2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 45 MENJENGUK INTAN


__ADS_3

Niat awal Rey yang akan keluar rumah untuk mencari Qai yang entah dimana. Kini harus ia batalkan karena terpaksa Rey menemui Intan lagi.


Sejujurnya Rey sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Intan. Apalagi kini akibatnya sangat fatal sampai membuat istrinya salah sangka tidak mendengarkan semua obrolan sebenarnya waktu itu.


Toh Intan baru tiga hari sakitnya. Sedangkan Rey, sudah dua minggu dia menahan sakit hati, kecewa, amarah dan rasa rindu yang tergabung menjadi satu sehingga tidak bisa Rey jabarkan lagi bagaimana sensasinya.


Ingin sekali Rey berteriak dihadapan Fikri dengan banyak ucapan agar lelaki didepannya itu tahu kalau nasibnya lebih menyedihkan. Tapi Rey sadar jika ia juga salah. Andai waktu itu ia tidak nurut saja saat Intan membawanya untuk berbicara. Ini semua pasti tidak akan pernah terjadi.


Tapi pada akhirnya, Rey kini menuruti permohonan Fikri untuk menemui Intan yang sedang berada dirumah sakit. Ingin sekali menolak karena prioritas Rey adalah Qai. Tapi mana mungkin Rey tega abai dengan orang yang tulus memohon pertolongannya.


Rey langsung masuk begitu ia sudah sampai didepan kamar rawat Intan. "Ayo masuk mas." Ucap Rey menatap Fikri yang diam mematung.


"Aku akan memberi waktu buat kalian."


"Aku tidak butuh waktu pravisi dengan istri orang mas. Aku nggak mau Intan salah sangka dan mas salah paham pada ku."


Akhirnya Fikri ikut masuk. Ia lebih memilih duduk di sofa sambil memperhatikan mereka nantinya. Sedangkan Rey langsung melangkah mendekati brankar.


"Han." Panggil Intan pelan. Sudah sejak tadi ia menatap kedatangan lelaki yang sangat ia cintai. Lelaki yang ia harapkan hidup bersama dengannya setelah ia bercerai dengan Fikri.


Rey menghela nafasnya. Ia langsung duduk di kursi dekat brankar. "Bagaimana keadaan mu Ta?"


Mendengar Rey menanyakan keadaannya membuat Intan tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia sangat senang rey mau datang untuk melihatnya.


"Seperti yang kamu lihat." Jawabnya pelan.


"Aku kesini karena permintaan suami kamu Ta."


Mendengar ucapan Rey barusan membuat Intan benar-benar kecewa walau ia tahu memang Fikri yang membawa Rey kesini untuk menemuinya.


"Tidak bisakah kamu membuat aku senang walau sedikit saja Han. Tidak perlu mengatakan kalau mas Fikri yang memaksamu menemui aku." Ucap Intan kesal.


"Maaf. Aku memang tidak berhak membuat mu senang." Rey menatap Intan sekilas. Wajah yang jelas menampilkan raut kekecewaan. "Kamu belum makan kan Ta. Mau aku suapi." Tawar Rey saat melihat makanan utuh di tempatnya.

__ADS_1


Rey langsung mengambil makanan yang seharusnya sudah sejak tadi sore Intan makan. Membuaka plastik yang menutupi nampan dimana makanan masih terbungkus rapih.


"Kamu harus makan yang banyak Ta." Ucap Rey sambil menyuapkan makanan setelah ia ikut membaca doa.


"Kalau kamu sakit, Kirana juga pasti akan merasakan sakitnya. Makan yang banyak agar kamu cepat sehat dan bisa bermain lagi dengan Kirana. Kamu ibunya Kirana Ta."


Mendengar ucapan Rey barusan membuat Intan memikirkan Kirana. Sejak kejadian itu ia jadi banyak mengurung diri dan membuat waktu bermain keduanya berkurang. Bahkan sebelum ia sampai dilarikan kerumah sakit, Intan sempat mendengar dari ARTnya kalau gadis kecil itu sekarang lebih banyak murungnya.


