2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 63 TERSESAT


__ADS_3

Hampir dua jam perjalan yang harus di tempuh Rey untuk sampai kerumah mertuanya. Padahal biasanya perjalanan yang mereka tempuh tidak lah sampai satu jam.


Entah apa yang terjadi pada istri Rey saat ini. Hingga ada saja tingkahnya yang membuat Rey keheranan sendiri.


Tadi selama di perjalanan entah berapa kali Rey menghentikan motornya. Bukan karena jalanan yang rusak atau terjebak macet. Karena mana mungkin perjalanan antar kecamatan membuat kemacetan. Hal itu karena Qai meminta berhenti. Dan yang membuat Rey keheranan adalah saat ia harus memotret Qai di sebuah pepohonan yang rindang.


Menurut penglihatan Qai pohon itu unik bentunya. Padahal dimata Rey tidak ada keunikan yang membuatnya harus mengabadikan pohon tersebut.


Namun karena Rey sayang istri maka apa yang di minta Qai ia turuti saja. Apa lagi sedang hamil seperti ini. Kalau kata orang tua zaman dulu, biar anaknya nggak ngeces.


"Assalamualaikum..." Salam Qai dan Rey serentak.


"Waalaikumsalam..." Jawab bu Wirda. Qai dan Rey bersalaman dengan bu wirda bergantian.


"Ayah dimana bu?"


Jika dikira yang bertanya adalah Qai tentu saja salah. Karena yang bertanya adalah Rey. Qai sudah langsung berlalu begitu saja menuju dapur.


"Ayah mu lagi di pabrik. Ada gilingan jagung." Jawab bu Wirda.


Rey mengangguk. Sambil terus melangkah memasuki rumah karena bu Wirda juga langsung menyusul anaknya yang entah sedang apa.


"Nyariin apa nak?" Tanya bu Wirda saat melihat Qai sedang mengobrak-abrik isi kulkas.


"Bu, Es krim Qai yang waktu itu mana?" Tanya Qai sambil terus melihat isi freezer berkali-kali.


Yang dibuat heran sekarang bu Wirda. Sudah jelas yang di cari es krim kenapa yang ikut di obrak-abrik bagian kulkas tempat sayuran juga.


"Es krim yang mana?"


"Es krim jagung Qai yang tinggal satu disini bu."


Bu wirda nampak berfikir sejenak untuk mengingat es krim yang di maksud anaknya. "Oh es krim yang waktu terakhir kali Qai pulang itu ya."


"Iya bu."


"Ya sudah ibu kasihkan ke anaknya bude War Qai. Kenapa?"


"Ih ibu, itukan es krimnya Qai kenapa di kasihkan." Rajuk Qai yang sudah kecewa.


"Lah kan cuma es krim. Biasanya juga kan ibu kasihkan anaknya bude War kalau ada es krim di rumah." Bu Wirda semakin heran dibuatnya. Kenapa anaknya terlihat marah hanya perkara es krim.


"Ya tapi Qai mau itu bu."


"Mau apa yang?" Tanya Rey yang baru saja turun dari lantai atas karena meletakkan tas mereka. Ia langsung cepat kedapur karena mendengar suara drama istrinya.


Qai langsung menutup pintu freezer. "Kak aku mau es krim jagung. Tapi es krim punya aku di kasihkan ke anaknya bude War sama ibu." Adu Qai super manja.


Bu Wirda paham dengan Qai saat ini. Karena dulu juga bu Wirda manja banget saat hamil Qai. Namun hal itu dapat di pahami pak Abdul. Apa lagi menunggu bu Wirda hamil menunggu waktu dengan penuh kesabaran.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita beli es krim." Ajak Rey berharap Qai luluh. Nggak lucu kan kalau sampai Qai maunya es krim yang sudah tidak ada wujudnya.


Beruntung waktu memang sudah sore, jadi keliling kampung mencari warung yang menjual es krim, lebih tepatnya es krim jagung seperti permintaan Qai saat ini.

__ADS_1


"Ayo kak ke pabrik."


"Ngapain yang?"


"Kita lihat orang giling jagung."


"Nggak ah kita pulang saja ya, aku ingin istirahat." Ucap Rey yang memang merasa tubuhnya lelah. Rey sendiri lebih bingung dengan Qai karena tetap energik padahal ia tengah mengandung buah hati mereka.


'Pokoknya aku mau ke pabrik kak."


Dan kini, setelah mereka bersalaman dengan pak Abdul. Qai dan Rey duduk di pinggiran melihat orang-orang yang tengah menggiling jagung. Qai sendiri dengan enaknya sambil menikmati sebungkus es teh jus menyegarkan tenggorokannya.


Sedangkan dari jauh sana. Pak Abdul menatap heran anak dan menantunya. Terlebih lagi Qai. Karena seumur-umur baru kali ini Qai betah berlama-lama di pabrik melihat orang menggiling jagung.


"Ayo kak pulang." Ajak Qai setelah menghabiskan dua bungkus es.


"Lain kali jangan minum itu lagi ya yang. Sudah tahu kan kata dokter kemarin apa?"


"Iya kak."


.


.


.


Malam harinya, setelah makan malam Qai lebih dulu menuju kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Rey masih betah di teras bersama pak Abdul untuk berbincang-bincang.


