2 RASA YANG TERSISA

2 RASA YANG TERSISA
BAB 30 HONEYMOON TIPIS-TIPIS


__ADS_3

"Ayo kita liburan Qai." Ucap Rey yang langsung tidur di pangkuan Qai.


"Liburan dalam rangka apa kak?"


"Ih kemarin kak aku dapat komisi."


Klien yang Rey temui di Arko Restoran menurunkan PO dua kali lipat dari target bulanan Rey. Jelas saja bulan ini Rey mendapatkan komisi yang lumayan.


"Tapi kan tabungan kakak..." Qai langsung menghentikan ucapannya saat mendapatkan tatapan tidak suka dari Rey. "Ehm... Tabungan kita sudah menipis kak, buat lunasi rumah ini. Apa nggak sebaiknya kita tabung dulu saja kak." Usul Qai yang menurutnya paling tepat.


"Aku bisa traktir teman satu tim ku. Masak iya aku nggak nyenengin istri aku. Mau ya? meskipun hanya daerah sini-sini saja yang penting kita cari suasana baru. Hitung-hitung kita honeymoon tipis-tipis."


"Memangnya kakak ingn kemana?" Tanya Qai sambil mengusap wajah Rey yang lekat menatapnya.


Rey menggenggam pergelangan tangan Qai. Mencium telapak tangan Qai yang sejak tadi mengusap wajahnya. Membuat hati Qai semakin bergetar setiap kali Rey melakukan hal-hal seperti ini.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Rey lembut.


Sadarkah Rey dengan ucapan sayang yang selalu menggetarkan hati Qai begitu saja. Satu kata yang memberikan efek luar biasa pada Qai yang semakin tidak ingin jauh dari Rey.


"Kakak yang mengajak aku. Jadi harus kakak yang membawa aku kemana kakak mau."


.


.


.


Dan kini, Qai dan Rey sudah berada di dalam sebuah kamar hotel yang ada didekat area pantai. Qai benar-benar dibuat tercengang dengan harga yang harus mereka bayar. Sedangkan mereka akan bermalam selama dua hari.


Kalau dulu saat kuliah dan belum tahu rasanya bagaimana lelahnya mencari uang. Qai pasti akan memanfaatkan status anak tunggalnya untuk meminta uang pada ayahnya. Menginap disebuah hotel patungan dengan Nana hanya karena gabut, bosan didalam kos.


"Kak. Kenapa tadi nggak ambil kamar yang harga 300.000 atau yang 550.000 saja. Ini kamar 950.000 dikali dua jadi berapa coba. Belum lagi makan kita kak. Sudah berapa tadi yang kita bayar." Ucap Qai yang masih tidak terima karena tadi saat akan cek in, Rey tidak meminta pendapatnya untuk mengambil kamar yang mana.


"Kita sudah bayar lunas loh Qai. Sudah nggak perlu dibahas lagi." Ucap Rey. Ia masih fokus berdiri didekat jendela melihat bagaimana indahnya pantai diluar sana.

__ADS_1


"Ya kalau kakak tadi diskusi dengan aku dulu. Kita pasti nggak keluarin uang sebanyak ini kak. Toh sama-sama di hotel. Yang penting kita sudah liburan." Masih belum mau berhenti juga Qai mengeluarkan unek-uneknya.


"Kakak ini sudah tahu kerja itu capek. Gampang banget hamburin u..."


Rey yang malas mendengarkan ocehan istrinya langsung melangkah mendekati Qai. Dan langsung menyambar bibir Qai untuk menghentikan omelan yang belum mau berhenti.


Pelan-pelan Rey merebahkan tubuh Qai yang memang sejak tadi duduk di tepi ranjang. Menyentuh Qai, membuat perempuan itu semakin candu dengan sentuhan yang ia dapatkan.


"Ini hanya hal kecil Qai. Kita nikmati saja. Karena hanya seperti ini yang bisa aku berikan ke kamu. Uang bisa kita cari. Kalau kamu bahagia pasti pekerjaan aku akan lancar dan rezeki kita akan terus mengalir." Ucap Rey setelah melepaskan serangannya tadi.


Tangan Rey Terus mengusap wajah Qai, dan menatapnya lekat. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Qai yang memerah. Membuat Rey tersenyum.


