
Dengan gerakan cepat Qai melepas mukenanya. Padahal mereka baru saja menyelesaikan solat dan belum berdoa seperti yang biasa mereka lakukan. Sudah tidak dapat ditahan lagi saat rasa mual tiba-tiba Qai rasakan.
Hoek... hoek...
Qai langsung memuntahkan apapun yang bisa ia keluarkan. Namun tidak ada apapun yang dapat Qai keluarkan, selain air minum yang ia teguk setelah bangun tidur tadi.
Rey yang mengira istrinya lari terburu-buru menuju kamar mandi karena ingin membuang hajat. Ia langsung cepat menyusul karena mendengar Qai muntah.
Rey langsung memijit leher belakang Qai untuk meredakan rasa mual yang dirasakan Qai saat ini.
"Badan kamu hangat loh Qai." Ucap Rey khawatir.
"Aku agak pusing kak." Keluh Qai sambil memijat kepalanya.
"Apa mungkin kamu masuk angin. Mau aku kerokin." Tawar Rey.
"Aku istirahat lagi saja kak biar pusingnya sedikit hilang. Nggak apa kan hari ini kakak nggak aku buatkan bekal?"
"Kamu lagi sakit masih saja mikirin itu. Nanti aku ada temu sama customer aku, jadi nggak bawa bekal pun nggak apa-apa."
Rey langsung menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk istrinya. Agar rasa mualnya sedikit berkurang.
"Nanti saat berangkat kerja, biar aku izinkan sekalian di sekolahan. Kamu nggak usah berangkat dulu Qai." Ucap Rey sambil memberikan segelas teh hangat.
"Nggak perlu kak. Aku kuat kok. Ini juga pusingnya sudah mulai berkurang kok."
"Kamu yakin kuat?"
"Yakinlah. Aku nggak selemah yang kakak kira."
"Aku nggak bilang kamu lemah loh Qai."
"Aku tahu."
.
.
.
Sudah sejak tiga hari yang lalu Fikri, Intan, dan Kirana berada di kota ini. Kota yang begitu banyak meninggalkan sebuah kenangan bagi intan. Kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan sampai kapan pun. Kenangan yang ia ukir bersama kekasihnya. Lelaki yang harus segera mendapatkan penjelasan darinya.
Sebentar lagi juga kontrak pernikahannya bersama fikri akan berakhir. Jadi Intan memutuskan untuk segera menemui lelaki yang salah paham terhadapnya.
"Apa besok kamu jadi menemuinya?" Tanya Fikri.
Tatapannya sangat sendu melihat bagaimana telatennya Intan mengurus Kirana, anaknya bersama Tiara.
Intan mengangguk. Tangannya masih terus mengepang rambut panjang, hitam dan lebat milik Kirana. "Aku harus segera melakukan hal itu kan?”
__ADS_1
"Tapi dia sudah menikah Intan."
Intan menatap Fikri tidak suka. "Aku tahu mas. Dia melakukan itu karena salah paham. Aku yakin setelah dia mengetahui kebenarannya, dia akan mengambil keputusan yang tepat."
Fikri hanya bisa menghela nafasnya. Pernikahan yang awalnya hanya mereka sepakati demi Kirana semata, kini menumbuhkan rasa yang tidak bisa ia cegah. Kasih sayang yang diberikan Intan untuk Kirana membuat hati Fikri begitu cepat jatuh hati pada mantan adik iparnya itu.
Lelaki mana pun pasti akan cepat melabuhkan hatinya pada gadis secantik Intan. Wajah yang menawan dan bentuk tubuh yang ideal bisa mencuri perhatian lelaki saat menelisik fisiknya.
Kalau sudah mengenalnya lebih jauh, maka akan menemukan sifat Intan yang begitu sangat hangat. Dan yang pasti tetap menjaga perasaannya untuk kekasihnya walau pada kenyataannya dia sudah menikah dengan lelaki lain.
Pernikahan kontrak selama tiga tahun. Pernikahan yang hanya dilakukan karena wasiat mendiang seorang istri. Kini benar-benar menguasai Fikri untuk ingin memiliki Intan secara benar. Tapi itu tidak bisa ia paksakan karena sejak awal intan menutup hati untuk lelaki lain, selain kekasihnya. Rayhan Abraham.
Intan langsung mencium pipi Kirana setelah gadis kecil itu sudah nampak cantik dan rapih.
Gendong ma..." Pinta Kirana sambil mengulurkan kedua tangannya.
"Sini sayang." Intan langsung menggendong keponakan yang kini menjadi anak sambungnya. "Ayo mas, kita jalan sekarang."
Dan jangan salahkan Fikri jika ia berharap nantinya Rayhan tidak akan pernah meninggalkan istrinya. Dan memilih kembali pada Intan. Di hari perpisahan yang sudah bisa dihitung menggunakan jari, Fikri berharap ada hal yang membuat intan membatalkan kesepakatan mereka.
Kini Fikri sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka hendak menuju kesebuah mall untuk mengajak Kirana bermain sesuai janji yang sudah di berikan Fikri kemarin.
.
.
.
"Kakak lagi dimana?" Tanya Qai. Karena ia mendengar suara kebisingan seperti bukan di kantor Rey biasanya.
"Aku sedang di mall sayang. Menunggu customer ku." Ucap Rey. "Nggak usah masak kalau badan kamu masih sakit yang. Kalau aku belum pulang atau sudah lapar beli makan duluan ya. jangan tunggu aku."
