2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 35 TERJEBAK HUJAN


__ADS_3

Qai dengan semangat mengikuti langkah kaki Rey. Mereka ke sawah hanya dengan berjalan kaki. Karena jalan menuju sawah juga jalan kecil, selain itu juga karena jarak rumah dan sawah mereka hanya 15 menit berjalan kaki.


Rey dengan ramah menyapa setiap tetangga yang mereka lewati atau berpapasan di tengah jalan. Rey bersyukur meski ia jarang sekali pulang ke kampung, para tetangga tetap sangat ramah menyapanya.


"Wah indahnya." Puji Qai sambil menghirup udara segar. Melihat hamparan hijau sawah yang ditanami padi begitu memanjakan mata.


"Kita harus menikmati waktu yang seperti ini Qai. Kalau sudah pulang ke rumah kita ya sudah begitu-begitu saja suasananya." Ucap Rey.


Rey langsung menarik tali rapiah yang terhubung dengan orang-orangan sawah. Untuk mengusir burung. Tali rapiah juga dilengkapi dengan kaleng yang diisi dengan batu kecil sehingga burung akan langsung kabur saat mendengar bunyi yang tiba-tiba berisik.


Tak lupa juga terdapat kepingan DVD yang digantung. Agar saat siang hari burung yang akan memakan padi langsung kabur karena mendapatkan silau dari DVD yang terkena sinar matahari.


"Foto kak." Ajak Qai yang sudah bersiap untuk berselfi.


Rey langsung merangkul Qai. Mendekatkan wajahnya pada wajah Qai. Membuat pipi mereka menempel. Tanpa di ketahui Rey, ada hati istrinya yang kini tidak baik-baik saja. Jantung Qai sudah mulai bekerja cepat hanya karena adegan sederhana seperti ini.


"Satu, dua, ti… ga." Hitung Qai.


Cekrek...


Banyak foto selfi yang mereka ambil. Membuat kenangan saat di sawah seperti ini pasti akan menjadi sebuah kenangan seru yang tidak akan pernah terlupakan bagi kedua insan yang belum mau mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.


Perasaan yang sesungguhnya sudah ada walau perkenalan mereka masih bisa dihitung menggunakan jari. Perasaan yang membuat keduanya sama-sama saling butuh dan tak ingin jauh.


Karena sore ini sedikit mendung membuat burung-burung pun nampak jarang menghinggapi padi yang seharusnya Qai dan Rey jaga.


Karena pada kenyataannya juga, mereka kini hanya berkeliling mengitari sawah milik keluarga Rey. sawah yang kini menjadi sumber pendapatan pangan untuk keluarganya.


Sebagian sawah juga adalah milik Rey, ia juga investasikan sebagian tabungannya untuk membeli sawah. Sawah yang kini di garap Ahmad sekaligus. Mereka bagi hasil, karena Rey juga tidak bisa mengurus tanah sawah yang sudah ia beli.


Berkeliling terus bukan untuk melihat ada hama atau tidak. Atau sekedar mencabut rumput yang terlihat dimata mereka. Tapi kedua manusia itu malah asik berfoto. Mengabadikan momen mereka hari ini. Rey dan Qai bahkan abai dengan cuaca yang semakin gelap.


"Mas Rey ayo pulang mas, keburu hujan." Ajak salah satu tetangganya.


"Iya pak. Sebentar lagi kami pulang." Ucap Rey.


Ucapan pulang hanyalah sebuah kata. Karena nyatanya mereka terus asik berkeliling sawah dan terus mengambil potret keduanya.


"Kak, ayo kesana sebentar kak, fotokan aku disebelah sana." Ucap Qai sambil menunjuk pohon pisang di pinggiran sawah.

__ADS_1


"Ngapain sih foto kok sama pohon pisang." Ngedumel Rey. Tapi nyatanya ia tetap mengikuti langkah kaki sang istri.


"Satu... dua... ti..." Belum sempat mengambil foto Qai yang sudah berpose. Tiba-tiba hujan jatuh dengan sangat deras.


Brus...


"Neduh Qai." Teriak Rey yang langsung menggenggam pergelangan tangan Qai dan menggeret tubuh Qai menuju gubuk yang ada di sawah.


Beruntung Ahmad sudah memperbaiki gubuk yang ada diarea sawah mereka. Yang bisa untuk meneduh dan istirahat saat Ahmad lelah mengurus sawah. Tempat yang biasanya juga untuk beribadah. Agar tidak bolak balik ke rumah dan sawah. Disana juga dibuatkan tempat untuk berwudhu. Ahmad mengisi tong air, menyalur dirumah tetangga yang paling dekat dengan sawah mereka.


