2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 14 KEDATANGAN MANTAN


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 18.35 WIB. Rey dan Qai baru keluar dari kamar mandi. Wajah keduanya sama-sama keluar dengan aura yang lebih cerah lagi.


Terlebih lagi Rey. Sepertinya sekarang lelaki itu sudah melupakan amarah dirinya tadi saat baru pulang kerja.


"Nggak sakit kan punggung mu Qai?" tanya Rey sambil menatap Qai sekilas. Rey langsung mengambil baju ganti untuk Qai.


"Iya bener sih kak punggungku nggak sakit. Tapi lutut ku sakit." Keluh Qai sambil memijit lututnya.


Rey langsung meletakkan baju ganti di samping Qai yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Kalau sakit kenapa sepertinya saat dikamar mandi malah lebih lama dari pada saat di disini." Goda Rey sambil memakai kaos dan sarungnya.


"Jangan dibahas lagi kak" todong Qai karena malu.


Bisa-bisanya ia mengikuti arahan Rey dan malah lebih semangat dengan ajaran yang ia dapat saat berada didalam kamar mandi tadi.


"Ayo solat. Aku sudah lapar." Ajak Rey yang tidak ingin menggoda Qai lagi walau sebenarnya masih ingin.


Sepiring nasi dengan sayur lodeh sudah berada dihadapan mereka berdua. Qai dan Rey makan dengan tenang. Akibat dari aktifitas mereka hingga dua kali tadi. Membuat keduanya makan dengan porsi banyak.


Setelah usai makan malam mereka duduk diruang televisi. Tadi sore kasur lantai yang dipesan Rey sudah datang. Qai sendiri tidak menyangka jika Rey akan membeli apa yang ia ucapkan semalam.


"Nyaman kan kalau pakai kasur?" tanya Rey yang ikut merebahkan diri.


"Iya kak. Nyaman banget." Jawab Qai menatap Rey sejenak. Kemudian matanya kembali fokus dengan benda canggihnya.


"Chatting dengan siapa?"


"Nana. Sahabat aku kak."


Qai langsung memindahkan kepalanya. Awalnya ia menggunakan bantal untuk mengganjal kepalanya. Sekarang ia pindah bantal menggunakan lengan Rey yang tidur miring menghadapnya. Maksud hati Qai, agar Rey tahu dengan siapa dia berbalas pesan.


"Apa waktu nikah dia datang?"


"Dia nggak datang kak. Kita nikah juga kan dadakan. Saat itu nana lagi keluar kota dengan orang tuanya."


Rey mengangguk paham. Ia menatap bulu mata Qai yang berkedip-kedip. Rey tersenyum menatapnya, karena kedipan mata yang terlihat lucu baginya.


Rey langsung melingkarkan tangannya pada perut Qai. Dan wajahnya mencium pucuk kepala perempuan yang masih asik dengan dunianya. Hingga tanpa terasa Rey tertidur dengan pulas.


"Kak. Maaf ya aku cu..." ucapan Qai langsung berhenti saat menatap Rey yang lelap dengan memeluknya.


"Sudah nyenyak ternyata." Ucap Qai sambil menyentuh pipi Rey.


Qai langsung memeluk Rey. Ia ingin mengejar lelaki yang sudah terbuai mimpi.

__ADS_1


.


.


.


Setelah solat subuh, Rey mengajak Qai untuk rebahan didalam kamar. Ia tidak membolehkan Qai yang ingin beranjak untuk segera masak. Hingga sampai Rey tertidur lagi, barulah Qai beranjak dari tempat tidur.


Qai masak dengan cepat karena ingin membuatkan bekal untuk Rey. Balado telur puyuh dan tumis buncis menjadi pilihannya saat ini.


Dengan cepat ia menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Setelah semua menu masakannya selesai Qai langsung membersihkan dapur dan mencuci semua peralatan yang ia gunakan tadi.


Ia melihat Rey sejenak. Qai tersenyum melihat Rey yang masih lelap. Kemudian ia cepat membersihkan seluruh rumah.


"Ternyata kamu tinggal disini?" tanya seseorang.


Qai spontan melihat kearah sumber suara. Suara yang sangat ia kenali dengan sangat baik. Qai melihat kebelakang takut Rey tiba-tiba datang dan melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini.


"Dari mana kamu tahu aku disini?" tanya Qai sinis.


"Dari mana itu nggak penting. Yang penting sekarang aku butuh penjelasan dari mu."


"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu aku jelaskan lagi. hubungan kita berakhir."


Lelaki yang tidak terima karena diputuskan Qai secara sepihak. Dan hanya melalui saluran telepon itu langsung mencengkram lengan Qai.


Ferdi menatap inten Qai. Menelisik leher Qai yang tidak semulus biasanya ia memandang leher jenjang kekasihnya.


