
Menikmati waktu berdua saat libur kerja, pasti akan dilakukan semua pasangan yang saling mencintai. Mengisi hari-hari indah bersama. Mengukir kenangan yang pasti tidak akan saling terlupakan.
Meski hanya dirumah. Rey dan Qai tak beda jauh dengan pasangan yang saling dimabuk asmara. Menikmati indahnya masa pengantin baru. Bahkan setiap hari tidak ada terlewatkan untuk mereka tidak saling bersentuh.
Qai yang memang selalu senang dengan sentuhan yang diberikan suaminya. Sedangkan Rey adalah lelaki yang entah kena bisa mudah tergoda dengan Qai. Matanya seolah terhipnotis saat melihat Qai saat menatap dan senyum kearahnya.
Dua insane yang jelas baru saling mengenal dan langsung saling menerima. Dan kini tanpa disadari keduanya juga sama-sama enggan untuk saling berjauhan.
"Kakak. Jangan mancing orang terus dong." Ucap Qai kesal karena tersiksa dengan ulah tangan Rey yang bergerak sesukanya didalam kaos longgarnya.
Sejak tadi Qai tidur berbantal lengan suaminya. Sedangkan Rey berada dibelakang Qai fokus dengan aktifitasnya. Mereka bukan menonton televisi. Tapi televisi lah yang menonton mesranya mereka.
"Siapa yang mancing?" Tanya Rey tanpa merasa bersalah. Ia masih betah olahraga jari sambil melihat ponsel dalam cengkeraman kedua tangan Qai. Hanya melihat tanpa membaca apa yang menjadi isi chat Qai dengan temannya.
"Ini tangan bisa dikondisikan nggak?"
"Kasian mereka berdua Qai kalau dianggurin." Ucap Rey sambil menggenggam nakal gunung kembar secara bergantian.
"Nana on the way kesini kak." Ucap Qai member tahu. "Bolehkan?" Tanya Qai sambil berbalik menatap Rey.
"Boleh dong."
"Terimakasih. Aku Sherlock sekarang." Qai memundurkan posisi tidurnya agar mempermudah membalas chat Nana.
Rey yang terpana dengan senyuman Qai saat berbalas pesan langsung mengecup Qai sejenak. Ia pun langsung bangun begitu saja.
"Kakak..." Qai terkejut dengan tindakan Rey barusan.
"Apa." Jawab Rey mengikuti nada suara Qai barusan.
"Kakak mau kemana?"
"Mandi. Sudah jam sebelas tuh." Ucap Rey menunjuk jam dengan Dagunya. "Aku mau jumatan dulu. Mau ikut?" Tawar Rey dengan wajah semburat penuh menggoda.
"Kemana?"
"Mandi." Jawab Rey santai.
"Kakak kalau mandi sama aku nanti bahaya malah nggak jadi jumatan kapok." Ejek Qai.
"Kita pake cara lain. Gimana?" Iseng banget Rey menggoda Qai.
"Ih merinding aku. Sana-sana mandi." Usir Qai sambil mengibaskan tangannya.
"Bilang saja nggak tahan dengan godaan ku." Ejek Rey sambil berlalu dengan wajah tersenyum. Menikmati wajah Qai yang panik barusan.
__ADS_1
Padahal bukan hanya Qai yang tersiksa dengan ulah Rey saat Qai datang bulan seperti ini. Justru Rey lah yang banyak-banya istighfar menguatkan iman.
Benar-benar mangsa yang pintar bertindak biasa tapi mengeluarkan aura godaan sangat luar biasa. Sampai bisa mengusik jiwa yang susah mengelak.
Rey keluar dari kamar dengan memakai baju muslim, sarung dan peci. Tak lupa di pundaknya terdapat sorban yang menghiasi tubuhnya yang nampak gagah, Dimata Qai. Parfum yang begitu wangi juga menguar. Mengusik indra penciuman Qai. Membuat matanya terbelalak karena terpana.
Sumpah. Suami seperti ini mana mungkin di dustakan oleh Qai yang kini diam mematung.
"Huuufffttt..." Rey meniup wajah Qai. Membuayar kan lamunan yang terpaku menatapnya. "Ilernya bu. Tolong dilap dulu." Ucap Rey jahil.
Qai yang percaya dengan ucapan Rey, sepontan mengusap sisi mulutnya beberapa kali.
"Ih kakak bohong. Mana ada aku ileran." Ucap Qai kesal.
