2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 56 RUMAH SAKIT


__ADS_3

Sesuai dengan janji yang sudah Rey ucapkan, hari ini Rey membawa Qai memeriksakan kanduangan Qai di sebuah rumah sakit. Untuk USG sesuai dengan anjuran bidan. Agar dapat mengetahui perkembangan janin yang ada didalam rahim Qai saat ini.


Dug... dug... dug...


Rey sangat-sangat antusias dan senang bisa mendengarkan detak jantung janin untuk pertama kalinya. Qai juga tak kalah senangnya, sudah mendengar detak jantung calon anak mereka dan kini dapat melihat betapa raut wajah Rey yang terpancar kegembiraan.


"Ini janinnya, masih kecil ya pak, bu. Karena kehamilannya juga masih berusia 16 minggu." Tutur dokter sambil terus menggerakkan alat yang menempel pada perut Qai.


"Dia sehat kan dok?" Tanya Rey. Setelah mereka kembali duduk didepan meja kerja dokter.


"Alhamdulillah sejauh ini keadaannya normal, detak jantungnya juga normal. Yang terpenting adalah ibu jangan tarak makanan kecuali yang membuat alergi dan hindari makanan daging dan telur yang dimasak setengah matang. Dan selalu konsumsi makanan bergizi."


"Baik dokter."


"Ini resep obat dan vitaminnya ya bu, harus diminum habis karena ini sangat penting untuk pertumbuhan janin."


"Baik dokter. Terimakasih."


Rey dan Qai langsung menuju apotik untuk menebus obat yang diresepkan dokter kandungan tadi.


"Sayang duduk disana saja ya." Tunjuk Rey pada deretan kursi yang banyak nampak kosong di area ruangan poli. Karena di kursi depan apotik nampak sangat penuh, dan tidak ada kursi kosong. Rey tidak ingin istrinya lelah berdiri untuk menunggu obat.


"Iya kak."


Rey langsung meninggalkan Qai menuju apotik. Sedangkan Qai hanya celingukan melihat kesana kemari.


"Ferdi." Gumam Qai. Ia melihat Ferdi yang baru saja keluar dari salah satu poli ruangan dokter.


Ferdi dan wanita paruh baya itu melangkah semakin mendekat. Qai tentu saja sangat mengenal baik perempuan yang kini juga menatapnya. Itu karena Qai sudah beberapa kali di bawa Ferdi pulang kerumahnya.


"Qai." Sapanya ramah.


Qai langsung mencium punggung tangan wanita yang merupakan ibu Ferdi. "Apa kabar tante?"


"Baik sayang. Qai apa kabar?"


"Qai, baik juga tante. Alhamdulillah."


"Kesini dengan siapa?"


Qai melihat sejenak Ferdi yang tak menyapanya sama sekali. "Qai kesini dengan suami Qai tan."


"Oh iya. Kata Ferdi Qai kan sudah menikah, Selamat ya nak." Ucapnya.

__ADS_1


Ibunya Ferdi memang sangat baik, tapi untuk ayah Ferdi. Qai sendiri pun belum pernah bertemu sekalipun sudah pernah kesana. Tapi entah kenapa Ferdi yang jelas memiliki orang tua baik malah terjerumus keperbuatan yang tidak baik.


"Terimakasih tante."


"Suami kamu dimana?"


"Suami Qai sedang nebus obat tan."


"Kamu sakit apa nak?" Tanyanya semakin penasaran.


"Alhamdulillah Qai sedang hamil tante."


"Alhamdulillah, senang sekali ya periksa hamil di temani suami. Tante jadi iri." Ucapnya. "Ya sudah tante nebus obatnya Ferdi dulu." Ucap ibu Ferdi yang langsung menuju apotik.


Qai menatap sekilas Ferdi. Kemudian ia lebih memilih untuk duduk kembali dan mengambil ponselnya yang ada didalam tas, untuk ia mainkan.


"Selamat ya atas kehamilan kamu Qai." Ucap Ferdi tiba-tiba.


Qai langsung menengok Ferdi yang sudah duduk berjarak dua kuris kosong darinya. "Terimakasih." Ucap Qai singkat. Kemusian kembali fokus melihat ponselnya.


"Apa aku sebaiknya nyusul kak Rey saja. Aku takut kalau nanti kak Rey salah paham melihat aku dan Ferdi disini?" Ucap Qai dalam hati.


