
Klek...
Samar-samar Qai mendengar suara pintu terbuka. Kemudian pintu itu langsung dikunci. Ia memilih abai dan tetap memejamkan matanya. Rasa kantuk benar-benar menguasainya kini. Setelah semalam bergadang dengan Rey melakukan hal yang menjadi rahasia mereka.
Qai juga jelas merasakan tubuh yang menaiki Ranjang dan langsung mendekatinya. Mengusap pucuk kepala Qai dan menyingkirkan rambut yang menutupi leher Qai.
Mata lelaki itu menatap nanar penuh amar saat melihat begitu banyak jejak-jejak percintaan yang sudah tidak dapat di bayangkan lagi bagaimana panasnya adegan perempuan dihadapannya kini.
Tangannya langsung menyentuh pundak Qai. Wajahnya mendekat mencium telinga Qai yang akibatnya menimbulkan rasa geli.
"Kak aku masih ngantuk dan capek. Semalaman kan kita sudah melakukan itu." Ucap Qai dengan suaranya yang serak. Matanya masih enggan untuk terbuka menatap lelaki yang mulai merayapi tubuhnya. Lelaki yang ia kira suaminya.
Seketika matanya terbuka lebar saat hidungnya mencium wangi yang sangat ia kenal. Namun wangi itu bukan wangi tubuh Rey yang biasanya memeluknya. Tubuh yang selalu memberikan kehangatan untuknya.
Spontan Qai bangun melihat orang yang ada di belakangnya. Orang yang merabai punggung dan juga tangannya lalu memberikan kecupan pada telinga, pipi dan lehernya.
Qai langsung lompat dari atas ranjang saat melihat siapa pemilik wangi yang ia kenali. Yang sudah dengan kurang ajar menyentuh tubuhnya. Beruntungnya Qai tadi menggunakan pakaian lengkap.
"Ngapain kamu disini?" Bentak Qai. Rasa kantuknya kini benar-benar lenyap seketika.
"Morning sayang."
"Keluar." Bentak Qai sambil menunjuk pintu.
"I miss you baby." Ucap Ferdi yang langsung beranjak dari atas ranjang. Ranjang yang sebenarnya tidak berbentuk lagi.
Qai langsung lari saat Ferdi ingin mendekatinya. Namun tetap saja Qai kalah cepat karena kini Ferdi sudah mendekapnya.
Qai meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan kuat Ferdi. "Lepas. Tolong..." Teriak Qai. "Kakak tolong aku kak."
Ferdi langsung menghempaskan tubuh Qai diatas ranjang dan dengan cepat ia mengunci Qai dalam kendalinya. "Suami kamu baru turu. Dan percuma kamu teriak, sekuat apapun tidak akan ada yang mendengar karena yang mengambil kamar di lantai ini hanya kita berdua." Tutur Ferdi sambil mengusap Wajah Qai yang ketakutan.
Qai langsung membuang wajahnya. Tangannya juga menahan wajah Ferdi yang hendak mencecapnya. Qai langsung meronta mencoba melepaskan diri.
"Diamlah sayang. Suami kamu tidak akan tahu jika kita melakukan itu sekali saja. Aku benar-benar rindu kamu dan ingin tahu juga bagaimana rasanya jika melakukan langsung dengan perempuan yang aku suka."
.
.
.
Baru juga Rey sampai di lantai dasar ingin menuju mini restoran khusus pengunjung disana. Rey putar balik menuju lift. Entah kenapa ia melakukan hal itu. Rey hanya menuruti kata hatinya saja, karena tiba-tiba ia kepikiran Qai yang tadi kembali tidur. Entah Qai dengar atau tidak saat ia pamit untuk turun mengambil makanan untuk mereka.