"Iya kak. Kakak di mall mana?"
.
.
.
Setelah lelah menemani Kirana bermain, kini Intan dan Fikri mengajak gadis kecil mereka pulang. Sangat nampak bahagia saat Intan terus mengajak Kirana bercanda. Gadis kecil yang nampak senang dalam gendongan Fikri.
Langkah mereka terhenti saat tidak sengaja berpapasan dengan Rey. sedangkan Rey nampak acuh saja, ia langsung naik ke tangga eskalator turun.
"Han tunggu Han." Intan terus mengejar langkah kaki Rey. "Han." Kini Intan sudah berhasil menggenggam pergelangan tangan Rey.
"Lepas Ta." Ucap Rey tidak suka.
"Tolong dengarkan penjelasan aku dulu."
__ADS_1
Intan langsung membawa Rey bagian tempat yang tidak begitu ramai lalu lalang orang. Tepatnya di bagian depan mall. Taman kecil yang ada disana. Sedangkan Fikri terus mengikuti kemana Intan dan Rey pergi. Ia sedikit memberi jarak untuk tidak mengganggu privasi mereka.
"Han. Tolong dengar penjelasan ku. Aku mau kamu tahu yang sebenarnya." Ucap Intan tetap menggenggam erat tangan Rey. ia takut lelaki yang ia cintai itu pergi tanpa mendengarkan penjelasannya.
"Tolong lepas Ta. Aku harus pulang sekarang. istriku sedang sakit."
Jujur Intan kecewa dan ingin marah mendengar sebaris kata dari mulut Rey. Tapi ia tidak mau emosi demi meluluhkan Rey. agar lelaki ini memberinya kesempatan.
"Tolong dengarkan sekali ini saja." Mohon Intan memelas.
Rey mengamati tatapan Intan sejenak. Ia lalu membuang nafasnya yang entah apa yang sedang Rey rasakan saat ini. "Aku akan dengarkan penjelasan mu untuk pertama dan terakhir kalinya Ta."
Meski kecewa dengan ucapan Rey barusan. Namun intan harus memanfaatkan waktunya saat ini.
"Kamu ingat saat satu bulan lebih aku tidak menghubungi mu. Tiga tahun yang lalu itu, kak Tiara meninggal Han."
Jujur Rey terkejut dengan ucapan intan barusan. "Lalu?"
"Setelah melahirkan Kirana. Kak Tiara mengalami pendarahan." Suara Intan terdengar tapi ia harus bisa menahan tangis.
"Aku tidak tahu apa-apa. Karena saat kak Tiara melahirkan Kirana. Aku sedang kuliah. Dan saat sampai dirumah sakit kak Tiara sudah meninggal." Intan menarik nafasnya.
"Setelah 40 hari meninggalnya kak Tiara. Keluarga ku dan keluarga mas fikri berkumpul. Mereka membahas tentang wasiat terakhir kak Tiara." Intan menjeda ucapannya.
"Mereka mau aku menikah dengan mas Fikri Han. Sesuai dengan wasiat kak Tiara sebelum meninggal. Aku sudah menolak karena aku sudah punya kamu. Tapi semua keluarga memohon dan meminta aku melakukan semuanya demi Kirana. Aku tidak punya pilihan lain Han. Aku menikah dengan melakukan perjanjian bahwa pernikahan ini hanya berjalan 3 tahun. Kurang hitungan hari lagi Han, aku pasti kembali ke kamu."
Meski terkejut tapi Rey tidak begitu menampilkan perubahan ekspresi wajahnya. Ia menatap Fikri yang terus melihat kearah mereka. Lelaki yang masih menggendong anak perempuannya.
"Aku cinta sama kamu Han. Sangat! Maka dari itu kita tetap berkomunikasi dengan sangat baik. Karena kamu yang aku mau menjadi suami ku. Bukan mas Fikri." Lirih Intan pilu.
Fikri benar-benar merasa sakit hati saat mendengar ucapan Intan barusan.Namun ia cukup sadar diri karena sejak awal perasaan Intan hanya untuk Rey.
"Aku masih milik mu. Aku masih utuh untuk kamu Han. Tolong percaya sama aku dan kita cari solusi yang terbaik untuk cinta kita."
"Solusi apa maksud kamu?" Tanya Rey yang antara paham tidak paham dengan ucapan Intan barusan.
"Sebelum lebih jauh lagi. Aku mau kita kembali Han. Sebentar lagi aku dan mas Fikri bercerai. Aku cinta kamu Han." Intan langsung memeluk erat Rey. Perasaan lega kini Intan rasakan setelah semuanya terkuak begitu saja.
Rey melepas paksa pelukan Intan yang sangat erat pada tubuhnya. "Aku juga cinta sama kamu Ta."
Mendengar ucapan Rey barusan, membuat senyum di wajah Intan merekah begitu saja. Membuat Fikri yang sejak tadi menjadi saksi harus menerima rasa sakit.
Membuat perempuan yang sejak tadi ikut mendengarkan obrolan Rey dan Intan tanpa mereka ketahui, membuat nafasnya terasa sesak begitu saja.
Perempuan itu memilih pergi meninggalkan area mall dengan air mata yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Pilihan terbaik dari pada mendengarkan kelanjutan ucapan mereka, dua insan yang saling mencintai. Dan terjebak dengan sebuah hubungan pernikahan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️