2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 17 DATANG BULAN


__ADS_3

Rey dan Qai sudah terlelap, terbuai alam mimpi yang sangat indah. Bagaimana mungkin tidur keduanya tidak lelap kalau bukan karena aktifitas panas yang keduanya lakukan sebagai pengantar tidur.


Entah apa yang merasuki hati keduanya. Keduanya tak jauh berbeda seperti pengantin baru yang saling cinta pada umumnya. Hampir setiap hari melakukan hubungan yang menimbulkan rasa panas yang membuat keduanya saling candu.


Mata Qai mengerjap pelan. Ia langsung terjaga karena merasakan perutnya yang tiba-tiba terasa sakit. Begitu juga punggungnya yang terasa sangat nyeri.


Qai langsung memindahkan tangan Rey yang masih melingkar ditubuhnya. Ia turun dari atas ranjang dan langsung memungut pakaian yang berserakan dilantai.


Tangannya terus menekan perutnya yang terasa nyeri. Ia langsung menuju kamar mandi karena merasakan tidak nyaman pada bagian intinya.


"Pantas saja sakit. Ternyata aku datang bulan." Gumam Qai saat tangannya mengusap bagian bawah perut dan melihat jarinya sendiri.


Qai langsung mandi membersihkan diri. Ia berjalan pelan keluar dari kamar mandi sambil membungkuk menekan perutnya yang terasa sakit.


"Kamu mandi jam segini Qai?" Tanya Rey yang entah sejak kapan sudah terjaga.


"Iya kak."


"Kenapa kamu jalan seperti itu Qai?" Tanya Rey heran.


"Perut ku sakit kak. Kakak pasti keganggu aku mandi tadi ya?" Tebak Qai sambil mengambil pakaian di dalam lemari.


Rey menggelengkan kepala. "Aku terasa saat kamu lepas dari pelukan aku. Ingin tetap tidur tapi nggak bisa." Tutur Rey yang langsung turun dari atas ranjang.


"Tunggu kalau mau solat malam. Aku mandi dulu."


Sekitar 15 menit Rey membersihkan diri. Lelaki yang segar dini hari begini keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk. Benar-benar menyegarkan mata Qai. Masih sempat ia terhipnotis saat tubuhnya terasa sakit begini.


"Kenapa seprainya diganti?" Tanya Rey sambil memakai sarung dan kaos oblong.


"Ada sesuatunya kak." Lirih Qai malu.


Rey mengangguk paham. Ia berfikir mungkin banyak bekas aktifitas panas mereka tadi. Wajarlah karena memang mereka melakukannya pun tidak hanya satu kali. Padahal Qai mengganti seprai karena ada jejak tamu bulanannya.


Rey menggelar sajadah dan memakai pecinya. "Ayo tahajudan dulu Qai." Ajak Rey.


Ia menatap heran karena sejak tadi bukannya Qai cepat memakai mukenanya. Ini malah duduk ditepi ranjang dan menatap Rey yang mengenakan baju.


"Aku datang bulan kak." Lirih Qai.


Rey mengangguk. Belum mencerna jawaban Qai barusan. "Whaaattt..." Pekik Rey tiba-tiba. Menyadari apa yang menjadi jawaban Qai. "Kamu datang bulan?" Tanya Rey menatap Qai.


Qai mengangguk. Ia tersenyum malu menatap suaminya. "Kita libur dulu kak."


"Masih anget-angetnya harus puasa." Gumam Rey. "Aku solat dulu yang."

__ADS_1


Setelah melakukan beberapa solat sunah dan berdzikir sebentar. Rey langsung menghampiri Qai yang tidur meringkuk. Ia juga terdengar merintih kesakitan.


"Kamu kenapa Qai?" Tanya Rey sambil menyentuh kening Qai. "Ya Allah kamu keringat dingin Qai." Pekik Rey terkejut.


"Wajar kok kak kalau awal datang bulan pasti begini. Nggak usah khawatir. Nanti juga sembuh kok." Terang Qai saat melihat wajah khawatir Rey.


"Ada obat atau apa yang bisa aku lakukan biar sakitnya berkurang Qai."


"Aku nggak pernah minum obat kak. Sudah kakak tidur lagi. Aku bisa tahan sakitnya, ini hanya sebentar."


Rey diam tak menanggapi ucapan Qai. Ia langsung mengambil ponselnya dan mencari sesuatu. Tak lama kemudian ia langsung keluar dari kamar dan langsung menuju dapur.


