
Beberapa minggu telah berlalu begitu saja. Dan pada akhirnya Rey tidak melaporkan perbuatan Ferdi yang telah melecehkan istrinya. Atas usul Qai sendiri.
Awalnya Rey tidak setuju, meski tidak sampai ke tahap terdalam perbuatan Ferdi, namun dia sudah menyentuh istrinya. Tentu saja Rey tidak bisa menerima itu semua.
Namun rey akhirnya menurut dengan ucapan Qai. Mengingat keluarga Ferdi kaya raya yang sudah pasti memiliki orang dalam karena saudaranya banyak yang menjadi po*lisi dan pengacara. Tentu mereka hanya akan mengeluarkan banyak biaya dengan hasil yang sudah pasti nihil.
Walau sejujurnya Qai juga tidak terima karena Ferdi akan melakukan perbuatan keji padanya. Namun itu keputusan Qai yang menurutnya tepat saat ini.
Semalam Qai dan Rei mengendarai motor menerjang malam. Pulang ke rumah orang tau Qai. Mereka mendapat kabar kalau ibu wirda tengah sakit. Beruntung bertepatan hari sabtu dan minggu jadi mereka langsung begitu saja pulang ke kampung.
"Ibu, biar Qai saja yang masak. Ibu belum sehat betul."
"Ibu cuma demam saja loh Qai. Ini sudah enakan. Kalian ini sampek tengah malam pulang. Bahaya nak."
"Ibu pasti sakit karena kangen Qai kan?" Tebak Qai sambil memeluk ibu Wirda dari belakang.
"Kami cuma punya kamu dan Rey nak. Jadi wajar jika kami rindu kalian."
"Qai janji kalau libur, Qai pulang tengok ibu."
"Lebih baik kamu janji kasih ibu cucu Qai. Kami ingin gendong bayi loh ini." Goda ibu Wirda.
"Ibu." Ucap Qai malu-malu. Ia langsung melepaskan pelukannya dan duduk di kursi yang ada disana.
Bu Wirda mematikan kompor karena masakannya memang sudah matang. "Qai bahagiakan?" Tanya bu Wirda mengusap pucuk kepala Qai. Ia ikut duduk didekat Qai.
Qai tersenyum menatap ibunya. "Qai bahagia bu. Terimakasih sudah menjodohkan Qai dengan lelaki yang tepat. Qai nggak bisa bayangin bagaimana nasib Qai jika Qai nekat bohongi ayah ibu dan menikah dengan Ferdi."
"Sudah nggak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang cepat kasih ibu cucu."
"Ibu..." Malu banget sumpah Qai digoda ibunya seperti ini.
Mengingat bagaimana ia dulu menolak mentah-mentah saat akan dijodohkan dengan Rey dan berakhir pasrah untuk menerima perjodohan. Kini Qai mengucap rasa syukur karena bertemu lelaki yang tepat.
.
.
.
"Wah mantunya pulang to pak?" Tanya pak Ruslan yang baru bergabung.
"Iya Alhamdulillah pak." Ucap pak Abdul, ayah Qai.
Sejak tadi pak Abdul dan Rey tengah mengobrol di halaman rumah. Rey tadi juga membantu memandikan burung-burung peliharaan ayah mertuanya itu.
Rey langsung menjabat tangan pak Ruslan. "Sehat pak?"
"Alhamdulillah sehat mas Rey. Aura pengantin baru terang benderang ya pak." Goda pak Ruslan setelah saling bersalaman.
__ADS_1
"Ya terang toh pak kan memang sudah mau siang ini." Ucap Rey bercanda.
"Lancar mas pekerjaan di kota?" Tanya pak Ruslan.
"Alhamdulillah pak."
"Bisa bantu lah mas kalau anak ku lulus kuliah. Di bantu masuk kerja ke perusahaannya jika ada lowongan." Ucap pak Ruslan.
"Insyaallah pak. Nanti kalau ada lowongan pekerjaan saya kabari."
"Permisi bapak-bapak." Ucap Qai melewati tiga orang disana. Ia membawa tabung gas menuju warung.
"Silahkan mbak Qai." Ucap pak Ruslan.
"Suwiwit..." Rey dengan tingkat usilnya bersiul menggoda Qai. Ia sepertinya lupa kalau disampingnya ada ayah mertuanya. Ayah Qai sendiri. "Mau kemana cantik?"
