2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 15 QAI MILIKKU


__ADS_3

Rey langsung meneruskan pekerjaan Qai yang terhenti. Rey langsung memasukkan sampah kedalam Tong sampah dan langsung mengajak Qai masuk kedalam rumah.


"Kak, maafkan aku. Aku benar-benar nggak tahu dari mana Ferdi tahu alamat rumah kakak." Ucap Qai takut.


Apalagi melihat Rey yang diam saja sejak Ferdi pergi membawa mobil mewahnya.


Rey menarik nafas. Menghilangkan rasa pusing di kepalanya yang tiba-tiba menyiksa. Suami manapun pasti akan pusing saat nyawa belum terkumpul penuh dan disuguhi adegan istrinya di peluk lelaki lain. Rey langsung berbalik melihat Qai yang menatapnya.


"Ini rumah kita Qai." Singkat padat dan jelas Rey mengucapkan kata itu.


Rey langsung melangkah mendekati Qai yang diam mematung. Jelas Rey dapat melihat raut wajah Qai yang melihatnya takut bahwa ia akan salah paham.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu Qai?"


"Aku takut kakak salah paham sama aku. Aku juga nggak tahu dari mana dia tahu kalau sekarang aku tinggal disini."


"Seandainya dia datang kesini lagi. Cepat langsung masuk. Aku nggak mau ada orang lain yang melihat kejadian tadi lalu salah paham dan menilai mu lain Qai."


"Kakak nggak marah sama aku?"


Rey menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Mau mandi bersama?" tawar Rey tiba-tiba.


Spontan mata Qai melihat jam dinding. "Tapi ini sudah siang kak. Kakak bisa telat kekantor kalau kita harus mandi bersama." Jelas Qai mengingat bagaimana durasi lamanya mereka didalam kamar mandi.


Pletak...


"Aw..." pekik Qai saat keningnya mendapatkan sentilan tangan Rey. "Sakit kak."


"Kamu mikir apa sih Qai hahaha..." justru sekarang Rey tertawa terbahak-bahak karena paham kemana arah pikiran Qai saat ini.


"Kenapa kakak tertawa? Aku kan benar kak. Kalau kakak bisa saja telat kalau harus mandi sama-sama lagi. Kakak lihat itu sudah jam berapa." Masih saja Qai salah paham. Dan terus berfikir kearah sana-sana.


Rey membungkuk mengsejajarkan wajahnya dengan Qai yang masih memasang wajah polosnya.


"Aku hanya mengajak mandi bersama Qai. Bukan berarti kita akan melakukan seperti yang ada dalam pikiran mu." Ucap Rey sambil tersenyum.


Blus...


Seketika wajah Qai menjadi memerah karena ucapan Rey yang paham dengan jalan pikirannya saat ini. Qai menunduk karena tidak kuat berbalas tatap dengan Rey.


"Kak..." spontan tangan Qai melingkari leher Rey yang sudah menggendongnya.


"Kita bisa melakukannya sekilat mungkin jika kamu ingin." Ucap Rey yang langsung membawa Qai menuju kamar mandi.


.


.

__ADS_1


.


Rey mengisi absen kehadiran tepat pukul 08.00 WIB. Sangat beruntung ia tidak telat walau satu menit.


Sungguh, ini membuat teman-teman Rey keheranan. Karena selama ini Rey selalu datang lebih cepat 30 menit sebelum jam kerja.


Walau tadi sempat buru-buru. Namun kepanikan sama sekali tidak bisa mengalahkan wajah cerah Rey saat ini. Bahkan senyumnya sangat terpancar semangat yang membara.


Bagaimana mungkin ia tidak sesemangat ini kalau bukan karena mendapat bonus yang tak terduga dari Qai. Rey benar-benar memanfaatkan kepolosan Qai dengan sangat baik.


"Kerja Rey kerja." Ucap Rey sambil mulai fokus setelah layar komputernya sudah menyala.


Rey mulai bekerja. Melihat daftar nomor yang harus ia hubungi karena kemarin janji akan menurunkan POnya hari ini.


.


.


.


Qai langsung menyirami bunga yang kemarin ia tanam. Sesekali senyumnya menghiasi wajahnya yang cantik. Tangannya terus menyirami bunga, namun kepalanya berputar liar mengingat aktifitasnya bersama Rey tadi.


Sejujurnya ia sangat malu dengan pikirannya yang kearah sana-sana. Tapi entah kenapa hal itu disambut dengan pengertian Rey yang begitu menyentuh hatinya.


Qai langsung masuk kedalam rumah dan langsung masuk kedalam kamar. Ia melepas syal yang membelit lehernya. Takut jika bertemu tetangga dan melihat bercak yang selalu bertambah koleksinya.


Qai merebahkan dirinya diatas ranjang. Tanganya mengusap-usap seprai dengan senyum yang semakin merekah. Pikiran nakalnya semakin menjalar kemana-mana. Mengiangat bagaimana hotnya Rey saat mengendalikannya.


