2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 20 ISTRI X MANTAN PACAR


__ADS_3

"Apa ini Qai?" Tanya Intan tiba-tiba. Sepertinya keheningan membuat Intan merasa janggal. Apa lagi saat mengingat perjuangannya menghubungi Rayhan hingga beberapa kali ganti nomor.


Awalnya Qai ingin langsung mengakhiri sambungan telepon mereka. Tapi sepertinya, ia harus memperjelas sesuatu. Bahwa Rey adalah suaminya.


"Kenapa ponsel Rayhan ada sama kamu?" Tanya Intan terdengar kesal.


Qai menghela napas panjang. "Aku istrinya mbak. Wajar kan kalau ponsel suami aku ada sama aku?" Ucap Qai. Sengaja ia memperjelas kata 'suami aku' agar perempuan diseberang sana ingat dan paham. Bahwa Rayhan Abraham adalah suami Qaila Zarina.


"Dimana Rayhan?"


"Suami aku sudah tidur mbak."


"Sia-sia aku menjelaskan panjang lebar." Gerutu intan diseberang sana.


"Mbak sama suami aku sudah berpisah. Mbak sudah dengan kehidupan mbak sedang kak Rey sudah dengan ku. Kak Rey sudah memilih aku menjadi istrinya. Jadi tolong dengan sangat mbak. Jangan hubungi suami aku lagi dan jangan ganggu kami. Kita harus sama-sama fokus dengan kehidupan kita masing-masing mbak."


"Rey mencintai aku. Kami masih saling mencintai Qai."


"Aku tahu mbak."


"Kalau kamu tahu. Bisakah kamu dan Rey Berpi..."


"Nggak bisa mbak." Potong Qai cepat. "Pernikahan bukan sebuah permainan mbak. Hubungan ini sakral, sah dimata Tuhan. Bagaimana pun caranya, aku akan tetap mempertahankan pernikahan ku."


Dengan dada terasa bergemuruh Qai mengucapkan itu semua dan langsung memutuskan sambungan telepon mereka.


Qai melihat layar ponsel Rey. Foto pernikahan mereka terpampang menjadi layar kunci. Qai langsung mengusap keatas ingin membuka sandi ponsel Rey. Qai terdiam sejenak, berfikir kira-kira berapa sandi ponsel Rey.


Dengan Asal tebak, Qai memasukkan tanggal lahir Rey namun salah. Qai langsung memasukkan tanggal lahirnya, dan sayang sekali itu pun salah. Qai diam nampak berfikir.


Qai dengan sangat yakin langsung memasukkan tanggal pernikahan mereka. Senyum Qai langsung merekah karena perkiraan terakhirnya benar. Dan sekarang matanya dikejutkan dengan layar wallpaper ponsel Rey. Foto yang terpampang itu adalah fotonya.


Tak ingin larut terlalu lama. Qai langsung membuka aplikasi hijau. Menuju ke pengaturan privasi melihat daftar blokir disana.


Qai jelas terkejut karena begitu banyak nomor yang diblokir Rey. Sedangkan beberapa dari nomor tersebut terlihat foto Intan yang terpampang.


"Sepertinya aku perlu waspada dengan perempuan segigih dia." Gumam Qai.


Qai spontan melihat ke daftar panggilan. Disana terdapat nomor Intan yang terdaftar di panggilan masuk. Tepat di jam-jam Rey pulang kerja.


"Kenapa kakak tidak cerita kalau tadi telah menerima telponnya." Gumam Qai kecewa.

__ADS_1


Ia langsung beranjak dan langsung menuju dimana Rey yang sudah lelap terbawa arus mimpi. Qai duduk sambil menatap wajah Rey. Lelaki yang kini sudah mampu mengusik hatinya. Membuatnya menunggu saat waktunya Rey pulang kerja. Mengukir Rindu tanpa di sadari.


Tangan Qai mengusap wajah Rey yang nampak tenang. Menyelami alam mimpi yang begitu menenangkan raga.


"Kakak harus pegang teguh dengan janji kakak sama aku. Walau perasaan kakak belum untuk aku, tapi aku juga nggak rela kalau harus kehilangan kakak. Apa lagi jika itu karena orang lain. Aku nggak rela."


Rey mengerjapkan matanya. Samar-samar melihat Qai. Entah sadar atau tidak lelaki didepan Qai ini sipit-sipit menatap Qai. Merasakan belaian tangan Qai pada pucuk kepalanya.


"Kamu belum tidur sayang?" Tanya Rey dengan suara seraknya.


"Sayang? Memangnya aku siapa?" Tanya Qai. Ia tahu kalau saat ini Rey belum sepenuhnya sadar.


