
Tiga hari sudah berlalu. Tidak ada kehangatan yang bisa mereka rasakan. Tidak ada pelukan erat dan sebuah kecupan saat Rey sebelum berangkat dan pulang kerja.
Setiap hari Rey berangkat lebih awal dan selalu pulang jam sepuluh malam. Masakan Qai saja sampai tidak pernah Rey nikmati lagi. padahal Qai sudah bersusah payah menyiapkan semua makanan kesukaan Rey.
Diajak bicara juga Rey hanya menanggapi Qai seadanya. Qai memahami sikap Rey saat ini. Mungkin saja Rey sedang meluapkan amarahnya karena telah Qai tinggalkan begitu saja. Atau memang cara itu yang di gunakan Rey untuk mendinginkan kepalanya sendiri.
"Apa ibu harus coba mengatakan sekali lagi tentang keberadaan mu sayang. Agar ayah nggak marah lagi sama ibu." Gumam Qai sambil mengusap perutnya.
Qai langsung memeluk baju yang digunakan Rey semalam. Ia sangat merindukan suaminya. Ingin sekali dipeluk setiap kali akan tidur. Tapi bagaimana Qai meminta hal itu jika Rey saja masih marah dengannya. Jadi hanya inilah yang bisa Qai lakukan untuk mengobati rasa inginnya yang tidak kesampaian. Menghirup aroma tubu h Rey yang tertinggal di kaos yang Qai peluk erat saat ini.
Tidak seperti biasanya. Rey pulang tepat jam 10 malam. Sebenarnya bukan ini maunya tapi entah kenapa Rey ingin egois kali ini. Sepertinya Rey ingin agar Qai tahu bagaimana dia selama satu bulan saat Qai meninggalkan rumah.
Setelah selesai mandi, Rey langsung menuju dapur untuk membuang wadah sampo yang telah habis. Rey melempar begitu saja, tapi Rey langsung duduk jongkok saat melihat plastik bening seperti berisi beberapa bekas obat.
"Obat apa ini?" Gumam Rey setelah mengambil bungkusan plastik.
Rey langsung melihat beberapa macam jenis obat. Karena Rey tidak tahu obat apa itu dan kegunaannya untuk apa. Rey langsung menuju kamar untuk mengambil ponselnya dan segera mencari tahu.
Pikiran Rey mulai bercabang, takut kalau-kalau istrinya menderita sakit parah dan tidak menyapaikan kepadanya. Karena ia terlalu marah dan membuat Qai menyembunyikan hal seperti ini dari Rey.
"Apa ini." Gumam Rey saat mendapatkan informasi untuk apa obat yang kemungkinan besar di konsumsi Qai. "Apa benar istri ku hamil."
Rey langsung melempar begitu saja bungkusan obat yang telah ia cari informasi di internet. Rey langsung naik keatas ranjang dan mendekati Qai.
Rey mengintip wajah Qai yang lelap dan jelas nampak jejak air mata di wajahnya yang sudah mengering. Rey langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya yang tidur dengan meringkuk sedangkan kedua tangannya nampak memeluk kaos yang ia gunakan kemarin malam.
"Ya Allah apa yang aku lakukan." Gumam Rey menyesali sikap dan perilakunya selama tiga hari ini, mengacuhkan Qai begitu saja. Rey juga ingat pertengkaran mereka saat ia memotong ucapan Qai yang belum selesai. Mungkin saat itu Qai ingin memberi tahu tentang hal ini.
Rey Langsung mengusap perut Qai. Kini rasa bersalahnya menumpuk, Rey rasakan. Mengingat bagaimana ia yang terus saja acuh pada Qai. Padahal Qai terus mendekatinya, tapi ia memilih tetap egois dengan perasaannya sendiri. Seandainya saja ia tidak memotong ucapan Qai, semua ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Maafin aku Qai." Ucap Rey pelan.
Qai langsung mengerjapkan matanya saat merasakan perutnya mendapatkan sentuhan. "Kakak." Qai langsung ikut duduk. "Kakak butuh sesuatu? Aku akan lakukan apapun yang kakak katakana. Kakak mau apa?" Qai sangat antusias karena kini Rey mau menyentuhnya lagi. Dan mungkin saja Rey membutuhkan bantuan darinya.
