2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 29 KAMU BERSAMAKU


__ADS_3

Entah apa yang merasuki Qai saat ini. Ia mengikuti saja nalurinya sendiri. melakukan apapun yang menjadi keinginannya. Menguasai lelaki yang kini ada didalam kendalinya. Saling bercecap mesra dengan rasa menggelora membakar jiwa.


Qai melepaskan bibir Rey begitu saja. Rey langsung duduk saat Qai ingin melepaskan kaosnya. Qai kembali mencecap lagi bi*bir Rey. membawa kembali Rey dalam kunciannya.


Sebagai lelaki yang suka tertarik dengan istrinya. Tangan Rey jelas tidak tinggal diam. Menyusuri pa*ha yang terpampang. Dan terus menjalar naik untuk menyusuri setiap lekuk sang istri yang membelenggunya.


Suasana semakin panas membara saat Qai semakin posesif. Menyusuri leher suaminya. Sekaligus meninggalkan jejak. Memperjelas bahwa Rey adalah miliknya, suaminya.


Keduanya sama-sama tidak terfikir, perbuatan Qai yang jelas meninggalkan jejak. Yang sudah jelas akan membutuhkan hari memudarkan warna. Bagaimana Rey akan bekerja besok.


Rey benar-benar tidak menyangka jika Qai akan bertindak seperti ini. Qai yang biasanya mengikuti saja apa maunya. Bertingkah sesuai perintahnya. Kini ia mengeluarkan sendiri keinginannya. Membuat Rey ikut saja arah jalan maunya Qai. Yang penting nggak nyasar.


Rey langsung duduk saat Qai istirahat dari aktifitasnya. Ia langsung membuka pakaian peruntuh iman dan langsung melempar secara asal. Rey langsung mengabsen leher Qai tanpa celah. Bermain dengan aset kebanggaannya sehingga Qai mengeluarkan suara. Suara yang jelas berpadu dengan suara televise yang sejak tadi menyala. Menyaksikan aktifitas mereka.


Kini keduanya sudah berada dipertandingan utama. Mengejar rasa yang ingin di keluarkan, bergerak cepat sampai keduanya ingin berteriak. Namun mereka harus menahan karena takut suara mereka terdengar sampai keluar rumah.


Suara mereka benar-benar berpadu dengan suara tivi. Sampai bingung suara mana yang mendominasi. Hal baru yang mereka lakukan. Berperang peluh di tempat ini, di depan televisi.


Qai langsung memeluk Rey saat mereka sudah sampai. Keduanya sama-sama mengatur nafas agar bisa kembali normal. Qai mengangkat wajahnya kembali untuk menetap Rey.


"Kenapa kakak tadi WA seperti itu?" Tanya Qai pelan.


Rey mengusap wajah Qai menyingkirkan helaian rambut diwajahnya yang lengket akibat wajah yang penuh keringat.


"Pesan apa?" Tanya Rey pura-pura lupa.


"Kakak jangan sok lupa ya."


"Apa ada yang salah jika suami merindukan istrinya?"


Qai jelas terdiam tak menyangka. Padahal ia sejak tadi masih berfikir kalau Rey salah ketik dan langsung kirim saja.


"Apa hanya itu?" Tanya Qai. Ia jelas berharap Rey mengatakan sebaris kata saat Rey mengigau waktu itu.


Rey diam sesaat. "Mungkin." Jawab Rey singkat.


Ingin rasanya Rey mengatakan hal lain. Hal yang mungkin ingin di dengar oleh Qai saat ini. Namun apakah secepat itu rasa yang dimiliki Rey untuk Qai. Disaat usia pernikahan mereka belum ada satu bulan. mengenal secara jauh pun belum.

__ADS_1


Dari pada bingung dengan nuraninya sendiri. Rey lebih memilih diam dan tetap dengan komitmen mereka sejak awal. Toh yang terpenting sekarang, Qai tidak mungkin meninggalkannya. Rey yakin dengan hal itu.


Rey hanya perlu meyakinkan Qai dengan caranya sendiri. Bahwa dia juga tidak akan meninggalkan Qai apapun yang terjadi.


Qai langsung jatuh kesamping. Ingin mengistirahatkan diri. Jika tadi ia merasa semangat membara. Kini rasa tubuhnya terkumpul lelah setelah menguasai Rey.


