
Setelah menunaikan kewajiban mereka pada sang pencipta. Pasangan yang semalam menyelesaikan masalah mereka di atas ranjang itu kembali tidur lagi. Tanpa membicarakan masalah mereka yang mungkin sudah dianggap usai oleh keduanya.
Tok... tok... tok...
Samar-samar, Qai mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Qai melihat kesamping karena terasa tidak ada yang memeluknya lagi.
"Kakak dimana." Gumam Qai yang langsung bangun.
"Siapa sih pagi-pagi sudah mengetuk pintu." Gerutu Qai yang merasa tidurnya jadi terganggu.
Qai langsung turun dari atas ranjang dan mengambil syal untuk menutupi lehernya yang mungkin saja banyak jejak-jejak perbuatan mereka semalam.
"Andre." Ucap Qai terkejut saat melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Kakak baru bangun. Ayo katanya pagi ini kita mau ke pantai."
"Astagfirullah." Qai sampai menepuk kepalanya sendiri. kini ia baru ingat kalau kemarin ia dan teman-teman Andre sudah membuat janji akan ke pinggir pantai untuk berjemur pagi ini. Secara tidak sengaja juga Qai bertemu dengan geng andre kemarin disini. "Aku lupa Ndre."
"Kakak ini belum tua sudah pikun. Ayo." Ajak Andre sambil mengibas tangannya agar Qai ikut dengannya. "Yang lain sudah nunggu diluar kak." Ucapnya memberi tahu.
"Aku minta maaf Ndre. Aku nggak jadi ikut kalian."
"Loh kenapa kak?"
"Suami aku datang semalam. Maaf ya."
"Kenapa nggak ajak sekalian suami kakak. Pasti makin seru kak." Usul Andre.
"Aku nggak bisa. maaf ya."
"Ya sudah deh kalau begitu." Ucap Andre sedikit kecewa.
Meski baru beberapa kali bertemu dengan Qai, Andre dan teman-temannya sangat senang, karena Qai bisa membuat suasana mereka yang sudah seru semakin seru.
"Salam buat yang lain ya Ndre."
"Siap kak. Salam dari kami buat suami kakak ya."
"Ok." Ucap Qai tersenyum.
Rey yang sejak tadi menyaksikan interaksi istrinya, langsung melangkah lebar karena rasa marah dan cemburu datang secara bersamaan.
Ceklek
__ADS_1
Qai langsung balik badan begitu mendengaer suara pintu terbuka. Ia langsung tersenyum saat melihat suaminya kembali ke kamar mereka.
"Kakak."
Rey tersenyum sinis menatap senyum Qai yang menawan. "Jadi ini yang kamu lakukan selama meninggalkan rumah? Bersenang-senang dengan bocah tadi?" Tanya Rey sambil menunjuk pintu.
"Kak. Aku bisa jelasin kak. Aku bertemu sama Andre nggak hanya berdua. Dia sama teman-temannya. Mereka semua juga bawa pacar mereka masing-masing."
"Yakin kamu?" Tanya Rey tak percaya. "Sepertinya aku salah datang kesini jemput kamu."
"Kakak jangan seperti ini dong kak."
Rey meletakkan kantong plastik yang berisi dua kotak bubur ayam. Entah bertapa lama ia berkeliling mencari penjual bubur ayam karena terlalu ingin sekali. Rey langsung memakai jaketnya untuk segera pulang.
"Kakak tolong dengarkan aku dulu kak."
Rey memejamkan matanya. Menahan rasa lapar yang memang sejak kemarin sore belum ia isi. Menahan rasa sakit kakinya yang masih terasa nyeri. Dan yang lebih penting lagi adalah bubur ayam yang baru ia beli.
Rey dilema ia harus marah dan langsung pulang atau makan bubur dulu baru ia pulang. Tentu saja pilihan pertama adalah yang paling tepat. Tapi rasa inginnya menikmati bubur ayam sudah memenuhi kepalanya.
"Aku malas berdebat dengan mu Qai. Aku nggak perduli kamu mau ikut aku pulang atau nggak." Ucap Rey marah. Tapi matanya melihat kantong plastik yang sepertinya melambai kearahnya.
Rey menghela nafasnya. Sudah tidak tahan lagi ia menahan rasa inginnya menikmati bubur ayam. Rey langsung melangkah menuju meja kecil dimana ia meletakkan bubur ayam.
"Makan lah. Aku takut kamu kelaparan." Ucap Rey sambilmemberikan sekotak bubur ayam pada Qai.
Qai tidak langsung makan. Ia memilih menata sisa pakaiannya yang ada diluar koper untuk segera ia masukkan. Pilihan yang tepat agar Rey tidak marah lagi adalah ikut pulang ke rumah. Dan mempersiapkan diri entah amarah seperti apa yang akan Rey lontarkan nantinya.