"Istriku. Qaila Zarina. Memangnya siapa lagi?" Tanya Rey sambil membawa Qai tidur dan masuk kedalam pelukannya. "I love you." Gumam Rey berbisik dengan mata terpejam.


Mendengar gumaman Rey yang jelas tidak jelas membuat Qai spontan menatap wajah Rey yang ternyata sudah terpejam. Jantungnya tiba-tiba saja berpacu dengan sangat cepat mendengar sederet ungkapan yang mendebarkan.


"Apa yang aku harapkan. Suami mu pasti hanya mengigau Qai." Batin Qai. Ia langsung memeluk Rey ikut memeluk tubuh lelaki yang kini memeluknya juga.


.


.


.


Meski pagi masih nampak petang. Namun mood Rey sepertinya sedang baik pagi ini. Setelah menjemur baju, Rey langsung menuju dapur. Disana Qai sedang mencuci alat tempur masaknya.


"Kamu kenapa Qai?" Tanya Rey yang mulai risih karena merasa Qai irit bicara pagi ini.


Sepertinya Qai masih terpengarus dengan obrolannya bersama intan semalam. Membuatnya memilih diam saja sejak tadi.


"Memangnya aku kenapa kak?" Tanya Qai tanpa melihat Rey walau sejenak.


"Aku punya salah apa sama kamu Qai?" Rey langsung memeluk erat tubuh Qai. Mendaratkan sapuan hangat dari bibir dan nafas Rey yang bersandar pada leher jenjang yang terpampang nyata. Karena rambut panjangnya ia ikat.


"Apa kakak mau ku panggil nama khusus untuk kakak?" Tawar Qai mulai menyindir agar Rey jujur padanya.


"Memangnya kamu ingin memanggilku apa?" Rey meninggalkan banyak kecupan. Mengabsen sisi kiri dan kanan leher jenjangnya. Hanya sebuah kecupan karena Rey hanya ingin melakukan sentuhan tipis-tipis saja.


"Han. Bagaimana kalau aku panggil kakak dengan panggilan kak Han?" Tawar Qai. "Kakak..." pekik Qai tertahan karena kini Rey menyesap lehernya dengan kuat.


"Aku tidak suka panggilan itu."

__ADS_1


"Kenapa? Nama kakak Rayhan Abraham. Apa salahnya aku panggil kakak Han?"


Rey menarik nafas panjang. "Itu panggilan yang sudah pernah digunakan seseorang. Kita tidak perlu menyebutnya lagi Qai. Bukan aku nggak mau panggilan dari kamu. Tapi sebaiknya kita hindari sesuatu yang membuat aku ingat orang lain."


Rey langsung melepaskan pelukannya. Ia mengambil segelas air mineral untuk ia tenggak.


"Kakak marah sama aku?"


Rey menggelengkan kepalanya. "Aku malah takut kamu tersinggung karena aku tidak menghargai nama panggilan dari mu."


"Aku nggak apa-apa." Ucap Qai sambil mengeringkan tangannya.


Rey sejak tadi menatap raut wajah Qai. Ia merasa ada hal yang disembunyikan Qai darinya. Tapi Rey tidak ingin menduga karena ia yakin jika Qai pasti akan bercerita.


"Kemarin saat aku membeli Rujak, dia menelpon ku. Kemarin sore begitu aku sampai dirumah, entah kenapa tiba-tiba aku lupakan hal itu. Senyum mu membuat aku sendiri lupa begitu saja. Maaf baru sekarang aku ingat."


"Akhirnya..." Batin Qai. Ia mengangguk. Seketika hatinya berbunga karena kini Rey berterus terang dengan sendirinya.


"Kakak semalam ngomong apa sama aku saat bangun?" Qai sangat berharap jika apa yang terdengar semalam bukanlah sebuah igauan semata.


"Memangnya semalam aku senalam bangun Qai?" Tanya Rey heran.


"Apa yang kamu harapkan Qai? Sudah pasti suami kamu itu semalam mengigau." Batin Qai penuh harapan sebuah kenyataan. "Mungkin semalam aku salah dengar. Atau aku mimpi ya kak."


"Kamu mau ngapain Qai?" Tanya Rey saat melihat Qai mengambil lunch boxnya.


"Nyiapin bekal untuk kakak." Jawab Qai santai.


Rey menupuk jidatnya sendiri melihat ekspresi polos istrinya. "Hari inikan tanggal merah Qai. Aku libur kerja."


"Ih. Kenapa kakak nggak bilang dari tadi. Pantas saja dari tadi kakak semangat bantu-bantu bukannya cepat siapa-siap."


Bersambung...


Lelaki beruntung di antara perempuan cantik 😀




__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2