[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 48


__ADS_3

Happy Reading~


Setelah kepergian si pria mesum, Lusia pun keluar dari balik pintu tempat ia bersembunyi dan berlari menghampiri Daniel yang tengah mematung melihat sekeliling.


"Terima kasih, terima kasih" Ucapnya beberapa kali sambil membungkukkan tubuhnya.


"Ngga masalah..., anda ngga perlu bungkuk bukuk gitu. Kedudukan kita sama saja, kok" Tuturnya dengan suara lembut dan kemudian menunjukkan sebuah senyuman mengembang diwajahnya. Lusia pun membalasnya dengan tersenyum juga.


Setelah sesaat, mereka menuju ke lantai 13 dan duduk di sebuah kursi yang telah disediakan. Mereka duduk berhadapan agar sedikit menjaga jarak. Daniel kemudian membuka sebuah berkas di dalam stop map berwarna biru muda. Yap! Itu adalah warna kesukaannya.


"Anda tau kan tujuan saya kemari mengajak anda?" Kata Daniel dengan menatap wajah Lusia.


"Iya, saya tau. Kita akan membahas lebih lanjut mengenai rencana yang akan kita lakukan berikutnya agar mampu membuat perusahaan lebih maju" Jelas Lusia dengan diiringi sebuah senyuman.


"Baguslah jika anda mengerti. Kalau begitu kita mulai saja pembahasannya, ya" Lusia pun mengangguk sebagai tanda jawaban.


Sekitar 1 jam lamanya mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol mengenai rencana perusahaan dan akhirnya selesai. Lusia bangkit dari kursi begitu juga dengan Daniel. Sebelum berpisah, mereka sempat berjabat tangan terlebih dahulu.


"Terima kasih untuk waktunya" Ucap Daniel seraya beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Huh.... capek juga" Hembus nya sambil melihat arah jarum jam di tangannya. Ia memang suka memakai jam tangan saat bepergian agar tidak repot melihat angka jam di ponselnya.


Ia berjalan turun melewati anak tangga dikarenakan sedang ada perbaikan di lift. Terlihat beberapa orang yang juga sama berjalan melewati tangga. Apa jadinya jika sebuah gedung tanpa lift? Itu pasti sangat merepotkan.


Drrtttt... drrttt.... ponselnya berdering, ia melihat ke arah ponselnya dan ternyata Vien tengah menghubungi nya. Mungkin saja ia merasa khawatir karena Lusia terlalu lama berada di dalam gedung hotel.


"Halo, Vien?" Sapa Lusia setelah mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Ah, Nyonya. Apa anda masih lama?" Tanyanya karena merasa cemas.


"Ngga. Ini saya mau ke basement" Jawabnya dengan singkat.


"Baik Nyonya" Panggilan itupun diakhiri oleh Lusia.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Ketika tengah melewati sebuah pintu kamar hotel, Lusia dikejutkan karena pintu itu tidak tertutup dengan rapat. Lalu terdengar samar samar suara seseorang yang begitu familiar. Dengan rasa penasaran, dia nekat mengintip dari balik pintu kamar tersebut.


Deg?!!!! Hatinya tergoyah. Jantungnya berdetak kencang, ia tidak percaya dengan kenyataan ini. Tanpa disengaja, air matanya itu keluar dari kedua bola matanya. Ia benar benar tidak bisa menahan air mata yang telah membendung di kedua bola matanya. Bagaimana tidak? Dirinya yang melihat sang suami tengah bermesraan dengan wanita lain di dalam kamar tersebut membuat hatinya terasa begitu sakit.


"Hhhhh, sayang.. lanjutkan" Ucap seorang wanita yang entah siapa. Lusia hanya mendengar suaranya dari luar ruangan.


"Ayo, aku juga ingin" Terdengar suara wanita lain juga yang berbicara. Lusia bingung dan tidak tau ada berapa wanita yang kini sedang membuat Bill tergoda.


