
Seperti permintaan Qai. Rey menuruti maunya Qai yang ingin ke alun-alun kota. Sore ini mereka menikmati suasana sejuk sore hari. Sambil menikmati sebungkus bakso bakar, duduk berdampingan disebuah kursi yang ada dibawah pohon besar dan rindang.
Disana juga banyak muda mudi yang tengah menghabiskan waktu bersama. Banyak juga pasangan suami istri yang tengah menyenangkan anak-anak mereka.
Disana juga ada sebuah pertunjukan seni tari tradisional. Banyak yang berkumpul mengelilingi pertunjukan gratis disana.
"Terakhir kak." Ucap Qai sambil menyuapkan bakso yang sudah ia tusuk, tepat didepan bibir Rey.
Rey langsung melahap saja. Enak juga ternyata dimanja seperti ini. "Ada yang masih ingin kamu beli yang?" Tanya Rey setelah menyesap es jeruk.
"Nggak ada kak. Kita Beli makan sekarang."
Perkara aktifitas mereka tadi pagi membuat keduanya jadi bermalas-malasan. Hidup nggak perlu dibuat susah. Nggak masak ya beli saja. Toh nggak setiap hari ini mereka makan dan beli diluar.
Setiap kali dibonceng Rey, Qai selalu memeluk tubuh Rey. Berpegangan sangat erat. Kini motor yang mereka kendarai tengah berhenti. Karena lampu lalu lintas berwarna merah.
Qai yang sejak tadi menghadap kesisi kanan kini ia menghadap ke sisi kiri. Dan setelah itu ia bertemu tatap dengan kedua netra lelaki yang pernah menguasai hatinya dan juga meninggalkan sebuah penghianatan.
Qai tersenyum sinis menatap Ferdi yang belum ingin mengakhiri tatapannya. Apa lagi kini Qai juga melihat perempuan yang bermanja-manja pada lengan Ferdi. Dan sesekali membelai dada lelaki yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu.
Qai langsung melengos. Menghadapkan wajahnya kesisi kanan dan semakin mempererat belitan tangannya pada tubuh Rey.
Rey tersenyum merasaka dekapan Qai yang terasa posesif pada tubuhnya. Tangannya membelai tangan Qai yang masih erat mendekapnya. Rey langsung melajukan motornya kembali saat lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau.
Kini Qai perlu banyak bersyukur karena telah mengetahui kelakuan Ferdi yang sebenarnya. Coba seandainya Qai tidak tahu dan lanjut sampai jenjang pernkahan dengan alibi hamil duluan. Mau jadi apa rumah tangganya nanti.
Sekali selingkuh, Qai sangat yakin Ferdi pasti selingkuh lagi. Sekali pernah bermain dengan perempuan bayaran. Qai yakin Ferdi akan melakukannya lagi walau mereka telah menikah.
"Kak, stop di sini saja kak." Pekik Qai cepat saat Rey akan masuk kehalaman masjid.
Rey yang mendengar ucapan Qay spontan mengerem motornya. Beruntung mereka tadi jalan pelan, bagaimana kalau seandainya Rey ngebut. Pasti mereka akan jomplang.
"Nggak nunggu di parkiran aja yang. Aku magriban sebentar."
"Malu lah kak aku, masuk area masjid, sudah nggak solat nggak pake jilbab lagi." Ucap Qai menolak secara terang-terangan
"Kamu nggak solat juga karena suatu hal. Lagi pula nggak ada tuh peraturan masjid yang boleh masuk hanya yang pakai jilbab. Toh baju kamu sopan kok." Ucap Rey.
__ADS_1
Jelas lah Rey tidak rela kalau Qai menunggu di luar gerbang masjid. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada istrinya bagaimana. Akhirnya Qai menurut karena kalah berdebat.
"Kakak mau ngapain?" Tanya Qai saat melihat Rey membuka kancing kemejanya setelah usai memarkirkan motor.
"Nih." Rey memberikan kemejanya. Kini lelaki itu hanya memakai kaos lengan pendek berwarna putih. Meski tipis tapi tidak transparan. Hanya saja, betuk tubuh Rey yang menurut Qai gagak itu kini tercetak jelas. Membuat Qai membulatkan kedua matanya.
"Kemejanya bisa buat nutupin kepala mu Qai. Bisa juga menutupi wajah mu agar tidak ada yang melihat wajah mu yang cemberut."
Padahal Rey tidak ingin ada orang yang terpesona dengan istrinya saat ada yang mengambil motornya di area parkir.
"Kakak sengajakan memberikan kemaja kakak ke aku, biar banyak yang terpesona dengan tubuh kakak." Kesal Qai yang blak-blakan mencurahkan isi kepalanya.
"Nanti saja debatnya. Keburu habis waktu sholatnya." Rey langsung meninggalkan Qai begitu saja. Melangkah cepat menuju area berwudhu.
