
Pagi ini langit nampak cerah ceria. Membuat siapapun pasti semangat mengawali aktifitas yang penuh dengan tanggung jawab. Setelah kemarin libur.
Rey dan Qai sudah nampak rapih. Mereka sudah siap untuk berangkat bekerja. Setelah sarapan, Rey langsung melajukan motor kesayangannya menuju sekolahan tempat Qai bekerja.
Hari ini adalah hari pertamanya Qai bekerja. Sejak semalam Qai sudah sangat antusias menyambut hari senin yang sudah ia tunggu-tunggu. Ia juga ingin sekali bekerja. Merasakan bagaimana menjadi seorang guru, membagi ilmu pada murid-muridnya nanti. Seperti yang dilakukan sang ibu bertahun-tahun lamanya, hingga sampai menjadi seorang PNS.
Qai langsung mencium punggung tangan suaminya setelah turun dari motor. "Kakak hati-hati ya."
"Siap bos." Rey memberi hormat, membuat Qai tersenyum. "Semangat ya Qai."
"Pasti. Sudah sana kakak berangkat sekarang."
"Siap. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rey langsung melajukan motornya lagi. beruntung kantor tempatnya bekerja tidak terlalu jauh. jadi waktunya masih aman jika ia berangkat sedikit mengulur waktu. Agar Qai tidak terlalu pagi berada di sekolahan.
Rey langsung berlari memasuki gedung perkantoran setelah memarkirkan motornya. Kalau sampai banyak telat absen bisa bahaya. Bisa-bisa ia dapat surat cinta peringatan karyawan.
Kalau masih surat cinta sih masih nggak apa-apa. kalau sampai potong gaji atau sampai di pecat hanya karena sering telat kan nggak elit banget.
"Hampir aja telat kamu cuy." Ucap Rahmat.
"Begadang semalam cuy. Sampek kesiangan." Goda Mansur.
"Pala kau botak." Ucap Rey. "Puasa anjir."
Rahmat dan Mansur tertawa tertahan melihat wajah lesu Rey. siap-siap saja Rey kena bulian manusia ternista di dunia pertemanannya.
"Jiah... manten baru udah puasa aja." ejek Rahmat.
"Kasian si Otong nganggur." Tambah Mansur.
"Jadi kemarin libur 3 hari kamu merana dong Rey?" tanya Rahmat.
"Begitulah." Jawab Rey seadanya sambil mengeluarkan buku notenya.
Semakin terkekeh juga akhirnya si Mansur dan Rahmat melihat wajah lesu Rey.
"Udah yuk. Kerja-kerja." Ucap Rey dengan semangat membara.
Hari ini Rey benar-benar fokus bekerja. Kalau dulu ia bekerja untuk dirinya dan ibunya. Sekarang ia harus semangat karena kini ada Qai. Semangat menjual produk agar tercapai target bulanan. Mendapat komisi, bisa untuk tambahan menabung. Menyenangkan Qai dan bisa menyisihkan untuk orang tua.
Rey tersenyum karena meralat ungkapan hatinya barusan. Secepat inikah perasaannya untuk sang istri. Rey sendiri pun tidak menyangka, perasaannya tumbuh begitu saja hanya dalam waktu 2 minggu saja. 2 minggu usia pernikahan mereka. Usia yang masih sangat dini.
"Hoy..." Mansur menepuk punggung Rey. menyadarkan lelaki yang tengah senyum melihat layar komputernya. Yang sudah nampak jelas kalau Rey tengah melamun.
__ADS_1
"Ngehayalin apaan sih. Asik bener kayanya."
"Eh..." jelas Rey terkejut. "Kenapa?"
"Istirahat cuy. Ini nih gara-gara nggak dapat jatah dari istri. Akibatnya fatal. Bikin ngelamun nggak jelas."
Mansur mengangguk. Setuju dengan ucapan Rahmat. "Nanti kalau udah selesai, hajar langsung Rey." Bisik Mansur.
"Kalian ini. Waktunya makan woy. Lama-lama aku belikan pembersih nih, biar basmi bakteri jahat yang ngotorin otak kalian."
"Dasar teman durjana." Celetuk Rahmat.
"Loh woy kalian mau bawa aku kemana?" Tanya Rey saat ia sudah sadar memasuki lif menuju lantai atas, dimana pantry berada disana.
