2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 60 MEMAHAMI ISTRI


__ADS_3

Qai dan Rey jalan berdampingan. Sepanjang jalan, Rey terus menyapa para tetangga yang berpapasan dengan langkah mereka. Bertegur sapa dengan sesama tetangga memanglah sangat penting. Apa lagi hidup di kampung, sosialisasinya sangat tinggi.


"Ibu sama mbak dimana kak, kok nggak ada dirumah tadi kayanya?" Tanya Qai.


"Ibu, mbak, sama Ratih sudah ada di sawah sejak tadi." Jawab Rey sambil mempercepat langkahnya mengejar Qai yang tiba-tiba jalan lebih cepat. "Jalannya hati-hati sayang." Rey jelas khawatir. Takut kalau Qai setengah berlari lalu tersandung bagaimana.


Tapi jika di pikir ulang, sejak mereka berbaikan. Qai memang lebih agresif. Lebih tepatnya pecicilan. Rey sendiri sampai heran dibuatnya. Apakah perubahan yang seperti ini juga termasuk pengaruh dari kehamilan. Atau Qai yang tengah mengeluarkan sikap aslinya. Entahlah.


"Kalau jalan seperti kakak kapan sampainya. Aku ingin cepat sampai sawah kak." Kesal Qai.


"Tapi kamu lagi hamil yang, harus hati-hati."


"Kakak ini mikirnya negatif terus sih. Begini-begini juga aku tetap hati-hati kok. Ayo kak cepat." Ajak Qai yang sudah tidak sabaran.


Rasanya memberikan wejangan pada Qai saat ini benar-benar mental semua. Rey harus lebih banyak sabar dan berfikir positif. Terus berdoa untuk kesehatan Qai dan calon anak mereka kelak.


"Ratiiihhh..." Teriak Qai.


"Tante. Bu itu tante bu." Tunjuk Ratih pada Qai dan Rey yang semakin mendekati mereka.


"Rey kok Qai kamu ajak kesini sih. Mana jalan kaki lagi, panas-panasan." Omel Ratna pada adiknya.


"Kasian istri mu nak. Qai sedang hamil." Tambah ibu Yani ikut mengomeli Rey.


Ingin membela diri tapi ya sudahlah, apa lagi saat Rey melihat senyum Qai yang mengejeknya dengan senyum kepuasan karena Rey telah di omeli dua perempuan sekaligus. Sama sekali Qai tidak ingin membela Rey kali ini.


"Iya bu." Jawab Rey begitu saja.


Rey langsung meletakkan makanan yang sejak tadi ia jinjing, yang Rey masukkan kedalam wadah yang bernama rantang.


"Ayo yang makan dulu." Ucap Rey saat melihat Qai akan mengikuti Ratih mencari belalang.


"Nanti saja kak."


"Kamu belum sarapan loh yang." Rey mencoba mengingatkan.


"Iya sebentar."


"Loh Qai belum makan to nak?" Kini yang bertanya adalah bu Yani.


"Belum bu."


"Makan dulu. Kasian anaknya yang di perut pasti ikut lapar juga."


"Sebentar bu. Ratih itu belalangnya." Ucap Qai yang menyusupkan tubuhnya diantara pohon jagung yang tinggal menunggu panen itu.

__ADS_1


Dibuat heran dengan menantunya. Jelas juga tidak. Apa lagi Ibu Yani dan Ratna yang sama-sama perempuan. Yang sudah melewati masak kehamilan tentu paham dengan mood ibu hamil yang sesuka hati berubah-ubah.


Rey ikut duduk sejajar bersama ibu Yani dan Ratna. Rey menghela nafasnya, melihat tingkah Qai yang membuatnya harus ekstra sabar sekarang.


"Nggak usah panik begitu dek." Ucap Ratna menggoda Rey. wajah Rey bahkan sudah terlihat gusar melihat kelakuan istrinya yang kini masih bermain di antara pepohonan jagung bersama Ratih.


"Qai belum makan lo mbak. Rey takut kenapa-napa sama Qai dan bayinya." Tutur Rey curhat.


"Nggak perlu khawatir. Nanti juga makan sendiri kalau memang sudah lapar. Apa lagi nanti waktu hamil tua, jangan heran kalau Qai selalu saja makan." Tutur Ratna mencoba memberi pengertian Rey.


"Yang penting Qai bahagia nak." Ucap Ibu Yani saat mendengar suara anak mantu dan cucunya tertawa.


Entah hal apa yang membuat dua perempuan berbeda jauh usianya itu girang diantara pohon jagung.


"Iya bu."


"Kyaaa... kakak..." Teriak Qai.


Rey langsung spontan beranjak saat melihat Qai lari kearahnya sambil mengusap punggungnya.


