2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 31 INGIN PUNYA ANAK


__ADS_3

Qai berdiri dipinggir pagar di balkon mini kamar hotel mereka. Menikmati angin malam yang sejuk dan menenangkan. Sesekali ia menghangatkan dirinya sendiri. Meski begitu Qai masih betah untuk berlama-lama menikmati udara luar.


"Belum ngantuk?" Tanya Rey.


Jam memang sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Rey terbangun karena ingin buang air kecil. Ia langsung menghampiri istrinya begitu keluar dari kamar mandi.


Qai menyentuh tangan Rey yang melingkari tubuhnya. "Belum kak. Kenapa kakak bangun?"


"Ingin ke kamar mandi. Apa dari tadi kamu belum tidur?" Rey semakin erat memeluk Qai.


"Belum." Jawan Qai singkat. Tiba-tiba suasana terasa romantis saat Rey semakin posesif menghangatkan tubuhnya. Senyum juga kini semakin menghiasi wajah Qai yang cantik.


"Kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?"


"Aku hanya belum ngantuk kak. Nggak ada yang aku pikirkan."


"Benarkah?" Tanya Rey yang tak percaya.


"Mungkin." Jawab Qai enteng. Lagi pula mana mungkin Qai mengatakan dan berterus terang dengan hal yang belum siap ia katakan. Karena menikmati waktu seperti saat ini adalah hal penting bagi Qai sekarang.


Qai langsung memejamkan mata saat Rey menyingkirkan rambutnya. Ia menikmati sentuhan yang diberikan Rey. Hembusan nafas yang hangat langsung menerpa lehernaya saat Rey terus menciumi lehernya.


Rey langsung membalik tubuh Qai agar menghadapnya.


"Buka mata mu sayang." Qai mengikuti intruksi Rey saat wajahnya mendapatkan sentuhan dari tangan yang tadi memeluk tubuh Qai, menghangatkan raga yang terterpa angin malam.


"Kamu senang?"


"Sangat kak. Terimakasih karena kakak selalu membuat aku bahagia."


"Lalu apa yang kamu pikirkan. Jangan sembunyikan apapun. Mari kita mencari solusi dari apapun yang mengganggu kita."


Qai menatap Rey lekat. Masih terus berfikir apakah ia memang sebaiknya jujur. Tapi entah kenapa rasa egoisnya lebih besar, seolah ia tidak percaya dengan semua ucapan dan komitmen Rey yang telah mereka sepakati.


Qai menyadari sepenuhnya bahwa mengatakan semuanya sejak awal adalah hal yang tepat. Yang terbaik untuk kedepannya. Tapi Qai tetap memilih dengan egoisnya.

__ADS_1


Qai tersenyum. "Aku ingin kita segera punya anak kak." Lirihnya malu-malu. Menjawab dengan salah satu inginnya dan menyembunyikan beban perasaannya, itulah pilihan Qai saat ini.


Rey tertawa mendengar jawaban Qai barusan. "Kamu benar-benar sudah siap menjadi seorang ibu?" Qai langsung mengangguk mendengar pertanyaan Rey.


"Aku juga ingin kita punya anak Qai. Hanya saja, terkadang aku berfikir ulang. Kamu masih muda, aku takut kamu ingin segera punya anak hanya untuk memenuhi mau ku. Bukan karena kita sama-sama ingin memilikinya."


"Aku juga ingin kita segera punya anak. Agar kakak nggak tinggalin aku. Agar kakak tetap bersama aku."


Rey benar-benar dibuat terkejut dengan penuturan Qai barusan. "Anak tidak bisa menjadi jaminan alasan rumah tangga bertahan Qai. Percuma bertahan demi anak kalau hubungan orang tuanya nggak sehat. Anak juga bisa merasakan itu. Hal yang dipaksakan tidak akan membahagiakan Qai." Rey menjeda ucapannya.


"Anak itu amanah dari sebuah hubungan halal kita. Menyempurnakan kebahagiaan. Rumah tangga bertahan karena kita sendiri yang ingin bertahan. Karena aku butuh kamu dan kamu butuh aku, karena hanya kamu yang bisa melengkapi aku dan begitu juga sebaliknya." Rey mengusap pucuk kepala Qai.


"Jadi jangan pernah bernah berfikir begitu tentang aku Qai. Aku sudah mengatakan banyak janji dan aku akan menepati asal kamu tidak berpaling dari aku Qai. Aku ingin memenuhi apa yang menjadi kesepakatan kita sejak awal. Jadi jangan memikirkan hal yang membuat kamu ragu."


Sekilas amarah dapat Qai lihat dari pancaran mata Rey yang masih betah menatapnya. "Aku minta maaf kak." Ucap Qai yang langsung menunduk.