"Bagaimana menurut mu?" Tanya Rey sambil berpose sok ganteng. Ehm… memang ganteng sih suami Qai. "Menawan bukan." Ucap Rey dengan percaya dirinya yang tiba-tiba memanjat.
"Awas ya kakak main mata disana." Ancam Qai tanpa pikir panjang.
"Gila apa aku main mata di masjid. Lagian mana mungkin aku melakukan itu." Rey bergidik ngeri. "Masak iya terong makan terong hiii..." Rey menggidikkan tubuhnya lagi.
"Ih kakak ini, mau kemasjid pikirannya kotor."
"Nah yang mulai kan kamu Qai." Ucap Rey mengingatkan.
"Peluk." Ucap Rey santai.
"Astagfirullahaladzim... batal kak."
*Oh iya. Assalamualaikum." Salam Rey yang langsung beranjak setelah menepuk jidatnya sendiri.
"Waalaikum salam." Qai tersenyum. Interaksi mereka barusan sungguh sangat menyenangkan untuk Qai saat ini.
Qai langsung membereskan seluruh rumah yang sekiranya berantakan. Setelahnya ia langsung menyapu rumah. Malu dong kalau sahabatnya datang rumahnya kotor. Padahal Nana tahu betul, Qai orang yang sangat jarang merapihkan kamar kosnya saat kuliah.
Hampir pukul 13.00 WIB, Rey baru pulang dari masjid. Ia memang selalu berjalan kaki saat ke masjid bersama bapak-bapak lainnya. Rey memasuki gerbang rumahnya. Melihat ada motor yang sudah terparkir didekat motornya. Itu artinya teman Qai sudah datang. Belum selesai menutup gerbang, terdengar jelas suara tawa dari dalam rumah.
"Assalamualaikum..." Salam Rey memasuki rumah.
"Waalaikum salam." Jawab Qai dan Nana bersamaan.
"Kak kenalin ini Nana. Sahabat aku."
"Rayhan." Mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Nana sempat terpaku sejenak menatap Rey. "Nana." Ia langsung menjabat tangan Rey.
__ADS_1
Rey langsung berlalu memasuki kamar. Meninggalkan perempuan yang asik berbincang.
"Kak." Qai tiba-tiba masuk kamar dan langsung memeluk Rey yang rebahan diatas ranjang.
"Kenapa?" Rey langsung membuka kedua matanya dan langsung menatap Qai.
"Ayo aku temani kakak makan." Tawar Qai dengan gelagat mencurigakan.
"Memangnya teman mu sudah pulang?" Tangan Rey membawa beberapa helaian Rambut kebelakang telinga Qai.
"Belum."
"Oh kamu ngajak makan bertiga?" Tebak Rey sok tahu. Tapi Qai menggeleng tanda tebakan Rey salah. "Terus" Rey mengerutkan keningnya heran.
"Setelah aku temani kakak makan aku mau izin keluar. Nana ingin kita makan diluar."
"Ya sudah kalian pergi saja Qai."
"Tapi kakak belum makan. Ayo aku temani dulu."
"Aku bisa makan sendiri. sudah kalian pergi saja, jangan biarkan teman mu terlalu lama menunggu."
"Maaf ya kak. Aku nggak ajak kakak keluar juga."
"Nggak apa-apa sayang."
Bagi Rey ada kalanya Qai juga harus me time untuk menyenangkan dirinya sendiri. Apa lagi saat ini ia masih harus dirumah. Rey juga tidak ingin membuat Qai jenuh sendiri dengan aktifitasnya. Mengajar disekolah pun baru minggu depan dimulai.
Qai langsung mendaratkan kecupan dipipi Rey. ia langsung beranjak untuk berganti baju.
Qai dan Nana langsung meluncur kesebuah restoran dimana dulu mereka suka nongkrong. Selain tempatnya yang nyaman. Di restoran itu juga terdapat paket menu dengan harga yang sangat terjangkau.
Qai dan Nana langsung menuju kursi dan meja yang biasa dulu mereka temati. Beruntungnya meja itu masih kosong. Membuat mereka berdua terasa benar-benar mengenang masa kuliah.
"Bukankah kamu beruntung." Ucap Nana setelah mendaratkan tubuhnya pada kursi.
Qai mengangguk. "Sepertinya begitu." Ucap Qai tersenyum.
"Aku benar-benar terkejut kalau dia lelaki waktu itu."
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
Semangat pagi 🥰
__ADS_1