2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 59 MEMAHAMI IBU HAMIL


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan yang telah di setujui bersama. Demi menuruti ibu hamil yang menahan diri ingin pulang kampung, akhirnya malam ini keinginannya akan terlaksana.


Dengan perdebatan panjang sebelum akhirnya Rey menuruti saja kemauan Qai. Rey sejujurnya akan mengajak Qai pulang kampung esok pagi. Namun karena kemauan Qai yang inginnya pulang malam ini akhirnya Rey menurut.


Kini Qai terus mendekap erat tubuh Rey. Walau diterpa angin malam namun tubuh Qai tetap terasa hangat. Entah berapa lapis Rey memasang baju dan jaket demi kehangatan tubuh Qai dan juga calon anak mereka.


"Kakak ngantuk nggak?"


Pertanyaan yang seharusnya di tanyakan Qai sejak akan berangkat menempuh perjalanan. Baru sekarang Qai tanyakan.


"Nggak sayang."


"Kalau ngantuk kita berhenti saja kak."


"Mau berhenti dan tidur dimana yang?"


"Di semak-semak."


"Kalau malam begini bukan ular yang ditakuti yang."


"Terus."


"Dedemit."


Qai mempererat lingkaran kedua tangannya di tubuh Rey. "Kak jangan nakut-nakutin ya."


Rey tersenyum menyeringai saat mengetahui saat ini istrinya tengah was-was dan takut. "Beneran sayang, kalau malam-malam begini kan sepi, itu waktunya para dedemit keluar kandang. Mak kunti bergelayutan di pohon, genderuwo mencari mangsa terus pocong pasti pada... aw..." Antara terkejut dan sedikit sakit Rey teriak.


"Kapok nggak. Makannya jangan sok nakut-nakutin aku kak." Ucap Qai. Kenakalan tangannya yang menggenggam erat milik Rey membuatnya puas karena akhirnya Rey berhenti menakutinya.


"Kakak bisa lebih pelan lagi nggak?" Tanya Qai menyindir.


Namanya juga lelaki, mana mungkin Rey peka dengan sindiran Qai berikan seperti saat ini. Sedangkan seorang perempuan adalah makluk misterius, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Jawaban dari pertanyaan Qai jelas adalah kebalikannya.


"Masih kurang pelan nggak sayang?" Tanya Rey dengan polosnya karena telah menurunkan gas agar laju motor lebih lambat.


"Ih kakak nggak peka banget sih." Omel Qai kesal.


"Nggak peka gimana sih sayang maksudnya?" Jadi bingung juga Rey sekarang.


"Kalau kakak bawa motornya pelan kaya gini. Terus kapan kita sampai rumah?"


"Loh tadi kan kamu sayang yang bilang kalau jalannya bisa lebih pelan." Protes Rey tidak terima.


"Tapi maksudnya aku tuh kebalikannya kakak."


"Ya makannya yang. Kalau ngomong itu langsung saja, biar aku paham."

__ADS_1


"Sekarang kakak sudah paham kan?"


"Sudah." Jawab Rey singkat.


"Lalu tunggu apa lagi kak."


"Apa?" Tanya Rey bingung.


"Ngebut kak biar kita cepat sampai rumah." Perintah Qai sudah kesal.


Setelah banyak melakukan perdebatan di atas motor. Akhirnya Rey melajukan motornya lebih cepat. Selain karena ingin cepat sampai, karena malam juga semakin larut.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum." Salam Qai dan Rey pelan. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya mereka sampai di kediaman rumah ibu Yani.


Ratna yang samar-samar mendengar ketukan pintu langsung beranjak dari pembaringan. Masih mencoba mendengar dengan benar karena takut salah dengar.


Ratna langsung keluar dari kamar dan langsung menuju ruang tamu untuk membuka pintu utama.


"Waalaikumsalam. Ya Allah dek, Qai. Kalian pulang." Ucap Ratna terkejut setelah melihat dua sosok di depan pintu.


"Iya mbak." Rey dan Qai bergantian mencium punggung tangan Ratna.


Ratna celingukan melihat ke depan. "Ya Allah Rey kamu ajak Qai pulang malam-malam naik motor." Pekik Ratna saat sadar jika waktu masih gelap.


