2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 61 JAGUNG BAKAR


__ADS_3

Setelah selesai makan dan melakukan kewajiban. Kini saatnya Rey mengajak Qai untuk tidur siang. Lebih tepatnya Rey yang mengantuk, karena kalau Qai kan sudah jelas dia baru bangun.


"Sayang ayo tidur siang, terus tutup pintunya."


"Aku nggak ngantuk kak." Jawab Qai sambil masuk kedalam gubuk.


"Kalau begitu aku tidur dulu ya."


"Tidur disini kak, enak kena angin sepoi-sepoi." Tunjuk Qai sambil membuaka pintu gubuk lebar-lebar.


"Silau lah yang kalau pintunya dibuka. Nggak perlu di buka juga angin sudah masuk kok." Tolak Rey.


"Tapi aku mau kita tiduran disini kak." Pinta Qai dengan suara yang sudah jelas minta dituruti.


Rey langsung beranjak dari posisi tidurnya dan langsung merebahkan diri dimana tempat yang dimau Qai. Tak butuh waktu lama Qai juga langsung ikut merebahkan diri sambil menarik tangan Rey agar Qai bisa tidur berbantal lengan tangan Rey.


"Cobaan apa ini. Istri depan mata tapi nggak bisa diapa-apain." Batin Rey sambil menatap pintu yang terbuka. Sedangkan angin sepoi-sepoi menerpa mereka. Membuat suasa ngantuk datang tiba-tiba.


"Peluk kak." Pinta Qai.


"Ih jangan peluk-peluka lah sayang. Takut nanti ada orang lewat kan malu."


Mendengar ucapan Rey barusan membuat Qai langsung duduk dan menatap Rey. "Hanya peluk saja memang nggak boleh? Toh kita nggak lakuin begituan. Kakak malu peluk istri sendiri?" Protes Qai kesal.


Tidak ingin berdebat karena tidak ingin memperpanjang masalah yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Akhirnya Rey langsung menarik Qai agar kembali tidur dengan posisi yang sama.


Rey terus mengusap punggung Qai sambil memetamkan matanya. Rasa kantuk benar-benar sulit di tahan.


Rey langsung membuka matanya saat mendengar nafas teratur Qai. Menatap heran Qai yang sudah lelap lebih dulu.


"Tadi katanya nggak ngantuk, kenapa ini istri ku tidur duluan. Padahal kan aku yang mengantuk sebenarnya." Gumam Rey sambil mengusap pelan pipi Qai yang terasa semakin berisi.


Tidak perlu waktu lama kini Rey juga ikut tertidur. Menyusul Qai yang entah sudah sampai mana mimpi indahnya siang ini.


Qai dan Rey pulang dari sawah hampir jam lima sore. Jika tadi Rey berangkat kesawah hanya menjinjing rantang. Sekarang rantang gantian di bawa Qai sedangkan Rey membawa karung yang berisi jagung.


"Uhhh... adi nggak sabar nunggu malam." Ucap Qai sambil membayangkan sesuatu apa yang ingin ia dapatkan.


Kali ini, ibu hamilnya Rey menginginkan jagung bakar. Qai ingin dibuatkan perapian sambil membakar jagung malam nanti.

__ADS_1


Rey dan Qai lewat pintu belakang rumah. Setelah itu Qai lebih dulu mandi sedangkan Rey duduk di kursi makan mengantri, menunggu gilaran memasuki kamar mandi.


"Berapa rode dek?" Bisik Ratna jahil menggoda adiknya.


"Sepuluh." Jawab Rey asal.


"Pantas saja jam segini baru pada pulang." Ucap Ratna yang lasngsung berlalu begitu saja.


Malam harinya Rey sudah membuat perapian kecil di halaman rumah. Beruntung Ahmad selalu mencari kayu bakar. Karena kadang kala ibu Yani memasak menggunakan kayu bakar di dapur paling belakang belakang.


Rey menata kayu kering sedangkan Ahmad membersihkan enam jagung lalu dipangkal jagung Ahmad tancapi kayu panjang yang memang sudah ia siapkan. Agar masing-masing dari mereka bisa membakar jagungnya sendiri-sendiri.


Kini mereka semua sudah duduk di kursi kecil yang terbuat dari kayu. Sambil membolak-balik kayu yang rertancap jagung.


Qai dan Rey duduk berdamping, ibu Yani duduk bersama Ratih, sedangkan Ratna tentu saja bersama dengan Ahmad.


