
Rey mengendarai motor metiknya lebih cepat. Hari ini benar-benar membuatnya merasa sial. Tadi pagi baru juga nyawa terkumpul. Ia sudah harus menerima adegan dimana istrinya dipeluk lelaki yang sudah menjadi mantan sang istri.
Sekarang saat ia lelah bekerja seharian. Ia ingin segera pulang dengan membawa oleh-oleh sederhana untuk istrinya. Ia harus dikejutkan dengan kedatangan lelaki yang tadi pagi membuatnya pusing tiba-tiba.
Rey langsung memasukkan motornya karena gerbang sudah terbuka lebar. Ia mendapati Qai yang tengah menyirami tanamannya.
Mata Rey disuguhi perempuan cantik yang menggunakan kaos lengan pendek dan rok panjang. Rambutnya terurai karena masih nampak lembab. Belum lagi senyum menawan yang diberikan Qai pada Rey saat mereka saling tatap.
Rey langsung melepas pelindung kepalanya dan meletakkan di salah satu kaca motor. Ia langsung menutup gerbang. Dan duduk di kursi yang ada disana.
"Nggak kumpul sama ibu-ibu Qai?" Tanya Rey sambil melepas sepatu dan kaos kakinya.
"Sudah tadi kak. Aku pulang duluan karena belum menyirami tanaman." Jelas Qai sambil menatap Rey.
Rey tersenyum menatap Qai yang terpaku menatapnya. Ia melangkah mendekati Qai dan menempelkan sejenak kantong plastik berisi tempe mendoan. Iseng banget sumpah.
"Panas kak." Pekik Qai yang langsung tersadar dari lamunannya.
"Lagian kamu ngapain liatin aku sampai nggak berkedip?"
"Eh memangnya aku liatin kakak?" Tanya Qai berusaha tak sadar tindakannya.
Malu dong kalau dia jujur dan mengatakan kalau ia terpesona dengan wajah Rey saat pulang bekerja begini.
"Selain melamun kamu juga menyirami lantai bukannya bunga Qai." Bisik Rey.
Qai langsung melihat selang air yang ia pegang. Benar ucapan Rey bahwa ia menyirami lantai bukannya bunga-bunga yang baru kemarin ia tanam.
"Ini gara-gara kakak tahu nggak." Ucap Qai sambil mematikan keran air yang menghubungkan selang air.
"Lah kok jadi aku yang disalahkan Qai." Rey tertawa keheranan menatap wajah Qai yang memerah.
"Ya pokoknya kakak yang bikin aku salah fokus."
"Gemes tahu liat kamu cemberut kaya gini." Ucap Rey tertawa dan menarik pipi Qai. "Aku kedalam duluan ya. Ini mendoan aku tarok di meja maka Qai." Ucap Rey yang langsung masuk lebih dulu.
Qai menatap punggung Rey yang menghilang saat menuju kamar mereka. "Dia lupa apa sengaja ngelupain sih." Gerut Qai. Ia langsung menggulung selang air dan menggantung di kerannya.
Qai langsung masuk melihat Rey yang tidak ada wujudnya didalam kamar. Mengintip kamar mandi pun tidak ada Rey. Qai langsung menuju dapur, karena yakin suaminya ada disana.
"Qai. Aku belum mandi." Ucap Rey terkejut.
Qai yang langsung memeluk Rey dari belakang, Rey yang tengah telanjang setelah melepas kemeja dan meletakkan kedalam mesin cuci.
"Kakak lupa belum peluk aku." Lirih Qai sambil mempererat lingkaran tangannya pada tubuh Rey.
__ADS_1
"Aku bukannya lupa Qai. Tapi sepertinya nggak akan nyaman kalau kamu ku peluk saat aku belum mandi." Jelas Rey. Berharap Qai mengerti dan tidak salah paham.
"Biasanya juga kakak peluk aku saat pulang kerja. Bahkan sampai ke hal lain."
Rey tersenyum mendengar kejujuran Qai saat ini. Ia langsung melepas belitan tangan Qai dan langsung balik badan. Memeluk Qai dengan benar, itulah yang dilakukan Rey saat ini.
"Kenapa detak jantung kakak cepat sekali?" Tanya Qai.
Ia mendongakkan wajahnya menatap Rey. Bukannya wajah Rey yang bisa dilihat Qai saat ini. Namun wajahnya menatap dagu karena menyusup keleher Rey.
Rey menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan. Menghilangkan rasa jengkelnya yang belum hilang karena bertemu ferdi.
Rey langsung membawa Qai duduk di pangkuannya saat tubuhnya mendarat di kursi. Dimana biasanya mereka menikmati dan menghabiskan makanan.
