[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 29


__ADS_3

Happy Reading~


Suara burung burung berkicauan mengitari halaman rumah Amedeo. Alunan kicauan burung itu indah layaknya seperti alunan musik. Suasana hening terpampang di lantai atas dimana disana terletak sebuah kamar sepasang kekasih itu. Sedangkan suasana bising sangat terdengar di ruangan ruangan lain karena aktivitas para pelayan di pagi hari.


Bill keluar dari ruangan kamarnya dan menoleh ke arah kamar Lusia. Dia mengucak kedua bola matanya sambil menatap jelas pintu kamar milik Lusia. Kemudian dia berpaling. Dan menuju lantai bawah dengan menyusuri anak tangga. Ini benar benar tidak seperti kebiasaan Bill, yang biasanya di pagi hari saat terbangun dari tidurnya langsung membersih diri dan pergi ke kantor. Sedangkan hari ini, dia malah pergi ke ruang makan untuk sarapan, padahal biasanya dia tidak pernah sarapan karena harus secepatnya ke kantor.


"Hufftttt," Decak nya. Entah kenapa wajahnya terlihat seprti orang malas. Setelah tiba di ruang makan, dia tidak jadi sarapan melainkan kembali menuju ke lantai atas untuk ke kamarnya. Setelah beberapa saat, Bill kembali keluar dari ruangan kamar dengan penampilan yang sudah benar benar rapih.


"Leon udah di depan?" Tanya Bill kepada salah seorang pelayan. Pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda jawaban.


"Dimana Lusia?" Imbuhnya bertanya.


"Maaf Tuan, sejak tadi pagi saya belum melihat Nyonya Lusia" Jawab pelayan tersebut.


"Mungkin Nyonya masih berada di kamar?" Tambahnya.


Bill pun beranjak kembali menuju lantai atas. Entah sudah berapa kali dia menaiki dan menuruni anak tangga. Setelah membuka kamar Lusia, Bill sama sekali tidak melihat sosok wanita itu. Pikirannya jadi berantakan karena Lusia. Dia jadi berpikir kalau Lusia kabur dari rumah, tapi tidak mungkin juga dia kabur karena Lusia tidak punya tempat lain lagi selain tempat ini.


"Apaan sih dia! Pagi pagi udah bikin orang nyariin aja" Kesal Bill. Karena Leon yang baru saja tiba di kediaman Amedeo, Bill pun jadi tidak memikirkan Lusia lagi melainkan pergi bersama Leon menuju perusahaan. Hari ini adalah hari yang paling dingin dari hari hari sebelumnya saat tiba musim dingin.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu diperjalanan menuju perusahaan, akhirnya mereka pun tiba. Kali ini Bill sengaja pergi menuju perusahaan MGK, mungkin saja dia bisa menemukan Vien di perusahaan ini. Begitu masuk ke dalam ruangan Lusia, dia hanya melihat sosok Vien seorang di sana.


"Ah, Tuan" Sapa Vien dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Ya,"


"Ada apa Tuan? Apa ada yang ingin anda sampaikan?" Tanya Vien sambil mempersilahkan Tuannya untuk duduk.


"Jasper sama Alice nanyain terus soal cucu, aku males banget denger hal ini terus menerus" Ucap Bill tiba tiba yang sontak membuat Leon serta Vien merasa heran.


"Lalu, Tuan?"

__ADS_1


"Aku mau kamu berhubungan sama dia"


Deggg?!!!!!! Vien lantas terkejut setelah mendengar pernyataan dari sang Tuan. Dia ingin menolak, namun jika ia menolak, mungkin saja pekerjaannya hanya akan berakhir di sini. Dia juga ingin menerimanya, tapi tidak mungkin juga karena Lusia adalah seorang Nyonya. Apalah dia adalah istri dari Tuannya.


"Ta---tapi Tuan," Ucap Vien gugup. Dia tidak tau harus menjawab apa. Leon sendiri yang mendengar ucapan dari Bill lantas kebingungan jika dirinya berada di posisi Vien.


"Jangan nolak! Aku ngga mau Jasper ungkit soal cucu lagi" Sergah nya. Vien menggeleng pelan, namun tatapan Bill begitu tajam menatap matanya.


"Kenapa anda tidak melakukannya bersama Nyonya?" Tanya Vien dengan lancang. Dia ingin sesekali menyadari kesalahan yang telah banyak diperbuat oleh Tuannya.


"Ckck! Buat apa aku bikin keturunan keluarga Amedeo? Ngga ada gunanya banget" Lantas Vien dibuat geram olehnya. Tapi mau bagaiamana lagi karena Bill adalah Tuannya sendiri. Yang selama ini telah memberinya pekerjaan meskipun pekerjaannya lumayan sesat.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa" Tolak Vien. Bill langsung menatapnya dengan sinis. Sedangkan Leon hanya bisa tegang melihat keduanya berbicara. Tiba tiba dia merasa khawatir jika Bill akan menawarkan padanya juga. Namun ternyata tidak.


"Alasan?" Tanyanya singkat.


