![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
"𝘚𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘦𝘮. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘫𝘦𝘣𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪! 𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪" Batinnya. Ia pun segera berlari menjauh dari tempat itu. Namun belum sempat ia berlari, seseorang tiba tiba menarik lengannya dan membuat Lusia tidak dapat berlari. Ia menoleh pada seseorang yang menarik lengannya, dan ternyata orang itu adalah Calvin.
"Mau kemana?" Tanya Calvin yang merasa curiga kalau Lusia akan melarikan diri dari tempat itu.
"Aku ada urusan mendadak" Cetus nya dengan senyuman ragu.
"Hmmmm.....tapi," Ucap Calvin terjeda. Ia langsung meraih tubuh Lusia dan membawanya ke dalam ruangan karaoke tersebut.
"Cal--Calvin!" Lusia mencoba melepaskan tangan besar Calvin yang sedang memegang tubuhnya. Lalu Calvin merebahkan tubuh mungil Lusia ke sofa. Lusia sendiri tidak mengerti kenapa Calvin melakukan hal seperti ini padanya, apalagi dengan suasana ruangan karaoke yang begitu ramai membuatnya jadi malu setengah mati.
"Aku mau bergairah" Ucap Calvin yang sontak membuat jantung Lusia berdebar kencang. Ia merasa dirinya sangat bodoh mau di tipu untuk yang kedua kalinya.
"Cal, aku udah bersuami. Tolong jangan lakuin ini sama aku" Kata Lusia dengan suara lirih. Dia tidak mau jika orang orang mendengarnya apalagi melihat sosok sang istri dari Bill Amedeo yang sedang melakukan adegan panas dengan pria lain.
"Aku ngga perduli"
"Cal, kalo kamu lakuin ini ke aku... Aku ngga akan lanjutin kerja sama perusahaan kita"
"Aku ngga perduli,"
"Cal! Plis..... Jangan!"
"Aku bilang, aku ngga perduli" Kata kata itu terus terlontar dari mulut Calvin sampai beberapa kali. Lusia tidak merasakan ketakutan besar melainkan merasa jengkel dengan sikap Calvin yang begitu menyebalkan.
Karena sudah tidak sabar, ia lalu mendaratkan bibirnya pada bibir mungil milik Lusia. Lusia berusaha menolaknya namun Calvin terus memaksa. Ia perlahan meraih sesuatu di dalam rok pendek milik Lusia yang membuat Lusia semakin panas. Brak! Seseorang membuka pintu ruangan karaoke tersebut. Lantas hal itu membuat Calvin syok dan segera bangkit dari sofa. Begitu juga dengan Lusia yang langsung menghindar dari Calvin.
"Ckck! Kamu balas dendam karena kemarin aku pulang malem?" Ucap seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan karaoke tersebut. Pria itu adalah Bill bersama dengan Vien.
"A---aku, aku---" Lusia gugup tak dapat menjawab ucapan dari Bill.
"𝘚𝘪𝘢𝘭! 𝘉𝘪𝘭𝘭 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪..... 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘊𝘢𝘭𝘷𝘪𝘯" Batin Lusia dengan mata yang terus menatap pada Bill.
"Hmmm, aku ngga ngerti kalian lagi ngomongin soal apa," Papar Calvin dengan senyuman mengembang di wajahnya. Ia perlahan mendekat ke arah Bill dan Vien yang masih berdiri di pintu ruangan. Karena kericuhan ini, mereka jadi pusat perhatian orang orang yang berada di dalam satu ruangan tersebut.
__ADS_1
"Vien, kamu bawa Lusia keluar" Perintah Bill.
"Baik, Tuan!" Vien pun mengarahkan jalan pada Lusia menuju tempat parkiran mobil.
"Kalian semua keluar" Celetuk Bill pada orang orang di sana. Semuanya pun menurut dan langsung berjalan menuju pintu keluar.
"Sial! Kamu gagalin rencana aku" Kata Calvin dengan jengkel.
"Dia istri aku!"
"Terus?"
