2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 34 IKUT KE SAWAH


__ADS_3

Satu jam sudah perjalanan Rey dan Qai. Akhirnya motor metik yang mereka kendarai sudah sampai di halaman depan rumah Rey. rumah yang sudah lebih layak ditinggali karena pelan-pelan Rey juga ikut membantu bentuk materi dalam merenovasi rumah ini.


Rumah yang kini ditinggali ibunya, Ratna, Ahmad, dan Ratih. Gadis kecil anak Ratna dan Ahmad yang masih berusia empat tahun.


Qai dan Rey langsung turun dari motor. Melepas pelindung kepala mereka masing-masing. Kemudian Rey membawa kantong plastik cukup besar yang ia letakkan di bagian depan motor metiknya tadi.


"Assalamualaikum." Salam Qai dan Rey bersamaan.


"Waalaikumsalam." Jawab seseorang dari dalam.


Rey dan Qai langsung masuk begitu saja.


Mereka langsung menuju dapur untuk meletakkan buah yang mereka bawa dari rumah orang tua Qai tadi.


"Rey, Qai. Kapan kalian datang?" Tanya ibu Yani, ibu Rey. Ia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Barusan bu. Mbak Ratna memangnya nggak bilang ibu kalau Rey mau pulang." Tanyanya. Secara bergantian Rey dan Qai bersalaman dan mencium punggung tangan bu Yani.


"Enggak bilang apa-apa mbak mu."


"Ya kalau Ratna bilang, nanti nggak surprise dong bu." Ucap Ratna.


Ratna memang sengaja tidak memberi tahu ibunya agar tidak sibuk, membersihkan rumah, memasak ini dan itu. Bukan apa-apa, itu semua Ratna lakukan karena tidak ingin ibunya kelelahan. Diusia yang semakin tua, ibunya sering sekali sakit, demam, batuk atau pun pilek.


"Ratih sama mas Ahmad kemana mbak." Tanya Rey setelah ia dan Qai bersalaman dengan Ratna.


"Lagi ngejar tukang es krim. Qai sana ke kamar istirahat. Sudah mbak bereskan kamarnya. Kalau lapar, mbak juga tadi sudak masak Daun singkong sam goreng ikan asin. Ada ayam kecap juga." Tutur Ratna.


"Enak tuh, ayo Qai kita makan dulu."


"Pantas saja dari tadi mbak mu sibuk nyari daun singkong, bingung cari ikan asin. Tau begitu tadikan ibu yang masakin." Ucap bu Yani.


"Masakan ibu sama mbak mah sama saja. Enak." Puji Rey sambil memberikan kedua jempolnya.


Kini Qai jadi tahu kalau Ternyata Rey suka dengan Sayur daun singkong dan ikan asin goreng. Ia harus merekam benar-benar hal ini. Sangat penting baginya untuk bisa mengenyangkan perut suami dengan masakannya sendiri dan masakan yang disukai suaminya.


"Ya sudah cepat makan sana. Qai makan yang banyak ya nak." Ucap bu Yani menepuk punggung Qai.


"Loh Rey nggak disuruh makan yang banyak juga bu." Ucap Rey iri membuat Qai dan Ratna menahan tawa.


"Halah kamu dek. Nggak perlu disuruh makan yang banyak juga pasti makannya habis banyak kalau ketemu sayur daun singkong mah. Sudah sana makan biar cepat istirahat." Ucap Ratna.


"Ibu sama mbak nggak makan sekalian?" Tanya Qai.


"Kami tadi baru makan Qai."


Kini Qai dan Rey tengah menikmati makan siang mereka. Meski merasa sedikit sungkan karena Rey tetap mengajak makan sepiring berdua. Takut jika di pergoki mertua dan iparnya. Akhirnya Qai bisa menikmati juga.

__ADS_1


"Romantis banget sih pengantin baru." Ledek Ratna yang baru memasuki dapur karena membawa gelas bekas kopinya Ahmad tadi pagi.


"Eh mbak." Qai tersenyum malu-malu.


"Nggak usah ngeledek ya mbak. Senior mah pasti pernah kaya gini juga." Ucap Rey cuek-cuek saja.


"Ooommm..." Teriak Ratih dari depan. Gadis kecil itu sangat paham dengan motor metik Rey. Begitu turun dari motor dan melihat ada motor Rey, ia langsung lari masuk.