Langkah kaki Rey semakin cepat tanpa ia sadari. Pikirannya hanya berpusat pada Qai. Rey langsung menurunkan handle pintu namun pintu tidak bisa ia buka. Rey jadi berfikir kalau Qai sudah bangun, karena saat ia keluar kamar ia tidak membawa kunci. Jadi kamar sudah pasti tidak Rey kunci.
Tok...
Tok...
Tok...
"Qai..." panggil Rey. berharap istrinya itu segera membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Kakak tolooonggg..." Teriak Qai dari dalam sana saat mendengar Rey mengetuk pintu dan memanggilnya.
Blak...
Entah berapa kali Rey mendobrak pintu dengan menggunakan tubuhnya. Hingga pintu benar-benar terbuka lebar. Rey langsung melangkah cepat saat melihat istrinya sedang berada di dalam kuncian seorang lelaki.
"Breng*sek..." Ucap Rey emosi. Setelah menarik paksa Ferdi dan langsung ia hempaskan begitu saja.
Rey langsung membawa Ferdi untuk berdiri lalu melayangkan pukulannya.
Buk...
"Qai milik aku. Pacar aku." Ucap Ferdi setelah melayangkan pukulannya juga.
Buk...
"Yang kamu sebut pacar mu itu ISTRI AKU. Istri Fer, ISTRI." Lantang Rey tidak mau kalah.
Jelas saja Rey tidak akan mengalah sampai kapan pun. Karena memang Qai adalah istrinya. Dan hanya miliknya. Maka wajar jika Rey semakin emosi saat Ferdi mengatakan istrinya salah milik Ferdi.
Buk...
Buk...
Baik Rey maupun Ferdi mereka sama-sama saling baku hantam. Saling meluapakn emosi. Menyalurkan setiap amarah yang ada didalam diri mereka masing-masing.
"Stop." Teriak Qai lantang saat Ferdi ingin memukul Rey lagi.
"Cukup Fer." Qai berbalik menatap tajam Ferdi.
Sejujurnya Qai benar-benar tidak menyangka jika Ferdi akan berbuat sejauh ini. Karna setahu Qai selama mereka menjalin hubungan. Meski sering sekali Ferdi mengajak ke hal yang lebih jauh. Ferdi tidak memaksa saat Qai menolak tegas.
"Kita hubungan sangat lama Qai. Kenapa hanya karena satu kesalahan aku, kamu ninggalin aku dan pilih dia." Ucap Ferdi menunjuk Rey.
Qai menatap tajam Ferdi dengan senyum sinis terbit diwajahnya. Ya kesalahan Ferdi memang satu yang Qai tahu. Tapi entah berapa wanita yang Ferdi gunakan untuk melakukan kesalahan yang katanya hanya satu.
"Satu ya?" ucap Qai dengan nada dingin.
"Aku kesini sendiri ingin mencari ketenangan. Dan kita malah bertemu lagi." ucap Ferdi memelas.
"Kamu yakin kesini hanya sendiri? ditempat wisata seperti ini?"
"Iya." Ferdi berusaha menyembunyikan raut wajahnya. Karena Qai sangat hapal dengann ekspresinya jika ia sedang jahil membohongi Qai.
"Lalu siapa kemarin yang berciuman saat ramainya orang menyambut senja?"
"Itu... a...aku bisa jelaskan Qai."
"Aku nggak mau penjelasan dari kamu karena aku juga nggak butuh itu Fer."
"Tapi Qai..."
"Keluar..." Bentak Qai emosi.
__ADS_1
Dengan terpaksa Ferdi keluar dari sana saat melihat kilat amarah Qai yang belum pernah ia lihat selama menjalin hubungan dengannya.
"Mana yang sakit kak?" Qai sangat menghawatirkan Rey. padahal korban sebenarnya adalah dirinya sendiri.
"Aku nggak apa-apa. Kamu nggak diapa-apain kan sama Ferdi?"
Mendengar pertanyaan Rey barusan membuat Qai ingat kalau dia tadi hampir saja diper*kosa Ferdi. Kalau saja suaminya tidak datang entah bagaimana nasibnya tadi.