Qai memukul kepalanya yang yang berfikir liar. Ia langsung manggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba mengusir pikirannya saat ini.


"Sadar Qai sadar."


Qai beranjak dan menuju dapur untuk mengambil donat yang kemarin dibeli Rey. Karena semalam sudah kekenyangan makan nasi. Membuat keduanya sudah tidak mampu lagi menampung makanan lainnya lagi.


"Untung donatnya masih enak." Gumam Qai sambil melangkah membawa donat menuju ruang TV.


.


.


.


Dan benar saja, perkara iri Rey membawa bekal. Mansur dan Rahmat ikut membawa bekal. Mereka bertiga langsung menuju pantry untuk makan bersama.


"Tuh kan namanya juga pengantin baru. Pasti senyum-senyum sendiri sambil liatin hape." Celetuk Rahmat kemudian menikmati suapan pertamanya.


"Kayanya kita perlu ikut-ikutan juga Mat." Usul Mansur.

__ADS_1


Rey langsung meletakkan ponselnya diatas meja.


"Kalian yang senior pasti sudah melewati banyak hal yang baru akan aku lalui."


"Tunggu saatnya nanti kalau kamu sudah punya anak Rey, pasti Qai bakal keluarin taringnya. Disanalah sifat aslinya keluar. Sangar." Ucap Mansur provokasi.


"Bener Rey. Kita sebagai laki harus siap lahir batin. Apa lagi kalau lagi capek ngurus rumah dan anak. Jadi kebakaran itu rumah kalau kita salah ucap." Tambah Rahmat yang nampak curhat.


Rey hanya mengangguk saja sambil menikmati bekal makan siang hari ini. Sangat nampak jelas kalau Rey sangat lahap setiap makan apa saja yang dimasak Qai.


Mungkinkah ini bisa menjadi alasan Rey yang dengan begitu saja melupakan pertemuannya kemarin dengan Intan. Entahlah. Tapi yang pasti tanpa ia sadari ia benar-benar lupa jika sudah bersama Qai.


.


.


.


Rey menghentikan motornya tepat didepan penjual mendoan. Meski sekedarnya, ia ingin setiap pulang kerja selalu membawakan sesuatu untuk Qai.


Uang pecahan sepuluh ribu langsung Rey berikan setelah pesanannya sudah siap untuk ia bawa pulang.


Rey menatap heran pada mobil mewah yang tiba-tiba berhenti tepat didepan motornya saat ia akan melajukan motor kesayangannya ini.


"Mau apa dia?" batin Rey saat melihat siapa yang keluar dari mobil dan langsung menghampirinya.


"Kita perlu bicara."


"Aku rasa kita nggak ada sesuatu hal yang perlu dibicarakan. Apa lagi aku nggak kenala kamu."


"Heh. Dasar lelaki perebut pacar orang. Qai itu milik aku. Aku yang menjadi pacarnya selama ini."


"Milik mu? Dia istri ku jadi Qai itu milikku. Siapa kamu yang mengaku diri memiliki istri ku." Ucap Rey mulai tersulut emosi.


"Dia pacarku." Gertak Ferdi.


"Mantan." Lantang Rey. Ia tidak rela istrinya di klaim pacar oleh lelaki lain. "Jangan pernah lupa kalau dia sudah memutuskan mu sebelum akhirnya dia memilih menikah dengan ku."


"Aku tahu dia terpaksa menikah dengan mu. Jadi aku beri saran terbaik untuk mu untuk meninggalkannya karna aku yakin dia masih sangat mencintai aku."


"Aku bukan orang yg mudah terprofokasi dengan ucapan murahan mu. Jadi lelaki seharusnya kamu cukup tahu diri setelah apa yang telah kamu lakukan sehingga dia memilih meninggalkan mu."


Ferdi terdiam sejenak. "Aku yakin dia masih mencintai aku. Itu yang tidak kamu punya darinya."


"Tapi perlu kamu tahu, Aku yang memiliki Qai S-E-U-T-U-H-N-Y-A" jelas Rey tersenyum sinis. Lalu meninggalkan Ferdi begitu saja.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat pagi guys. Aku minta maaf ya kalau mulai besok hari Senin sampai hari Kamis aku nggak bisa update kak Rey dan Qai. dikarenakan aku pulang ke kampung halaman dadakan dan aku nggak punya stok bab šŸ™šŸ„² karna aku terbiasa ngehalu pake laptop jadi aku nggak yakin bisa lanjut pake hp😌 takut kalau dipaksakan ceritanya gak sesuai ekspektasi ku yang sudah ku susun dalam otak ku. semoga kalian semua tetap sabar nunggu kisah mereka berdua ya 🄰


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🄰 kasih like dan komennya šŸ’‹ tab favorit juga ya ā¤ļø


__ADS_2