.Qai menajamkan matanya. Setelah menunggu hampir 15 menit akhirnya wujud suaminya nampak melangkah cepat kearahnya. Ehm... lebih tepatnya parkiran.
"Tinggal beli makan kita." Ucap Rey sambil memakai lagi kemejanya.
"Kakak pasti senangkan ada yang terpana lihatin kakak." Ucap Qai dengan nada kesalnya.
"Memangnya siapa yang lihatin aku?" Tanya Rey sambil melihati sekitar. Tangannya langsung memakaikan pelindung kepala untuk Qai dan langsung menguncinya.
Qai langsung naik motor setelah Rey menggunakan pelindung kepalanya. Rey yang merasakan tangan Qai yang berpegangan pada sisi bajunya, dengan sengaja ia mengeremkan motornya. Membuat Qai spontan maju kedepan karena terkejut. Sedangkan tanggannya langsung melingkar ditubuh Rey.
"Kakak sengaja kan." Todong Qai.
"Maaf non. Nggak sengaja."
Rey kembali fokus mengemudi. Karena jalanan memang lumayan ramai. Wajarlah karena sekarang malam minggu. Pasti banyak orang yang ingin berlibur menikmati waktu senggangnya.
"Mau makan apa Qai?" Tanya Rey setelah sampai di area food stands.
"Apa ya?" Tanya Qai sambil berfikir. Ia langsung turun dari atas motor. Diikuti Rey juga.
"Aku ingin nasi goreng saja kak. Kakak ingin apa?"
Rey langsung merangkul Qai agar rapat pada tubuhnya. "Aku mau beli pecel ayam saja Qai. Kita bungkus saja ya."
__ADS_1
Qai langsung mengunci gerbang setelah motor yang mereka kendarai sudah terparkir.
"Kakak solat dulu saja kak. Biar aku siapkan makanannya." Ucap Qai setelah mereka memasuki rumah.
Jika pasangan lain akan menikmati apa yang mereka pesan tadi saat membeli makan. Berbeda dengan Qai dan Rey. Mereka sama-sama makan, menghabiskan seporsi nasi goreng terlebih dahulu. Kemudian baru menikmati pecel ayam.
Karena terlalu lapar, mungkin. Sampai nasi pun tak terlihat sisa walau sebutir pun. Rey langsung beranjak mengambil air minum. Lalu ia berikan pada Qai agar istrinya minum terlebih dulu.
"Alhamdulillah. Kenyang kak." Ucap Qai. Ia langsung memberikan gelas yang telah habis ia tenggak pada Rey.
Rey langsung menuang air minum untuknya. Meneguk habis setelah kembali duduk di samping Qai. Mendorong makanan yang masih terasa terhenti di kerongkongannya.
"Ayo Qai duduk di depan tv."
Kini keduanya sama-sama duduk diatas kasur, sambil bersandar pada dinding. Mata mereka menatap layar televise namun pikiran mereka masih fokus pada perut yang terasa penuh.
"Bisa-bisa buncit ini perut." Gerutu Rey sambil meninggikan kaosnya. Pamer perutnya yang kekenyangan.
"Kakak nyindir aku ya?" Tanya Qai sambil memperlihatkan perutnya yang terdapat satu belut atau satu lipatan perut.
"Tapi ini ngegemesin loh Qai." Ucap Rey sambil menarik pelan belut Qai.
"Ih kakak aslinya sok nyenengin aku kan?" Todong Qai yang merasa sok dimanis-manisin Rey.
"Aku serius loh ini."
"Mohon maaf bapak saya tidak percaya." Ucap Qai. Ia langsung merebut remot televise ditangan Rey.
"Mau kita buktikan seperti tadi pagi?" Tawar Rey berbisik. "Mumpung tenaga kita full ini."
Seketika pikiran Qai melayang ke adegan mereka tadi pagi. Tubuhnya langsung bergidik memikirkan kelakuannya sendiri. Belum lagi Rey yang memang banyak menjamahi perutnya. Nah ingatan Qai jadi tidak suci lagi.
"Gimana?" Ucap Rey melunturkan lamunan Qai yang kemana-mana. Rey benar-benar sengaja mengerjai Qai. Memanfaatkan dengan baik kepolosan ekspresi Qai yang menurutnya lucu-lucu gemes.
"Nggak mau kak. Enak banget juga enggak. Aku kesiksa iya." Jawab Qai cepat.
Bersambung...
__ADS_1
Alhamdulillah hari ini novel ini lulus kontrak 🥰 Terimakasih buat semua yang setia ngikutin karya dolar aku yang sangat jauh dari kata sempurna 🙏 doa kan hobby ku ini bisa banyak menghasilkan dolar ya😊 aku juga ingin seperti author famous yang bisa berbagi rezeki buat para readernya yang sudah mendukung dan setia mengikuti dari awal sampai akhir 😍😉
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️