.
.
.
Rey langsung mengambil alih koper yang di geret Qai, saat melihat istrinya mengikuti langkah kakinya keluar kamar hotel. Ada rasa senang dan rasa marah karena hal sepele tadi.
"Kaki kakak kenapa?" Tanya Qai saat baru sadar ada yang berbeda dari cara jalan Rey saat ini.
"Masih perduli kamu sama aku?"
Qai hanya menghela nafas, memahami kecemburuan suaminya juga sebagian dari kesalahannya.
Setelah membayar berapa lama Qai menginap di hotel ini. Mereka langsung menuju motor. Meskipun sedang marah, tapi Rey masih sempat membantu Qai untuk menggunakan pelindung kepalanya.
__ADS_1
Selama perjalanan. Benar-benar tidak ada pembicaraan dia antara keduanya. Rey terus fokus mengendarai motornya. Dan Qai terus memeluk erat Rey.
Sampai dirumah Rey langsung masuk dan diikuti Qai yang terus membuntuti. Dan betapa terkejutnya Qai saat melihat keadaan didalam rumah sangat-sangat menghawatirkan. Berantakan dan kotor.
Qai ikut naik ke atas tempat tidur begitu melihat Rey sudah duduk di tepi ranjang. "Kak jangan seperti ini kak, tolong dengar aku dulu. Kakak hanya salah paham dengan Andre."
Rey langsung menatap Qai tajam saat mendengar nama laki-laki ingusan keluar dari mulut istrinya. Membuat rasa cemburunya semakin merasuk begitu saja.
"Jangan menyebut nama laki-laki lain disini Qai."
"Jika begitu tolong dengar aku dulu kak." Pinta Qai memohon.
"Aku butuh istirahat Qai." Ucap Rey. Ia sedang ingin meredam rasa cemburunya tadi.
"Aku pikir karna semalam kakak sudah memaafkan aku. Bahkan kakak tadi terus peluk aku dan buat aku nyaman. Kenapa sekarang jadi marah lagi hanya karena hal sepele. Aku tahu kakak cemburu. Tapi sekarang kenapa kakak egois nggak mau dengar penjelasan aku dulu. Dari pada marah karena cemburu dengan orang yang baru aku kenal."
Mendengar seluruh ucapan Qai, membuat Rey langsung bangun menata Qai. Menggaris bawahi kata egois yang di lontarkan Qai untuknya.
"Kamu tadi bilang apa Qai? Aku egois?" Rey tersenyum dengan wajah yang sudah siap mengeluarkan seluruh amarahnya yang sejak awal sudah ingin ia lunturkan begitu saja. Rey tidak ingin memperpanjang masalah.
"Kalau aku egois, lalu kamu apa? Meninggalkan rumah karena salah paham. Padahal sudah jelas komunikasi diantara kita itu sangat sangat penting Qai. Maka dari itu aku tidak pernah menutupi apapun dari kamu." Qai hanya diam. Sadar kalau ia mengatahal hal yang salah tadi.
"Masalah kita juga sepele tapi sekarang jadi besar karena kamu tinggalin aku. Kamu memilih diam selama ini tanpa terbuka tentang hal yang mengganggu pikiran mu. Itu artinya selama ini kamu nggak percaya sama aku Qai, kamu nggak percaya dengan ucapan yang aku katakana pada mu secara langsung."
"Kak."
"Kamu pergi tinggalin aku, aku nyari kamu kemanapun yang aku bisa. aku tunggu kamu tapi kamu tetap nggak pulang. Padahal kamu tahu dengan sangat jelas kalau aku butuh kamu." Ucap Rey pelan.
"Maaf kak." Ucap Qai sambil menyentuh lengan Rey.
"Jika bukan karena Nana yang kasih tahu aku dimana kamu. Pasti kamu juga tetap tidak akan pulang."
"Aku tadinya sudah mau pulang saat kakak datang kak."
"Apa kamu mau pulang saat setelah tahu keadaan ku yang mencari mu seperti orang gila?"
"Bukan begitu kak."
Rey langsung berdiri. "Jika kamu pulang hanya karena kasihan. Maaf, aku tidak butuh perasaan seperti itu Qai."
"Aku cinta sama kakak." Ucap qai cepat saat Rey akan keluar dari kamar.
Rey langsung berbalik menatap Qai. "Aku lebih dulu membisikkan kata itu pada mu, sampai kamu mempertanyakannya. Aku bingung bagaimana cara mengungkapkan padahal kita baru beberapa hari menikah. Tapi Qai, kamu meragukan aku."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️