"Aku juga minta maaf pernah berlaku kurang ajar dengan mu Qai."


Padahal dulu, Ferdi tetap dengan keangkuhannya tidak pernah mengucapkan kata itu. Padahal sudah sangat jelas perbuatannya tidak bisa dibenarkan siapapun.


"Aku sadar aku lelaki yang sangat kurang ajar dan tidak pantas untuk kamu Qai.' Tambah Ferdi.


"Sudah nggak perlu dibahas lagi kalau kamu sudah sadar Fer. Yang terpenting adalah kamu harus menjadi lebih baik lagi."


"Semoga kamu selalu bahagia bersama Rey."


"Aamiin. Kamu juga jangan lupa kirim undangan jika akan menikah."


"Sepertinya aku tidak akan pernah menikah dengan keadaan aku seperti ini Qai."


"Kenapa?" Tanya Qai bingung.


"Seandainya aku mendengarkan nasihat orang terdekat aku termasuk ucapan kamu saat itu. Mungkin semuanya tidak akan sampai seperti ini."


"Maksudnya?" Tanya Qai jadi semakin bingung.


"Sayang." Panggil Rey. Ia tadi langsung melangkah lebar saat melihat Qai sedang berbincang dengan Ferdi.

__ADS_1


Qai langsung melihat kearah Rey.


"Aduh dasar bodoh kamu Qai. Baru juga baikan dengan suami kamu kenapa sekarang kamu buat kesalahan lagi." Batin Qai saat melihat air muka Rey yang sudah nampak berbeda.


"Kakak." Qai langsung berdiri dan mendekati Rey.


"Maaf pasti lama menunggu. Ayo pulang." Ajak Rey.


Qai mengangguk. Mendengar nada suara suaminya yang tetap sama, qai berharap Rey tidak marah atau salah sangka.


"Fer, kami pulang duluan. Salam buat tante ya."


Ferdi mengangguk. Ingin sekali Ferdi mengatakan permintaan maaf sekaligus dengan Rey. Namun nyalinya menciut saat mata mereka beradu tatap. Sungguh tidak gentleman.


Sepanjang jalan menuju parkiran motor Rey hanya diam dan terus menggandeng qai agar tidak lari kemana-mana karena sangking eratnya Rey menggandeng Qai.


"Kakak marah sama aku?" Tanya Qai saat Rey memakaikan pelindung kepala untuknya.


"Antara iya dan tidak."


"Aku minta maaf jika kakak marah. Dia hanya meminta maaf dengan ku kak."


"Aku marah karena aku nggak bisa lihat istri aku berbincang dengan mantan kekasihnya. Sekalipun kamu mengucapkan seperti yang baru kamu jelaskan barusan. Aku tetap cemburu Qai. Sekalipun aku tahu bagaimana perasaan mu sekarang, tapi aku harus was-was jika itu berkaitan dengan lelaki lain. Apa lagi dengan makhluk dengan julukan mantan."


Rey harus bisa meredam rasa cemburunya yang mungkin saja berlebihan jika luapkan. Masih beruntung tadi posisi duduk Qai dan Ferdi berjarak beberapa kursi. Jika sampai berdekatan mungkin ia tidak akan mengendalikan diri lagi.


Mereka berdua sampai abai jika mereka sedang berada di parkiran. Sampai tidak sadar jika beberapa pasang mata melihat pagaimana tatapan keduanya yang sangat mengandung komposisi cinta.


"Aku minta maaf karena sudah buat kakak cemburu, aku janji akan menjaga jarak dengan siapapun. Dan terimakasih karena kakak nggak marah sama aku. Padahal aku tadi sudah berfikir kalau kakak akan marah lagi sama aku. Padahal kita baru saja baikan."


Dasarnya ibu hamil, Qai langsung menagis begitu saja setelah mengucapakan sederet kata tadi.


"Jangan nangis disini sayang. Nanti dikira orang kamu aku apain lagi." Ucap Rey sambil mengusap air mata yang sudah jatuh bebas begitu saja di pipi Qai.


Bersambung...


Edisi kesorean update 🙏 aku minta maaf jika bab ini lolos besok ya 🙏


Marhaban ya Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin ya semuanya 🙏 semoga selama satu bulan ini kita diberi kesehatan umur panjang dalam bulan yang penuh Rahmat ini aamiinn


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi kita yang sedang menjalankan 🥰


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2