
Sudah sejak pagi Qai disibukkan dengan produksi rumahannya. Ia baru membuat peyek setelah Rey berangkat kerja. Sangat beruntung sekali Qai karena kehamilannya sangatlah kuat. Bahkan ia tidak merasa lelah padahal hampir seharian menggorengnya.
Namun meski begitu. Qai tidak pernah memaksakan diri walau kandungannya sangat kuat ia ajak aktifitas. Qai selalu istirahat untuk tidur siang. Biar bagaimana pun, menjaga kehamilannya adalah hal yang utama.
"Kok belum datang juga." Gumam Qai setelah melihat jam yang ada di ponsel pintarnya.
Qai lebih memilih untuk membersihkan diri. Setelah ia selesai mandi dan ganti baju, akhirnya suara motor sudah masuk ke teras rumah. Qai langsung keluar dari kamarnya.
"Nanaaa..." Teriak Qai senang.
"Ya ampun bumil makin seksi saja." Ucap Nana.
Bukannya memeluk Qai, Nana lebih memilih memeluk perut buncit Qai. Intinya ya tetap Qai yang di peluk.
"Ayo masuk."
"Nah pesanan kamu." Nana menyodorkan rujak serut pesanan Qai.
"Terimakasih." Qai langsung ke dapur untuk memindahkan rujak ke dalam piring dan kembali lagi keruang tamu.
"Berapa ini tadi harganya?"
"Nggak usah modus tanya harga. Kaya sok mau di balikin saja."
"Eh jangan menghina ya jeng. Gini-gini duit aku banyak loh."
"Nama aku Nana, bukan jeng apa lagi ajeng."
"Iya iya. Ceriwis banget sih."
'Lancar jualannya?"
"Alhamdulillah."
"Heh temen laknut. Kamu nggak nyuruh aku nyicipin peyek buatan kamu."
"Oh iya."
Mereka berdua mengobrol sambil menikmati peyek.
"Ada yang perlu di packing nggak?" Tanya Nana ingin membantu.
"Menawarkan jasa ini?"
Dan kini, Nana membantu Qai mengemasi peyek pesanan untuk di bawa Rey besok. Qai yang bagian memasukkan peyek kedalam plastik sedang Nana menatap nanar pada lilin didepannya.
"Ini aku bagian jaga lilin?" Tanya Nana serius.
"Iyalah. Atau kamu yang bagian ini, yang penting timbangannya sama."
"Ini jaga lilin kaya gini kaya nggak aku ini nanti?"
"Kaya yang penting semangat usaha."
"Sumpah selama ini metode kamu kaya gini Qai?"
"Iya. Memang ada yang salah?" Tanya Qai serius.
__ADS_1
"Asli ndusun banget kamu Qai. Elit dikit kenapa." Pekik Nana mengoceh. (Padahal authornya yang dusun. Ini dapet materi tambahan karena komenan reader kemarin. thanks kak)
"Apanya sih?" Tanya Qai semakin tak paham.
"Beli alat pres plastik di aplikasi oren Qai tinggal colok ke listrik, gampang kan. Pake lilin mah metode lama, kaya enggak tangan melepuh iya." Gerutu Nana terang-terangan.
"Memangnya ada ya alat kaya gitu buat plastik kaya begini?"
"Haduh bumil. Bumil." Greget juga Nana jadinya. "Punya laki duitnya banyak itu harusnya rajin-rajin cek out biar ada manfaatnya itu duit." Penghasut ulung Nana ternyata.
"Ck aku nggak butuh apapun. Kalau butuh baru aku beli. Memang alatnya seperti apa?" Qai jadi semakin penasaran.
"Bentar." Nana langsung mengambil ponselnya. Membuka aplikasi oren kesayangan kaum wanita di tanggal muda. "Nih namanya impulse sealer atau alat pres plastik."
"Harganya berapa?"
"Tergantung ukuran. Ada yang 20cm harganya seratusan lebih ada juga yang 30cm harganya dua ratusan lebih."
"Sepertinya lebih efektif pake itu."
"Ya iyalah Qai. Laki kamu juga tangannya jadi gak kepanasan. Aku belikan buat kamu deh, membantu teman biar rezeki bumil semakin lancar."