"Mau mati, ya?" Bill langsung meraih kerah baju Calvin dan memukul Calvin beberapa kali dengan sekuat tenaga. Calvin yang sudah tampak babak belur di wajahnya itu malah membuat Bill semakin bersemangat untuk memukulinya.
"Cukup!" Teriak Calvin yang sudah tidak tahan dengan pukulan Bill tersebut. Namun bukannya menghentikan pukulannya, Bill malah mengeluarkan senjata tajam dari dalam saku celananya. Dia menusukkan benda itu pada bagian perut Calvin.
"Ah..... Aku.... Aku.... Ngga kuat. Kalo a--aku mati, ka--kamu bakal bera--khir di pen--jara"
"Dia udah ngalamin pendarahan. Kalo di biarin di sini juga.... Dia ngga akan selamat" Ucap Bill sambil tersenyum lebar pada Calvin. Dia juga menunjukkan wajah sadisnya. Calvin yang sudah tidak tahan itupun nyawanya berakhir di tempat seperti ini.
Selang beberapa waktu, Vien kembali menemui Bill yang masih berada di ruangan karaoke nomor 19. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok sang bos yang telah menghabisi kakak sepupunya sendiri. Dia tidak tahan melihat banyak darah yang berceceran di tempat itu akibat ulah Bill.
"Atur semuanya, jangan sampe ada seorang pun yang tahu alasan kenapa Calvin berakhir di tempat ini" Vien yang dengan perasaan ragu akhirnya terpaksa melaksanakan perintah dari Bill. Dia segera mengatur semuanya dengan memanggil seluruh anak buah Bill. Sedangkan Bill sendiri akhirnya kembali menuju mobil yang di sana telah ada Lusia.
"Bill, aku..." Ucap Lusia terjeda. Matanya kini tidak berani menatap wajah Bill yang sudah dipenuhi dengan darah, apalagi dengan pakaiannya yang sudah berantakan. Lusia yang sempat melihat penampilan Bill yang seperti itu lantas bertanya-tanya dalam hatinya.
"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘊𝘢𝘭𝘷𝘪𝘯? 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪"
"Maaf aku udah ceroboh" Papar Lusia. Bill yang sedari tadi hanya terdiam duduk di samping Lusia itu masih terlihat jengkel.
"Aku bakal lakuin apa aja, asal kamu ngga marah" Lusia pun akhirnya terpaksa berkata demikian karena ia takut jika Bill sampai melakukan kejahatan terhadapnya karena amarahnya yang belum reda.
"Aku ngga butuh. Lagian kalo kamu ngelakuin hal itu juga aku ngga masalah" Sontak kata kata yang keluar dari Bill membuat hati Lusia bergetar sakit. Ternyata selama ini Bill masih belum menerimanya di keluarga Amedeo.
Setelah beberapa jam menunggu kehadiran Vien, Vien pun akhirnya kembali menuju mobil dengan tugasnya yang sudah diselesaikan bersih. Dia mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan cepat karena keinginan Bill. Sedangkan Lusia yang belum terbiasa dengan kendaraan yang melaju cepat itu menjadi ketakutan. Wajah takutnya itu bisa dilihat oleh Vien melalui kaca depan di mobilnya.
__ADS_1
Flashback on....
"Mendingan aku kasih tau Tuan Bill kalo Nyonya bakalan pergi ke acara pesta sama kakak sepupunya. Aku takut kalo ada sesuatu yang terjadi sama Nyonya Lusia" Vien yang sempat mendengar pembicaraan Lusia bersama Calvin di ruangan rapat tersebut lantas langsung mengendarai mobilnya menuju tempat Bill sekarang yang sedang berada di perusahaan NR Group.
Setibanya di tempat Bill, ia tak sengaja melihat Bill yang ternyata sedang membahas antar kerja sama perusahaan dengan perusahaan lain. Vien yang merasa bersalah karena telah menganggu obrolan mereka lantas langsung meminta maaf dan keluar dari ruangan tersebut. Setelah beberapa menit kemudian orang orang itu pun keluar dari ruangan Bill, sedangkan Bill masih berada di ruangannya sendiri.
