[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda

[NIKAH SMA] Dipaksa Menikah Dengan CEO Muda
Episode 68 [S2]


__ADS_3

Happy Reading~


Selang beberapa waktu, sekitar 20 menit lamanya berada diperjalanan, Bill pun akhirnya tiba di halaman rumah Amedeo. Sebelumnya ia sontak terkejut setelah melihat dua mobil yang tengah terparkir di halaman, salah satunya adalah mobil milik sang istri. Namun ia tidak tau satu mobilnya lagi milik siapa.


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Bill sedikit berteriak setelah memasuki rumah. Dilihatnya dua wanita tengah terduduk menatapnya dengan rasa heran. Bill menghela nafas panjang, ia mencoba untuk bisa tenang.


"Ada masalah apa, Lusia?" Tanyanya lagi lantaran Lusia belum menjawab pertanyaannya barusan.


"Ayah Ibu, mereka.... kecelakaan" Jawabnya. Sontak Bill langsung terdiam, mulutnya seakan membisu tak dapat berkata apa apa. Ia bukannya merasa kasihan pada mertuanya, namun dirinya hanya merasa khawatir dengan keadaan Lusia yang kini sedang mengandung calon anaknya. Bisa saja Lusia memikirkan soal kecelakaan yang telah dialami Ayah dan Ibunya, itu bisa saja berpengaruh pada kandungannya.


"Terus, apa mereka udah di bawa ke rumah sakit?" Tanya Bill dengan raut wajah cemas. Lusia pun mengangguk sebagai tanda jawaban. Jika dilihat dari wajah wanita dihadapannya, sepertinya tidak begitu memikirkan soal orang tuanya. Namun saat menatap wajah Maria yang masih terduduk, sepertinya ia sangat syok mengetahui hal ini.


"Ayo kita ke rumah sakit. Aku khawatir" Ucap Lusia tiba tiba. Bill hanya mengangguk dan ketiganya pun langsung bergegas menuju rumah sakit tempat orang tua Lusia di rawat. Cukup lama berada di perjalanan, mereka pun akhirnya tiba di tempat tujuan. Ketiganya turun dari mobil secara bersamaan, sebelumnya mereka telah memutuskan untuk numpang di mobil milik Bill saja agar tidak perlu repot membawa dua mobil.


DRAP DRAP DRAP!! Begitu memasuki gedung rumah sakit, Maria langsung berlari seorang diri menuju lorong. Entah kemana tujuannya namun Bill dan Lusia terus mengikuti nya dari belakang. Sepasang suami istri itu sengaja tidak berlari dan memilih untuk berjalan cepat saja agar tidak ada kajadian yang tidak mereka inginkan terjadi.


****


Tak terasa awan gelap telah menutupi langit. Cuaca cerah berganti menjadi petang dan angin terus berhembus. Rasa dingin tak kunjung hilang dari tubuh mereka. Lusia menyandarkan kepalanya di bahu Bill, ternyata mereka telah berada di rumah sakit sekitar 3 jam hanya untuk menunggu korban sadar.


"Dia menggigil. Pasti dingin" Gumamnya. Bill yang peka pun lantas melepas jas nya dan memakaikannya pada Lusia untuk kain perantara agar istrinya itu tidak merasa kedinginan. Jika masih dingin pun yang pasti tidak terlalu dingin seperti sebelumnya.


"Hoamm... " Lusia membuka kedua bola matanya setelah merasakan lapar lantaran perutnya telah kosong. Bill menatapnya, kini mereka saling bertatapan dengan dekat.

__ADS_1


"A---ah, maaf" Lusia mengangkat kepalanya dari bahu Bill, ia merasa malu telah bersandar di bahu pria yang berada di sampingnya.


"Ngga papa. Kalo kamu ngantuk, lanjutin tidur aja" Papar nya seraya tersenyum. Lusia hanya membalasnya dengan senyuman canggung. Ingin rasanya ia jujur kalau dirinya sedang lapar, namun entah kenapa hatinya menolak agar Lusia tidak perlu jujur.


"Maria, mana?" Tanya Lusia sembari menatap sekeliling. Namun sama sekali tak terlihat sosok adik tirinya di sana.