"Tapi kamu masih hamil Qai. Naik motor, nggak baik angin malam buat kamu. Mana perjalananya jauh lagi." ngedumel Ratna kesal dengan adik laiki-lakinya.


"Sudah tahu angin malam nggak baik buat ibu hamil, terus kapan ini di bolehin masuknya." Ucap Rey yang memang sejak tadi mereka masih diam di tempat.


"Oh iya." Ratna langsung menyingkir dari ambang pintu agar Qai bisa segera masuk. "Masukin motornya dulu dek, mbak bukain pintu belakang."


Meskipun kamar Rey kosong, tapi setiap hari Ratna tidak pernah melewati kamar Rey untuk tetap Ratna bersihkan. Jadi jika sewaktu-waktu hal seperti ini. Tidak perlu membuat Ratna harus membersihkan dulu kamar Rey.


"Tidur dulu sayang." Ucap Rey setelah mereka membersihkan diri sejanak, lalu langsung masuk ke dalam kamar untuk segera istirahat.


"Aku nggak sabar nunggu pagi kak. Ingin sekali makan di sawah." Ucap Qai membayangkan suasana di area sawah.


"Sudah nggak perlu dibayangkan lagi. kita sudah di kampung, nanti kita makan di sawah sesuai ingin kalian." Ucap Rey sambil mengusap perut Qai. "Sekarang kita harus istirahat."


"Sambil nunggu subuh gimana kalau kita main saja kak." Tawar Qai nggak kira-kira.


"Main apa sayang?" Tanya Rey yang mulai nggak paham sama kode sandi yang biasa di gunakan pasangan suami istri. Bahkan kini suaranya sudah serak melemah.


"Ih kok tidur sih." Gumam Qai setelah mendongakkan wajahnya melihat Rey yang lelap begitu saja.


Dasar ibu hamil tidak kenal lelah dan waktu. Jelas saja Rey langsung tertidur begitu saja karena setelah pulang bekerja, mereka makan malam lalu meluncur menerjang malam untuk pulang ke kampung halaman.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Pelan-pelan Qai membuak kedua matanya. Ia langsung spontan bangun karena setalah melihat jam yang ada di ponselnya.


"Mantu macam apa aku ini jam segini baru bangun." Gumam Qai yang langsung keluar rumah. Celingukan karena rumah nampak sepi.


Tadi subuh Qai dan Rey bangun sebentar untuk melakukan kewajibannya. Dan saat itu juga mereka bertemu dengan ibu Yani dan juga Ahmad. Niat hati Qai hanya rebahan sebentar, tapi sungguh tak di duga jika sampai jam segini ia baru terbangun.


"Sudah bangun sayang?" Tanya Rey yang baru saja masuk melalui pintu belakang.


"Kakak kenapa nggak bangunin aku sih." Protes Qai.


"Ayo makan dulu. Kalian pasti kelaparan sekarang kan." Ucap Rey menarik tangan Qai menuju meja makan.


"Kakak lupa ya?"


"Enggak."


"Terus?"


"Ya sudah sana cepat mandi terus kita ke sawah, makan disana kita."


Qai mandi dengan cepat agar keinginanannya segera tuntas. Ia langsung keluar dari dalam kamar mandi dalam waktu lima menit saja.


"Kamu mandi apa hanya cuci muka yang?" Tanya Rey keheranan.


"Mandi lah."


"Mandi model apa sih cepat banget."


"Mandi capung. Celup celup selesai." Jawab Qai yang langsung menuju kamar.


Setelah usai memakai perawatan wajah, Qai langsung keluar dari kamar menghampiri Rey yang sudah menunggunya di depan rumah.


"Ngapain bawa motor kak?"


"Biar cepat sampai yang, kamu belum makan soalnya."


"Aku nggak selemah itu ya kak, meski aku lapar tapi aku masih kuat jalan kaki sampai ke sawah." Protes Qai yang tidak mau mengendarai motor.


"Kalau jalan kasian kalian sayang." Ucap Rey berharap Qai mengerti apa maksudnya.


"Pokoknya aku mau jalan kak. Jalan. Titik nggak pake koma."


Rey menghela nafasnya. "Ok. Aku masukin motor ke dalam rumah dulu ya."


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2