![[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda](https://asset.asean.biz.id/-nikah-sma--dipaksa-menikah-dengan-ceo-muda.webp)
Happy Reading~
Lanjut Flashback**
Setelah 2 tahun kemudian, Yena sudah bisa melupakan semua kejadian masa lalunya dengan sang mantan suami. Dia menjalani kehidupan bahagia dengan suami barunya. Ethan juga merasakan kasih sayang penuh dari Ayah sambung nya.
Suatu ketika, malam telah larut. Yena pergi dengan mobilnya seorang diri. Ia melewati sebuah jalan kecil nan gelap menuju ke suatu tempat. Setelah cukup lama berada di perjalanan, ia pun tiba di depan sebuah rumah yang tak asing. Ia menghentikan mobilnya dan kemudian turun dari mobil. Yena melihat sekeliling, tak terlihat satu orang pun di sana. Yena memasuki rumah yang tak di kunci itu dengan langkah pelan.
Tap... tap.... Langkah kakinya itu tak di dengar oleh siapa pun, namun seorang wanita yang tengah duduk di kursi ruang tamu itu mampu melihat kedatangan Yena yang memang sudah ada janji dengannya.
"Dimana Kyne?" Tanya Yena dengan ragu. Wanita yang kini tengah berhadapan dengannya adalah Shania. Ia tersenyum sinis ke arah Yena, kemudian menghampirinya yang masih berdiri.
"Anak kamu, udah tidur?" Tanyanya lagi memastikan. Ia benar benar-benar merasa khawatir akan di jebak.
"Tenang, Kyne belum pulang. Lusia udah tidur" Balas nya singkat dengan memasang raut wajah senang.
"Kenapa kamu panggil aku ke sini? Bukannya selama dua tahun ini kamu udah bahagia sama Kyne?" Ucap Yena, ia menahan rasa sedihnya di balik senyuman itu. Yah, memang dia sudah bisa melupakan masa lalu. Namun rasa sakit di hatinya masih ada.
"Aku bahagia kok, makasih udah rela in dia buat aku. Lagipula aku juga kasian sama kamu, karena Kyne udah hianati kamu sebelum kalian menikah" Hardik Shania yang sontak membuat Yena terkejut kalang kabut.
"Sejauh apa hubungan kalian?"
"Kita udah punya hubungan sebelum kalian menikah. Sebenernya.... aku itu udah baik bisa kasih Kyne ke kamu selama ini. Aku rela dia nikah sama kamu dan aku jadi kekasih gelapnya. Apa kurangnya aku? Bahkan se--" Ucapnya namun terjeda.
"Ya! Kamu udah baik, tapi... aku mau tanya satu hal. Dimana sisi baik kamu? Kamu udah jadi kekasih gelap, lalu.. hh... Lusia, dia anak siapa?" Sela Yena. Kini kedua bola matanya telah membendung air mata. Namun ia berusaha tetap tegar di saat situasi seperti ini.
__ADS_1
"Dia anak Kyne, aku hamil Lusia sebelum kamu nikah sama dia. Itu alasan Kyne tetap bertahan sama aku"
"Oh... jadi dia lebih sayang Lusia dibanding Ethan??!!!!!"
"Iya, kamu bener. Lagipula Ethan itu anak ke dua. Bukan anak pertama"
Di sisi lain, Lusia terbangun dari tidurnya lantaran suara bising yang terus terlintas di telinganya. Ia membuka pintu kamar dan melihat sosok wanita lain sedang bersama dengan Ibunya. Lusia kemudian menutup pintunya kembali, ia hanya mengintip di celah pintu yang masih sedikit terbuka.
"Tega kamu udah bikin Ethan jauh dari Ayah kandungnya" Ucap Yena dengan suara lirih tepat di samping telinga Shania.
SRAKKK!!!! Kemudian sebuah pisau tertusuk di perut Shania. Yena adalah pelakunya. Ia tersenyum senang, rasanya lega telah menghabisi wanita yang selama ini telah membuatnya sakit hati.
"I.... Ibu..." Lusia dari balik pintu itu melihat wanita yang tengah berhadapan dengan Shania menusuk Ibunya dengan sebuah pisau. Darah terus mengalir dari bagian perut. Namun Lusia yang masih kecil tidak berani mendekat, ia takut jika dirinya juga akan di lukai oleh wanita yang telah menghabisi nyawa Ibunya.
