2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 58 MENGERJAI REY


__ADS_3

Karena masih hari minggu. Qai dan Rey masih enggan keluar dari selimut yang menutupi tubuh mereka. Masih saling memeluk agar menambah rasa hangat pada tubuh keduanya.


"Masak yuk kak." Ajak Qai.


"Ini bukan ngidam kan?" Tanya Rey setelah merenggangkan pelukannya.


"Ngidam ku cuma ingin pulang kampung kak. Aku harus sabar nunggu beberapa hari lagi. Mau nggak masak?" tanya Qai ulang.


"Hari ini aku ingin bermalas-malasan." Rey kembali memeluk Qai erat.


"Kakak aku boleh minta tolong?"


Sesuai dengan permintaan tolong Qai. Kini Rey tengah disibukkan dengan rumput yang tumbuh didepan gerbang rumah mereka.


Sebenarnya beberapa hari yang lalu Qai sudah mencoba menvabuti rumput seorang diri. Tapi karena tidak ada alat yang menunjang akhirnya Qai tidak menyelesaikan pekerjaannya. Karena jenis rumput yang sulit di tari menggunakan tangan kosong.


"Mas Rey. Pake cangkul atau sabit dirumah itu lo mas." Tawar pak Amir yang baru saja lewat.


"Eh pak. Nggak apa-apa pak sebentar lagi juga ini susah selesai." Ucap Rey menolak secara halus.


Lagian juga kenapa Rey bisa tidak kepikiran untuk membeli peralatan yang ia butuhkan saat membersihkan rumput juga.


"Sudah ayo ambil dirumah saya mas. Itu masih lumayan banyak lo." Ajak pak Amir sedikit memaksa. Memaksa juga karena saling membantu sesama tetangga.


"Baik pak." Rey akhirnya mengikuti langkah kaki pak Amir menuju rumahnya.


"Mas Rey mau make sabit atau cangkul mas?"


"Sabit saja pak."


Rey sengaja menunggu si luar gerbang saat pak Amir masuk untuk meminjamkan alat tempurnya. Rey langsung menepi saat ada motor akan masuk kedalam.


"Mas Rey." Sapanya.


"Rahma."


Gadis yang akan berusia 23 tahun itu langsung memarkirkan motornya. Ia langsung menhampiri Rey yang masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Mereka saling berjabat tangan, bersalaman.


"Apa kabar mas?" Tanyanya dengan wajah berseri.


"Alhamdulillah baik. Lagi libur ini kuliahnya?" Tanya Rey.

__ADS_1


"Iya mas. Mumpung kuliah libur empat hari jadi aku pilih pulang. Kangen orang rumah."


"Ini mas Rey sabitnya." Ucap Pak Amir mengulurkan sabit.


"Itu pak. Pesanan bapak nyantol di motor." Ucap Rahma memberi tahu.


"Iya nduk." Ucap pak Amir yang langsung kembali masuk rumah.


"Selamat ya mas, atas pernikahannya." Ucap Rahma kemudian tersenyum.


Rahma sebenarnya memiliki perasaan terhadap Rey. Apalagi saat ibunya, bu Ida. Selalu mengatakan pada para tetangga untuk menjodohkan anaknya dengan Rey.


Entah niat ibu Ida itu hanya bercanda atau bagaimana. Namaun hal itu membuat ia berharapa. Harapan yang kini pupus begitu saja karena sejak awal Rey tidak pernah menanggapi hal itu dengan serius. Dan akhirnya Rey memilih untuk menikahi Qai.


Terimakasih, kalau begitu aku pulang duluan ya." Pamit Rey.


Baru juga ingin melangkah pulang menuju rumah, matanya sudah disuguhi dengan sosok istrinya. Qai yang langsung balik badan melangkah pulang lebih dulu.


"Mampus aku, bakal panjang urusannya kalau salah paham ini." Gumam Rey yang langsung melangkah cepat menuju rumah. Lebih tepatnya mengejar Qai untuk memberi penjelasan agar tidak salah paham.


Karena tadi Qai sudah selesai membersihkan rumah bagian dalam, Qai tentu saja mencari sosok suaminya yang tidak ada wujudnya saat ia menyapu teras depan.