"Saya tidak berani melakukan hal itu dengan Nyonya. Saya akan melakukan apa saja yang anda perintahkan Tuan, tapi jika soal ini..... Maaf, saya akan menolak"


Bill beranjak dari kursi. Ia angkat kaki dari tempat itu dengan diikuti oleh Leon yang selalu setia mendampingi nya. Lusia masih tetap mematung di pintu masuk ruangan bahkan saat Bill melewatinya. Ketika kedua pria itu sudah tidak tampak lagi di lantai tersebut, Lusia baru masuk ke dalam ruangan dengan menatap heran wajah Vien yang sedari tadi hanya tertunduk.


"Kamu kenapa?" Tanya Lusia merasa heran sembari melangkah menghampiri Vien.


"Ah, tidak apa Nyonya. Saya hanya sedang bingung" Bohong Vien.


"Kalo ada sesuatu yang buat kamu ngga nyaman, kamu bisa cerita ke aku" Ucapnya karena merasa curiga dengan kedatangan Bill bersama Leon. Dia khwatir jika Bill menanyakan hal yang tidak tidak mengenai dirinya kepada Vien.


"Tidak Nyonya. Saya baik baik saja"


"Oh, oke"


Mereka pun akhirnya melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Lusia baru saja akan memulai pekerjaannya karena ia juga baru tiba di perusahaan.

__ADS_1


******


Di perjalanan, Bill terus memikirkan hal untuk membuat Lusia bisa melahirkan seorang anak bukan dengan darah dagingnya. Lalu dia terpikirkan dengan seseorang yaitu xx. Tapi percuma saja, karena xx sepertinya hanya bercanda hari itu. Daripada memikirkan hal ini, lebih baik Bill memikirkan masalah perusahaan saja.


Malam pun tiba suasana di kediaman Amedeo malam itu begitu sunyi. Bill yang baru saja pulang dari perusahaan itu tidak melihat sebuah mobil yang biasa dibawa oleh Lusia. Apalagi dengan pagi ini saat Lusia menghilang tiba tiba, itu juga membuatnya sedikit heran.


Dengan langkah cepat, Bill memasuki rumahnya dan berteriak memanggil para pelayan, "Pelayan!!!!" Setelah mendengar teriakan dari Bill, hampir seluruh pelayan di sana pun menghanpirinya.


"Iya, Tuan?" Balas mereka dengan serempak setelah tiba di hadapan sang Tuan. Kepalanya tertunduk hanya menatap ke lantai.


"Pagi ini, Lusia kemana?" Tanyanya sedikit tegas. Namun beberapa dari mereka tidak tau dimana keberadaan Lusia pagi ini, sedangkan hanya satu orang yang mengangkat tangan dan siap untuk menjawab pertanyaan dari Bill.


"Semalam Nyonya tidak berada di rumah Tuan, pagi tadi saya melihat Nyonya baru saja kembali ke rumah. Dan setelah itu dia pergi lagi untuk ke perusahaan" Terang nya. Setelah mendengar penjelasan dari pelayan tersebut, Bill pun memerintah agar mereka semua kembali untuk bekerja terkecuali dengan pelayan tadi.


"Apa tadi pagi dia bawa mobil yang biasanya?" Tanya Bill dengan raut wajah begitu serius membuat pelayan itu sedikit tertekan.


"Iya Tuan,"


"Kamu tau kapan semalem dia pergi? Jam berapa?"


"Saya melihat Nyonya berlari dari lantai atas sambil menangis. Lalu dia langsung keluar dari rumah. Saya tidak tau apa yang telah terjadi pada Nyonya, saya ingin bertanya pada Nyonya tetapi tidak sempat karena Nyonya langsung lari ke dalam mobil. Saya tidak tau jam berapa saat itu" Pelayan itu hanya menjawab sesuai pertanyaan yang diberikan oleh Bill saja.


"Hmmm, oke. Kamu boleh pergi" Pelayan itupun langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan bawah. Bill langsung mengerti, berarti saat Lusia keluar dari kamar kemarin malam ia langsung pergi dari rumah. Tapi yang belum Bill ketahuai adalah kemana Lusia pergi.


Belum lama Bill beristirahat di dalam kamarnya, Lusia baru saja tiba. Dia menyelinap masuk ke dalam rumah diam diam layaknya seperti seorang pencuri. Tatapannya mengarah ke segela arah karena dia ingin menghindar dari Bill. Setelah berhasil di lantai pertama, dia kembali menyusuri anak tangga menuju ke lantai berikutnya. Dan saat itu juga dia berhasil kemudian di lanjut dengan lantai berikutnya lagi. Namun di lantai itu, ia dibuat kaget dengan sosok pelayan yang sedang menatapnya dari jauh.


"Nyonya?!!" Teriak pelayan itu membuat Lusia sedikit kesal. Dia khwatir jika Bill mendengar teriakan pelayan tersebut.


"Syuuttt"


"Tuan! Ini Nyonya!" Teriaknya lagi. Lantas Lusia baru tersadar. Mungkin saja pelayan ini adalah suruhan Bill agar dia memberitahu jika Lusia pulang ke rumah.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2