
Motor Rey sudah berhenti didepan sekolahan SMA. Qai langsung turun dari atas motor. Pagi ini sangat cerah membuat Qai dan Rey sama-sama semangat untuk aktifitas hari ini.
"Qai nanti pulang kamu pesan ojek online berani kan?" tanya Rey.
"Kakak ngejek aku ya?" todong Qai.
"Bukan gitu Qai. Hanya saja aku khawatir kalau kamu diperjalanan nggak sama aku."
Qai tersenyum. "Aku sudah biasa kemana-mana naik ojek kak saat kuliah."
"Ya sudah cepat masuk sana, aku juga harus berangkat kerja."
Qai langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rey.
"Aku maunya pelukan sebelum pergi kerja Qai."
"Mana mungkin kita pelukan didepan sekolahan kak."
Tanpa diduga oleh Qai, Rei langsung menarik tangannya dan langsung memeluknya begitu saja.
"Kakak, banyak anak sekolah" kesal Qai. Walau pelukan hanya sebentar, tapi tetap saja mereka menjadi bahan tontonan beberapa siswa yang baru datang.
"Aku berangkat." Ucap Rey sambil mencolek dagu Qai.
"Hati-hati kak."
"Siap bos."
.
.
.
Rey mengendarai motornya lebih cepat saat jalanan terlihat renggang. Benar-benar efek kebablasan membuatnya jadi kesiangan bangun.
Setelah memarkirkan motornya, Rey dengan cepat melepas pelindung kepalanya. Melepaskan jaketnya dan menyimpannya di jok motor. Tak lupa juga ia merapihkan pakaiannya lagi.
Setelah yakin penampilannya Rapih, Rey langsung melangkah memasuki gedung perkantoran yang menjulang tinggi.
Rey langsung menuju lift agar segera sampai pada lantai 4. Sesampainya disana ia langsung absen kehadiran sebelum memasuki kantornya.
"Baru kali ini seorang Rayhan Abraham paling terakhir datangnya" celetuk Mansur, teman sekantornya.
"Sekarang kan sudah ada istri, pasti kesiangan deh tu kebanyakan main." Tambah Rahmat, tak kalah julid.
"Pagi-pagi jangan ghibah woy." Ucap Rey sambil menendang kaki Rahmat. Tapi sayangnya tidak tepat sasaran.
"Berapa ronde semalem?" tanya Mansur saat melihat Rey menguap.
"Emang enak sih wedang ronde." Ucap Rey asal. Malas meladeni keusilan teman-temanya.
"Pasti begadang terus ini. Lihat itu matanya sudah kaya panda." Tambah Rahmat mencoba melancarkan ejekannya.
'Wajarlah, namanya juga pengantin baru." Ucap Mansur.
"Kerja woy kerja." Ucap Rey yang sudah menghidupkan komputer didepannya.
.
.
.
__ADS_1
Setelah semua urusan Qai selesai, ia langsung berjalan keluar menuju gerbang utama. Berjalan sambil memainkan ponselnya, memesan ojek online disebuah aplikasi.
Tak lama kemudian ojek yang ia pesan telah sampai. Tak butuh waktu lama ojek langsung membawa Qai pulang menuju rumah yang ia tinggali kini.
Setelah sampai didepan rumahnya, Qai langsung membayar tarif ojeknya.
"Mbak kembaliannya empat ribu" ucap bapak ojek sambil mengulurkan uang pecahan dua ribuan.
"Buat bapak beli minum saja pak." Ucap Qai.
"Terimakasih ya mbak."
"Sama-sama."
Qai langsung menutup gerbangnya kembali. Begitu memasuki rumah, Qai langsung berganti baju. Setelah itu ia langsung menuju dapur dan langsung membuka pintu kulkas.
"Masak apa ya?" gumam Qai sambil melihat isi kulkas.
Karena merasa haus, Qai langsung meneguk air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang.
...***...
Semua hasil masakannya sudah tertata rapi diatas meja makan. Kemudian Qai langsung mencuci semua barang yang kotor. Setelah itu ia langsung membersihkan seluruh rumah. Kemudian menjemur baju yang ia cuci saat bersamaan dengan masak tadi.
Setelah membersihkan diri dan menggunakan dress lengan pendek, dengan rambut yang masih lembab ia biarkan terurai. Qai melihat jam yang ada didalam kamarnya, pukul 16.40 WIB. Karena semua pekerjaan sudah selesai, Qai langsung menuju teras depan rumahnya.
"Mbak Qai, ayo ikut gabung sama yang lain disana." Ajak bu Romlah saat melihat Qai duduk sendirian.
"Iya bu." Qai langsung beranjak dan langsung menggunakan alas kakinya. Kemudian langsung mengikuti bu Romlah yang ikut bergabung bersama ibu-ibu yang lain disana.
"Wah pengantin baru akhirnya nongkrong juga" ucap ibu Ida.
Jelas Qai hanya tersenyum malu sambil ikut duduk didekat bu Romlah.
"Iya kelihatan Seger." Tambah bu Tri.
