[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 75 [S2]


__ADS_3

Happy Reading~


Zrash!!! Zrash!!! Jd*a***rrr!!!! Angin bersiul kencang, hujan deras turun dari langit dengan di iringi petir. Suasana begitu dingin lantaran cuaca yang tidak begitu mendukung.


Ting Tong.... seorang pelayan berlari menuju pintu rumah. Ia membukakan pintu itu untuk seseorang, siapa lagi kalau bukan Bill. Lusia dan Maria yang tengah berada di ruang tamu lantas berlari mendekati sang suami.


"Kamu darimana aja? Kenapa jam segini baru pulang? Aku tanya karyawan kantor katanya kamu udah ngga ada di kantor sejak sore tadi menjelang malem" Tanya Lusia merasa khawatir dengan pria dihadapannya. Namun Bill hanya tersenyum lalu memeluk erat wanita di hadapannya.


"Aku ngga papa, aku cuman ada urusan di luar doang tadi" Tutur nya pelan seraya mencium kening sang istri.


"Kalo mau bermesraan jangan di hadapan aku kali, najis!" Maria bangkit dari kursi dan berjalan menaiki tangga.


"Maria!" Panggil Bill. Maria menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. Bersamaan dengan itu, Bill juga berlari menghampirinya menuju tangga.


"Kamu nunggu Jiang?" Tanyanya dengan di iringi senyum sinis yang terpampang di wajah tampannya itu.


"Apaan sih, ngga usah ikut campur" Celoteh Maria seraya berjalan pergi meninggalkan sang kakak ipar.


"Apa maksud kamu, Bill?" Tanya Lusia lantaran merasa heran dengan sikap Bill terhadap Maria.


"Ngga papa, kok. Aku cuman nanya" Bohong Bill.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Waktu menunjukkan pukul 00.19. Jarum jam terus berputar namun Maria masih tetap tidak bisa tidur. Beberapa kali dirinya berjalan ke sana kemari mengelilingi ranjangnya, tetapi yang ada dipikirannya hanyalah Jiang seorang. Sosok pria yang masih belum diketahui keberadaannya oleh Maria.


Ia juga beberapa kali mencoba untuk menghubungi pria itu, tapi hasilnya nihil karena tidak ada satupun jawaban dari sang kekasih. Dia mencoba tenang dengan menarik nafas panjang panjang kemudian menghembuskannya. Namun rasanya masih mengganjal.

__ADS_1


Drrrttt.... sebuah panggilan masuk di teleponnya, Maria langsung melihat ke layar ponsel dan ternyata orang yang tengah menghubunginya adalah Bill. Kakak iparnya sendiri.


"Cih! Apaan sih dia telfon??? Emangnya ngga bisa jalan kaki aja ke sini?" Kesal nya.


"Kenapa? You ngga bisa jalan kaki, ya?!" Tanya Maria setelah mengangkat panggilan dari Bill.


"Kalo mau tau keadaan Jiang, dateng ke tempat yang udah aku kirim sekarang. Tapi jangan sampe Lusia bangun, ngerti?" Ucap Bill dengan suara dingin. Rasanya seperti sedang berbicara dengan manusia kulkas.


"Ribet banget deh---" Belum sempat melanjutkan perkataannya, Bill pun mengakhiri panggilan secara sepihak. Maria yang merasa kesal telah dipermainkan oleh pria itu lantas membanting ponselnya. Sudah dua ponsel yang ia miliki menjadi korban gara gara rasa emosionalnya.


******


Selama di perjalanan menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh Bill, perasaan janggal terus terlintas di benaknya. Tapi karena sudah terlambat tiba ditempat tujuan membuatnya pasrah dengan keadaan.


"Ini uangnya," Ucap Maria seraya memberikan uang senilai $3 pada seorang sopir taxi yang baru saja ia tumpangi.


Maria masuk ke dalam sebuah gedung yang terlihat kuno. Bahkan disekeliling gedung itu tidak terdapat satu buah pun lampu. Jadi terpaksa Maria menggunakan flash ponselnya agar bisa menuntut jalannya.


Glak! Sreetttt..... !!!


"Ah!!!! Apa??!!! Apa itu!!!!!" Teriak Maria dengan histeris. Lalu seseorang muncul dari balik ruangan gelap.


