2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 18 MARI SALING MELUPAKAN


__ADS_3

Baru juga kemarin rahmat dan Mansur membawa bekal untuk makan siang. Kini kedua temannya itu sudah kembali ke kebiasaan mereka dulu. Makan diluar kantor atau bisa juga di kantin kantor. Entahlah dimana mereka kini.


Rey menuju pantry seorang diri. Ia abai memasuki ruangan itu saat beberapa perempuan yang ada disana menatap lekat kearahnya.


Rey langsung mengambil ponsel yang ada didalam saku celananya. Ia langsung membuka aplikasi hijau untuk melakukan video call pada istrinya.


"Lagi ngapain Qai?" Tanya Rey sambul meletakkan ponselnya. Tangannya langsung membuka kotak makan siangnya.


"Lagi setrika kak. Sudah makan?" Tanya Qai. Ia memposisikan ponselnya agar bisa memperlihatkan aktifitasnya pada Rey.


"Ini lagi mulai makan."


"Loh katanya kemarin kakak makan sama temen kakak. Kok sekarang kaya sepi?"


"Mereka hari ini nggak bawa bekal."


Qai mengangguk saja. "Ya sudah kakak makan saja dulu."


"Jangan dimatikan ya."


"Siaaappp..."


Rey mulai menikmati bekal makan siangnya. Meski bukan masakan Qai tapi tetap saja Rey makan dengan lahap. Mungkin energinya terkuras habis karena terlalu fokus bekerja menatap layar komputernya.


Qai sendiri hanya tersenyum. Entah seperti apa Rey makan saat ini. Karena yang terlihat dari layar ponselnya hanyalah separuh wajahnya saja.


"Hai." Sapa perempuan yang baru saja duduk dihadapan Rey. Sejenak Rey menatap perempuan yang ada didepannya. Kemudian ia kembali fokus pada makanan yang tengah ia nikmati.


Qai sendiri langsung menghentikan aktifitasnya. Terkejut karena tiba-tiba mendengar suara perempuan seperti sedang menyapa suaminya.


"Aku Riska. Kamu?" Ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Disebrang sana. Qai langsung mematikan setrikaannya dan mengangkat ponselnya. Ia berharap agar Rey tidak mematikan sambungan video mereka saat ini.


"Awas saja kalau kakak matikan video callnya." Batin Qai.


Rey melihat uluran tangan perempuan yang bernama Riska. Bukannya menjabat, Rey sengaja mengambil udang krispi.


"Maaf, tangan ku kotor." Ucap Rey setelah melahap udang krispi buatannya tadi.


Tumis kacang panjang campur tempe hasil karyanya tadi pagi tiba-tiba terasa hambar. Membuat Rey tiba-tiba merasa kenyang. Namun ia harus tetap pura-pura makan untuk mengabaikan perempuan didepannya.


Dengan tidak sopannya, Riska menjumput sayuran yang tengan Rey nikmati dengan jari-jari yang entah bersih atau tidak.

__ADS_1


"Enak juga makan siang mu Rey."


Rey langsung meletakkan sendoknya. Mengakhiri makan siang yang belum habis ia lahap. Bukannya heran kenapa perempuan didepannya sudah tahu namanya. Tapi Rey tidak suka dengan tindakan perempuan yang jelas tidak sopan.


"Tentu saja. Masakan istriku memang seenak itu. Habiskan jika kamu kelaparan." Ucap Rey sinis. Ia langsung meneguk air minum agar bisa membantu perutnya merasa kenyang.


Sedangkan Qai yang sedang fokus mendengarkan percakapannya suaminya merasa tersanjung saat mendengar jawaban Rey yang mengatakan kalau bekal suaminya adalah masakannya.


Riska menatap tangan kanan Rey. Melihat cincin yang menghiasi jari manis lelaki yang menarik perhatiannya.


"Jadi kamu benar sudah menikah?"


"Ya." Jawab Rey singkat. Ia langsung mengambil ponselnya, menatap wajah perempuan yang ada di layar benda pintarnya. Rey senang karena kini Qai tersenyum menatapnya.


"Nggak salah dong kalau kita berteman. Toh istri kamu nggak tahu." Ucap Riska benar-benar mengejutkan Rey.


Rey sendiri paham arah mana yang dituju Riska saat ini. Ia justri semakin jengkel dengan keagresifan perempuan pada lelaki yang baru di kenal. Apa lagi saat ini, besar kemungkinan kalau Riska sudah tahu sejak awal bahwa dia sudah menikah.


"Sayang. Boleh aku berteman dengannya." Ucap Rey.


"Ih keterlaluan." Pekik Riska tiba-tiba saat Rey mengarahkan layar ponsel Rey padanya. Riska langsung beranjak dari sana. Meninggalkan Rey begitu saja.


