
Sudah sejak tadi, Qai dan Rey masuk ke dalam kamar. Qai tidur miring sambil mengASI Ren. Anak laki-laki mereka ini benar-benar kuat sekali dalam menyusu.
Ren baru mau melepaskan pucuk pusat penghasil nutrisi terbaik untuknya itu setelah benar-benar lelap. Sekitar hampir dua jam lamanya.
Rey yang sejak tadi memeluk perut Qai dari belakang, dan sesekali mengelus-elus tubuh Ren agar cepat lelap. Rey langsung melepaskan pelukannya karena mendengar pesan masuk kedalam ponselnya.
"Mau kemana kak?" Tanya Qai pelan saat Rey beranjak turun dari ranjang setelah membaca pesan dari ponselnya.
"Aku nonton bola dulu sayang. Kata Rahmat sudah dari tadi ada bola." Rey langsung keluar dari kamar begitu saja.
"Kita lihat saja nanti. Apa kakak bisa fokus nonton bola." Batin Qai dengan senyuman penuh arti.
Beberapa menit kemudian, Ren sudah melepas pucuk pusat produksi cairan terbaik bagi bayi. Qai langsung menata guling dan bantal untuk mengelilingi tubuh Ren agar tidak kemana-mana.
Qai turun dari tempat tidur. Ia langsung melangkah menuju pintu kamar untuk mengintip Rey.
"Kakak mau aku buatkan air hangat atau minuman dingin?"
"Nggak usah sayang." Jawab Rey begitu saja tanpa menoleh ke arah Qai.
__ADS_1
"Oke."
Qai kembali menutup pintu. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sejenak.
Setelah selesai, Qai langsung menuju lemari dan mengambil paketan yang ia terima tadi siang. Qai kembali menatap gaun dinas kurang benang itu.
"Dengan tubuhku yang masih seperti ini, pasti akan terlihat aneh memakainya." Batin Qai tidak percaya diri.
Tapi mau tidak mau. Qai harus menyenangkan hati Rey. Walau tanpa Qai sadari bahwa setiap harinya Qai telah membuat Rey bahagia.
Apalagi Qai sangat menginginkan ini sejak satu minggu setelah nifasnya selesai. Entah apa yang membuat Rey tidak menyentuhnya padahal ia sudah memberikan kode sentuhan pada tubuh Rey.
Setelah mengenakan baju dinas malamnya. Qai melihat pantulan tubuhnya di cermin. Nampak sangat transparan dari setiap sudutnya.
Qai duduk di kursi meja rias, ia menyisir rambut panjangnya lalu mengikatnya menjadi satu.
Qai juga menggunakan make up tipis untuk mempercantik dirinya. Berharap sang suami terkesan nantinya.
Setelah itu, Qai langsung menggunakan parfum agar tubuhnya wangi saat Rey nanti mengendusnya dengan banyak kecupan.
__ADS_1
Belum keluar dari kamar saja Qai sudah merinding dengan isi kepalanya sendiri. Membayangkan bagaimana piawainya Rey saat membuatnya terbuai.
Qai mendekati ranjang untuk melihat Ren yang lelap. "Tidur yang nyenyak ya ganteng. Ibu mau sama ayah dulu." Pamit Qai pada Ren.
Qai langsung keluar dari kamar. Sengaja tidak merapatkan pintu agar mereka nanti bisa mendengar kalau Teh tiba-tiba terbangun.
"Sudah berapa poin kak?" Tanya Qai yang langsung duduk di samping Rey. Lelaki yang masih nampak fokus pada layar televisi.
"Masih satu sama yang." Jawab Rey tanpa melihat Qai.
"Ohhh..." Qai mengangguk saja. Ia menatap wajah Rey yang masih fokus pada layar televisi.
Rey spontan menoleh ke arah Qai karena mencium wangi parfum yang sangat ia sukai. Dan betapa terkejutnya Rey saat melihat penampilan Qai yang sangat cantik, apa lagi senyum Qai yang menghiasi wajahnya saat menatap Rey.
"Aku tidur duluan saja. Kakak lanjut saja nonton bola." Ucap Qai mau beranjak dari tempatnya duduk.
Dengan cepat isi kepala Rey mengambil keputusan anatar bola atau Qai. Pilihan yang sangat berat namun Rey harus memilih mana yang terbaik untuk mereka.
"Mau kemana?"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️