"Jadi pengen jadi pengantin baru lagi." Celetuk bu ida.
"Ya sudah nikah lagi saja bu." Ucap bu Romlah.
"Terus pak Amir mau tak tarok dimana bu?" tanya bu Ida.
"Di karungin bu." Jawab bu Tri.
Qai hanya tersenyum mendengarkan obrolan ibu-ibu yang jelas melantur. Membuatnya heran sendiri.
"Mbak Qia umur berapa mbak, masih kelihatan muda banget soalnya." Tanya bu Tri.
"21 Tahun bu." Jawab Qai.
"Tua satu tahun sama anak ku to mbak." Ucap bu Susi.
"Pantes mas Rayhan mau tak jadikan mantu nggak mau." Ucap bu Ida.
"Lah wong calonnya cantik begini." Tambah bu Ida.
"Makannya ibu-ibu jangan terlalu berharap." Ucap bu Romlah.
"Iya, Bikin sakit hati. Gagal mantu bujang tampan."
Akhirnya, mereka mengobrol dengan banyak topik pembicaraan. Membuat Qai hanya menyimak saja pembicaraan para perempuan yang sudah senior ini. Ibu-ibu yang sudah seusia ibunya Qai sendiri.
"Bu saya pulang duluan ya." ucap Qai saat melihat Rey pulang.
__ADS_1
"Sudah rindu ya sama suaminya." Goda bu Ida. Sedang Qai hanya tersipu malu.
"Pengantin baru memang beda ya bu auranya." Ucap bu Tri.
Qai sedikit berlari menuju rumahnya. Ia langsung menutup gerbang saat Rey sedang memarkirkan motornya.
"Kak aku tadi ikut duduk bareng ibu-ibu disana." Ucap Qai memberi tahu.
"Sip" Rey mengacungkan dua jempolnya. "Gabung saja sama ibu-ibu disini, orangnya baik-baik kok." Ucap Rey sambil mengikuti Qai masuk kedalam rumah.
"Qai."
"Iya kak." Jawab Qai. Ia langsung balik badan menatap Rey.
"Sini." Ucap Rey sambil merentangkan kedua tangannya. Qai yang paham langsung menghambur ke pelukan Rey. "Kamu pake sampo apa, kok wangi sih."
"Ya sampo yang ada dikamar mandi lah kak." Jawab Qai heran.
"Kok bisa wangi gini." Ucap Rey sambil terus menciumi rambut Qai yang panjang.
"Setiap mau berangkat dan pulang kerja, kita harus pelukan dulu Qai." Ucap Rey sambil merenggangkan pelukannya.
"Padahal aku mau yang lain kak."
"Yang seperti apa?"
"Aku maunya ciuman." Jawab Qai tanpa malu-malu lagi. Sepertinya ia sudah mulai mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya setelah menyandang status istri.
Rey langsung tersenyum sambil membalas tatapan mata Qai.
"Senyumnya manis banget." Batin Qai. Kemudian ia menunduk memutuskan tatapan mereka.
"Kalau begitu ayo kita mulai dari sekarang." ucap Rey sambil menarik pinggang Qai agar tubuh mereka saling merapat.
Qai langsung memejamkan mata saat Rey memajukan wajahnya. Tanpa ia duga ciuman mereka berlangsung lembut dan sangat menyentuh hati keduanya.
Qai langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Rey agar cecapan mereka semakin dalam.
Rey langsung meletakkan tas gendongnya secara asal, tergeletak di lantai. Lalu melepas jaketnya, dan melemparnya secara asal tanpa melepas pagutan yang membakar jiwa.
Rey langsung mengangkat tubuh Qai dan langsung menuju kamar mereka. Merebahkan tubuh Qai perlahan lalu menindihnya.
Qai yang sudah sesak nafas langsung memukul punggung Rey cukup keras. Nafasnya langsung tersengal, engap-engapan saat Rey sudah melepaskannya.
"Maksud aku tadi bukan ciuman lama kak, tapi cium sekilas." Ucap Qai dengan nafasnya yang masih cepat membuat dadanya naik turun.
"Kalau hanya sekilas itu artinya kecupan Qai. Tapi kamu bilang tadi ciuman."
"Berarti aku salah kak. Kita pake yang kecupan."
Rey tersenyum lalu mengunci Qai dengan kedua tangannya. "Kita sudah sepakat dengan ciuman seperti mau mu tadi Qai." Ucap Rey berbisik kemudian mencium daun telinga Qai.
"Ayo kita mandi bersama" ajak Rey sambil menurunkan resleting dress Qai yang ada di bagian depan.
"Tapi aku sudah mandi kak."
"Aku kan kemarin sudah bilang akan mengajak mu mandi bersama, bukankah kamu penasaran?" tanya Rey dengan wajah yang sudah berbeda.
Bersambung...
Pengantin baru kenapa suka meresahkan kepala gini sih 😭😭😭
Aku gak tahu ya bab ini bakal lulus review jam berapa🙏 aku sudah stor bab dari jam 3 pagi.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️