2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 26 CEMBURU MENGUASAI HATI


__ADS_3

Setelah solat asar tadi Rey mengantar Qai ke tempat dimana ia membeli bunga. Mereka tadi membeli beberapa kantong tanah kompos untuk Qai Tanami bunga.


"Kak. Aku ke rumah bu Susi dulu ya. Mau minta bibit bunga."


"Iya." Rey meneruskan pekerjaannya. Mengisi beberapa pot dengan tanak kompos.


Dirumah ibu Susi.


"Ambil saja mbak mana yang suka." Ucap bu Susi. Ia memang menyukai segala macam bunga. Makannya ibu Susi memanfaatkan sisa tanah hooknya untuk koleksi berbagai macam bunga.


"Iya bu."


"Tak tinggal ke dapur dulu ya mbak. Takut gosong ikannya."


"Maaf ya bu. Saya jadi ganggu ibu." Ucap Qai tak enak hati.


"Nggak ganggu kok mbak." Bu Susi langsung meninggalkan Qai.


Selang beberapa menit ada sebuah motor memasuki gerbang bu Susi. Qai spontan menengok karena ingin tahu Saja.


"Qaila." Panggilnya setelah turun dari atas motor.


"Tomi."


Lelaki bernama Tomi itu langsung melangkah mendekati Qai. Mereka langsung bersalaman karena memang sudah tidak pernah bertemu semenjak mereka selesai kuliah.


"Apa kabar?" Tanya Tomi antusias.


"Baik. Kamu gimana?"


"Aku baik. Kamu kok bisa disini?" tanya Tomi penasaran.


"Aku kan tinggal disini sekarang." Jawab Qai.


Tomi tentu saja senang mendengarkan jawaban Qai barusan. Membuat mereka terus berbincang banyak hal.


Sejak tadi, Rey hanya duduk sambil memainkan ponselnya setelah selesai mengisi semua pot dengan tanah. Ia mengira Qai akan segera pulang setelah ia menunggu hampir setengah jam.


"Ketiduran kali ya." Gumam Rey setelah menyadari ia sudah satu jam menunggu Qai pulang.


Rey langsung berdiri memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celananya. Sepertinya Qai lupa arah jalan pulang. Maka Rey harus menjemput sang istri agar tidak nyasar. Apalagi kalau sampai hilang. Parah.


Rey langsung melangkah lebar saat melihat Qai bukannya meminta bibit bunga. Melainkan istrinya itu sedang berbincang dengan Tomi dengan wajah cerianya.


"Loh mas Rey kesini. Ada apa mas?" Tanya Tomi. Jelas Tomi heran dengan kedatangan Rey. karena sepengetahuannya, Rey jarang main ke rumah tetangga. Kecuali ke rumah bu Tri. meski hanya di depan warung, tapi memang di.sanalah basecamp para bapak-bapak nongkrong.


Tatapan Rey dan Qai bertemu. Qai kini sadar salahnya dimana. Bisa-bisanya dia lupa apa tujuannya datang ke rumah bu Susi.


"Nyariin orang. Aku kira hilang atau lupa arah jalan pulang. Sampai satu jam lebih aku nunggu." Sindir Rey sambil menatap Qai.


Tomi jelas bingung kenapa Rey menatap Qai dengan ekspresi marah dan cemburu. Sedangkan Qai yang merasa tersindir hendak melangkah mendekati Rey.


"Mbak Qai. Maaf ya ibu tinggal masak sekalian mandi."


Langkah Qai terhenti. "Iya bu nggak apa-apa." Ucap Qai menatap bu Susi yang sudah nampak segar dengan rambutnya yang jelas masih lembab.


"Kamu sudah pulang to tom?"

__ADS_1


"Sudah bu."


"Pesanan ibu ada Tom?"


"Ada bu."


"Loh mas Rey disini?" Tanya bu Susi saat Qai mendekati Rey.


"Iya bu."


"Mbak Qai sudah ambil semua bibit bunga yang ingin ditanam?" tanya bu Susi.


"Sudah sebagian bu." Jawab Qai pelan. Ia benar-benar merasa bersalah dengan Rey sekarang.


Mendengar jawaban Qai barusan, membuat Rey semakin jengkel saja. "Kalau begitu saya permisi dulu bu."


"Loh mau kemana mas?"


"Mau nyariin kucing bu. Permisi." Rey langsung berlalu begitu saja.


"Ini gimana to mas Rey. Tak kira mau nyusul istrinya."


"Loh memang istrinya mas Rey kesini tadi bu?" Tanya Tomi penasaran.


"Lah mbak Qai kan istrinya mas Rey." Jawab bu Susi.


"Hah..." Tomi tercengang kaget. "Jadi kamu sudah nikah Qai?" Tanya Tomi terdengar kecewa. Ia pikir jika seandainya Qai putus dari Ferdi makan ia akan mendekati Qai sebagai lelaki yang menyukainya. Bukan sebagai teman. Tapi ternyata ia sudah kalah bersama harapan.