"Dari tadi sore dia masih di dalem ruangan.... " Balasnya. Lusia langsung bangkit dari kursi dan masuk ke dalam ruangan. Betapa sedihnya ia melihat sang adik tengah menangis di sisi ranjang kedua orang tuanya. Lusia pun perlahan menghampiri gadis itu.


"Maria, ayo kita makan. Ayah sama Ibu masih hidup, kenapa kamu harus nangis?" Ajaknya. Maria menoleh, ia menatap sinis wajah sang kakak.


"Kamu juga kan butuh tenaga buat keluarin air mata kamu. Jadi... ayo kita makan. Biar kakak yang bayar! Kamu bisa makan sepuasnya" Imbuhnya. Maria pun mengangguk, kali ini ia setuju dengan bujukan dari kakaknya.


Mereka menaiki lift untuk bisa menuju lantai bawah, karena ruangan korban berada di lantai atas. Yah, gedung rumah sakit itu memang begitu tinggi hingga mencapai lantai 50. Ketiganya sempat menyeberangi jalan untuk bisa sampai di sebuah restoran yang terletak di seberang rumah sakit. Meskipun jaraknya yang cukup jauh.


"Kamu mau pesen apa?" Tanya Lusia seraya tersenyum. Bill hanya menggeleng dengan menunjukkan wajah dinginnya.


"Jangan bilang dia ngga jadi bayarin" Bisik Maria terhadap Lusia. Lusia hanya bisa panik dan berusaha untuk tetap tenang.


"Aku yang bayar kalo dia ngga mau bayar" Balasnya.


"Sial! Maria pesen makanannya ngga kira kira. Gimana kalo uangnya ngga cukup? Masalahnya aku ngga sempet bawa black card" Batinnya.


Tidak menggunakan waktu lama, pesanan pun di hidangkan. Aroma pedas begitu terasa, makanan yang dihidangkan selagi masih panas pasti membuat mereka tak sabar untuk segera memakannya.

__ADS_1


"Aku keluar sebentar" Ucap Bill. Ia bangkit dari kursi dan menuju pintu keluar masuk restoran.


"Awas aja.... " Cetus Maria menatap sinis wajah sang kakak. Namun Lusia hanya bisa membalasnya dengan tersenyum ragu.


Tak berselang lama, keduanya lantas mampu menghabiskan banyak makanan itu. Lusia segera membayar makanan yang telah habis menuju kasir, sedangkan Maria keluar terlebih dahulu untuk menunggunya di depan restoran. Begitu hendak membayar, ternyata seseorang sudah melunasi nya.


"Loh, seriusan?" Seru Lusia merasa tak percaya. Wanita itu mengangguk dan menunjuk pada seseorang yang tengah berdiri di belakang Lusia seraya berkata,


"Tuan itu yang susah melunasi nya" Lusia menoleh ke arah belakang, dan ternyata sosok itu adalah suaminya sendiri.


"Sial, aku kira tadi dia kabur" Gumamnya.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Beberapa hari telah berlalu. Namun sesuatu yang tak diinginkan datang begitu saja. Kabarnya Kyne dan Emma telah tiada karena takdir sudah memanggil mereka. Maria yang tidak bisa menerima semua ini lantas jadi seperti orang gila. Ia tak bisa mengontrol dirinya sekalipun mereka berada di acara pemakanan.


Di hari pertama saat keduanya baru dimakamkan, Lusia lah yang selalu menjaga mendiang nya karena Maria harus pergi ke sekolah. Ia sebenarnya tidak tega, namun karena sedang diadakan ujian disekolahnya, hal itu membuat Maria terpaksa harus mengikutinya. Namun setiap kali pulang dari sekolah, ia langsung menjaga mendiang orang tuanya. Tak sedikit teman temannya datang untuk memberikan kesan terkahir terhadap orang tua Maria.


"Terima kasih telah datang... " Ucap Lusia ketika mereka hendak kembali pulang.


"Sama sama, kak. Semoga Maria bisa cepat tenang" Kata salah seorang teman Maria. Lusia pun tersenyum menanggapinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2