
"Kenapa Qai?" Tanya Bu Yani.
Sejak tadi Qai mondar mandir ke depan dan ke belakang sambil terus mengusap perutnya yang terasa kencang.
"Perut Qai rasanya nggak enak Bu." Keluh Qai sambil terus mengusap perutnya lagi.
"Coba buat tiduran di kamar dulu nak."
Qai menurut saja. Ia langsung menuju kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya disana.
Entah sudah berapa kali Qai tidur berganti posisi miring ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada uang nyaman. Qai tidur terlentang malah nafasnya terasa sesak.
"Kok kencangnya nggak hilang-hilang." Gumam Qai.
Qai turun dari atas ranjang. Jalan pelan-pelan menuju kamar mandi, Karena ingin buang air kecil.
"Kok ngeflek. Apa sudah mau lahiran."
Qai langsung keluar dari kamar mandi setelah hajatnya tuntas.
"Ibu." Panggil Qai saat sampai di dapur.
"Qai mau makan?" Tanya Bu Yani sambil meneruskan menyiapkan sayuran untuk masak nanti sore.
"Ibu seperti Qai mau lahiran bu. Barusan saja Qai pipis ada flek di celana Qai bu."
"Ya sudah, ayo kita cepat ke bidan."
Bu Yani langsung mengambil tas di kamar anaknya yang sudah mereka siapkan jika sewaktu-waktu Qai akan melahirkan.
Qai sendiri sedang memesan mobil online untuk menuju ke tempat Bidan yang biasanya ia periksa kehamilan.
"Sudah kabari Rey nak?" Tanya Bu Yani. Kini mereka duduk di teras menunggu mobil yang di pesan Qai sampai.
"Sudah bu."
"Nggak apa-apa ya lahiran nggak di temani Rey."
"Nggak apa-apa bu, kan Kak Rey lagi cari rezeki buat kita." Meski didalam hatinya terenyuh ingin di temani Rey namun Qai tidak boleh egois karena Rey juga memiliki tanggung jawab diluar sana. "Yang penting ada ibu yang temani Qai." Tambahnya.
Bu Yani mengusap kepala Qai. Ia jelas dapat merasakan bagaimana rasanya jika melahirkan tanpa di temani suami. Karena dulu saat melahirkan Ratna, suaminya pun tidak menemaninya. Bu Yani di temani ibu kandungnya saat melahirkan anak pertama.
Mobil online pesanan Qai sudah sampai. Qai dan Bu Yani langsung masuk kedalam mobil.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya mobil sampai dimana tempat Bidan praktek berada.
Setelah membayar ongkos Qai dan bu Yani jalan pelan menuju tempat Bidan dan langsung menekan bel.
"Qai. Ada keluhan apa?" Tanya bu bidan setelah Qai dan Bu Yani masuk. Karena memang baru beberapa hari lalu Rey mengantar Qai periksa kehamilan. Bahkan Qai menjalin hubungan baik dengan bu bidan karena Qai selalu menanyakan banyak hal yang perlu ia ketahui.
__ADS_1
"Ini seperti mau lahiran bu, karna tadi waktu pipis keluar flek."
"Ayo di periksa langsung di ruang persalinan." Ucap bu bidan.
Qai langsung melepas celana da*lamanya sebelum naik ke atas bangsal. Nampak jelas flek sudah keluar semakin banyak.
Setelah bidan menggunakan alat pelindung diri, bidan langsung membantu memposisikan kaki Qai untuk melakukan pemeriksaan dalam
"Ibu periksa dulu ya Qai."
"Iya Bu."
"Jangan di lawan ya. Tarik nafas dalam." Qai mengikuti interuksi yang di berikan bidan dan saat itu juga bidan langsung melajukan pemeriksaan dalam.
"Sudah pembukaan tiga Qai." Ucap bidan memberi tahu hasil pemeriksaannya. "Masih lama ini lahirnya, di bawa jalan-jalan pelan. Atau tiduran miring kiri ya."
"Iya Bu."
"Makan dan minum yang banyak ya Qai, biar tenaganya banyak saat lahiran nanti."
"Iya bu."
.
.
.