"Iya." Jawab Qai setelah mengambil beberapa bibit bunga yang sudah ia ambil tadi.


"Qaila teman kuliah ku bu." Jawab Tomi pelan.


"Bu saya permisi pulang. Terimakasih ya bu."


"Sama-sama mbak Qai. Kalau mau bunga lagi, kesini saja ya mbak." Ucap bu Susi yang langsung di angguki Qai.


Qai pulang ke rumah sambil berlari. Mengingat tatapan Rey tadi membuatnya jadi semakin merasa bersalah.


"Kak."


"Hem..." Rey bergumam menanggapi Qai sekedarnya. Ia memilih meneruskan menepikan pot yang ia isi tanah tadi.


"Kak. Aku minta maaf." Ucap Qai pelan. Ia langsung ikut duduk jongkok didekat Rey.


"Memangnya kamu salah apa? Kenapa sampai minta maaf." Rey masih acuh terhadap Qai.


"Mampus aku. Gimana ngeluluhin kak Rey." Batin Qai kebingungan.


"Aku salah kak. Aku kesana meminta bibit bunga. Karena senang bertemu Tomi lagi, akhirnya lupa tujuan awal karena banyak mengobrol." Jelas Qai berharap Rey mengerti.


"Senang?" Tanya Rey menatap Qai.


"Iya." Qai mengangguk dengan wajah polosnya. Ia sepertinya tidak paham dengan pengulangan kata Rey barusan.


"Kalau senang. Kenapa memilih cepat pulang. Sana ngobrol lagi saja biar aku yang nanam bunga." Ucap Rey dengan nada dinginnya.


Kini Qai sadar dimana letak kesalahan ucapannya tadi.

__ADS_1


"Kak, maksud aku bukan senang seperti yang kakak pikirkan saat ini."


"Memangnya apa yang aku pikirkan?"


"Aku takut kakak salah paham."


"Kenapa aku bisa salah paham?"


"Karena..." ucapan Qai mengambang. Bingung harus mengutarakan langsung atau tidak. Sedang Rey terus membalas tatapannya menunggu sebuah jawaban.


"Karena aku takut kakak cemburu." Ucap Qai lantang didalam hatinya.


"Karena apa?" Tanya Rey menunggu jawaban.


"Aku takut salah jawab kak." Qai langsung menunduk memutuskan tatapan keduanya.


Rey mengangkat dagu Qai dengan jari telunjuknya. Membuat mereka saling bertatap lagi. Rey lalu tersenyum membuat hati Qai jelas bergetar.


"Mari kita anggap jika jawaban mu itu benar. Apa yang kamu pikirkan tentang aku itu benar. Lalu apa tanggapan mu sekarang?"


Qai menyelami mata indah Rey. seolah lelaki dihadapannya ini tahu apa yang ingin ia ucapkan.


"Pasti aku akan senang."


Rey tersenyum. Jarinya langsung menjauh dari dagu Qai. "Jadi senanglah sekarang. Anggap saja jawaban mu itu benar."


"Jadi?"


"Jadi?" Ulang Rey.


"Kakak maafin aku."


Rey mengangguk. "Jangan diulangi lagi. aku nggak suka istri ku dekat bahkan sampai senang dan lupa waktu saat berbincang dengan lelaki lain." Qai langsung mengangguk dengan senyumnya yang berbinar terang. "Janji."


"Janji."


"Kita tanam bunganya sekarang. keburu magrib."


Dengan semangat, dengan perasaan Qai yang jelas senang sekali. Mereka akhirnya menanam semua bibit yang Qai minta tadi.


Malam harinya setelah usai makan malam. Masih seperti biasanya mereka langsung duduk diruang televisi.


Setelah hampir satu jam duduk. Rey tidur dipangkuan Qai. Wajahnya menghadap ke perut Qai. Sedangkan tangan Qai mengusap kepala Rey hingga tanpa tahu jika Rey sampai tertidur.


"Kak." Panggil Qai pelan. Tangannya menggoyang pundak Rey. Bukan mendapatkan jawaban, Qai mendengar nafas teratur Rey.


"Ketiduran." Gumam Qai.


Qai tersenyum menatap sebagian wajah Rey yang nampak tenang. Tangannya mengusap pipi Rey pelan-pelan. Ia tidak ingin membuat Rey terbangun karena sentuhannya.


"Siapapun yang menjadi istri kakak. Sekalipun dijodohkan seperti kita. Pasti dengan mudah tertarik dengan cara kakak yang sangat hangat memperlakukan perempuan. Jadi jangan salahkan aku kalau aku takut kehilangan kakak."


Qai nampak berfikir sejenak. "Apa ini alasan dia mengejar-ngejar lelaki yang sudah menikah?" Namun beberapa detik kemudian qai menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Solah mengusir pikirannya yang tidak-tidak.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2