2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 10 GANTI NOMOR


__ADS_3

Rey lebih dulu keluar dari kamar mandi. Ia langsung menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Sarung dan kaos oblong menjadi pilihan Rey saat ini.


Sedangkan Qai masih didalam kamar mandi karena masih sibuk dengan rabut panjangnya. Qai menatap pantulan wajahnya pada kaca kecil yang ada disana.


Senyum langsung menghiasi wajah cantiknya kala mengingat permainannya bersama Rey beberapa menit yang lalu.


Kini ia paham dengan cara mandi bersama dengan benar yang Rey maksud seperti apa. Sungguh Qai merasa polos sekali karena tidak memahami hal yang seperti itu.


Qai mendekatkan tubuhnya pada kaca agar bisa melihat pantulan dirinya pada cermin. Mata Qai mengeksplor seluruh lehernya yang semakin bertambah saja bercak berwarna merah kegelapan.


Kini lehernya dan tubuh bagian lainnya seolah tidak disempatkan waktu untuk bernafas. Memulihkan kembali kulit mulus yang dulu Qai miliki sebelum menikah.


"Kamu ketiduran Qai?" tanya Rey yang duduk ditepi ranjang. Menunggu Qai keluar dari kamar mandi.


"Lupa jalan keluarnya ada dimana." Ucap Qai tersenyum.


"Ini sudah ku ambilkan baju untuk mu Qai. Tapi kalau nggak cocok kamu ambil aja lagi."


Qai tersenyum sambil menatap Rey. Sungguh tidak ia sangka kalau Rey akan bersikap seperti ini. Memperlakukannya selembut ini.


"Terimakasih kak."


"Ayo Qai cepat solat magrib. Perutku sangat lapar." Ucap Rey saat Qai sedang menggunakan bajunya. Sedangkan Rey sudah berdiri dimana sajadahnya sudah ia gelar.


Setelah selesai solat, Rey membantu Qai menyisir rambut panjangnya. Rambut hitam lebat.


"Aku suka dengan rambut mu Qai." Ucap Rey. Kemudian ia mencium pucuk kepala Qai. "Ayo makan!"


Perlakuan sederhana Rey barusan membuat Qai terdiam terpaku menatap dirinya dari pantulan kaca riasnya.


Rey benar-benar mampu menggetarkan hati Qai secepat ini. Sangat diluar dugaan Qai juga cara Rey selalu membuat kinerja jantung Qai semakin cepat.


"Qai." Panggil Rey yang sudah diambang pintu.


Qai seketika tersadar dari lamunannya. Spontan ia menatap Rey yang sudah menatapnya. "Iya kaka." Qai langsung beranjak dan mengikuti Rey menuju dapur.


"Kamu masak apa Qai?" tanya Rey sambil membuka tutup makanan diatas meja.


"Masak sayur bening bayam kemangi, ikan goreng sama sambel kak." Jawab Qai sambil menghidupkan kompor.


"Kamu mau ngapain?" tanya Rey yang sudah mendaratkan tubuhnya diatas kursi.

__ADS_1


"Buatkan teh untuk kakak."


"Sebenarnya aku nggak terbiasa minum air hangat Qai. Aku akan meminta tolong padamu kalau aku ingin."


Qai langsung mematikan kompornya. Ia langsung duduk di samping Rey.


"Maaf aku cuma masakin kakak seperti ini." Ucap Qai sambil mengisi piring yang sudah diisi nasi oleh Rey dengan sayuran.


"Ini sangat menggugah selera Qai. Aku makan begini hanya kalau pulang lihat ibu."


Mereka langsung membaca doa bersama. Setelahnya Rey langsung melahap suapan pertamanya.


Qai diam memperhatikan reaksi Rey yang memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan sangat lahap.


Ia menjadi tersenyum sendiri dan langsung ikut melahap makanan hasil masakannya tadi.


Keduanya jelas saja makan dengan porsi banyak. Karena pekerjaan mereka tadi sudah jelas menguras energi keduanya.


Setelah selesai makan Rey dan Qai duduk di depan televisi.


"Aku ke kamar sebentar kak." Ucap Qai yang langsung beranjak.


"Iya." Jawab Rey sambil mengganti chanel TV.


"Mau ngapain?" Tanya Rey saat melihat Qai mulai membongkar card ponselnya.


"Ganti nomor kak."