"Ke pantry lah kemana lagi?" Jawab Mansur. Mereka bertiga masih betah saling berangkulan.
"Kalian berdua bawa bekal?" Tanya Rey yang masih manut saja keluar dari lif karena sudah sampai lantai lima.
"Iya." Jawab Rahmat masih belum sadar.
"Kamu bawa bekal kan Rey?"
"Bawa."
"Ya sudah ayo makan kita disini."
"Dasar oncom. Terus mana bekal kita Oneng?" Tanya Rey menyadarkan kedua temanya.
Spontan Mansur dan Rahmat melepaskan rangkulan tangan mereka pada tubuh Rey.
"Loh lah iya." Celetuk Rahmat melihat telapak tangan mereka yang kosong.
"Bekal kita masih ketinggalan di meja Go*blok." Umpat Rey kesal.
.
.
.
Jam masih menunjukkan pukul 15.00 WIB. Tapi Rey sudah berada di depan sekolahan untuk menjemput Qai.
Tadi setelah istirahat, ia langsung keluar kantor terlebih dulu untuk bertemu dengan kliennya yang sudah biasa PO berbagai macam besi di perusahaan tempat Rey bekerja. Setelah selesai urusan dengan kliennya, Rey langsung pulang ke rumah.
Meski sudah sore masih banyak anak-anak sekolah yang baru keluar gerbang. Sudah dapat dipastikan itu pasti kelas dua belas.
Qai melangkah cepat saat melihat suaminya dari kejauhan. Rey duduk diatas motornya didekat pos satpam. Lelaki itu nampak fokus dengan ponselnya.
__ADS_1
Menggunakan celana pendek hitam dan kaos hitam. Serta kacamata hitam yang Rey letakkan di kepalanya.
Di manapun lelaki pasti akan sangat tampan saat menggunakan warna hitam. Menambah nilai ples ples pesona ketampanannya. Tak lain juga Rey. karena kini banyak siswi kelas dua belas yang baru keluar kelas terus menatap Rey.
"Ehm..." Qai berdeham. Membuat Rey langsung menatap istrinya. "Tebar pesona ya?" Tuduh Qai.
"Assalamualaikum." Ucap Rey yang langsung mengulurkan tangannya.
"Waalaikumsalam." Jawab Qai lalu mencium punggung tangan Rey. "Kok jadi kakak yang salam. Kan harusnya aku." Ucap Qai setelah sadar.
"Lagian datang hampiri suaminya bukannya salam malah nuduh nggak jelas." Rey langsung mengambil pelindung kepala Qai dari tangan istrinya. Ia langsung menarik Qai agar mendekat dan langsung menggunakan pelindung kepala Qai.
"Tapi kakak emang sengaja tebar pesona kan?"
"Perasaan dari tadi aku diem aja deh Qai. Kalau tebar pesona tuh kaya gini. Hay.' Rey melambaikan tangannya kearah beberapa siswi perempuan yang melihat kearahnya. Membuat mereka jadi tersenyum.
Qai langsung melihat kearah anak-anak yang mendapatkan lambaian tangan Rey.
"Mari bu." Ucap mereka bersamaan.
Walau Qai baru hari ini menjadi guru. Namun mereka cukup tahu kalau Qai seorang guru disini. Bisa dilihat dari pakaian yang Qai kenakan.
"Mari." ucap Qai ramah.
Tos...
Qai langsung melakukan Tos pada telapak tangan Rey yang masih terangkat di udara. "Pulang kak." Ucap Qai kesal. Ia langsung naik ke atas motor.
"Meluncur bu bos."
Qai langsung menuju kamar untuk segera membersihkan diri sebentar di dalam kamar mandi dan langsung mengganti baju santai.
Sedangkan Rey langsung menuju dapur untuk menuang sop buah yang mereka beli, saat mereka akan pulang.
"Yang aku tunggu di teras ya." Teriak Rey saat melewati kamar mereka.
"Iya."
Qai langsung menuju depan rumah mereka. "Kenapa nggak didalam saja kak?" Tanya Qai setelah duduk di sebuah kursi.
"Jarang banget Qai ngerasain angin seger kaya gini."
Qai menatap Rey yang merasakan hembusan angin sore ini dengan mata tertutup. Benar-benar menghipnotis mata saat lelaki ini tersenyum.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1