"Apa?? Aku nyesel udah bodoh sejak dulu" Kata Yena. Ia berjongkok di hadapan Shania yang susah terduduk lemas akibat sebuah tusukan.
"Gi--gimana, deng-an... Lu.." Shania terbaring. Ia telah kehabisan nafas. Itu adalah ucapan terakhirnya. Lusia menangis, melihat sang Ibu tercinta telah tergeletak lemas di lantai.
"Aku harap kamu bisa bahagia di alam selanjutnya. Atau... kamu harus menanggung semua kesalahan yang udah kamu perbuat" Yena bangkit, ia berjalan menuju pintu keluar rumah. Langkahnya begitu pelan seakan tidak ada masalah yang akan datang padanya.
Yena masuk ke dalam mobil, ia masih belum melajukan mobilnya lantaran sedang menunggu kedatangan seseorang. Tak lama kemudian, beberapa mobil berwarna hitam datang. Itu adalah anak buah dari suaminya yang tengah menjemput Yena. Setelah itu Yena mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan dikawal empat buah mobil.
\*\*\*\*\*
"Ibu!!!! Ibu!!!!" Lusia terus berteriak memanggil Ibunya sambil berlari menghampiri Shania yang kini sudah tidak bernyawa. Ia memegang pipi sang Ibu, lalu beberapa kali mencoba untuk membangunkan Ibunya.
__ADS_1
"Hiks... hiks... wanita itu jahat! Siapa dia telah membunuh Ibuku???!!!!" Lusia terus menangis, ia tidak bisa menerima semua kenyataan yang telah terjadi. Kini tangannya telah penuh dengan darah sang Ibu, ia terus memeluk Ibunya yang sudah tidak bernyawa.
Selang beberapa waktu, sebuah mobil yang terdengar familiar berhenti di halaman rumah. Lusia segera berlari menuju pintu keluar masuk rumah dan memeluk sosok yang kini tengah berdiri di depan pintu.
"Ayah.. Ibu..." Ia menunjuk sosok Ibunya. Kyne bingung dengan ucapan Lusia, ia juga tidak mengerti alasan kenapa Lusia bisa menangis histeris seperti ini.
"Ayo Ayah, bantu Ibu bangun" Ucapnya lagi yang sontak membuat Kyne langsung panik. Ia berlari masuk ke dalam dan melihat sosok istri yang sudah terbaring tidak bernyawa di lantai.
Tubuhnya langsung lemas, tanpa di sengaja cairan bening membasahi pipinya. Ia menangis bersama dengan sang anak tercinta di samping Shania.
"Siapa yang udah lakuin ini?!!!" Tanya Kyne dengan di iringi isak tangis yang tidak kunjung berhenti.
"Wanita itu telah membunuh Ibu" Kata Lusia. Kyne langsung mengerti, ia yakin bahwa wanita yang di maksud adalah Yena. Mantan istrinya.
Setelah kematian Shania, berita terus beredar di TV. Kyne tak henti hentinya menangis di depan mendiang sang istri. Lusia yang terus melihat Ayahnya seperti itu lantas memberi solusi agar Ayahnya mau menikah lagi dengan perempuan lain. Itu juga bisa membuatnya sedikit tenang karena bisa memiliki seorang Ibu sambung.
Tetapi Kyne menolak, ia beralasan bahwa dirinya tidak bisa melupakan Shania. Polisi yang telah menyelidiki kasus kematian ini juga tidak memberi kabar apapun. Bahkan Lusia mencoba meyakinkan polisi polisi itu kalau seseorang telah membunuhnya. Namun entah mengapa, kasus ini tiba tiba di tutup. Lusia sendiri tak habis pikir dengan Ayahnya yang tidak berbuat apa apa. Ia hanya terus terusan menangis di depan mendiang tanpa berusaha mencari pelaku sebenarnya.
Flashback off**
Lusia tercengang, ia merasa tidak percaya dengan semua omongan dari Ethan. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian menatap sinis wajah Ethan.
"Jadi, Ibu aku yang bersalah?" Tanyanya memastikan bahwa semua yang di dengar olehnya barusan hanyalah omong kosong. Ethan mengangguk, sebagai tanda jawaban 'Iya'.
Bersambung....
__ADS_1