"Ya Allah yang, aku baru baca pesan kamu." Gumam Rey sambil mencoba menghubungi Qai.
Qai : "Halo kak."
Rey : "Yang maaf aku baru baca pesan. kamu. Ini juga baru keluar dari ruang meeting. Bagaimana sekarang?"
Qai : "Baru di periksa sama bidan lagi kak, masih pembukaan lima."
Rey : "Aku ingin pulang, temani kamu disana. Tapi di kantor lagi ada masalah yang."
Qai : "Nggak apa-apa kak. Aku disini sama ibu. Kakak nggak usah khawatir dan doakan kami."
Rey : "Itu pasti sayang. Tapi benar-benar ingin lihat prosesnya seperti apa."
Qai : "Kakak sudah dulu ya, aku ingin ke kamar mandi."
.
.
.
__ADS_1
Qai sudah mengikuti apapun yang menurut bidan bisa mempercepat agar pembukaan segera lengkap. Sampai pada akhir waktu sudah sampai menjelang sore.
Sudah hampir lima belas menit bidan memimpin persalinan, karena pembukaan sudah lengkap. Namun entah sebab apa karena tiba-tiba kontraksinya berkurang membuat Qai tidak memiliki kekuatan untuk mengejan.
"Kita rujuk saja ke rumah sakit." Ucap bidan setelah memeriksa detak jantung janinnya.
Qai mengangguk lemas. Ia menurut saja karena baginya yang terpenting adalah anaknya lahir dengan selamat.
Bidan langsung menyiapkan surat rujukan. Sedangkan di luar sopir bu bidan sudah menyiapkan mobil untuk mengantar Qai ke rumah sakit.
Qai melihat jam yang ada di dinding ruangan bersalin. Pukul 17.40 WIB. Biasanya jam segini Rey sudah pulang.
"Kakak." Batin Qai sambil memejamkan matanya. Ia hanya bisa berdoa agar ia bisa selamat, terutama anaknya.
"Sayang."
Qai langsung membuka matanya saat mendengar suara Rey dan merasakan sentuhan di pucuk kepalanya. Bu Yani langsung keluar dari ruangan itu.
"Kak maafin aku karena gak bisa lahiran anak kita dengan cepat. Bu bidan mau bawa aku ke rumah sakit."
Rey mengusap perut Qai. "Nggak apa-apa. Mana yang terbaik itu yang kita ikuti. Yang penting Klian selamat. Maaf ya aku baru pulang sayang."
Qai mengangguk. "Aduh kak sakit. Kak panggilkan ibunya ini kuat banget kontraksinya."
Rey langsung beranjak untuk segera memanggil bidan. Ibu bidan yang sudah siap untuk menuju rumah sakit langsung segera memakai alat pelindung diri karena melihat kepala bayi sudah siap akan keluar.
Tidak perlu waktu lama, hanya sekali Qai mengejan mengikuti bimbingan bidan tadi, ruang persalinan langsung di penuhi dengan suara tangis bayi yang langsung menggelegar.
"Alhamdulillah..." Ucap semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Ternyata nungguin ayahnya ya dek." Ucap Bu bidan sambil melakukan tindakan. "Selamat ya pak, Bu. anaknya laki-laki."
Rey mencium puncak kepala Qai. "Terimakasih sayang, sudah melahirkan anak kita dengan selamat."
Malam ini Qai, Rey, Bu Yani dan bayi laki-laki yang baru lahir menginap di tempat bidan, Karean Qai masih dalam observasi setelah melahirkan.
Sejak tadi Qai memberikan ASI pada bayi laki-lakinya. Qai tersenyum sambil menatap bayinya yang nampak kuat menyedot. Tangan Qai memegangi bagian payu*dara agar tidak menutupi hidung bayi mungilnya.
"Haus banget sepertinya ya yang." ucap Rey sambil memeluk Qai dari samping.
"Mirip kakak tahu nggak."
"Eh kok mikir kesana sih Qai, baru juga ini bayi brojol."
"Aku bilang anak kita mirip kakak, kakak mikirnya emang suka ngadi-ngadi sih kak." Kesal juga Qai jadinya. Disaat seperti ini, masih sempat suaminya berpikir mesum.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1