2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 8 TENTANG FERDI


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Rey dan Qai langsung membersihkan diri dan berganti baju menggunakan pakaian yang nyaman untuk mereka tidur.


Qai langsung menyiapkan berkas untuk besok ia akan melamar kerja. Sedangkan Rey hanya merebahkan diri diatas ranjang sambil menatap apapun yang Qai lakukan.


"Mau kemana kak?" tanya Qai saat melihat Rey beranjak dari tempat tidur.


"Ke dapur, ambil minum. Kamu mau?"


Qai langsung menggelengkan kepalanya. Dan Rey langsung berlalu begitu saja.


Tak perlu berlama-lama, Rey sudah kembali masuk kedalam kamar mereka. Mendapati Qai yang tengah terpaku menatap ponselnya.


Setelah diingat-ingat sejak datang ke rumah ini, Qai memang belum pernah terlihat bermain dengan benda canggih itu.


Entah apa yang sedang dilihat perempuan berambut panjang itu. Hingga sampai membuatnya tak bergerak sama sekali.


"Ada apa?"


Spontan tangan Qai mematikan layar ponselnya karena terkejut dengan suara Rey serta sentuhan tangan Rey yang menyentuh bahunya.


"Eh kak. Nggak ada apa-apa." Jawab Qai gelagapan.


Jawaban Qai itu jelas tidak memuaskan hati Rey. Apa lagi saat Rey menatap mata Qai yang mulai memerah siap akan meluncurkan air matanya.


"Ada apa?" tanya Rey pelan dan terdengar sangat lembut. Tangannya ikut mengusap pucuk kepala Qai.


Belum sempat Qai menjawab pertanyaan Rey, ponsel Qai berdering. Qai melihat sekilas siapa nama yang tertera pada layar ponselnya saat ini. Dan detik itu juga Qai langsung memutus panggilan seseorang dan menonaktifkan lagi ponselnya lagi.


"Aku mau lanjut siapin berkas ku buat besok kak."


Mendengar ucapan Qai tanpa menjelaskan apapun, Rey langsung beranjak memberi jarak untuknya dan Qai.


"Ok!" Ucap Rey singkat. Ia langsung naik keatas ranjang dan langsung memejamkan matanya.


Tak berselang lama Qai naik keatas ranjang. Sambil melihat punggung Rey yang posisinya memang membelakanginya.


"Kak. Kakak sudah tidur?" Tanya Qai sambil menyentuh punggung Rey.


Qai langsung ikut merebahkan diri. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat Rey tidur memunggunginya. Apa lagi saat ini ia percaya kalau sebenarnya Rey masih terjaga.

__ADS_1


Qai menghela nafasnya yang tiba-tiba menyiksa dadanya. Entah berapa kali ia berganti posisi untuk menemukan posisi nyaman. Tapi nyatanya ia tidak menemukannya, karena sejak tadi ia sudah berfikir akan tidur dalam dekapan Rey.


Atau dia yang memeluk Rey. Posisi sama seperti biasanya saat mereka sepakat untuk melangkah menjadi selayaknya pasangan suami istri.


Qai menggeser posisinya mendekati Rey. Ia langsung memeluk Rey dari belakang dengan sangat erat. Qai sadar dimana letak kesalahannya saat ini.


"Maafkan aku kak" lirih Qai. Ia semakin mempererat dekapannya. Wajah semakin tenggelam mencium punggung lelaki yang masih menutup matanya.


"Aku minta maaf kak."


Rey langsung membuka kedua matanya. Sejujurnya ia tidak ingin kesal karena hal sepele. Tapi mau ditutupi seperti apapun nyatanya rasa kesal sudah menguasai hati Rey begitu saja. Apa lagi saat Rey melihat kesedihan dimata Qai.


"Aku diam tidak bertanya karena aku menghormati keputusan mu yang sepertinya belum siap untuk menceritakan banyak hal pada ku Qai. Bagiku yang terpenting adalah kita." Rey menghela nafasnya.


Mencoba membuang rasa sesak didalam dadanya. Sungguh tidak terpikir oleh Rey jika ia akan merasakan seperti ini. Secepat ini.


Qai jelas menyadari caranya. Ia tidak menceritakan apapun lagi selain hanya melihat dengan kedua matanya sendiri, mantan pacarnya berhubungan intim dengan perempuan lain. Hanya itu yang diceritakan Qai.


Jika kemarin Rey tidak mempermasalahkan hal itu, tapi kini harus diakui Rey bahwa ini sangat mengganggu. Membuatnya menduga-duga dengan apa yang ada dipikiran Qai saat ini.


