2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 36 TRAGEDI GUBUK


__ADS_3

"REQA itu Rey dan Qai." Lirih Qai malu.


"Oh..." Rey hanya ber oh saja menanggapi jawaban Qai.


Sepertinya Rey belum mencerna jawaban yang Qai berikan. Karena kini Rey langsung beranjak untuk mencari plastik. Siapa yang tahu kalau Ahmad menyelipkan plastik yang bisa ia gunakan untuk membungkus handphone Qai.


Sedangkan Qai menatap Rey tak percaya. Bagaimana mungkin hanya itu tanggapan Rey setelah ia memberi jawaban. Sama sekali tidak ada perubahan wajah yang sumringah menghiasi wajah menawan Rey.


"Apa yang kamu harapkan Qai." Batin Qai berteriak.


Sedangkan Rey sejak tadi menyinari setiap sudut ruangan menggunakan senter di handphone Qai. Tapi sepertinya hanya tangan dan matanya yang mencari. Karena nyatanya kini isi kepalanya terus memikirkan nama REQA.


"REQA... REQA... REQA..." Gumam Rey tiada henti.


Deg...


Seketika Rey berhenti mencari plastik. Ia langsung menghidupkan lagi layar ponselnya Qai. Menyadari kalau layar kuncinya terpampang nyata foto pernikahan mereka. Kemudian Rey kembali memasukkan password handphon Qai setelah mengusap keatas layarnya. Dan kini mata Rey di kejutkan dengan wallpaper fotonya yang sedang tidur.


Senyumnya kemudian terbit di wajah Rey. Menyadari kalau kini apa yang ia lakukan sama seperti yang dilakukan Qai. Itu Artinya mereka sama-sama tulus menjalani hubungan mereka. Hubungan yang memang berhak untuk di perjuangkan. Berhak mereka pertahankan apapun yang terjadi.


Rey jadi berpikir. Bagaimana jika Qai tahu, jika ia juga melakukan hal yang sama pada ponselnya. Rey kembali duduk di dekat Qai. "Nggak ada plastik disini." Ucap Rey sambil memberikan handphone Qai.


Qai menerimanya. "Memangnya plastik untuk apa kak?"


"Untuk membungkus handphone mu. Apa lagi?"


"Oh..." Qai hanya mengangguk. "Astaghfirullah..." Qai spontan mengalungkan kedua tangannya pada leher Rey. Memeluk Rey erat karena terkejut akibat suara gemuruh langit dan kilatan petir di langit secara bersamaan.


"Kakak." Lirih Qai saat ia kesulitan melepaskan diri. Karena kini Rey memeluknya erat. Sangat erat sampai Qai sulit bergerak.

__ADS_1


Tubuh Qai seketika merinding karena wajah Rey yang menyusup dilehernya dan mulai tak mau diam. Mencecap dan memberikan kehangatan dari hembusan nafasnya.


Mungkin keduanya masih sangat sulit mengungkapkan rasa yang ada di dalam hati mereka. Meski sebenarnya mereka sama-sama menyadari dan merasakan jika ketulusan diantara mereka menumbuhkan benih rasa cinta yang begitu singkat dimiliki keduanya.


Hadir begitu saja mengikuti waktu yang mereka lewati bersama. Ketulusan dan komitmen keduanya begitu cepat memupuk rasa diantara insane yang semakin erat berdekap mesra.


"Gelap kak. Aku nggak bisa lihat kakak dengan jelas." Ucap Qai saat mereka sebenarnya telah saling memandang. Saat Rey terus mengusap wajahnya. Memberikan getaran raga yang mendebarkan.


"Apa perlu kita hidupkan senter handphone mu agar kita bisa saling memandang lebih jelas?" Tanya Rey lembut. Qai menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"


"Aku malu. Karena aku yakin wajah ku saat ini akan berekspresi aneh untuk kakak lihat."


Bukannya berfikir bagaimana caranya mereka bisa segera pulang. Atau memanfaatkan waktu untuk saling mencurahkan isi hati mereka. Tapi kini keduanya sudah saling bercecap mesra. Saling memeluk untuk memberikan kehangatan satu sama lainnya.


Seolah melupakan waktu, jika mereka saat ini tengah terjebak hujan di area sawah. Dengan suara dan kilatan langit yang terus menggelegar. Gemuruh langit yang semakin mereka abaikan begitu saja. Karena lebih memilih menikmati sentuhan yang sama-sama mereka berikan.


"Mau melakukannya disini?"


Rey langsung menggulung kaosnya dan kaos Qai untuk dijadikan bantal kelapa Qai. Sedikit ganjalan agar kepala Qai tidak merasa sakit. Yah meskipun pada kenyataannya akan sakit juga, siapa yang akan berada di bawah. Karena tubuh yang tidak mendapatkan alas sama sekali.