"Kenapa?"


"Sudah kamu hitung berapa banyak magnet yang kamu pasang disini?" Tanya Rey dengan terus mengusap bibir Qai tiada henti.


"Aku heran kenapa kakak sering bilang begitu."


Rey jelas heran kenapa Qai lemot sekali memaknai kata magnet yang sering ia ucapkan.


"Maksud kakak?" Tanya Qai heran sampai keningnya berkerut karena belum paham.


"Posisi kita sudah pas loh ini. Mau lanjut atau istirahat?" Ucap Rey berbisik kemudian menatap wajah Qai yang bersemu merah.


Qai langsung menodong Rey agar beranjak. "Kita istirahat kak. Tiga jam naik motor bikin sakit bo*kong aku." Tutur Qai jujur.


"Mau aku pijitin?" Tawar Rey dengan senyum yang jelas mencurigakan. Kalau Qai sadar sih.


"Ngapain kakak pijitin aku?" Tanya Qai yang langsung ikut berdiri.


"Katanya bo*kong kamu sakit." Jelas Rey dengan keusilannya yang menepuk bo*kong Qai.


"Kakak modus." Pekik Qai sambil memukul Rey yang ternyata sedang menggodanya.


.

__ADS_1


.


.


Sore harinya, Rey Terus mengikuti Qai yang terus berlari sambil bermain air laut yang menepi. Perempuan dengan rambut panjang yang ia gerai terus bergerak kesana kemari karena hembusan air laut sore ini.


Perempuan yang menggunakan kaos lengan pendek dan celana panjang itu terus tersenyum saat menatap Rey. Ia meminta agar suaminya cepat melangkah atau mengejarnya.


Mereka berdua terus asik bermain air seperti anak kecil. Tidak menghiraukan bagaimana tatapan orang menilai mereka yang terus kejar-kejaran. Benar-benar seperti sepasang manusia yang saling mencintai, bermesraan tanpa memikirkan orang sekitar.


Benar kata orang, jika orang sedang jatuh cinta makan dunia akan terasa milik berdua. Sedangkan yang lainnya hanya ngontrak.


Setelah lelah bermain air. Kini Qai dan Rey duduk di atas hamoaran pasir sambil menikmati matahari yang akan terbenam.


Mata Qai melihat sekeliling. Keramaian orang yang tengah menikmati suasana saat ini. Namun mata Qai justru terpesona dengan sepasang suami istri yang tengah bermain dengan anaknya. Anak yang kisaran berusia dua tahunan yang tengah duduk di pundak ayahnya.


Qai tersenyum melihat bagaimana senangnya sang anak saat ayahnya lari dan ibunya mengejar mereka. Spontan tangan Qai menyentuh perutnya. Mengusap beberapa kali dengan keinginan yang ia ucap dalam hati.


Qai menatap ke samping. Melihat Rey yang sedang menulis namanya dan nama Rey di atas pasir. Qai jelas tersenyum melihat Rey yang sepertinya hanya fokus pada tulisannya.


Deg...


Mata qai jelas terkejut. Detak jantung seolah bekerja dengan cepat. Saat tangan Rey menggambar bentuh love, mengurung kedua nama. Lalu detik berikutnya Rey menghapus gambarasnnya sendiri. spontan Qai membuang muka saat Rey melihat kearahnya.


"Kamu lihat apa sih? Sejak tadi kok kayanya lihat kesana terus?" Tanya Rey penasaran.


"Mereka mesra sekali kak." Ucap Qai asal sambil menunjuk sepasang orang tua yang duduk berdampingan.


"Aku juga ingin seperti mereka Qai. Membesarkan anak-anak kita, melihat mereka tumbuh dan kita bersama sampai tua. Sampai menimang cucu kita nanti." Ucap Rey enteng. Karena memang itu yang ada didalam pikirannya sekarang. "Sudah mau magrib. Ayo kita kembali ke hotel." Ajak Rey yang langsung menarik tangan Qai.


Qai mengikuti langkah kaki Rey. matanya menatap genggaman erat tangan Rey pada tangannya. "Apa kakak sudah benar-benar mencintai aku. Apa semuanya akan baik-baik saja jika aku ceritakan soal mbak intan?" Ucap Qai dalam hati.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2