"Hiks... hiks...." Lusia tiba di basement dengan wajah yang telah dipenuhi dengan air mata dan masih diiringi dengan isak tangis. Lantas Vien yang tidak tau apa apa dibuat heran oleh Lusia yang tiba tiba menangis.


"Nyonya, ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Vien merasa begitu khawatir.


"Vien, ayo cepet kita pulang" Ucapnya tiba tiba. Tanpa berpikir panjang, Vien pun langsung membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Lusia. Lusia masuk ke dalam mobil diikuti oleh Vien. Seperti biasa ia membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Disepanjang perjalanan Lusia masih terus saja menangis.


"Nyonya, jika ada sesuatu yang ingin anda sampaikan silahkan bicara saja. Saya akan mendengarkannya, dan jika bisa saya akan membantu Nyonya mengatasinya" Seloroh Vien.


"Ini ngga perlu kamu pikirin. Ini masalah saya sendiri" Sontak Vien pun menjadi tambah kebingungan, tidak biasanya sang Nyonya bersikap cuek seperti itu terhadapnya.


Selang beberapa waktu, mereka pun akhirnya tiba di kediaman Amedeo. Lusia langsung keluar dari mobil sebelum Vien membukakan pintu untuknya. Vien pun menjadi bertanya tanya dalam benaknya merasa ada yang salah dengan sang Nyonya.

__ADS_1


"Selamat malam Nyonya, semoga malam anda menyenangkan" Ucap Vien dengan badan membungkuk sebagai tanda hormat. Namun dirinya dihiraukan begitu saja oleh Lusia, ia masuk ke dalam rumah dengan langkahnya yang begitu cepat.


"Nyonya, semoga anda baik baik saja" Batin Vien.


"Tapi aaku bingung, sebenernya tadi ada masalah apa sampe sampe Nyonya nangis"


"Huh... sebaiknya aku selidiki aja. Aku harus balik lagi ke hotel tadi dan cek CCTV" Ucapnya dengan suara pelan sembari masuk ke dalam mobil. Ia membawanya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat tiba di hotel.


Namun sayang sekali, jalur menuju tempat hotel tiba tiba terjadi sebuah tabrakan mobil dengan mobil yang akhirnya membuat Vien harus putar arah. Ia mencari jalur lain menuju hotel melalui GPS di ponselnya, namun tidak ada yang bisa ia lakukan lantaran tidak menemukan sinyal di tempat itu.


"Sial!" Kesalnya. Ia pun terpaksa menunggu di jalan itu agar bisa tiba di hotel meskipun akan terlambat.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Bill keluar dari sebuah ruangan kamar hotel. Namun beberapa wanita yang habis bermain dengannya tidak keluar melainkan masih berada di dalam untuk menenangkan diri.


"Apa ini?" Tanyanya pada dirinya sendiri sembari mengambil benda berwarna emas yang terjatuh di lantai.


"Anting?" Ia mengamati sebuah benda berwarna emas yang ternyata adalah sebuah anting. Benda itu sangat ia kenali, Bill pun menyimpan anting tersebut di dalam saku jas yang ia pakai.


Sementara itu, Lusia yang merasa frustasi terus saja berbaring di ranjangnya dengan pakaian yang masih sama. Ia belum membersihkan dirinya setelah pulang dari hotel. Beberapa kali Lusia menoleh ke sana kemari memikirkan hal yang baru saja ia alami. Ia kemudian bangkit dari ranjang dan keluar dari kamarnya.


Lusia berjalan menuju halaman belakang yang tak lain lagi adalah taman. Jarang jarang juga ia pergi ke taman belakang dikarenakan selalu sibuk dan pulang larut. Lusia melihat angka jam yang tertera di ponselnya, waktu sudah menunjukkan 30 menit yang lalu sejak ia tiba di rumah.


"Bill.... aku ngga nyangka" Desis nya pelan sambil terus menatap pemandangan malam di taman tersebut.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2