![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Suasana hotel yang begitu ramai sangat terdengar jelas. Semuanya memegang masing masing segelas wine kemudian bersulang. Lusia yang tidak pernah melakukan hal itupun menjadi kebingungan. Apalagi orang orang yang kini berada disekelilingnya adalah orang orang yang terlahir dari keluarga kaya. Berbeda jauh dengan kehidupan Lusia sebelumnya.
"Ambil ini," Umpat Bill memberikan segelas wine pada Lusia. Minuman itu sungguh membuat Lusia merasa ingin muntah. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan menandakan bahwa dirinya tidak ingin meminum minuman tersebut.
"Jangan malu maluin," Desis Bill merasa kesal dengan tingkah Lusia. Dengan berat hati, Lusia pun menerima sebuah gelas berisi wine itu. Ia meminumnya dengan sangat perlahan karena berharap tidak akan mabuk.
Setelah cukup lama mereka menghabiskan waktu dengan meminum wine, Lusia yang merasa sudah tidak kuat itu akhirnya berdiri di sana dengan keadaan yang sudah mabuk. Tetapi tidak hanya dirinya, beberapa orang yang berada di sana juga terlihat mabuk akibat terlalu banyak minum.
"Uh...., kepala aku" Ucap Lusia dengan kedua tangan yang menyentuh bagian atas kepalanya. Tubuhnya yang sudah sempoyongan tidak kuat untuk berdiri itu akhirnya membuat Bill membawanya ke sebuah kamar yang terletak di lantai atas acara pesta.
Bill meletakkan tubuh mungil Lusia di atas ranjang lebar. Ia perlahan membuka pakaiannya dan kemudian dilanjut dengan membuka pakaian milik Lusia. Dia memulainya dengan sebuah bibir yang mendarat diatas bibir. Karena nafsunya, dia pun memainkannya dengan kasar pada Lusia. Malam yang berakhir dengan adegan panas itu membuat Bill merasa begitu puas.
Hembusan angin menyelimuti ruangan kamar itu. Dimana terlihat sosok Lusia yang baru saja terbangun dari tidur malamnya. Ia merasakan sebuah kesakitan di area selangkangannya akibat adegan semalam. Lusia mencoba melihat sekeliling ruangan, tetapi dirinya tidak mengingat kejadian apapun dan membuatnya heran mengapa tiba tiba berada di ruangan seperti ini.
Sontak dirinya baru tersadar setelah menoleh ke arah kanannya. Dimana terlihat sosok pria yang tidak lain lagi adalah suaminya. Kemudian Lusia meraba raba tubuhnya dan mendapati sebuah tubuh tanpa dibalut sebuah kain sedikitpun. Lantas pikirannya jadi buyar kemana mana.
"Apa semalem aku sama Bill...." Batinnya terjeda.
"Ah, ngga mungkin!!!" Ia menggelengkan kepalanya kemudian menampar nampar pipinya sendiri. Rasanya semua ini hanyalah sebuah mimpi. Sambil melamun, ia mencoba mengingat kejadian semalam dimana saat dirinya belum mabuk. Ia pun mampu mengingat saat tubuhnya sempat diangkat oleh Bill dan mereka masuk ke dalam kamar ini.
"Berarti ini bukan mimpi," Ucapnya dengan suara lirih sambil melirik ke arah Bill yang tengah tertidur lelap di sebelah kanannya.
__ADS_1
"Kalo Bill sampe tau, dia pasti bakal marah banget! Karena selama ini dia ngga mau berhubungan sama aku. Mendingan aku buru buru keluar dari ruangan ini aja" Gumamnya sembari mencoba bangkit dari ranjang. Namun belum sempat ia berdiri, sebuah tangan tiba tiba meraih lengannya.
Dengan perasaan tidak enak, ia perlahan menoleh. Ternyata Bill tengah menatapnya sambil tersenyum lebar bagaikan orang sinting. Lusia pun membalasnya dengan senyuman meskipun senyumannya terlihat begitu kaku.
