di tangannya. Karena waktu yang hanya tersisa sedikit, ia pun akhirnya menaiki mobil dan tidak lagi memikirkan Bill. Vien segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Lagipula tidak masalah jika seorang bos terlambat sedikit di hari pertamanya.


Tidak lama setelah kepergian Lusia, Bill keluar dari rumah dan ikut pergi meninggalkan kediamannya. Leon yang sudah siap mengendarai mobilnya itupun langsung melandas dan mereka pergi menuju perusahaan NR Group.


Tidak menggunakan waktu lama Lusia pun tiba di perusahaan MGK, ia banyak di sambut oleh senyuman segar para pekerja. Namun masih ada beberapa diantara mereka yang memandangnya sebelah mata. Secepat mungkin Lusia dan Vien menuju ke lantai 40 untuk ke ruangan kerja Lusia.


Baru beberapa langkah menuju pintu masuk ruangan, seseorang tiba tiba menelepon Lusia dan membuat Lusia berhenti melangkah. Begitu juga dengan Vien yang masih berdiri di belakang Lusia. Lusia segera mengangkat panggilan itu, tapi nomor yang memanggilnya tidak ia kenali.

__ADS_1


"Halo? Ini siapa?" Tanya Lusia sekaligus membuka pembicaraan.


"Ini aku, Maria. Kakak dimana?" Balas orang itu yang ternyata adalah Maria, adik tirinya sendiri yang sudah lama tidak ada kabar.


"A--aku, aku lagi ada di perusahaan. Kenapa?" Sebenarnya ia ragu ingin menjawab kalau dirinya sedang ada di perusahaan. Tapi mau bagaimana lagi karena dia juga tidak pandai berbohong.


"Ibu, ibu sakit" Ucap Maria yang sontak membuat Lusia menjadi terkejut. Sosok ibu tiri yang selama ini memperlakukan dirinya dengan buruk, namun Lusia masih tetap ingin perduli terhadapnya.


"Tapi, aku lagi sibuk"


"Kak! Ini penting!"


"Emangnya Ayah dimana?"


"Astaga...."


Karena tidak ada pilihan lain, Lusia pun terpaksa membatalkan kerjanya di hari pertama demi menolong sang Ibu tiri yang tengah sakit. Ia segera memerintahkan Vien untuk mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya.


Setibanya di sana, Lusia langsung menerobos masuk ke dalam rumah tanpa memperhatikan sekitar. Rumah itu terlihat sangat rapih dan lumayan mewah karena rumah itu adalah rumah pemberian dari Bill sebagai ganti dirinya menikah dengan Bill. Di dalam ia melihat sang Ibu tengah pingsan dan Maria yang sedang terduduk di sampingnya.


"Kok bisa gini?" Tanya Lusia merasa begitu khawatir. Sedangkan Vien hanya menunggunya di luar rumah.


"Ngga tau. Pokoknya kakak bantuin Ibu, bawa Ibu ke rumah sakit!" Pintar Maria dengan diiringi isak tangis.

__ADS_1


Mereka pun menuju ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai, Emma selalu Ibu tiri dari Lusia itu langsung di periksa oleh dokter. Karena keadaan yang tidak begitu memungkinkan bagi Lusia untuk tetap berada di sana, ia pun meminta izin untuk pergi dan kembali ke perusahaan MGK. Tetapi sebelum pergi, ia menitipkan sedikit uang untuk biaya pengobatan sang Ibu tiri.


"Maaf, aku ngga bisa lama lama. Ini aku titip sedikit yang buat biaya pengobatan Ibu" Ucapnya sambil memberikan uang tersebut. Maria pun menerimanya dan setelah itu Lusia beserta Vien langsung bergegas kembali menuju ke perusahaan.


Selang beberapa waktu mereka pun akhirnya tiba di perusahaan. Lusia yang merasa bahwa dirinya sudah siap menjadi seorang bos di hari pertamanya membuatnya jadi begitu bersemangat.


"Selamat pagi, Bu" Sapa salah seorang pekerja yang melintas di hadapannya sambil membungkuk. Lusia pun membalasnya dengan senyuman lebar nan manis. Begitulah seterusnya setiap ada seorang pekerja yang melewatinya.


Karena Bill belum sempat memberitahukan bahwa Lusia adalah bos baru di perusahaan MGK, hal itu membuat para pekerja jadi salah paham. Beberapa dari mereka mengira kalau Lusia adalah seseorang yang istimewa di perusahaan karena setiap kali berjalan pasti ada sosok Vien di sana. Namun beberapa dari mereka juga banyak yang sudah mengetahui siapa Lusia sebenarnya di perusahaan ini.


Waktu menunjukkan pukul 13.55. Suasana siang menjelang sore itu sangat panas karena terik matahari yang terlalu menyorot ke perusahaan sampai ke dalamnya. Lusia yang merasa gerah itu memutuskan untuk pergi ke restoran yang sudah di sediakan di lantai bawah perusahaan MGK. Ia hanya berjalan seorang diri karena menolak ajakan Vien untuk ditemani.


Lusia masuk ke dalam lift dan terlihat banyak sekali orang di sana. Mereka semua tidak ada yang menyapa kedatangan Lusia, mungkin karena mereka mengira kalau Lusia adalah pekerja biasa.


Kling. Lift itupun berhenti tepat di lantai yang disediakan sebuah restoran. Ia keluar dari lift dan melihat sebuah tempat yang luas serta mewah. Lusia melihat tempat duduk di sana, dan ia memutuskan untukt duduk di dekat pintu masuk restoran.


"Selamat siang menjelang sore, Nyonya. Nyonya ingin memesan apa?" Tanya seorang wanita yang ternyata adalah seorang pekerja yang bertugas untuk mencatat pesanan.


"Kue coklat, sama coklat panas" Ucap Lusia sambil menunjuk ke sebuah menu yang ada di buku.


Tidak menggunakan waktu lama, makanan yang di pesan oleh Lusia pun di hidangkan. Aroma kue dan minuman yang terbuat dari coklat itu sangat manis dan menggoda selera Lusia. Coklat adalah makanan yang sangat ia kagumi sejak kecil, bahkan jenis coklat apapaun pasti ia suka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2