Rey mencari bekas botol sirup yang belum habis. Ia langsung memindahkan sirup ketempat lain dan langsung mencuci botol sirup.


Rey langsung memanaskan air. Setelah terlihat akan mendidih Rey langsung mematikan kompor dan langsung memasukkan air panas ke dalam botol sirup.


Rey membawa botol menggunakan lap bersih dan langsung menuju kamar. Rey mengambil salah satu kain untuk membungkus botol.


"Tempelkan diperut mu Qai." Rey mengulurkan botol yang terbungkus kain.


"Terimakasih kak. Maaf ya aku ngerepotin." Ucap Qai sambil menerima botol dan langsung ia tempelkan pada perutnya.


Sudah biasa kompres begitu belum?" Tanya Rey sambil naik keatas ranjang.


"Sudah kak. Biasanya ibu yang ngompres begini."


"Aku nggak mau ngerepotin kakak. Maaf."


Rey menarik nafas membuang kejengkelan hatinya yang tiba-tiba membuatnya kecewa sendiri. Rey langsung memijit punggung Qai.


"Nggak usah kak. Kakak sebaiknya cepat tidur."


"Kamu disini hidup bersama aku Qai. Aku yang bertanggung jawab atas kamu. Jadi mari saling mengandalakan satu sama lain. Aku nggak suka kalau kamu menahan sakit tanpa aku tahu apa yang bisa buat meringankan sakitnya kamu sekarang."


"Kakak marah sama aku?" Tanya Qai pelan.


"Aku bukannya marah Qai. Tapi aku kesal saat tahu kamu nggak mau mengandalkan aku. Coba kalau aku tadi langsung tidur tanpa memikirkan sakitnya kamu sekarang. Kamu bisa saja akan berfikir aku seorang suami yang tidak peka pada istrinya." Omel Rey panjang kali lebar mengeluarkan unek-unek hatinya.


"Maaf kak."


Rey menarik nafas dalam menghembuskan pelan membuang rasa kesalnya. "Pejamkan mata mu Qai. Biar cepat terlelap lagi."


.


Lebih dari satu jam Rey memijit punggung Qai. Rey langsung mengambil botol yang sudah tergeletak dan langsung meletakkan dibawah rajang. Rey langsung merebahkan tubuhnya, menyusul Qai yang sudah nampak lelap. Nafasnya saja sudah terdengar teratur. Mungkin rasa nyerinya langsung menghilang setelah mendapat pijatan dan juga kompresan.

__ADS_1


Kedua tangan Rey mengganjal kepalanya. Matanya sangat susah diajak lelap. Entah kenapa sekarang matanya benar-benar segar.


Mata Rey melihat jam yang menempel didinding kamar. "Sebentar lagi subuh. Nanggung mau tidur." Gumam Rey. Ia langsung mengambil ponselnya. Membuka aplikasi berwarna merah untuk melihat video. Sambil menunggu adzan subuh.


Setelah solat subuh. Rey langsung keluar kamar dan menutup rapat pintu kamar mereka. Ia langsung menuju dapur untuk memasak sesuatu.


Setelah hampir satu jam bergelut dengan peralatan dapur. Akhirnya tumis kacang panjang campur tempe dan juga udang krispi sudah tersaji diatas meja makan.


Rey langsung mencuci semua peralatan dapur yang menjadi temannya bertempur.


"Good morning." Sapa Qai yang langsung memeluk Rey dari belakang.


"Morning sayang." Rey terus melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai.


"Maaf ya kak aku terlalu lelap tidur."


"It's ok baby."


"Kakak tadi nggak tidur lagi?" Tanya Qai sambil melepas pelukannya. Ia langsung menuang air putih untuk ia minum.


"Tidur sebentar sayang." Rey sengaja berbohong.


"Aku kira kakak nggak tidur lagi. Takut kalau nanti kakak ngantuk saat kerja." Ucap Qai setelah meneguk habis segelas air minum.


Rey langsung mengeringkan tangannya dan langsung menghampiri Qai.


"Kakak mau apa?" Tanya Qai terkejut setelah Rey mencengkram sisi kanan dan kiri kursi yang ia duduki.


"Minta upah." Ucap Rey yang langsung bertindak.


Bersambung...


Ferdi (25 tahun) gantengnya mantan Qai 🤭




Intan (27 tahun) cantiknya mantan Rey😌




Visual para mantan ya 🤭 yang nggak suka para visual silahkan berhalu ria sendiri 🥰

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2