Baru saja Qai ingin memeluk Rey agar mereka bisa tertidur. Kini gantian Rey yang menguasainya.


"Aku mau lagi." Bisik Rey lalu mencium daun telinga Qai.


.


.


.


"Doakan klien yang kemarin aku temui jadi PO ya Qai hari ini." Ucap Rey saat Qai turun dari atas motor.


"Aamiin." Qai langsung mencium punggung tangan Rey.


Rey langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di area parkir ia langsung melepas pelindung kepalanya dan langsung merapihkan lagi penampilannya.


"Habis dapat jatah ya." Tebak Rahmat.


Benar-benar kedua temannya ini seperti cenayang. Menebak dengan benar namun tidak mungkin di akui Rey. Bisa panjang urusannya kalau masalah privasi seperti ini.


"Emang ada gitu dijidat aku tulisan habis dapat jatah." Ucap Rey.


"Loh nggak perlu ada tulisan juga kami bisa tahu dari wajah kamu Rey. mata ngantuk tapi muka keliatan seger-seger gimana gitu."


"Sudahlah. Nggak ada habisnya ngurusin kalian. Kerja kerja."


.


.


.

__ADS_1


Qai keluar dari gerbang sekolah lebih dari jam 5 sore. Karena tadi tiba-tiba para guru mengadakan rapat.


Qai terus melangkah menuju gerbang sambil sesekali memainkan ponselnya. Berbalas pesan dengan Nana, sambil menunggu Rey yang mau pulang bersama.


"Hai sayang."


Qai yang sejak tadi menunduk, langsung mengangkat wajahnya setelah mendengar suara lelaki yang pasti ia kenal.


"Ngapain kamu disini?"


"Aku kangen kamu sayang."


"Sayang sayang. Pala mu peyang." Jengkel sendiri akhirnya Qai. "Mau apa kamu kesini?"


"Sabar dong sayang. Aku tahu kamu pasti kangen aku."


Qai tersenyum sinis mendengar ucapan lelaki yang kelewat pede. "Apa diwajah ku terlihat ada rasa rindu buat kamu?" Tanya Qai menatap jengkel Ferdi.


Jelas saja kalau saat ini Ferdi melihat amarah dimata Qai. Amarah versi Ferdi. "Kemarin itu kamu sengaja kan memeluk suami kamu untuk membuat aku cemburu?"


"Astaga Ferdi." Qai sampai menepuk jidatnya. "Buat apa aku manas-manasin kamu? Aku peluk suami aku apa salahnya? Nggak ada."


"Aku yakin kamu sengaja melakukannya. Ayo kita saling kembali Qai. Toh kita sudah satu sama. Aku dan kamu sudah sama-sama bekas orang."


"Bekas!" Bentak Qai tak tanggung-tanggung. "Kamu pikir aku ini apa hah?"


"Ayo kita kembali Qai. Aku terima kamu apa adanya. Aku cinta sama kamu Qai. Aku melakuka itu hanya untuk bersenang-senang. Kami tidak menggunakan perasaan." Jelas Ferdi berharap.


"Mau kalian menggunakan perasaan atau tidak. Aku nggak perduli Fer. Kamu yang memulai membuat api. Jadi terima saja apa keputusan ku. Karena kamu sendiri yang buat aku bertindak seperti ini."


"Itu artinya kamu pun terpaksa memutuskan aku hanya karena kesalahan ku itu."


"Dengar ya Fer. Aku sunggug bersyukur tahu kelakuan kamu sebelum akhirnya kita menikah. Aku nggak bisa bayangin jika aku nikah sama kamu. Mau jadi apa keluarga kecil yang di bangun dengan kelakuan kamu seperti itu."


"Aku janji Qai. Setelah kita menikah aku pasti berhenti dengan perempuan lain karena aku sudah punya kamu. Kita sudah menikah."


"Apa kamu yakin bisa jamin akan berhenti dengan perempuan bayaran kamu saat kita sudah menikah dan aku belum tahu kelakuan kamu?" Ferdi terdiam. "Aku sudah tahu jawabannya. Silahkan pergi Fer. Aku sudah bahagia dengan lelaki pilihan ku. Lebih baik kamu perbaiki diri kamu jangan terus menerus ganti-ganti sembarang perempuan. Kamu nggak takut terkena HIV?" ceramah Qai mengingatkan.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2