"Tapi aku harus mengakui jika sekarang ini mengganggu ku. Aku tidak ingin menduga-duga tentang apapun. Kita sama-sama masih saling mendekatkan diri Qai. Kalau ada suatu hal yang membuat salah satu diantara kita terjadi seperti yang aku rasakan sekarang. pasti itu akan menjadi celah yang kapan saja melebar menjadi jarak diantara kita. Aku nggak mau hal itu terjadi."


Rey langsung mengubah posisinya saat Qai merenggangkan pelukannya. Kini mereka tidur dengan posisi miring dan saling bertemu tatap.


"Kita sudah sepakat tidak akan membawa nama orang lain dirumah ini kak. Jadi aku akan menceritakan soal dia hanya untuk pertama dan terakhir kalinya." Qai menarik nafas.


"Namanya Ferdi. Kami pacaran sudah 3 tahun lamanya. Aku bukanya perempuan suci yang akan datar-datar saja pacaran dengannya. Tapi aku rasa itu nggak perlu aku ceritakan karena kakak orang yang mendapatkan hal yang aku jaga. Mungkin itu alasannya kenapa Ferdi berhubungan dengan perempuan lain karena aku nggak mau walau ia sering meminta dengan segala janjinya."


Qai menatap Rey lagi.


"Aku memutuskannya tepat saat malam hari dimana besok kita akan menikah. Memutuskan secara sepihak tanpa dia tahu apa alasan ku mengakhiri hubungan kami."


Qai menghela nafasnya. "Tadi banyak pesan yang masuk saat aku mengaktifkan ponsel ku. Aku ingin memberitahunya kalau kita sudah menikah. Tapi entah kenapa hati ku masih sakit. Kami berniat menikah saat setelah aku selesai kuliah. Tapi meski hati ku sakit, ada rasa lega karena kakak pasti orang yang tepat untuk ku."


"Kita hanya perlu fokus pada kita saja Qai."


"Aku tahu kak. Jadi tolong kalau sekiranya sikap ku mengganggu kakak, langsung katakana jangan diamkan aku. Jujur, sejak tadi aku ingin tidur sambil kakak peluk" ucap Qai malu-malu.


Rey pun langsung memeluk Qai dengan sangat erat. Tangannya membelai punggung Qai agar istrinya ini cepat tidur.

__ADS_1


"Qai..." lirih Rey.


Sejak tadi Rey menahan nafasnya karena menahan rasa yang tiba-tiba saja hadir saat tangan Qai yang mulai usil. Entah keberanian dari mana perempuan yang nampak malu-malu tapi mau ini menjadikan tangannya sangat nakal.


"Kak. Ayo kita ciuman sebelum tidur." Ajak Qai tiba-tiba.


.


.


.


Pagi ini, Rey mandi dengan sangat cepat. Sambil menunggu giliran, Qai menyiapkan roti untuk mengganjal perut mereka berdua.


Akibat tadi setelah subuh mereka berdua asik memadu kasih dan akhirnya tertidur lagi. Membuat mereka berdua bangun kesiangan. Beruntung ada alarm yang selalu membangunkan Rey saat waktunya berangkat kerja.


"Cepat mandi Qai" ucap Rey menyusul Qai yang masih berada di dapur.


Bukanya beranjak untuk segera mandi. Qai malah diam mematung menatap Rey. Pagi sangat indah karena mata Qai disuguhi tubuh Rey yang nampak masih basah dan segar dengan lilitan handuk kecil di pinggangnya.


"Huuftt..." Rey meniup wajah Qai sampai gelagapan sendiri. "Bukanya cepat ke kamar dan cepat mandi malah diam ngeliatin aku kaya gitu."


Qai langsung memberikan dua lembar roti tawar yang sudah ia olesi selai coklat dan stroberi.


"Suruh siapa keluar kamar kok nggak sopan." Ucap Qai sambil berlalu.


Rey yang sudah kelaparan akibat peperangan tadi membuatnya menghentikan kunyahannya sambil menatap punggung Qai yang masuk ke dalam kamar.


Rei melihat lagi tubuhnya. "Nggak sopan sama siapa sih. Kan cuma ada aku sama dia doang dirumah ini" gumam Rey.


Tak mau memikirkan lebih lanjut ia memilih meneruskan makan roti yang sudah ada di tangannya.


Bersambung...


maaf server NT seperti lagi gangguan πŸ™ aku sudah update Zantisya Arjuno dari semalem juga belum lolos Sampek sekarang 😌 dan ini juga aku gak tau lolos jam berapa😴


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


Selamat beraktifitas πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

__ADS_1


__ADS_2