"Maafin aku Qai. Kenapa tidak mengatakannya lagi?" Tanya Rey sambil menyentuh perut Qai.
Qai paham kemana arah ucapan Qai. Ia tidak perduli dari mana Rey tahu tentang kehamilannya. Karena yang terpenting adalah saat ini. Rey sudah kembali mengajaknya bicara dan menyentuhnya lagi.
"Karena aku ingin mendapatkan maaf kakak atas diri aku sendiri. Tidak adil rasanya kalau memanfaatkan dia demi diri ku sendiri."
"Tapi tetap saja kamu membuat aku menyiksa kalian berdua."
Air mata Qai sudah tidak bisa dibendung lagi karena rasa bahagianya bisa berbincang dengan cara yang baik seperti ini dengan suaminya.
Qai menggelengkan kepalanya. "Aku tetap makan dengan sangat banyak, aku tetap minum obat dan vitamin dari bidan, aku makan buah, aku beli susu juga. agar kakak nggak marah sama aku lagi saat kakak nanti tahu kalau aku hamil, Karena aku tetap memberikan yang terbaik untuk anak kita kak." Tutur Qai menjelaskan.
"Tolong maafkan aku sayang." Ucap Rey yang langsung memeluk erat Qai. Sungguh sangat-sangat menyesal Rey kini, karena sudah kekanakan dalam bersikap selama beberapa hari ini.
"Jangan pernah lakukan hal itu lagi Qai." Pinta Rey semakin mempererat pelukannya.
Qai mengangguk dalam peluka Rey. sudah tidah tahu lagi bagaimana cara mengungkapkan rasa bahagianya saat ini selain ikut memeluk Rey erat agar tidak melepaskannya dekapan yang sangat Qai rindukan.
"Qai." Rey merenggangkan pelukannya. Dan langsung mengusap wajah Qai yang basah akibat tangisannya sendiri.
"Kenapa kak?" Tanya Qai menatap lekat mata Rey.
Qai langsung memejamkan mata saat Rey mendekatkan wajahnya. "Aku lapar." Bisik Rey tepat ditelinga Qai.
Qai langsung membuak matanya, karena perkiraannya salah. Wajahnya langsung bersemu malu saat menatap Rey. Ia sudah mengira akan ada tragedi 21 ples sebagai ungkapan kerinduan mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu mikir apa hem?" Tanya Rey sambil menari hidung Qai.
"Aku nggak mikir apa-apa kak."
"Ngaku." Tuntut Rey.
Tanpa menjawab todongan yang di lontarkan Rey. Qai langsung melu*mat lembut bi*bir Rey yang sangat lihai membuat tanda pada tubuhnya. Rey juga membalas pagutan yang sangat membuat candu keduanya. Pelan-pelan dan lembut semakin lama semakin dalam semakin liar dan menuntut.
Tangan Qai langsung mencubit pelan lengan Rey. karena tangannya sudah menyusup kedalam kaosnya dan mau bermain dengan kedua aset yang kini nampak lebih berisi.
"Kenapa?" Tanya Rey setelah melepaskan aktifitas nakal bibir mereka.
"Kakak tadi bilang kalau mau makan kan." Ucap Qai memperingati.
"Nanggung yang, sudah mau on ini." Ucap Rey memberitahu adik kecilnya.
Qai langsung turun dari atas ranjang. "Di of-in dulu kak. Katanya tadi lapar kan?"
"Kalau begitu setelah makan bagaimana?" Tanya Rey yang kini ikut turun dari atas ranjang mengikuti Qai menuju dapur.
"Makannya aku mau kakak makan dulu biar nanti kita bisa bergadang." Ucap Qai sambil mengedipkan matanya memberi kode. Dan senyuman yang mengandung godaan halal.
Rey duduk sambil melihat Qai yang mengambilkannya nasi. "Memangnya dia nggak apa-apa kalau kita lebih dari satu kali?" Tanya Rey penasaran.
"Buktinya dia baik-baik saja saat kita di hotel kemarin." Ucap Qai sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Rey langsung bergidik ngeri dengan kelakuannya sendiri. mengiat betapa menggebunya ia saat itu sampai tidak terkontrol lagi saat mereka memanjakan raga.
"Sepertinya setelah ini kita tidur saja sayang." Ucap Rey. Sepertinya ia khawatir kalau terjadi apa-apa pada calon anak mereka nantinya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️