"Jangan lari Ratih." Khawatir Ratna.


"Hai cantik." Sapa Rey.


Ratih langsung bersalaman dengan Rey dan Qai bergantian. Kemudian Rey langsung mengangkat keponakannya itu dan langsung memangkunya.


"Dari mana gadis manis?"


"Ngejar tukang es krim om."


"Terus mana es krimnya?" Tanya Rey.


"Sudah habis om. Kan langsung Ratih makan."


"Ratih, sini sama ibu, jangan ganggu om sama tante lagi makan." Ucap Ratna.


"Ini sudah selesai kok mbak." Ucap Qai. Ia langsung membereskan piring bekas makannya dan langsung mencucinya.


"Nggak apa-apa mbak hanya ini saja kok."


Rey masih setia menunggu Qai yang mencuci piring sambil bersenda gurau dengan Ratih.


"Rey." Panggil Ahmad.


"Nggak dinas mas?" Tanya Rey kemudian bersalaman dengan Ahmad. Begitu juga dengan Qai.


"Sudah seminggu ini nggak ada job, jadi ngurus sawah saja." Ucap Ahmad sambil membuka kulkas mengambil air dingin. "Kalian Berangkat jam berapa dari sana?”


"Jam delapan mas."


"Malem?"


"Iya."


"Hati-hati Rey. Pulang ke desa kok malam. Jalanan sepi, bahaya." Ucap Ahmad khawatir.


"Iya mas."


Setelah Qai selesai mencuci piring, mereka langsung menuju kamar dengan Ratih yang tetap Rey gendong.

__ADS_1


"Ini buat Ratih." Ucap Qai memberikan beberapa mainan.


Tadi saat dalam perjalan, mereka berhenti saat melihat bapak penjual jepit dan mainan. Qai membeli beberapa ikat rambut dan jepit. Dan juga beberapa mainan untuk Ratih.


"Bilang apa sama tante?" Tanya Rey.


"Terimakasih tante, terimakasih om." Ratih mencium pipi Qai dan rey bergantian.


"Anak pintar."


.


.


.


Sore harinya Qai membantu ratna di dapur untuk memasak menu makan malam mereka. Sambil terus berbincang membicarakan banyak hal. Qai menjadi pendengar setia merekam cerita ratna saat menjadi pengantin baru dulu.


Kini Qai jadi tahu banyak hal tentang Rey. Karena kini ia memang harus tahu apapun tentang suaminya. Lelaki yang terus mengusiknya dalam banyak hal. Bukan hanya perasaannya yang terusik tapi juga tidur malamnya. Eh.


"Loh mau kemana bu?" Tanya Ratna pada bu Yani.


"Kesawah. Ahmad ada kumpulan di balai desa."


"Biar Rey saja yang kesawah bu." Ucap Rey yang baru saja ke dapur. Ia langsung membuka kulkas untuk meneguk air dingin.


"Biar ibu saja Rey, kamu istirahat saja mumpung dirumah."


"Justru mumpung dirumah bu, Rey ke sawah. Sambil cari angin segar. Ya sudah Rey berangkat sekarang."


Qai yang melihat Rey beranjak dari dapur hanya bisa melihat Rey dengan wajahnya yang kesal.


"Kok aku nggak di ajak sih. Memangnya hanya dia yang ingin hirup udara segar. Lihat sawah." Batin Qai cemberut.


Ratna Tersenyum melihat raut wajah Qai yang berubah. "Kalau ingin ikut sana disusul Rey nya."


Qai menggelengkan kepalanya. "Kak Rey saja nggak niat ajak aku mbak."


"Lelaki memang suka begitu, Kadang lupa berpamitan kadang juga lupa menawari istrinya ingin ikut atau nggak saat pergi kemana. Sudah sana ikuti Rey nya, dia pasti senang kamu ikut Qai."


Belum sempat beranjak dari posisi duduknya. Rey menampakkan wajahnya dari balik pintu. "Mau ikut nggak Qai?"


Seketika wajah Qai berubah sumringah sangking senangnya. Ternyata Rey masih ingat untuk mengajaknya ke sawah. "Mau kak." Jawab Qai cepat.


"Ya sudah ayo. Keburu padinya di makan burung nanti."


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2