2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 23 GAGAL MASAK


__ADS_3

Pagi ini cuaca terasa sangat dingin. Karena semalam memang hujan lebat. Qai saja sampai menghangatkan ruang kamar mereka. Tidur semalaman sambil berpelukan, saling menghangatkan tubuh mereka.


"Lepas kak." Pinta Qai yang sudah terlalu lama dikekap Rey.


"Mau kemana?"


"Masak lah. Mau kemana lagi coba?"


"Gimana kalau kita nggak usah masak Qai." Tawar Rey yang masih enggan melepaskan Qai beranjak dari pelukannya.


"Kita? Kan aku mau masak sendiri. kakak tidur saja lagi kalau masih ngantuk." Ucap Qai mencoba melepaskan diri.


Qai langsung beranjak setelah Rey melepaskan dekapannya. Qai duduk di kursi meja rias. Menyisir rambutnya terlebih dulu. Kemudian ia mengikat rambutnya.


Qai langsung balik badan saat sampai di dapur dan menyadari kalau ada yang mengikutinya.


"Kakak ngapain ngikutin aku?"


"Siapa yang ngikutin kamu Qai. Jangan terlalu pede nona." Ucap Rey sambil menggerakkan jari telunjuknya ke sisi kanan dan kiri. "Aku ingin minum."


Qai langsung mundur saat Rey melangkah kearahnya. Kaki Qai terhenti beberapa langkah karena pinggangnya terhenti oleh meja yang ada di samping kulkas.


Qai langsung memejamkan matanya saat melihat wajah Rey mendekatinya. Degup jantungnya sudah tidak beraturan mengira akan mendapatkan sentuhan sebelum berperang dengan aktifitasnya.


Seolah memeluk tubuh Qai. Rey mengambil gelas dan langsung menuang air dari dalam teko yang ada di belakang Qai untuk ia minum. Matanya masih melirik Qai yang masih diam memejamkan matanya.


Rey justru tersemyum melihat hal itu. Ia langsung meletakkan gelasnya pelan-pelan setelah airnya tandas membasahi kerongkongannya.


"Kamu ngapain?" Bisik Rey tepat ditelinga Qai.


Qai langsung membuka kedua kelopak matanya. Menyadari hal yang tidak terjadi sejak tadi. Qai langsung mendorong Rey agar berjarak dari tubuhnya.


"Ehm..." Qai berdeham berusaha menetralkan raut wajahnya. Mengenyahkan pikiran yang sudah penuh perkiraan. Dan menentramkan degup jantungnya sendiri.


"Kakak yang ngapain dekat-dekat aku." Todong Qai.


Ia langsung berjalan menuju mesin cuci. Tangannya terus memukuli kepalanya. Berusaha mengusir pikiran me*sumnya sendiri.

__ADS_1


"Kamu mikir apa sih Qai." Gerutu Qai. Sepertinya tangannya belum puas menyiksa kepalanya sendiri.


Rey langsung melangkah cepat menuju kearah Qai. Bergerak cepat membalik tubuh Qai agar menghadapnya. Dan detik berikutnya, Rey sudah menguasai bibir Qai yang sejak tadi terdengar menggumam sendiri.


Qai jelas saja terkejut dengan tindakan rey yang mengejutkan dan begitu cepat. Matanya saja sampai membulat karena terkejutnya. Namun Qai langsung memejamkan matanya. Melingkarkan kedua tangannya di tubuh Rey.


Rey berjalan mundur yang diikuti Qai begitu saja. Tanpa melepaskan hal yang yang menyatukan keduanya. Qai langsung duduk dipangkuan Rey saat lelakinya ini mendaratkan tubuhnya pada sebuah kursi.


Posisi yang semakin inten karena kini kecupan mereka semakin mudah. Semakin dalam sampai membuat mereka lupa apa tujuan awal mereka datang ke dapur.


Kening Qai dan Rey saling menempel setelah melepaskan kecupan yang memabukkan. Keduanya masih sama-sama memejamkan mata dan saling mengatur nafas. Menentramkan degup jantung karena tanpa saling tahu, keduanya sama-sama ingin berakhir dengan sebuah kepuasan raga.


Rey memegang pipi Qai dengan kedua tangannya membuat Qai langsung membuka kedua netranya. Saling bertatapan dengan lelaki yang kini menguasainya.


"Kenapa bisa secepat ini perasaanku." Ucap Qai dalam hati. Menyelami mata indah Rey yang inten menatapnya.


"Kamu tahu. Kalau bukan karena kamu sedang bulanan. Mungkin sejak kemarin kamu tidak akan aku izinkan keluar dari kamar walau selangkah pun." Kedua ibu jari Rey mengusapa bibir bawah Qai secara bergantian.


Qai tersenyum. "Kita pasti kelaparan kalau tidak keluar kamar kak."


"Sayangnya kita tidak akan kelaparan karena rencana ku sudah gagal sejak awal." Ucap Rey tersenyum. "Kamu itu benar-benar magnet Qai."