"Apa selama ini kamu menduakan aku?" tanya Ferdi dengan senyum sinisnya. Hatinya bahkan tidak rela jika kini tubuh wanita yang ia cintai sudah di cumbu lelaki lain.


"Aku nggak pernah melakukan tuduhan mu."


"Bulshit! Kalau kamu nggak main dibelakang ku, kenapa kamu putusin aku dan nikah dengan orang lain?" tanya Ferdi lantang.


"Aku putusin kamu karna kesalahan kamu sendiri. Dan sekarang jangan memutar balikkan fakta." Ucap Qai sambil mencoba melepaskan diri dari cengkraman Ferdi.


"Kesalahan aku apa? Jangan fitnah aku ya Qai. Kamu yang permainkan aku dengan impian pernikahan yang akan kita wujudkan. Tapi sekarang nyatanya apa?" Ferdi seolah sedang meluapkan emosinya.


Sekuat apapun Qai mencoba tegar, tidak ingin menangis karena tidak mau dianggap lemah. Tapi nyatanya air matanya jatuh juga. Merasakan dadanya yang sesak karena mengingat apa yang tidak ingin dia lihat.


"Yang merusak semua mimpi itu kamu Fer, bukan aku. Hari dimana kamu mengatakan sakit saat kamu batal menemui aku. Aku langsung menuju ke apartemen mu."


Spontan tangan Ferdi melepaskan cengkeramannya.


Matanya langsung sayu menatap Qai mengingat saat dimana ia membohongi kekasihnya.

__ADS_1


Qai tersenyum sinis menatap Ferdi. "Apa sekarang kamu tahu kesalahan mu? Kamu yang merusak kepercayaan ku dan kamu sendiri yang bermain dibelakang aku, mengkhianati aku." Lirih Qai menyayat hatinya sendiri karena harus kembali ke masa yang sudah ia lupakan beberapa hari ini.


"Aku bisa jelaskan Qai." Ucap Ferdi ingin menggenggam tangan Qai.


"Jangan sentuh aku." Ucap Qai sambil melangkah mundur menjauhi Ferdi.


"Tapi aku nggak punya hubungan khusus dengannya Qai."


"Apakah hubungan seperti itu bukan hubungan khusus?" Tanya Qai menatap Ferdi tajam.


"Itu kita hanya saling mencari kepuasan Qai. Aku sama sekali nggak punya perasaan dengannya."


"Mau adanya perasaan atau nggak. Kita sudah selesai. Silahkan pergi dari sini." Bentak Qai. Ia jelas tidak ingin jika Rey tahu kedatangan Ferdi saat ini. Dan sepagi ini.


"Kalau saja kamu nggak jual mahal dan mengikuti mau ku. Aku juga tidak akan melakukan itu dengan orang lain Qai."


Qai semakin kesal saja mendengar ucapan Ferdi barusan. Bagaimana mungkin Ferdi yang berbuat salah dan kini dia menyalahkannya.


Qai mengsedekapkan kedua tangannya. Menatap Ferdi dengan rasa jengkel yang memuncak.


"Itu Artinya kamu sudah lama bermain dengan perempuan seperti itu. Karna seingat ku sejak satu tahun kita berhubungan, sudah sejak itu kamu mengajak ku. Oh... atau jangan-jangan dengan mantan-mantan mu dulu kamu sudah biasa melakukan hal itu. Jadi dengan enteng kamu merayu ku."


Ucapan Qai barusan membuat Ferdi gelagapan. Mau membantah tapi itulah kenyataannya.


"Diam artinya iya. Silahkan pergi dan teruskan saja kehidupan bebas mu." Ucap Qai yang langsung berbalik. Ia sudah tidak ingin lagi melihat lelaki yang sudah menghancurkan kepercayaannya itu.


"Tolong kasih aku kesempatan Qai." Ucap ferdi yang tiba-tiba memeluk Qai dari belakang.


"Lepas." Qai memberontak mencoba melepaskan diri.


Rey yang baru saja terbangun dan mencari keberadaan Qai sambil mengucek matanya itu langsung terbelalak saat melihat Qai dipeluk orang lain. Rey langsung melangkah lebar menarik Qai dari cengkraman lelaki yang tidak ia kenali.


"Lepaskan istri saya." Bentak Rey sambil menarik Qai cepat. Jujur saja ia tidak terima melihat Qai dalam pelukan orang lain.


"Kakak..."


"Kamu nggak apa-apa?"


Qai menganggukkan kepalanya lalu berbalik badan dan..


Plak...


Sekeras mungkin Qai menampar pipi Ferdi. "Silahkan pergi dari sini."


"Urusan kita belum selesai Qai." Peringatan Ferdi yang langsung berlalu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2