Spontan Qai lari menuju kamar mandi. Menghidupkan sower untuk mengguyur seluruh tubuhnya.
Rey iku masuk kedalam kamar mandi setelah menutup pintu. Ia mengganjal pintu menggunakan kursi yang ada disana agar pintunya tidak terbuka sendiri. Akibat di dobrak Rey jelas saja handle pintu pasti rusak.
"Kamu ngapain Qai?" Tanya Rey saat melihat Qai menggosok tubuhnya dengan kasar sehingga warna merah mulai bermunculan.
"Dia tadi raba-raba aku kak. Cium pipi, telinga dan leher aku. Aku pikir tadi kakak." Qai berhenti menjelaskan karena kini ia menangis sesenggukan.
"Aku nggak suka apa yang ia lakukan sama aku kak."
Rey jelas tidak bisa melihat air mata Qai. Karena mereka berdua juga sudah basah akibat percikan air sower.
"Dia tadi juga peluk aku dari belakang kak saat aku mau lari, keluar dari kamar ini."
Rey langsung memeluk Qai dari belakang. "Setelah dari sini kita laporkan saja dia kekantor polisi Qai. Agar dia tidak akan pernah melakukan hal kurang ajar lagi pada mu." Rey semakin erat memeluk Qai dibawah air sower yang terus mengalir.
Qai justru terdiam menikmati dekapan suaminya yang sangat menenangkan. Ia langsung memejamkan mata saat Rey meraba tubuhnya. Menikmati kecupan Rey pada punggungnya setelah kaosnya berhasil di lepas Rey. bahkan pipi, telinga dan leher pun tak luput dari absenan Rey saat ini.
"Aku sangat bersyukur karena aku mengikuti kata hati aku untuk kembali kekamar ini. Padahal aku tidak tahu apa alasan aku, karena tiba-tiba ingin kembali ke kamar. Tapi yang pasti aku hanya ingat kamu Qaila Zarina."
Hati Qai benar-benar terasa disentuh Rey semakin dalam. Membuat jantungnya berdetak cepat saat Rey menyebutkan seluruh namanya. Akan semakin sulit untuk Qai jika harus menerima kenyataan pahit jika nanti Rey tahu kebenaran tentang intan. Dan memilih meninggalkannya demi Intan.
"Apa ada lagi yang harus aku hapus jejak yang tidak kamu sukai?" Tanya Rei saat mereka sudah saling berhadapan.
Qai mengangguk. "Dimana?" Tanya Rey. Qai dengan wajah tanpa berdosa mengerjai suaminya dan memanfaatkan waktu. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri. Seketika mata Rey membualat karena terkejut.
"Apa! Jadi dia cium kamu juga?" Tanya Rey. Ia benar-benar tidak rela pusat magnetnya juga telah dijamah Ferdi.
"Bukan karena itu. Ferdi nggak berhasil cium aku karena aku menahan wajahnya. Terang Qai agar Rey tidak berfikir jauh.
"Beneran?" Tanya Rey.
Qai mengangguk. "Aku hanya ingin kakak cium karena momenya sudah pas."
Sepasang anak manusia itu sepertinya benar-benar kecanduan yang hal-hal tabu yang lumrah di lakukan pasangan suami istri.
Seolah melupakan kejadian yang barusan terjadi. Mereka melakukan lagi, mencari kepuasan raga. Memuaskan hasrat mereka sambil bermain air. Antara Qai dan Rey sama-sama melupakan rasa sakit pada tubuh Rey akibat pertengkaran tadi.
Bersambung...
Silahkan berfikir liar sendiri-sendiriπππ
Padahal kemarin aku niat update 2 bab tapi bab ini dari kemarin jam 17.20 Sampek sekarang belum lulus juga π aku minta maaf banget yaπ gara2 bab ini belum lulus jadi blank otak ku π
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
__ADS_1