Rey langsung melihat kembali layar ponselnya. "Qai aku harus kembali ke ruang kerja."


Setelah Rey mematikan sambungan video call. Qai langsung melanjutkan pekerjaannya yang terhenti karena perempuan yang berusaha mendekati suaminya.


Qai tentu saja senang dengan tindakan Rey barusan. Namun ia juga harus khawatir, karena Qai takut jika perempuan seperti Riska pasti tidak akan mudah menyerah begitu saja.


.


.


.


Rey menghentikan motornya didepan pedagang kaki lima yang menjual rujak serut. Ia menunggu pesanannya jadi sambil memainkan ponselnya. Berbalas pesan dengan customernya.


"Nomor baru." Gumam Rey. Ia langsung menggeser tombol warna hijau untuk menerima panggilan. "Halo. Selamat sore." Sapa Rey ramah. Ia berfikir jika itu customer baru yang akan menanyakan berbagai macam besi.


"Han..." panggilnya.


Hanya dengan penggilan itu dan suara yang khas di pendengaran. Rey sudah tahu siapa yang menelponnya saat ini. Entah sudah berapa banyak nomor yang Rey blokir karena enggan berhubungan dengan seorang disebrang sana.


"Tolong jangan dimatikan. Dan bicara dengan ku sebentar Han." Ucap Intan cepat. Entah naluri dari mana. Intan bisa tahu jika tadi Rey ingin mengakhiri panggilan suaranya.

__ADS_1


"Mari saling melupakan Ta." Ucap Rey setelah menghela nafasnya. Bagaimana pun Rey tidak mengelak jika saat ini perasaannya juga masih sangat kecewa dengan tindakan Intan.


"Bagaimana bisa aku melupakan kamu Han." Lirih Intan. "Kita sudah mel..."


"Aku sudah punya kehidupan dan kamu pun sudah lebih lama dengan kehidupan mu Ta. Tolong saling mengerti dan jangan mengusik ku dengan perasaan mu yang sudah lama bercabang."


"Dari dulu hingga sekarang. Aku tidak pernah membagi perasaan ku Han. Aku hanya cinta kamu. Tolong percaya."


Rey tersenyum sinis mendengar ucapan Intan saat ini. Ia juga tidak habis pikir dengan perempuan yang sudah menikah lebih dulu dan mengkhianatinya, kini meminta ia percaya akan perasaannya.


"Ta." Lirih Rey. Membuat hati intan bergetar mendengar suara lembut Rey memanggil namanya. Menggunakan nama panggilan kesayangan Rayhan untuknya.


Entah karena tidak sadar atau karena sudah terbiasa. Rey sendiri sepertinya tidak menyadari cara memanggilnya terhadap intan.


"Entah apapun alasan mu. Kita sudah sama-sama tidak bisa kembali. Dan seandainya saat ini aku belum menikah, aku juga tidak akan mau kembali dengan mu. Entah apapun alasan yang akan kamu berikan pada ku. Jadi tolong mengertilah." Rey menarik nafas dalam-dalam.


"Aku sudah memilih Qai jadi istriku. Begitupun kamu sudah memilih lelaki sebagai pasangan hidupmu. Kamu sudah memiliki anak. Begitu pun aku yang ingin memiliki anak bersama Qai. Aku juga mau bahagia dengan pernikahan ku."


"Dengar Han. Tolong dengar baik-baik. Anak kecil itu bukan an..."


Tut...


Tut...


Tut...


Rey langsung mematikan sambungan teleponnya. Karena menurutnya sudah tidak ada lagi yang perlu ia dengar lagi.


Setelah membayar seporsi rujak serut. Rey langsung mengemudikan motornya. Menerjang jalanan yang ramai kendaraan. Apa lagi saat jam pulang kerja seperti ini.


Rey menghentikan motornya saat harus masuk ke gang, blok rumahnya. Menghela nafasnya dan membuang rasa jengkelnya.


"Kapan aku pulang kerja tanpa harus merasakan seperti ini." Gumam Rey kesal.


Jika kemarin saat pulang kerja ia harus dibuat kesal dengan ucapan Ferdi. Kini ia harus merasakan kesal lagi karena Intan lagi-lagi menghubunginya.


"Rey... Rey... Sudah tahu kamu bakal sejengkel ini kenapa tadi nggak kamu matikan saja. Dasar Tolo*l." ucap Rey mengumpati diri sendiri.


Setelah merasa tenang. Rey langsung melajukan kembali motor metiknya. Membawa diri pulang ke rumah. Menemui istrinya tanpa harus membawa kemarahan dan rasa kesal.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2