Qai benar-benar merasa bersalah. Karena tetap memilih egois dengan menutupi suatu hal yang membuatnya meragukan suaminya sendiri. lelaki yang selalu terbuka dengan semua hal. Tanpa menutupi apapun untuk membuatnya percaya.


Rey menganggkat dagu Qai. Agar istrinya tidak memutuskan tatapan yang mengait keduanya. "Aku tahu ada hal yang belum bisa kamu sampaikan pada ku Qai. Aku nggak memaksa mu untuk mengungkapkan saat ini jika memang kamu belum ingin. Tapi segeralah berterus terang. Karena diantara kita sudah harus saling percaya. Dan apa yang kamu tutupi itu kini membuat kamu meragukan aku. Jadi aku mohon untuk segera saling jujur entah apapun itu."


"Aku pasti mengatakannya nanti kak."


"Janji!"


"Janji kak."


"Lalu?"


"Lalu apa kak?" Tanya Qai bingung.


"Kita mau melakukan apa sekarang?"


Sudah bisa ditebak kemana arah pikiran lelaki yang semakin merapatkan diri mereka. Dimalam yang dingin seperti ini. Diwaktu yang semakin larut dan semakin sepi. Orang saja sudah pasti terbuai mimpi yang menyenangkan.


"Jangan mesum ya kak." Ucap Qai meledek Rey.

__ADS_1


Rey menyingkirkan Rambut yang terkena hembusan angin. Sehingga menghalanginya menatap wajah Qai. Yang kini tengah tersenyum menggodanya.


"Ini adalah waktu yang tepat dan pas untuk berfikir mesum Qai. Apa lagi hawa dingin yang semakin mendukung isi kepala ku saat ini."


Sungguh diluar dugaan memang. Bagaimana mungkin Rey secara blak-blakan dan enteng mengatakan hal seperti itu pada Qai yang kini tersenyum malu-malu tapi mau juga sih.


Suasana memang tepat, mungkin itulah yang ada dipikiran Qai saat ini. Karena kini Qai lah yang lebih dulu memulai. Mencium bi*bir Rey dengan sangat lembut.


Mencoba menyalurkan perasaannya sendiri. Berharap Rey tahu bahwa ia tidak ingin kehilangan lelaki yang kini semakin memperjelas aktifitas keduanya.


Kecupan yang semakin lama semakin dalam. Menuntut hal lebih karena tidak bisa dipungkiri tangan kedua insane yang bercumbu sambil menikmati angin malam sudah bergerak kemana pun sesukanya.


Mereka saling melepaskan benda kenyal yang mengait terlalu dalam. Tetap saling menatap walau nafas saja jelas tidak normal. Mata mereka sama-sama dipenuhi kabut rasa yang mengingikan hal lebih.


Tangan Qai bergerak menaikkan kaos oblong yang dikenakan Rey. Lelaki itu menurut saja saat istrinya menginginkan ia telanjang dada disaat angin malam yang semakin dingin.


Namun sepertinya keduanya abai dengan angin malam yang menerpa karena nyatanya kini tubuh mereka benar-benar terasa panas.


Tangan Rey bergerak melepas satu persatu kancing baju tidur yang dikenakan Qai. Menyisakan tanktop yang melekat pada tubuh bersih istrnya.


Rey langsung mengangkat tubuh Qai saat kecupan mereka sudah terlepas. "Aku nggak mungkin membuka pakaian mu disini kan." Ucap Rey yang langsung melangkah masuk menuju ranjang kamar hotel mereka. Untuk segera menyelesaikan urusan keduanya yang sangat penting.


Sedangkan seorang lelaki yang sejak tadi menyaksikan bagaimana panasnya adegan didepan matanya. Kini ia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan rasa amarah dan cemburu secara bersamaan.


"Sayang." Ucap perempuan yang sudah siap dengan pakaian seksinya. Memeluk tubuh kekar lelaki yang di penuhi emosi.


"Aku sudah siap." Bisik perempuan dengan nada nakal. Kemudian ia langsung merayapi tubuh yang bisa ia peluk saat ini. Mencecap leher di setiap sisi.


Lelaki yang memang hobi dengan hal seperti ini langsung mebalik tubuhnya. Menggendong perempuan seksi itu masuk ke dalam kamar. Menghempaskan kuat di atas ranjang yang akan menjadi saksi bisu bagaimana ia akan bertingkah panas. Sepanas hatinya yang dipenuhi rasa cemburu.


Bersambung...


Butuh es batu. ada yang jualan es biar otak aku gak melipir kemana-mana terus 😒🤕


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2