"Aamiin, tolong yang 30 cm ya Na." Ucap Qai meminta tanpa melihat wajah Nana yang melongo menatapnya.
Ini nih, teman laknut sudah di kasih gratis malah milih lagi. Duhhh... bumil emang gemesin."
.
.
.
"Duh... Senyum senang begini karena nunggu aku atau sesuatu nih." Goda Rey setelah memeluk Qai sejenak.
"Nunggu kakak dong." Ucap Qai sambil menodongkan tangannya.
Rey langsung memberikan kantong plastik berisi cireng pesanan Qai.
"Ayo kak masuk." Ajak Qai yang sudah buru-buru ingin makan cireng yang tiba-tiba saja menjadi keinginannya.
"Hati-hati jalannya yang."
"Iya. Aw..." Pekik Qai.
Rey yang belum selesai melepas sepatunya spontan lari masuk takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada istrinya.
"Kenapa sayang mana yang sakit mana?" Tanya Rey panik melihat setiap sisi istrinya.
"Ini loh kak kaki aku nginjek remahan peyek. Aku tuh bukannya kesakitan tapi aku terkejut." Jawab Qai santai.
"Astagfirullah sayang." Luruh sudah tubuh Rey yang lelah nempel ke lantai. "Jantungku sudah mau copot takut kalian kenapa-napa."
"Eh kakak ini serius khawatirkan aku?"
"Lah menurut mu yang?"
"Aku kira tadi kakak lagi sok lebai seperti biasanya kak." Qai tertawa melihat wajah tertekan Rey saat ini.
__ADS_1
Sabar Rey sabar.
.
.
.
Setelah makan malam Rey dan Qai duduk di depan tv seperti biasanya.
"Loh yang. Ini nggak ada yang mau kita packing peyeknya?"
"Sudah selesai kak."
"Ya Allah yang. Kan sudah aku bilang, jangan di kerjakan sendiri . Kan aku bisa bantu kalau hanya ngepackin mah. Sambil kita nonton TV begini." ngomel sudah Rey sekarang.
"Tadi aku punya pegawai gratis kak."
"Kok gratis yang. Kasian lah kalau nggak di kasih upah."
"Ngapain di kasih upah kak lebih baik aku palakin saja." Sengaja banget Qai ngerjain Rey lagi dengan ekspresi yang sok serius agar Rey percaya dengan alibinya.
"Sayang jangan seperti itu lagi ya."
"Ya aku akan begitu kalau dia datang lagi ke rumah kita kak."
"Memangnya siapa sih yang bantu kamu tadi yang?"
"Nana."
"Bagus yang. Suruh saja setiap hari dia ke rumah."
"Ide cemerlang kak. Biar kapok dia bantuin aku. Oh iya aku tadi nggak kasih tahu kakak ya kalau Nana mau kesini?"
"Nggak apa-apa sayang. Yang penting itu perempuan dan memang orang yang sayang kenal."
Apa yang harus di katakan Qai selain bersyukur karena mendapatkan Rey dengan paket komplit. Penyabar dan penyayang. Qai bisa membeli kebutuhan pribadinya tanpa susah meminta dulu pada sang suami.
Hidup dengan sangat sederhana namun berlimpah dengan kebahagiaan tiada tara.
Sejak tadi Rey terus memeluk Qai erat. Dipikir Rey, mumpung malam ini tidak ada kegiatan mengurus peyek. Maka ia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Bermesraan dengan sang istri yang ada saja tingkahnya selama kehamilan ini.
"Kak ayo kita keliling kota." Ajak Qai tiba-tiba. Padahal tangan Rey baru saja bergerak ingin menaikkan daster yang di kenakan Qai sekarang.
"Kita dirumah saja lah yang."
"Ih sudah lama kita nggak keliling kota kak. Ayo motoran habiskan bensin kakak."
Mungkin terus di rumah juga membuat Qai jenuh, akhirnya niat Rey gagal lagi. Karena yang terpenting sekarang adalah menuruti apa yang di mau Qai.
"Kasih aku ciuman dulu." Pinta Rey.
Tidak jadi melakukan ehem ehem setidaknya mendapatkan ciuman pun jadi.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf update kemagriban 🙏 kalau nggak lolos malam ini berarti besok pagi ya 🙏
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️