Langkah Qai langsung terhenti saat hendak mencari suaminya. Qai melihat Suaminya sedang berbincang dengan seorang perempuan. Tentu saja ia cemburu.


"Hem..." Gumam Qai begitu saja. Ia masih terus melanjutkan nyapu, karena memang belum selesai.


"Sayang." Rey langsung memegang kedua lengan Qai. Agar istrinya itu melihatnya dan mendengarkan penjelasannya.


"Kakak belum selesai kan bersihkan rumputnya. Cepat sana diselesaikan, aku sudah lapar ini." Ucap Qai sambil sambil mendorong tubuh Rey agar menjauh darinya.


"Sayang jangan cemburu dan marah begini dong. Itu tadi Rahma anak pak Amir. Sumpah demi apapun tadi itu hanya baru saja kami ngobrol." Jelas Rey.


Qai dengan sekuat hati menahan rasa ingin tertawa melihat wajah panik Rey saat ini. Yang sibuk menjelaskan agar ia tidak salah paham.


"Begini rasanya kalau di cintai sama orang dengan tulus." Batin Qai ingin tertawa. Tapi ia harus menahan karena sekuat tenaga memasang wajah datar.


"Dia juga mengucapkan selamat atas pernikahan kita yang." Tambah Rey. "Hanya itu obrolan ku tadi jadi aku nggak bisa jelasin apa-apa lagi. Sayang jangan marah ya." Pinta Rey serius.


"Hahaha..." Akhirnya lepas juga tawa Qai yang mati-matian ia tahan sekuat tenaga.


"Kakak sumpah lucu banget kalau lagi panik." Ucap Qai yang masih belum bisa mengendalikan tawanya sendiri.

__ADS_1


"Jadi ngerjain ini?" Tanya Rey saat menyadari sikap usil istrinya.


"Sorry, aku sengaja kak."


Rey langsung menggelitiki perut Qai, sampai Qai tertawa dan mencoba melepaskan diri dari perlakuan Rey saat ini.


"Ampun kak. Sudah."


Rey langsung menghentikan perbuatannya. "Aku pikir tadi kamu cemburu dan marah yang. Aku benar-benar nggak ingin kita marahan dan salah paham seperti waktu itu."


"Aku cemburu kok. Tapi aku percaya kakak nggak akan melenceng. Kalau sampai berani oleng, siap-siap saja merasakan sunat kedua kalinya." Tutur Qai sambil menyentuh pelan apa yang di maksud Qai.


Benar-benar diluar dugaan perbuatan Qai saat ini. Apakah ini faktor hamil atau bagimana sebenarnya.


"Bangun loh yang ini, ayo tanggung jawab." Todong Rey menuntut.


"Bapak Rayhan Abraham, tolong selesaikan tugas bapak membersihkan rumput di luar sana." Ucap Qai mengingatkan.


"Itu di lanjut nanti, ayo kita kekamar dulu." Ajak Rey semangat.


"Kak aku lapar loh ini."


"Oh iya. Ya sudah ayo kita beli makan saja dulu."


"Kakak selesaikan pekerjaan kakak dulu baru kita beli makan."


"Siap bos." Ucap Rey patuh. Sudah tidak ingin membantah lagi apa yang di ucapkan Qai barusan.


Kini Qai dan rey sedang menikmati dua porsi bubur ayam yang Qai pindahkan dalam satu wadah. Makan berdua dalam mangkuk yang salama adalah hal yang paling nikmat bagi pasangan suami istri.


"Aku sudah kak." Ucap Qai.


Rey hanya melongo melihat mangkuk dan Qai bergantian. "Ini masih banyak sayang. Kamu juga baru makan sedikit."


"Aku nggak mau makan lagi kak." Ucap Qai setelah meneguk susu ibu hamil.


Rey menghela nafasnya. "Ini tadi kan kamu yang, yang mau makan bubur ayam. Ayo makan lagi. aku suapi bagaimana?" Tawar Rey.


"Aku ingin makan yang lain sekarang." Ucap Qai dengan suara manjanya.


Baiklah, drama ibu hamil masih panjang masa aktifnya, jadi Rey harus sabar dan menuruti apa yang diingin istrinya. Selama itu bisa Rey turuti.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2