Rey menaik turunkan bahunya. Membiarkan Qai berfikir dengan sendirinya. "Coba sesekali lakukan apapun pada ku sesuai dengan ide yang muncul di kepalamu Qai. Jangan hanya menuruti aku saja." Qai menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"


"Tentu saja aku malu kak." Lirih Qai dengan wajah malu-malu.


"Kenapa harus malu. Aku suami kamu loh. Kuasai saja aku sesuai keinginan mu. Bukankah aku pernah mengatakannya." Qai mengangguk. "Aku tidak akan menolak atau melawan saat kamu mengeluarkan emosi mu sendiri." Ucap Rey sambil menjelajahi tubuh yang masih betah di pangkuan Rey.


"Kakak nggak akan pernah tinggalkan aku kan?" Tanya Qai yang mulai mengingat lagi obrolannya bersama bersama Nana.


"Apa sebenarnya yang membuat mu sampai berpikir demikian." Batin Rey sambil mengusap wajah yang tersirat rasa takut.


"Kita sudah saling berjanji Qai." Rey sendiri jadi mengingat ucapan Qai kemarin sore. "Selain kematian. Kita boleh saling meninggalkan hanya untuk dua alasan." Qai menatap Rey dengan raut wajah tak paham. "Kamu nggak tahu?" Dengan cepat Qai menggelengkan kepalanya.


"Rumah tangga kita harus saling kita pertahankan bersama Qai. Kecuali KDRT dan perselingkuhan. Jika di antara kita ada yang melakukan diantara dua hal itu dan sama-sama sudah tidak bisa diperbaiki walau sudah mencoba, maka diantara kita juga boleh saling meninggalkan." Qai mengangguk paham.


"Jadi mari kita saling terbuka dan saling percaya. Jangan pernah menutupi hal apapun yang berkaitan dengan kita Qai."

__ADS_1


Qai benar-benar merasa tersinggung. Karena memilih diam tak menyampaikan apa yang membuat hatinya gundah sejak kemarin. Mau berterus terang tapi rasa takutnya mendominasi.


"Mau kita lanjutkan?" Tawar Rey sambil menaikkan kaos Qai.


"Mana mungkin kak. Kita belum boleh melakukannya." Ucap Qai cepat dan menahan tangan Rey yang akan melepaskan kaosnya.


"Dari sini sampai sini. Itu masih boleh aku nikmati Qai." Ucap Rei sambil menyentuh pucuk kepala Qai menyusuri pelan, turun kebawah membelai sampai ke perut. "Sedangkan seluruh tubuh ku, silahkan kapun kamu mau." Ucap Rey yang langsung menggendong Qai masuk kedalam kamar.


Entah apa yang mereka lakukan. Karena sejatinya hanya merekalah yang tahu akan hal itu semua. Rey benar-benar menuntun Qai semakin inten. Membuat istrinya itu merasa sangat dihargai dan dicintai. Mengatakan soal cinta. Apakah bisa secepat perkiraan Qai saat ini.


Selain menumbuhkan rasa diantara keduanya. Rey jelas berharap tidak ada keraguan dihati Qai padanya. Karena perkataan Qai kemarin sore, benar-benar mengusik pikiran Rey hingga saat ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 wib. Qai dan Rey baru keluar dari kamar mandi bersama. Benar-benar membuat orang lain heran jika mengetahui kelakuan mereka berdua. Entah apa saja yang mereka lakukan selama itu.


"Kamu mau makan apa Qai?" Tanya Rey sambil duduk ditepi ranjang. Mata dan jarinya sudah fokus pada benda pintarnya.


"Sambal cumi-cumi kalau ada kak." Jawab Qai sambil mengambil pakaian ganti untuknya dan sang suami.


"Ok."


Rey langsung menghampiri Qai setelah selesai memesan makanan melalui aplikasi. Ia langsung merebut handuk yang Qai gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Agar tetesan air meresap ke handuk.


"Kakak ngapain liatin aku kaya gitu?" Tanya Qai sedikit horror saat tatapan mereka bertemu dalam pantulan cermin.


Pikirannya sudah mulai berkelana memikirkan yang tidak-tidak. Haruskan mereka akan mengulang lagi adegan mereka seperti tadi.


Rey langsung mengambil sisir untuk merapihkan rambut Qai. Setelah terlihat rapih Rey langsung memeluk Qai dari belakang.


"Kak."


"Terimakasih untuk pagi ini." Ucap Rey sambil terus saling bertatapan pada pantulan tubuh mereka di cermin.


"Sama-sama. Aku juga senang karena kakak sangat sabar menuntun ku." Ucap Qai. Kini ia harus mulai menyentuh Rey sesuai maunya. Karena baru saja Qai mendaratkan kecupan di pipi Rey hingga beberapa kali.


Bersambung...


Maaf ya kalau alurnya lambat🙏🤭

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2