"Kakak kenapa?" Tanya Qai saat merasakan tubuhnya dikekap erat.
"Qai."
"Iya."
"Apa kita harus membuat banyak perjanjian agar tidak saling meninggalkan?" Tanya Rey.
Jujur saja ia merasa takut kalau pada akhirnya Qai luluh lagi pada Ferdi. Apa lagi kini Ferdi tahu dimana mereka tinggal. Sepertinya ucapan Ferdi mulai memprofokasi pikiran Rey yang masih lelah.
Mendengar pertanyaan Rey seperti itu membuat Qai terkejut. Ia jadi berfikir kalau komitmen Rey goyah. Siapa yang tahu kalau diluar sana Rey dan Intan bertemu tanpa sepengetahuannya.
"Apa pernikahan tidak cukup untuk kita saling menjaga?" Tanya Qai. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri dengan obrolan mereka saat ini.
Rey langsung merenggangkan pelukannya dan menatap Qai yang nampak tajam menatapnya. Menuntut sebuah jawaban yang membuat Qai yang tiba-tiba merasa gundah.
"Aku pasti menepati janji ku Qai. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan perempuan yang sudah menjadi istri ku. Menyerahkan seluruh hidupnya untukku." Rey membawa rambut Qai kebelakang telinga. "Tapi tetap saja aku tidak tahu hati mu bagaimana."
"Kakak ragukan aku." Todong Qai yang menyadari pikiran Rey padanya saat ini.
Rey tersenyum tipis. Entah senyum apa yang dapat Qai nilai saat ini. "Mungkin." Ucap Rey singkat sambil menatap mata Qai.
"Aku sudah menyerahkan seluruhnya pada kakak. Jadi jangan pernah berfikir aku akan meninggalkan kakak. Sebagai perempuan aku juga tidak ingin menjadi janda karena perceraian apalagi sampai harus menikah lagi dan menyerahkan diri ku lagi pada lelaki. Mengulang hal-hal seperti ini yang pernah kita lakukan. Itu hanya akan mengingatkan aku pada kakak."
Qai yang merasa kesal langsung turun dari pangkuan Rey. Ia tidak habis fikir kenapa Rey sampai berfikir seperti ini padanya.
"Ferdi tadi menemui aku."
Ucapan Rey yang tiba-tiba saat ia beranjak ingin menuju kamar, langkahnya langsung terhenti dan balik badan menatap Rey yang sudag menatapnya.
"Untuk apa dia menemui kakak?"
__ADS_1
"Entah kenapa aku merasa kesal sendiri saat bertemu dengannya dan mendengarkan ucapannya. Aku tahu kita belum sama-sama saling jatuh cinta. Tapi saat dia mengatakan bahwa kamu masih mencintai dia, itu membuat aku kesal."
Qai tersenyum. Ia kembali mendekati dan duduk lagi dipangkuan suaminya. "Kita sudah saling komitmen kak. Mari kita saling percaya dengan kesepakatan kita."
"Bahkan aku yang sudah negative thinking. Padahal aku sendiri yang mengajak mu melangkah jauh."
"Lain kali kakak harus cerita dengan jelas. Aku tadi sempat berfikir kalau kakak berhubungan lagi dengan mantan kakak." Omel Qai kesal sambil memukul lengan Rey pelan.
Mereka benar-benar belum menyadari, jika kenyamanan mereka telah menumbuhkan rasa yang belum bisa diungkapkan. Saling nyaman karena keduanya saling terbuka tanpa menutupi hal apapun yang membuat hati mereka saling gundah.
"Maaf ya." ucap Rey sambil memeluk Qai kembali.
"Kakak jangan lupa ya."
"Aku nggak akan lupa Qai."
"Bohong."
Rey langsung melepaskan pelukannya dan menatap Qai. "Aku nggak akan bohong. Aku pasti langsung katakana apa yang menjadi kekesalan ku."
Qai menggelengkan kepalanya. "Kakak bohong. Buktinya kakak lupa sekarang."
Rey bingung menatap Qai. "Aku bohong soal apa?" Tanya Rey polos merasa tidak ada yang ditutupi lagi.
"Kakak lupa belum cium aku." Bisik Qai.
Justru hal itu membuat mereka berdua tertawa, merasa geli dengan hal-hal yang menjadi kesepakatan keduanya.
Bersambung...
Kangen nggak sama pasangan pengantin baru ini 😂😂😂
Rayhan Abraham (27 tahun)
Qaila Zarina (21 tahun)
yang kurang cocok dengan visualnya siapkan berhalu ria sendiri 🥰
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️