"Ke sungai pak." Jawab Qai asal.
"Seru tuh. Boleh ikut nggak. Seger kayanya mandi di sungai." Tanya Rey jahil.
Sedangkan pak Abdul dan pak Ruslan yang menjadi saksi seketika menepuk jidat tidak menyangka kalau Rey seusil ini. Membuat dua lelaki paruh baya senyum-senyum serasa bernostalgia saat mereka muda dulu. Saat baru menjadi pengantin baru.
"Boleh. Silahkan izin sama ayah saya dulu." Ucap Qai agar Rey ingat siapa yang duduk disampingnya.
"Bukannya bantuin bawa gas maslah godain aku. Kapok loh." Gerutu Qai yang langsung melangkah cepat.
Jeder...
"Ayah, pak. Rey nyusul Qai dulu."
"Silahkan mas." Ucap pak Ruslan.
Rey langsung beranjak mengejar Qai dengan cepat.
"Biar aku yang bawa." Ucap Rey yang langsung merebut tabung gas.
"Loh nggak jadi ke sungai pak?" Tanya Qai mengingatkan.
"Belum izin sama istri bu."
.
.
.
"Bu, Qai sama kak Rey mau ke rumah kak Rey dulu ya."
"Iya. Titip salam buat bu Yani ya nak."
__ADS_1
"Iya bu." Jawab Rey.
"Kalian bawa mobil saja, biar gak kesusahan bawa buah yang sudah ibu siapkan tadi." Ucap bu Wirda.
"Kak Rey bisa nyetir mobil?" Tanya Qai berbisik.
"Bisa tapi nggak lancar. Kalau kamu maunya bawa mobil ya kamu saja Qai yang nyetir. Bahaya kalau aku yang bawa."
Qai menatap Rey. Meski lelaki didepannya itu tersenyum. Namun Qai jelas melihat perubahan yang berbeda dari Rey.
"Kita naik motor saja bu."
Dan pada akhirnya lebih menghargai suaminya adalah pilihan Qai. Ia ingin Rey tahu bahwa dalam keadaan apapun ia akan bersama Rey. Ia hanya akan menghargai apapun yang mereka miliki kini.
Kini mereka sudah mulai menempuh perjalanan menuju ke rumah orang tua Rey. Qai terus memeluk erat Rey yang fokus menghadap depan.
"Maaf ya aku belum bisa belikan kendaraan yang buat kamu nyaman." Ucap Rey sambil terus melaju.
"Aku nggak apa-apa kak. Kalau naik mobil aku pasti duduk di samping kakak dan gak bisa manja. Tapi kalau kita naik motor, aku bisa peluk kakak sesuka ku." Ucap Qai. Karena jalanan nampak sepi, tangan Qai usil meraba kesana kemari.
"Qai kita masih dijalan. Jangan goda aku ya."
"Kalau tergoda kita bisa mampir di semak-semak kak." Jelas Qai.
"Lagi enak-enak pas di semak-semak terus di patok ular nyahok. Bukan Enak tapi sekarat iya."
Tangan Qai masih tidak mau diam. "Ya kalau begitu kita cari gubuk kak. Seru tuh kayanya di gubuk tengah sawah sambil menikmati sepoi-sepoi angin."
"Iya enak, tapi belum sampai ******* tiba-tiba gubuknya rubuh sangking kuatnya kita, mampus jugalah akhirnya."
"Ih kakak ini ada saja jawabannya." Ucap Qai sambil menepuk punggung Rey.
"Eh tapi Qai sepertinya di gubuk juga ide bagus."
"Katanya takut ambruk." Ucap Qai mengingatkan ucapan Rey tadi.
"Ya kita pelan-pelan aja. gimana? Nanti sampai rumah kita langsung pergi ke sawah."
"Astaga kakak. Kenapa jadi serius begini sih." Pekik Qai menepuk punggung Rey lagi.
"Lah kan kamu tadi yang ngusulin. Gimana?"
"Ogah kak."
Rey tersenyum dengan pikirannya sendiri. sepertinya ide-ide mulai gencar memenuhi otaknya yang mes*um.
Kini Rey mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sengaja tidak melajukan cepat motornya karena mereka tengah menikmati hamparan hijau sawah yang ditanami padi. Menikmati angin segar yang menerpa tubuh mereka.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️