"Sekali lagi," Sontak kata kata itu membuat Lusia menjadi terkejut setengah mati. Ia mencoba memahami kalimat itu. Namun yang terlintas di benaknya hanyalah sesuatu yang mustahil.
"Maksud kamu?" Tanya Lusia memastikan dengan kata kata yang terlontar dari mulut Bill.
"Ayo kita lakuin sekali lagi" Bill mengulangi kata katanya. Dengan perasaan senang, Lusia pun masuk kedalam pelukan Bill. Jantungnya berdetak kencang dan hatinya masih belum menerima semua ini. Ia merasa semua ini hanyalah mimpi atau sesuatu yang benar benar mustahil.
******
Di tempat lain, dua pria tengah berdiri di halaman rumah Amedeo. Keduanya terlihat bingung setelah sekian lama berdiri di sana namun tidak menemukan sosok orang yang sudah lama ditunggu.
"Aku ke kantor dulu. Aku ngga mau acara meeting tertunda gara gara Tuan ngga hadir" Seloroh Leon.
"Maksud kamu, kamu mau ke perusahaan buat acara meeting tanpa Tuan?" Vien memastikan dengan ucapan Leon.
"He'em"
"Kenapa ngga tungguin sebentar lagi? Aku harap kamu ngga egois" Leon pun hanya bisa menuruti kata kata Vien yang memang ada benarnya juga.
Selang beberapa waktu, sebuah mobil memasuki halaman luas kediaman Amedeo. Yang sudah pasti mobil itu adalah mobil milik sang Tuan. Sebuah kaki terlihat keluar dari mobil dan tampak sepasang kekasih keluar dari mobil itu secara bersamaan.
__ADS_1
"Mereka.... habis dari mana?" Tanya Leon pada Vien merasa tidak percaya. Mulutnya ternganga lebar melihat keduanya keluar dari mobil yang sama.
Kemudian Vien teringat bahwa Lusia sempat mendapatkan sebuah undangan acara pesta minum di sebuah hotel kemarin siang. Ia juga yakin pasti Bill ikut serta dalam acara tersebut.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya" Ucap keduanya ketika Bill dan Lusia tengah berdiri di hadapan mereka.
"Apa ada yang menyenangkan sampai kalian baru pulang pagi ini, Tuan?" Ledek Leon sambil terkikik tawa.
"Apaan sih kamu" Lusia berusaha menyangkal. Wajahnya merah merona merasa malu karena kedua asistennya yang terus terusan meledek.
"Sekali lagi, kalian aku pecat" Ucap Bill dengan sinis yang sontak membuat suasana menjadi mencekam. Lusia yang sedari tadi tersenyum kecil kini menunjukkan wajah masam nya pada Bill.
Setelah cukup lama berdiri di sana, mereka pun terpisah menjadi dua bagian untuk menuju ke perusahaan masing masing. Leon menggunakan kecepatan cepat karena perintah dari Bill. Sedangkan Lusia yang penakut itu hanya menginginkan Vien agar mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Pfftttt....." Beberapa kali Lusia menunjukkan wajah senang dengan senyuman kecil. Vien yang sempat beberapa kali melihat Lusia tersenyum senyum seorang diri di tempat duduk belakang mobil itu lantas ikut tersenyum. Padahal Vien adalah sosok pria dingin yang hampir tidak pernah tersenyum selama hidupnya. Ia juga jarang bicara karena malas jika berbicara terlalu panjang.
Sekitar 40 menit lamanya mereka berada diperjalanan dan akhirnya sampai di basement perusahaan MGK. Lusia turun dari mobil dengan pintu mobil yang sudah siap dibuka oleh Vien. Kemudian keduanya berjalan bersama menuju lift. Seperti biasanya Vien selalu berjalan di belakang Lusia.
"Agenda hari ini... apa?" Tanya Lusia ketika mereka telah memasuki lift. Suasananya sunyi karena hanya ada mereka berdua didalam sana.
"Hari ini tidak ada agenda apa apa. Nyonya bisa santai saja di ruangan Nyonya sambil mengamati karyawan bekerja" Papar Vien. Lusia pun menanggapinya dengan anggukan kepala berulang kali.
Bersambung....
__ADS_1