Sampai akhirnya waktu sudah semakin malam. Rey baru memasuki kamar saat hampir jam sepuluh malam.


"Belum ngantuk kak." Jawab Qai sambil terus menatap ponselnya.


Rey memilih menuju kekamar mandi sebentar, baru ia naik keatas ranjang.


"Lagi ngapain?" Tanya Rey. karena Qai terus fokus dengan ponselnya.


"Liat kak foto aku cantik kan." Puji Qai pada diri sendiri sambil memperlihatkan fotonya saat di jalanan tadi.


Rey ingin tertawa tapi sengaja ia tahan karena tidak ingin istrinya marah. "Iya cantik sayang."


Asli siapapun pasti yang melihat gaya foto Qai dilayar ponselnya pasti akan tertawa. Memang cantik Qai nya. Tapi gayanya yang alay dan absurd malah membuat Rey ingin tertawa lepas.


Rey terus menggeser-geser layar ponsel Qai. Sedangkan Qai terus merapatan diri memeluk tubuh Rey.


"Kamu dari jaman kuliah cantik ya yang." Puji Rey saat melihat foto Qai menggunakan almamater kampusnya.


"Aku mah memang cantik. Kakak saja yang nggak cepat-cepat nemuin aku. Kalau kakak cepat ketemu aku dijamin kakak kepelet sama pesona ku." Super pecaya diri sekali Qai mengatakan hal itu.


"Benarkah?" Tanya Rey serius.


"Benarlah. Banyak loh kak dulu yang suka sama aku. Sangking akunya aja buta jadi pacaran dengan salah orang."


"Kalau kamu nggak salah orang mana mungkin kita bertemu."

__ADS_1


"Bener juga sih. Jadi aku harus bersyukur atau bagaimana ini karena telah salah orang kak?"


"Anggap saja pelajaran hidup saat kamu tersesat."


"Berarti kakak juga tersesat dong." Ucap Qai nggak mau kalah.


"Mungkin." Ucap Rey. Tangannya seketika berhenti menggeser foto karena melihat foto yang sangat jelas ia kenali. "Foto ini bukannya aku sama ibu?"


"Hah. Mana?" Tanya Qai yang langsung merenggengkan pelukannya dan langsung melihat layar ponselnya. "Kyaaa... kenapa kakak jauh banget lihat galeri ku." Teriak Qai sambil mencoba merebut ponselnya kembali.


Rey dengan cepat berdiri dan meninggikan ponsel dalam pegangannya, agar Qai tidak sampai merebut ponselnya.


"Ngaku yang. Kenapa sayang punya foto ini?"


"Ih balikin kak. Kakak ini curang ih bisa-bisanya lihatin foto di galeri WA. Kan harusnya di camera saja." Ucap Qai dengan wajah memerah sambil terus mencoba merebut ponselnya.


"Ngaku dulu."


"Iya-iya aku ngaku. Tapi balikin dulu hape aku kak."


"Jangan kabur ya setelah ini." Ancam Rey.


"Gimana mau kabur kalau aku nggak boleh lari kencang."


"Nah." Rey langsung memberikan ponsel Qai. Mereka kembali tiduran sambil berpelukan.


"Jadi dulu waktu malam minggu, aku sama Nana pergi kerestoran karena gabut." Qai sengaja tidak menyebut nama Ferdi.


"Lalu."


"Ya kita kerestoran dimana kakak sama ibu disana juga. sumpah demi apapun kak, aku sama Nana kaya orang udik karena disana pada berpasangan sedangkan aku sama Nana kaya jomblo sejati. Eh waktu asik makan mata kita di hipnotis sama lelaki yang lagi kencan dengan ibunya. Jarang loh kak ada lelaki seperti itu. Jujur aku terkesan saat itu." Qai merenggangkan pelukannya. Meninggikan posisi tidurnya agar mereka bisa saling bertatapan.


"Foto ini Nana yang ambil kak. Lalu dia kirim ke aku. Nana bilang siapapun yang bisa menikah dengan lelaki difoto ini, artinya yang kalah harus menghapus foto di ponselnya. Awalnya aku ingin langsung hapus foto ini. Tapi entah kenapa aku ingin menyimpannya."


"Lalu."


"Aku yakin lelaki yang sangat menyayangi orang tuanya terutama ibunya pasti akan sangat mencintai istrinya dan keluarga istrinya. Maka dari itu aku setuju dengan ajakan kakak malam itu."


Qai menghela nafasnya. "Aku benar-benar menyesal telah berfikir pendek dan memilih pergi dari rumah kak."


"Sudah nggak perlu dibahas lagi. yang terpenting sekarang kita harus saling percaya." Ucap Rey. Qai langsung mengahambur kepelukan Rey lagi.


"Mau buka puasa disini?" Tanya Rey. Tangannya sudah bergriliya kemana-mana.


"Kita puasa dulu saja kak. Bahaya kalau ada yang mendengar nanti." Goda Qai.


"Aku rasa disini sangat aman. Karena kamar ayah dan ibu di bawah." Tutur Rey yang langsung beraksi.


Bersambung...


Gabung grup yuk yang mau rumpi bareng othor Blinger 🤭😂


Aku update habis buka semoga malam ini lolos. kalau gak lolos aku minta maaf 🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2