
Usaha yang baru saja dirintis Qai selama beberapa bulan terakhir, kini dengan terpaksa harus Qai hentikan untuk sementara waktu. Semenjak kehamilannya memasuki usia Sembilan bulan, pinggang Qai lebih sering terasa pegal-pegal. Jalan pun sudah tidak gesit lagi. Duduk pun sudah tidak bisa berlama-lama lagi.
Dan sekarang sudah waktunya Qai dan Rey menanti kelahiran buah hati mereka. Akhir-akhir ini Qai merasa pinggangnya terasa nyeri dan bagian pangkal pahanya terasa mengganjal. Kalau kata orang tua bayinya sudah mulai turun dan mencari jalan karena sudah waktunya lahir.
Karena orang melahirkan tidak kenal waktu, akhirnya bu Yani, Rey jemput untuk menemani Qai. Bukan karena mereka tidak mandiri, Rey melakukan itu karena khawatir jika terjadi sesuatu disaat Qai sendiri dirumah.
Seperti biasanya, Qai yang mendengar suara motor Rey sudah sampai didepan rumah. Qai langsung turun dari atas ranjang. Jalan pelan-pelan untuk menuju ke depan rumah.
Meski ada bu Yani dirumah, Rey dan Qai tidak sungkan untuk berpelukan. Ritual yang tidak boleh ketinggalan saat sebelum dan sepulang Rey bekerja. Kalau untuk yang model sedot menyedot itu mereka skip, kecuali kalau masih ada didalam kamar. Karena bermesraan itu wajib bagi pasangan suami istri.
"Kakak, aku lapar lagi." Bisik Qai dalam pelukan sang suami.
Apakah memang ibu hamil seperti Qai. Belum genap dua jam mereka tadi makan malam bersama. Sekarang Qai sudah lapar lagi. Rey bingung juga.
Ini masih mending, saat kehamilan Qai memasuki tujuh bulan. terkadang baru satu jam makan Qai sudah makan lagi. membuat tubuh Qai yang dulu kecil ramping, sekarang terlihat berisi dan menggemaskan dalam semua sisi.
"Ayo aku antar makan."
"Kakak mau makan juga?"
"Enggak sayang. Aku masih kenyang."
Qai dan Rey langsung keluar kamar, dan langsung menuju dapur. Qai duduk di kursi sesuai perintah Rey. Dan Rey mengambil piring dan sendok. Lalu Rey mengisi piring dengan nasi. Dan Qai membuka tutup saji.
Semenjak ada bu Yani, Qai jarang sekali memasak. Qai hanya membantu saja dan bu Yani yang memasak setiap harinya. Kata bu Yani, ia tidak mau kalau Qai kelelahan karena aktifitas dapur. Dan masak nasi dan lauk pauk pun ibu Yani memasak di lebihkan. Agar jika Qai lapar tiba-tiba seperti ini, Qai tidak kebingungan harus membeli makanan.
"Segi cukup yang?" Tanya Rey sambil memberi tahu Qai, piring yang sudah berisi nasi.
"Cukup kak."
Rey langsung mengambilkan sayuran dan lauk. "Mau aku suapi?" Tawar Rey.
Qai tersenyum karena sangat senang. "Mau."
Rey menyuapi Qai dengan senang hati, sambil sesekali bercanda yang bisa menghasilkan tawa diantara keduanya.
Dulu saat wajah Qai keluar bintik-bintik untuk pertama kalinya. Qai jadi takut kalau-kalau Rey berpaling darinya. Karena jijik melihat wajah jeleknya. Namun ternyata Qai salah, disaat ia tidak percaya diri dengan keadaan wajahnya, disitu Rey semakin menunjukkan sikap mesranya. Bahkan Rey malah sering bermanja-manja dengan Qai.
"Mau nambah lagi?" Tawar Rey saat nasi sudah habis.
__ADS_1
"Sudah cukup kak."
Rey langsung beranjak untuk mencuci piring bekas makan Qai langsung. Lalu mereka bersantai lebih dulu di depan televisi.
Qai duduk di atas kasur dan bersandar pada dinding, dan Rey tidur di pangkuan Qai. Wajahnya menghadap ke perut Qai yang sudah membesar.
"Kok nggak mau gerak, biasanya kalau ayah ciumi langsung gerak-gerak." Gumam Rey sambil menciumi dan membelai perut Qai.
"Dia sudah kenyang kak, pasti sekarang dia mengantuk dan tidur." Qai menatap Rey dan mengusap kepala Rey.