"Jangan lari yaaanggg..." Teriak Rey panik dan ikut lari untuk cepat-cepat menghentikan tingkah istrinya. Rey takut kalau-kalau Qai terpeleset dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ulat kak, ulat." Ucap Qai panik dan bergidik sambil terus mengusap punggungnya.


Rey langsung membalik tubuh Qai untuk melihat punggung Qai yang terdapat ulat. "Astaghfirullah sayang. Ulat kecil kaya gini saja sampai membuat mu lari. Jantungku sampai mau copot tahu nggak tadi." Omel Rey sambil memperlihatkan ulat hijau kecil dalam jepitan jari Rey.


Meski Qai anak petani juga. tapi seumur-umur Qai tidak pernah terjun langsung kelapangan. Ia iku ke sawah hanya untuk mengantar makanan buat para pekerja yang membantu menanam padi atau jagung. Tergantung musimnya apa.


Tapi meski begitu bukan berarti kedua orang tua Qai memanjakan Qai. Meski anak satu-satunya, Qai tetap di ajari bagaimana cara memasak, membersihkan rumah, mencuci baju. Kalau untuk menyeterika hanya sesekali Qai melakukannya. Karena biasanya ibu Wirda menggunakan jasa tetangga yang mau menyetrika pakaian keluarganya. Hitung-hitung sambil berbagi rezeki juga.


"Kalau tahu takut sama ulat, kenapa sok-sokan main di jagung-jagungan." Ucap Rey.


"Siapa yang takut kak. Aku hanya geli sama hewan itu." Ucap Qai membela diri.


"Tapi kamu tadi lari sayang. Itu artinya kamu takut."


"Ih sudah dibilang aku gak takut kak, tapi geli. Tahu geli nggak sih?" Tanya Qai yang mulai kesal karena merasa diremehkan oleh Rey.


Qai langsung mendorong Rey agar menyingkir untuk memberinya jalan. "Ratih ayo ke gubuk." Teriak Qai.


"Lah ini aku kok dicuekin." Gumam Rey saat Ratih melewatinya dan langsung menggandeng tangan Qai menuju gubuk. Rey langsung ikut menuju gubuk juga.


"Ratih ayo kita pulang." Ajak Ratna.


"Tadi kata ibu mau tidur siang disini." Protes Ratih.

__ADS_1


"Besok besok lagi saja. Kalau kita semua disini, gubuknya sempit untuk tidur siang berlima." Jelas Ratih.


"Qai kalau nggak pulang cepat, itu mukena mbak gantung di tembok ya." Ucap Ratna memberi tahu.


"Iya mbak." Jawab Qai. Ia langsung menuju kamar mandi kecil ala kadarnya karena ingin buang air kecil.


"Ayo bu pulang." Ajak Ratna.


"Iya."


Ratih dan bu Yani berlalu lebih dulu sambil bergandengan. Ranta mendekati Rey yang sudah mendekat.


"Kita pulang duluan."


"Iya mbak."


"Ingat. Jangan di pupuk itu bayi. Bahaya kalau jam segini kedengaran orang." Ucap Ratna menggoda.


"Apaan sih mbak."


"Kan nggak lucu kalau kalian bertukar kaos lagi."


"Mbak."


"Ok bye. Selamat bersenang-senang."


"Ayo makan dulu sayang." Ajak Rey saat Qai sudah kembali.


Mereka sudah duduk di dalam gubuk. Tepatnya di depan pintu gubuk yang sengaja mereka buka lebar. Sambil menikmati semilir angin yang sangat menyenangkan.


Rey langsung membongkar rantang. Rantang teratas berisi nasi putih, laluRantang selanjutnya berisi daun singkong dan daun papaya rebus. Dan rantang terakhir berisi sebungkus sambal terasi, ikan asin dan ikan goreng.


"Aku cuci tangan dulu sayang." Ucap Rey yang mau beranjak.


"Biar aku suapi saja kak." Qai mencegar Rey yang mau beranjak.


"Tapi sayang dari pagi belum makan, aku makan sendiri saja biar sayang makan dengan nyaman tanpa harus mengurus ku."


Maksud hati Rey memang baik. Agar istrinya makan dengan nyaman dan dia juga makan sendiri. Toh makan sambal memang paling nikmat jika kita makan sendiri menggunakan tangan secara langsung. Apa lagi suasana masih di sawah seperti ini dengan cuaca cerah dan angin yang semilir. Tentu menambah suasanya semakin menyenangkan.


"Jadi kakak nggak mau aku suapi?" Tanya Qai dengan wajahnya yang siap drama.


Rey menghela nafasnya. Memahami istrinya adalah yang sangat penting saat ini. "Sepertinya makan disuapi istri memang lebih nikmat dari apapun juga."


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2