Setelah jagung dirasa sudah matang dan terbakar dengan rata. Kini semua orang mulai menikmati jagung bakar setelah jagung terasa lebih dingin.


Bukan Ibu hamil namanya jika tidak menimbulkan drama selanjutnya. Apa lagi saat ini Qai hanya memandangi jangung yang ia punya.


"Kenapa jagungnya nggak dimakan yang, apa masih panas?" Tanya Rey sambil menyentuh jagung mlik Qai.


"Ini mah nggak gosong yang. Pas matangnya, tuh sama warnanya kaya punya aku." Tutur Rey sambil mengsejajarkan jagung bakarnya dengan punya Qai.


"Ini kegosongan kak." Kekeh Qai.


"Yang kegosongan tuh punya mbak Ratna tuh, punya kamu pas banget bakarnya yang."


Ratna, ahmad, dan bu Yani hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Rey saat ini.


"Pokoknya ini kegosongan kak, aku maunya matang sama kaya punya kakak."


"Ya sudah kalau begitu sayang makan punya aku, nah." Rey mengulurkan jagung bakar miliknya, yang sudah ia gigit dua kali kalau nggak salah.


"Nggak mau ah. Masak bekas punya kakak, kan jorok. Tuh sudah di gigit."


Ucapan itu membuat Ratna dan ahmad langsung beranjak karena sudah tidak bisa menahan tawa menyaksikan drama Qai saat ini.


Rey yang gemas mendengarkan ucapan Qai barusan membuatnya ingin langsung meraup bibir Qai. Bisa-bisanya Qai mengatai jagungnya jorok hanya karena bekas gigitannya. Padahal setiap hari mereka tidak pernah absen bertukar saliva.

__ADS_1


Namun itu semua tidak bisa Rey wujudkan, karena masih ada ibunya dan juga Ratih yang sedang asik lomba dulu-duluan meghabiskan jagung bakar.


"Ya sudah kalau begitu biar aku yang bakarin jagungnya buat kamu yang." Tawar Rey agar masalah drama ini selesai.


"Aku maunya bakar sendiri kak."


Beruntung tadi Rey membawa sepuluh jagung dari sawah. Niatnya empat jagung yang tersisa, mau di buat bakwan jagung besok pagi. Tapi sepertinya akan gagal.


"Aku maunya bakar sendiri kak."


"Ok aku buka dulu jagungnya yang."


Ibu Yani dan Ratih sudah masuk rumah lebih dulu sedangkan Ratna dan Ahmad duduk diteras rumah menyaksikan Rey yang tengah menuruti istrinya.


Sudah tiga jagung yang dibakar Qai, namun masih saja tidak cocok dengan selera Qai. Dan sekarang Qai membakar jagung yang terakhir.


Sumpah demi apapun, kalau sampai jagung yang terakhir tetap tidak sesuai dengan maunya Qai. Reyb pasti akan langsung melambaikan tangan di depan kamera. Nggak lucu kalau dia malam-malam kembali kesawah hanya untuk mengambil jagung.


"Ih kegosongan kak." Pekik Qai saat melihat jagung bakarnya yang terakhir.


"Ini nggak gosong yang."


"Ini gosong kak."


Rey menarik nafas dalam. Sungguh menggemaskan memang menghadapi ibu hamil.


"Sayang, jagungnya sudah nggak ada lagi. Tadi bakar katanya gosong padahal punya kita tingkat kematangannya sama. Terus yang kedua kurang matang setelah itu sayang bakar lagi malah jadi kegosongan. Terus bakar lagi sudah matang pas tapi kata sayang ukuran jagungnya kekecilan. Setelah itu kegedean. Dan sekarang katanya kegosongan lagi. Terus sayang maunya yang seperti apa?" Tutur Rey panjang kali luber-luber.


"Kakak marah sama aku?"


"Enggak yang. Aku nggak marah. Itu sayang sudah bakar lima jagung, sebenarnya yang seperti apa yang ingin dimakan?"


Kini Rey hanya bisa tercengang melihat Qai yang tengah menikmati jagung bakar. Karena jagung bakar yang di makan Qai adalah jagung hasil bakaran Qai yang pertama. Mau berteriak rasanya tidak mungkin jika sudah berkaitan dengan ibu hamil.


Rey menatap empat jagung bakar yang berjejer. "Lalu apa gunanya empat jagung yang sudah di bakar ini jika jagung bakar yang pertama yang dinikmati." Batin Rey berteriak.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2