"Oh. Jadi anak ayah sudah tidur ya?"
"Iya ayah." Jawab Qai menirukan suara anak kecil.
"Kalau ibunya sudah mengantuk atau belum?"
"Belum dong. Buktinya masih melek ini matanya."
Rey langsung bangun dan menatap Qai lekat. "Serius belum ngantuk yang?"
"Belum kak, kenapa?"
"Kata bidan kemarin kalau sudah hamil tua begini kan bagus kalau sering di tengokin yang."
"Mau tidak?"
Qai tersenyum mendengar tawaran Rey. "Mau lah. Mana boleh menolak ajakan suaminya."
(Tolong kesadarannya untuk lanjut setelah buka puasa bagi yang menjalankan 🙏)
Rey langsung mendekatkan wajahnya dan mulai menikmati bi*bir Qai. Saling bercecap mesra menyalurkan cinta yang semakin mekar dilubuk hati keduanya. Menyirami bunga dengan sentuhan hangat yang mendebarkan jiwa.
Qai menyusupkan kedua tangannya kedalam kaos Rey saat ia sudah berpindah berbaring. Rey sudah mengunci pergerakan Qai. Terus saling berpagut semakin dalam dan semakin liar. Saling memiliki benda kenyal yang penyatuannya membuat siapa pun ketagihan.
Qai meninggikan wajahnya saat Rey mulai mengabsen lehernya. Rey tidak membuat jejak-jejak meresahkan. Agar saat Qai melahirkan nanti, ia tidak malu dengan bidan yang menolong Qai karena adanya bekas aktifitas mulutnya yang sangat ahli.
Rintihan Qai tertahan pelan saat Tangan Rey menggenggam lembah yang semakin besar.
"Kak pindah ke kamar." Tutur Qai pelan saat ia teringat bahwa dirumah ini ada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Rey setelah mengangkat wajahnya.
"Ada ibu kak." Ucap Qai mengingatkan.
Rey langsung menyingkir dari atas tubuh Qai dan langsung menggendong Qai.
"Aku berat kak." Tutur Qai sadar diri.
"Enggak apa-apa. Cepat buka pintunya."
Qai langsung membuka pintu, lalu menutupnya. Rey langsung mendudukkan Qai di tepi ranjang. Membantu Qai melepaskan setiap benang yang menempel menutup Rapat apa yang tidak pantas terlihat.
Rey jongkok di depan Qai. Lalu mencium kedua pucuk lembah yang kini berwarna coklat kehitaman.
"Kakak." Rintih Qai. Darahnya terasa berdesir saat tubuhnya tersengat oleh aliran tegangan tinggi.
Rey menggenggam salah satunya. Jika dulu ukuranya terasa pas di tangannya kini tangannya seperti kurang besar untuk menggapai seluruhnya.
"Aduh kecipratan apa aku yang?" Tanya Rey absurd banget padahal ia sendiri yang telah menggenggam erat.
"Alhamdulillah akhirnya asinya keluar juga kak." Ucap Qai senang. Ia jadi melakukan hal yang sama seperti yang Rey lakukan tadi karena penasaran sendiri.
"Aduh yang kena aku lagi." Tutur Rey sambil mengusap wajahnya lagi.
"Maaf kak maaf." Qai ikut mengusap wajah Rey.
Lah kelamaan ada yang menantang di depan mata yang langsung di lahap saja. Memberikan glenyeran aneh bagi pemiliknya. Memberikan sensi enak bagi yang menikmatinya. Ketika keduanya sama-sama hanyut kedalam panasnya suasana.
"Mau kamu atau aku yang, yang di atas."
"Kakak sajalah. Biar kakak saja yang capek. Aku diam tinggal nikmati."
Rey memulai menuju ke tempat yang sebenarnya. Dimana letak bercin*ta sesungguhnya. "Yakin mau diam saja?"
"Yakin lah."
Ah sudah lah Rey malas banyak cing cong. Lebih baik segera bergerak dan menikmati suara indah istrinya dibawah kuasanya. Bekerja keras mencari peluh agar jiwa dan raga semakin sehat lahir dan batin.
Malam ini adalah malam yang indah, meski hanyut dengan suasana namun mereka tetap sadar tidak boleh bar-bar dalam melakukan pergerakan. Selain harus menjaga kenyamanan bayi di dalam kandungan Qai. Mereka juga harus menurunkan volume suara karena di rumah ini bukan hanya mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️