Kini sepasang suami istri itu berdiri pada pintu gubuk. Sepetak gubuk yang dibuat bukan model panggung. Gubuk yang terbuat dari papan dan bambu. Layak untuk meneduh saat hujan seperti ini.


"Deras banget kak." Keluh Qai sambil menatap langit.


Mereka sesekali memanjangkan kaki kedepan agar terkena air hujan. Agar kaki mereka yang kotor segera bersih kembali.


"Tutup saja Qai pintunya, biar air hujan tidak masuk kedalam."


Qai langsung menuruti apa yang di ucapkan Rey barusan. Ia menghidupkan layar ponselnya. Jam menunjukkan pukul 17.40 WIB.


Qai menghela nafasnya. "Sebentar lahi maghrib kak."


Qai ikut duduk disamping Rey. "Baju kita lembab, nanti kalau kita masuk angin gimana?"


"Ya kerokan lah. Apa lagi coba?" Santai banget Rey menjawab.


"Iya kalau cukup masung angin terus kerokan sembuh. Kalau kita sakit demam, batuk, pilek gimana coba?"


"Ya minum obat biar sembuh."


"Ck. Mana semakin gelap lagi." Gerutu Qai.


"Apa kita terjang saja hujannya Qai. Sepertinya pulang sambil hujan-hujanan seru juga tuh." Usul Rey yang menurutnya paling tepat. Bayangan romantic saat bermain hujan sudah memenuhi isi kepalanya.


"Kalau kita terjang hujan bagaimana dengan handphone ku kak. Kena air, basah lah. Terus rusak. Gimana coba?"


"Sini pinjam handphone mu." Pinta Rey yang langsung mengulurkan tangannya. Karena Rey juga lupa kalau ternyata ia tidak membawa ponselnya. Qai dengan begitu saja memberikan ponsel yang sejak tadi masih ia genggam.


Rey langsung menekan tombol yang ada di bagian pinggir handphone. Untuk menghidupkan layarnya. Jari Rey langsung mengusap keatas agar bisa menggunakan aplikasi apapun yang ada disana.

__ADS_1


"Dikunci." Batin Rey. "Apa ini passwordnya?" Tanyanya langsung.


"REQA."


Rey sepontan mengerutkan keningnya. Bingung dengan jawaban Qai barusan. Tapi tak ingin memikirkan hal apapun. Rey langsung mengetik huruf yang menurut Qai itu passwordnya. R-E-K-A itulah huruf yang di ketik Rey. namun ia heran karena ternyata salah.


"Kok salah?" Tanya Rey. meski sudah gelap dan wajah Qai tidak terlihat jelas, Rey kini sudah menatapa Qai.


"REQA kak. Itu passwordnya." Ulang Qai.


"Ini sudah aku ketik nih R-E-K-A." Eja Rey sambil mengetik ulang lagi password.


"Ih bukan itu kakak. Tapi R-E-Q-A." Qai ikut mengeja.


Bukannya jari Rey cepat mengetik apa yang baru saja di eja Qai. Kini lelaki itu menatap heran sang istri.


"REQA?" ulang Rey.


Qai mengangguk. Jika saja gubuk itu ada pencahayaan terang, pasti Rey dapat melihat bagaimana merahnya wajah Qai saat bersemu seperti saat ini. "Iya kak."


"REQA itu siapa?" Jadi penasaran sekarang Rey. karena merasa ia tidak pernah mendengar sang istri menyebut nama Reqa dari sekian teman-teman yang pernah Qai ceritakan.


"REQA itu singkatan kak." Jawab Qai pelan karena malu.


"Singkatan apa?" Semakin berkobar jiwa penasaran Rey saat ini. Ia sudah mulai menampik pikiran negative yang mulai mengotori isi kepalanya.


"Ck. Masak kakak nggak bisa tebak atau nggak bisa langsung tahu sih." Ucap Qai kesal.


Namanya juga perempuan apa sulitnya langsung menjawab sebuah pertanyaan. Mereka adalah makhluk misterius yang selalu berharap lelaki bisa selalu peka dan bisa menebak apapun tentangnya. Membaca apa yang menjadi isi pikirannya.


"Aku tanya karena aku nggak tahu. Apa susahnya langsung dijawab." Sedikit mulai kesal Rey sepertinya. "Memangnya singkatan apa itu?" Semakin penasaran saja Rey kini.


"REQA itu Rey dan Qai." Lirih Qai malu.


Bersambung...


REQA adalah inspirasi dari salah satu reader yang kemarin memberi singkatan pasangan suami istri ini di komentar🥰 Terimakasih banyak ya kak sudah menambah inspirasi ❤️😘


Hayo pada ngaku pasti pada berharap ada adegan di gubuk kan. ngaku kalian semua 😂😂😂

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2