Sampai tanpa terasa makanan yang ada dipiring pun telah habis. Rey kemudian memberikan obat yang seharusnya di minum Intan setelah selesai makan.


"Han." Panggil Intan pelan saat melihat Rey terus menundukkan wajahnya. Keduannya sudah hening beberapa menit yang lalu.


"Mari fokus dengan kehidupan kita masing-masing Ta."


"Tapi aku sangat cin..." Ucapan Intan terputus saat melihat tetesan air mata yang turun dari kedua mata Rey. Baru kali ini ia melihat Rey menangis. "Ada apa Han?" Tanya Intan pelan.


"Qai salah paham dengan pembicaraan kita waktu itu Ta. Dia ninggalin aku tanpa tahu kebenarannya, Qai nggak pulang padahal aku nunggu dia setiap hati. Aku juga nggak menemukannya padahal aku sudah mencarinya semampu ku. Aku nggak tahu lagi harus nyari dia dimana Ta."


Rey langsung mengusap wajahnya saat tangan Intan terulur ingin menghapus air matanya. Menjaga jarak adalah pilihan Rey sekarang.


"Aku lelaki lemah kan?" Tanya Rey dengan senyum pedihnya.


"Kamu berhak meluapkan emosimu Han."


"Aku nggak bisa lama disini Ta. Aku harus cepat cari Qai, aku takut terjadi hal buruk padanya."


Intan harus menahan air matanya. Menerima kenyataan bahwa ia harus ikhlas dengan takdir yang harus ia terima.


"Aku minta maaf untuk segala hal, yang pernah terjadi diantara kita. Semua janji yang sudah tidak mungkin aku tepati lagi. Aku tahu kamu yang banyak dirugikan, tapi aku juga tidak bisa memutar waktu untuk tidak melakukan semua hal yang pernah kita lakukan dulu. Andaipun aku bisa tahu sejak awal ini akan terjadi, aku pasti akan memilih kita tidak melakukan sebuah kesalahan."


Rey langsung beranjak dari tempat tidurnya. "Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir Ta. Dan jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, semoga diwaktu yang tepat setelah semua perasaan mu telah hilang dengan sendirinya."


"Han."

__ADS_1


Rey langsung berbailik lagi saat ia sudah akan menjauhi brankar. "Kenapa Ta?"


"Boleh aku memelukmu. Hanya untuk terakhir kalinya." Pinta Intan.


Tanpa menunggu waktu Rey langsung menggelengkan kepalanya memberikan penolakan atas permintaan Intan barusan.


"Kenapa?"


"Selain itu salah, kita juga sama-sama sudah tidak berhak untuk melakukan itu. Aku harus menghargai Qai sebagai istri ku dan juga menghormati mas Fikri sebagai suami kamu Ta."


Bagi Rey, meski itu adalah pelukan terakhir seperti ucapan Intan. Hal itu justru akan meninggalkan sebuah kesan tersendiri nantinya. Rey tidak ingin mengambil resiko yang mungkin saja bisa memperburuk keadaan.


"Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan mu dan mas Fikri, Ta. Aku pergi sekarang."


.


.


.


Sejak tadi Qai terus memeluk baju Rey. Saat meninggalkan rumah, entah kenapa ia kepikiran untuk membawa kaos Rey yang tergantung di kamar mereka.


Qai terus menghirup wangi tubuh Rey yang menurutnya masih tertinggal disana. Tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja. Rasa rindu sudah menumpuk memenuhi rongga dadanya. Membuat nafasnya terasak sesak.


"Aku rindu kak hik... hik.." Mau ditahan seperti apapun akhirnya Qai menagis juga. Membekap wajahnya menggunakan bantal agar tangisnya tidak sampai terdengar keluar kamar kostnya. Berharap setelah ini rasa sakit yang menyesakkan dapat berkurang.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Jangan lupa mampir di kisah Reina dan Zen😊🤭


__ADS_1


__ADS_2