Tanpa permisi lagi, Rey langsung memagut mesra bi*bir Qai. Tak ingin tinggal diam Qai juga harus menyeimbangi maunya Rey. Tak bisa dipungkiri kalau dalam hal pagut memagut keduanya memang sudah sama-sama lincah. Jangan heran lah karena keduanya sama-sama berpengalaman.


Qai menengadahkan wajahnya memberi akses Rey yang kini berpindah mengabsen lehernya. Mata Qai terus terpejam menikmati bagaimana rasa hangat langsung terasa menjalar pada tubuhnya. Cuaca hujan, angin kencang bahkan tidak bisa membuat kedua tubuh tak berbenang itu merasa kedingian.


Qai semakin merintih pelan saat Rey mulai bermain dengan dua aset berharganya. Mulutnya yang terus mencecap dan sesekali lidahnya yang menari-nari mempermainkan Qai. Benar-benar membuat Qai semakin menggeliatkan tubuhnya dan suaranya yang sudah tidak bisa ia kendalikan.


Secara bergantian Rey melakukan hal yang sama. Tidak ada yang menganggur dia antara benda berharga Qai. Karena pada kenyataannya yang satunya di cecap Rey dan yang satunya dipermainkan oleh tangan Rey dengan kuat dan tak kalah cepatnya.


"Kakak..." Rintih Qai semakin menjadi.

__ADS_1


Kecupan Rey turun pelan-pelan dan semakin turun membuat tubuh Qai semakin bergetar saat wajah Rey sampai pada perutnya.


Tubuh Qai semakin bergetar saat Rey mengecup sekilas pangkal permainan mereka. Memberikan sensasi panas yang semakin membara.


"Ayo kak." Lirih Qai memohon. Ia sudah tidak bisa menahan lagi pergerakan tangan Rey yang terus mengusap pelan-pelan miliknya. Memberikan perasaan aneh dan ah sulit untuk Qai jelaskan.


Rey kembali mencecap lagi bi*bir Qai yang sejak tadi memanggilnya dengan suara memelas. Andai saja lampu ada diruangan gubuk itu mungkin Rey bisa melihat raut wajah Qai yang sudah ingin ke tahap selanjutnya.


"Mau kamu atau aku yang dibawah?" Tanya Rey setelah melepaskan penyatuan benda kenyal.


"Terserah kakak, enaknya bagaimana." Qai sudah tidak berfikir mana yang lebih enak. Karena yang ada dikepalanya saat ini adalah Rey yang langsung mengajaknya ke inti yang ia mau sejak tadi.


Rey yang sudah tidak mau mengulur waktu. Pelan-pelan langsung mengajak Qai ke inti permainan yang sudah memenuhi isi kepala keduanya.


Rintih Qai saat mereka sudah berhasil nempel seperti cicak didinding dan semakin merap. Rey langsung bergerak pelan-pelan untuk memberi kenyamanan bagi keduanya. Tapi lama kelamaan keduanya semakin tak terkendali. Suara hujan saja sudah mereka abaikan. Dianginnya angin tidak mampu menerjang keduanya. Bahkan nyamuk saja enggan menggigit mangsa yang sudah jelas siap untuk di santap.


Ruangan gubuk yang hanya sepetak kecil itu menjadi saksi bagaimana mereka sedang bekerja keras mengumpulkan keringat.


Jika biasanya bekerja keras sampai berkeriangat untuk menghasilkan uang. Namun pekerjaan kerasa antara Rey dan Qai adalah keringat yang mereka harapkan mengkasilkan sebuah nyawa.


Ruangan kecil itu benar-benar dipenuhi dengan suara mereka. Qai saja tiada henti merintik karena terlalu semangat empat limanya mereka melakukan pergerakan cepat. Mencari jalan agar mereka tidak tersesat, Sampai sesuatu yang seharusnya dicurahkan keluar begitu saja. Membuat keduanya sama-sama lega.


Keduanya berteriak saat telah final. Harusnya sih bersorak riang gembira karena mencapai kemenangan tapi pada kenyataannya mereka malah terkulai lemas begitu saja. Sungguh terlihat tidak berdaya.


Rey masih betah mengurung Qai dalam kendalinya. Keduanya sama-sama menentamkan detak jantung setelah pekerjaan yang melelahkan telah tuntas. Tetap saling berpelukan untuk saling memberikan kehangatan pada raga yang jelas tanpa busana.


Bersambung...


Dan akhirnya aku tidak Sholehah lagi maakkk😭 ok bye aku mau mandi dulu 🥵🥵🥵

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2