"Kyaaaaa!!!! Siapa kamu?!!!!!" Maria terus berteriak karena merasa dirinya berada di tempat yang tidak aman.


"Aku Bill, ngga usah heboh" Seru nya dengan wajah dingin. Begitu melihat wajah seseorang dihadapannya, ternyata itu memang benar Bill. Orang yang sudah membuatnya berada di tempat mengerikan seperti ini. Bill kemudian berjalan di depan dan diikuti oleh Maria dari belakang, mereka menuju sebuah tempat yang terletak di bawah tanah. Suasana yang begitu sunyi, bahkan suara kendaraan saja tak terdengar sampai masuk ke telinga mereka.


Cek lek.... Bill membuka sebuah pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Ia masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Maria. Lalu tibalah keduanya di depan sosok mayat Jiang. Maria yang belum menyadari akan hal itu lantas hanya terdiam tak berkata apa apa.

__ADS_1


"Hei, apa maksud kamu bawa aku ke tempat ini?" Tanya Maria dengan menarik jas yang dikenakan oleh Bill.


"Lepas, ngga sopan banget...." Sindir Bill dengan tatapan sinis pada gadis itu.


"Astaga!!!! Huwaaa!!! Itu apa?!!! Hei!!! Mayat siapa itu?!!!" Maria kembali berteriak dengan histeris begitu melihat sosok mayat tergeletak di bawahnya. Ia terus memeluk tubuh kekar Bill sambil menutup kedua bola matanya.


"Itu Jiang,"


Deg?!!!! Sontak nama seseorang yang baru saja terlontar dari mulut Bill itu membuatnya tak dapat berkata apa apa. Entah mengapa hatinya tiba tiba bergetar dan detak jantungnya seperti berhenti beroperasi. Bahkan mulutnya saja tak bisa mengeluarkan suara seakan membisu. Tanpa disadari, cairan bening telah membasahi pipinya. Ia langsung terduduk lemas dan memegang tangan sosok Jiang yang sudah berlumuran dengan darah.


"Siapa yang udah lakuin ini sama dia?" Tanya nya dengan wajah memandang Bill. Sepertinya gadis itu benar benar polos, ia merasa bahwa Bill bukanlah pelaku pembunuan ini.


"Aku..." Jawabnya dengan santai, ia tak merasa takut jika suatu masalah akan datang kepadanya.


"Apa? Kenapa.... bisa?" Bill kemudian langsung menunjukkan sebuah rekaman suara detik detik sebelum dirinya membunuh sosok Jiang. Lebih tepatnya saat Jiang sedang mengaku atas kesalahannya.


Begitu mendengarkannya sampai akhir, Maria sontak melepaskan tangan pria itu. Ia berdiri dan perlahan melangkah mundur. Memang sulit dipercaya, tapi jika sudah mengetahui semua kebenarannya maka dia akan langsung percaya dengan kenyataan.


"Jujur, aku ngga nyangka..." Batinnya. Bill yang tidak tega melihat gadis itu menangis lantas memeluknya. Ia tak perduli siapa gadis yang ia peluk, asalkan gadis itu bisa berhenti menangis dari hadapannya.


Beberapa menit telah berlalu, Maria sudah mulai tenang dan meminta Bill untuk segera mengantarnya pulang. Jika memikirkan kesedihan dengan orang yang dicintai, namun di sisi lain orang itu ternyataa adalah dalang dari balik kematian orang tuanya... sudah pasti membuat Maria berat untuk bisa memutuskan siapa yang seharusnya di salahkan.


****


Cek lek.... Maria masuk ke dalam kamarnya begitu tiba di rumah. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang sambil terus menangis. Matanya terus menatap pada sebuah foto sosok Jiang yang telah mati dengan tragis. Ingin berusaha melupakan, tapi dia sudah terlambat masuk ke dalam percintaan ini.


Sementara itu, Bill yang masih memikirkan keadaan Maria jadi membuatnya sulit untuk tidur. Dia beberapa kali membuka layar ponselnya untuk menunggu kabar selanjutnya dari dua asisten pribadinya. Karena mereka berdua tengah mengatur jasad pria yang memang seharusnya tidak hidup di dunia ini.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2