"Permisi, Tuan" Sapa Vien setelah memasuki ruangan tersebut.
"Lain kali jangan asal masuk," Papar Bill merasa sedikit jengkel. Vien membungkuk dan kemudian duduk di hadapan Bill.
"Ada yang mau kamu sempein?" Tanya Bill.
"Ini Tuan, tadi saya tidak sengaja mendengar obrolan Nyonya dengan kakak sepupu anda yang bernama Tuan Calvin setelah acara rapat dengan perusahaannya. Saya denger Tuan Calvin ngajak Nyonya buat dateng di acara pesta perusahaan. Tapi karena saya khawatir sama Nyonya... Jadi saya ke sini buat kasih tau soal ini ke Tuan" Jelas Vien. Dia kemudian menunjukkan sebuah rekaman suara yang sempat ia rekam tadi agar Bill tidak salah paham dan mampu percaya padanya.
"Hmmm," Namun Bill hanya menanggapinya dengan berdehem setelah mendengar rekaman suara tersebut. Setelah itu Bill menyuruh Vien agar merahasiakan hal ini pada Lusia. Ia juga membuat rencana dengan Vien kalau nanti malam mereka akan mengikuti mobil yang dikendarai oleh Lusia menuju tempat acara pesta tersebut.
Flashback off....
Selang beberapa waktu mereka pun akhirnya tiba di kediaman Amedeo. Betapa terkejutnya Bill serta Lusia saat melihat sosok kedua orang tua dari Bill yang tengah berada di ruang tamu. Untuk menghindari kecurigaan, Bill pun akhirnya menyuruh agar Lusia ikut dengannya. Mereka akan masuk ke dalam rumah tersebut melalui pintu belakang.
Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, Bill segera membersihkan dirinya dengan diikuti oleh Lusia. Mereka mengganti pakaian yang cocok untuk bertemu dengan orang tua dari Bill. Setelahnya Bill membuat rencana agar mereka kembali menuju halaman rumah dan memasuki mobil. Seakan mereka baru saja pulang dari acara makan malam berdua di sebuah restoran.
"Ayo turun" Ucap Bill ketika mereka sudah memasuki mobil tersebut dan akan keluar. Bill menggandeng tangan Lusia dengan sangat terpaksa dan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ah, kalian habis dari mana aja? Tadi Ibu coba tanya sama pelayan di sini tapi ngga ada yang tau kenapa kalian belum pulang" Sahut Alice setelah melihat kehadiran putra dan menantunya. Bill dan Lusia kemudian duduk di samping mereka. Namun tampaknya wajah Lusia sangat lemas dan tidak bersemangat karena kejadian buruk yang telah menimpanya.
"Kita habis dinner" Seloroh Bill. Namun Jasper dan Alice mempercayainya begitu saja dengan kebohongan putranya.
"Oh, gitu..."
"Kenapa kalian dateng tiba tiba? Jujur aku ngga suka kalo kalian dateng tiba tiba tanpa kasih tau aku" Jengkel Bill. Tetapi Alice menanggapinya dengan senyuman lebar.
"Kita dateng karena kita mau tanyain sesuatu sama kalian" Ucap Jasper yang sudah membuat perasaan Bill cemas. Ia takut Jasper akan mengungkit kembali soal calon cucu.
"Apa?" Tanya Bill ragu, berbeda dengan Lusia yang sedari tadi hanya terdiam dan duduk tenang.
__ADS_1
"Gimana? Apa kalian udah cek ke dokter kandungan? Apa hasilnya?" Benar apa yang sudah di cemaskan oleh Bill. Ternyata Ayahnya memang akan mengungkit soal itu lagi. Dibarengi dengan Bill yang terkejut, Lusia juga ikut terkejut. Dia khawatir jika mereka tahu kalau hubungannya dengan Bill layaknya seperti seorang musuh.
Bersambung....