"Kenapa ganti?"


"Lebih baik ganti, agar tidak ada yang menghubungi ku. Dan tidak akan terjadi kesalah pahaman diantara kita." Jawab Qai sambil melihat Rey sekilas.


Rey paham. "Jadi gimana tadi. Diterima atau nggak?"


"Di terima kak, hanya saja masuk mulai minggu depan menggantikan guru yang akan resign kak."


Rey mengangguk. "Kamu bisa naik motor gak Qai?"


"Nggak bisa kak. Kenapa?"


Jelas Qai tidak bisa mengendarai motor. Meski hidup mereka di desa, namun sejak kecil ia hampir setiap hari diantar jemput oleh ayah atau ibunya menggunakan mobil.

__ADS_1


"Kalau mobil bisa?" Tanya Rey serius.


"Bisa." jawab Qai spontan. Karena matanya masih fokus mengaktifkan nomor barunya.


"Kalau gitu kita beli mobil saja buat kamu kerja."


"Hah!" Spontan Qai melihat Rey dengan wajah seriusnya.


"Aku salah dengarkan?" Tanya Qai yang tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Tabungan kita pasti masih cukup Qai. Ya beli mobil bekas saja cari yang murah. Pasti masih ada sisa tabungan kita. Tapi kalau kamu maunya baru ya beli yang sekiranya kebeli dengan uang yang ada saja Qai."


"Aku ngojek pulang juga murah kok kak. Toh berangkat kesekolahnya bareng sama kakak. Nanti kalau aku sudah punya gaji sendiri, aku pakai gaji ku buat Transportasi. Ya meskipun gak sebanyak kakak gajinya."


"Uang mu ya untuk kesenangan mu sendiri Qai, terserah mau kamu gunakan apa. Tapi uuntuk yang lainnya itu sudah menjadi tanggung jawab ku."


"Dari pada kakak belikan aku mobil lebih baik kakak lunasi saja rumah kakak ini."


"Rumah kita Qai." Rey tidak suka dengan ucapan Qai seolah ia tidak memiliki apa yang dimiliki Rey saat ini.


"Maaf. Tapi aku beneran nggak mau kakak belikan mobil sedang kakak masih punya tanggungan rumah."


"Kalau begitu besok aku ajukan untuk pelunasan rumah ini dulu. Setelah itu kita nabung buat beli mobil Qai."


"Sejujurnya aku saat ini lebih suka kakak ajak jalan-jalan dengan mengendarai motor."


"Sejujurnya aku nggak enak hati dengan orang tuamu Qai. Kamu sudah terbiasa dengan kendaraan yang nyaman. Sedangkan aku belum memenuhi itu untuk kamu. Dan hanya bisa memberikan seperti ini."


Rey justru bingung bagaimana mungkin orang tua Qai menjodohkan Qai dengannya. Padahal didaerah desa mereka masih banyak anak orang terpandang lainnya. Yang pasti lebih sejajar dari fator ekonomi antar keluarga.


"Orang tua ku menjodohkan aku sama kakak karena beliau tahu kakak orang baik. Orang yang tepat untukku. Padahal dulu aku sudah mengenalkan Ferdi tapi tetap saja tidak pernah memberi izin untuk kami menikah." Qai tertawa.


Mengingat kenangannya memperjuangkan Ferdi agar diterima kedua orang tuannya. Sampai pikiran konyol Qai hadir untuk mengelabuhi orang tuannya.


"Terakhir kali aku dan Ferdi sepakat untuk pura-pura kalau aku hamil agar kami direstui." Qai tertawa lagi sambil menatap ponselnya.


"Tapi ternayata sesuatu dengan niat yang tidak baik akan berakhir tidak baik juga. Aku harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang aku cintai sepenuh hati ku selama ini ternyata tidaklah baik untuk ku." Ucap Qai tanpa menyadari jika ia cerita dengan gamblang tentang dirinya sendiri.


"Aku benar-benar sakit hati. Ingin sekali menamparnya saat itu juga. Tapi mana mungkin aku lakukan disaat keduanya sedang saling tanpa benang. Tapi saat itu juga rasa bersyukurku ada karena aku tahu kelakuannya sebelum akhirnya kami melangkah lebih jauh." Qai manatap Rey dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.


"Feeling orang tua kenapa sekuat itu untuk anaknya ya kak?"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2