
Sejak tadi Rey terus saja menatap langit-langit kamar mereka. Entah berapa kali Rey mengganti posisi tidurnya. Seperti tidak merasakan kenyamanan. Padahal saat ini sudah tengah malam tapi entah kenapa matanya sangat sulit untuk ia ajak lelap.
Pernikahan Rey dan Qai kini sudah lima bulan lamanya. Tidak terasa waktu yang mereka jalani bersama. Meninggalkan banyak kenangan manis yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Entah mau sampai kapan mereka saling memendam rasa. Tapi cara dan sikap keduanya sepertinya sudah tidak dapat diragukan lagi bahwa cinta memang sudah hadir di hati mereka. Mungkin hanya perlu waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan. Untuk saling menguak rasa yang ingin mereka ungkap.
"Kakak kenapa?" Tanya Qai yang baru saja terjaga akibat pergerakan Rey. Ia langsung bangun sambil mengucek-ucek kedua matanya agar bisa terbuka lebar. "Nggak bisa tidur ya?"
"Iya. Maaf ya aku jadi mengganggu mu."
"Kenapa kakak nggak bisa tidur. Ada masalah di kantor?" Tanya Qai sambil mencepol rambut panjangnya.
"Nggak ada. Kerjaan lancar kok."
Qai mengangguk. "Lalu kenapa kakak nggak bisa tidur. Ada yang dimau?"
Rey langsung mengangguk. "'Aku ingin makan mie rebus. Tapi kamu yang masakin."
"Kenapa nggak bangunin sejak tadi." Qai langsung turun dari atas ranjang. "Jangan ditahan kalau lapar kak, aku nggak mau kakak sakit."
Rey ikut turun dari atas ranjang. Mengikuti langkah Qai keluar dari kamar mereka dan langsung menuju dapur.
"Padahal hanya mie aku bisa buat sendiri. Maaf ya jadi bangunin kamu Qai."
"Aku malah senang kalau kakak meminta ku yang membuat. Itu artinya kakak suka dengan apapun yang aku masak. Walau kenyataan kalau mie instan saja akan sama rasanya, siapapun yang memasak."
Qai langsung mengisi panci kecil dengan air. Ia langsung menghidupkan kompor agar air cepat mendidih. Qai langsung mengambil mie. Qai menatap heran saat Rey memasukkan beberapa cabe kedalam panci.
"Kakak serius mau makan mie pake cabe sebanyak itu?" Tanya Qai sangat-sangat heran. Karna setahu Qai, Rey jarang makan makanan pedas. Biasanya pun saat mereka memakan mie rebus pun Qai tidak pernah memberi cabe pada mie milik Rey.
"Serius. Aku tuh pengen banget Qai. Sudah cepat masukkan mie nya. Airnya sudah mendidih tuh."
Kini Qai hanya bisa bertopang dagu menatap Rey yang tengah menikmati semangkuk mie instannya. Jelas saja Qai masih menatapheran Rey yang ada didepannya.
"Kamu nggak mau beneran yang?"
Qai menggelengkan kepalanya. "Aku masih heran kakak makan mie pake cabe. Kakak nggak lagi kesurupan setan cabe kan?"
Uhuk... uhuk...
Mendengar pertanyaan Qai barusan membuat Rey yang sedang melahap mie instan jadi tersedak. Qai langsung berdiri mengambil segelas air minum.
"Minum kak." Ucap Qai. Ia langsung menepuk punggung Rey agar batuknya berkurang. "Aku nggak minta jadi makannya pelan-pelan saja."
"Bukan masalah itu. Kamu yang mengira aku kemasukan setan cabe bikin orang tersedak."
Qai kembali duduk karena Rey sudah tidak batuk lagi. "Lagian kakak bikin aku heran sih. Masak mie pake di tambah cabe. Ini kan langka kak. Jadi aku takut kakak ke sambet atau kesurupan setan."
__ADS_1
.
.
.
Sudah memiliki pekerjaan tetap. Gaji yang lebih dari cukup, apa lagi saat target penjualan. Sudah berapa banyak komisi yang pasti Rey terima. Siapapun pasti akan sangat bersyukur mempunyai pekerjaan yang sangat bagus.
Rumah sudah ia lunasi, sekarang rencana Rey ingin bisa membelikan Qai kendaraan yang nyaman jika mereka bepergian. Agar tidak kepanasan atau pun kehujanan.
Rey terdiam menatap layar komputernya. Pikirannya tiba-tiba melayang entah kemana.
"Apa aku harus buat usaha kecil-kecilan ya? nanti kalau kami sudah punya anak, kebutuhan otomatis bertambah. Iya kalau aku bisa tetap bertahan disini. Kalau nggak bagaimana?" Batin Rey termenung.
Plak...
Lengan Rey di tepuk Rahmat pelan. Membuat sederet lamunannya bubar barisan. "Istirahat cuy." Ucap Rahmat.
"Oh..." Spontan mata Rey melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. "Istirahat ya."
"Iya. Lagi mikir apa sih dari tadi." Ucap Mansur.
"Bisnis yuk cuy." Ucap Rey tiba-tiba.
.
.
.
Lampu-lampu yang ada disetiap jalanan kota menjadi pemandangan indah bagi semua orang yang sedang berkendara.
"Mau kemana lagi?" Tanya Rey setelah membayar bakso bakar, permintaan Qai.
"Beli jus alpukat oreo yuk kak."
Setelah membeli apa yang dimau Qai akhirnya mereka langsung meluncur untuk segera pulang kerumah.
"Gerimis Qai." Teriak Rey.
"Terjang kak."
Rey mulai menaikkan kecepatan laju motornya. Berharap segera sampai kerumah sebelum hujan deras.
Brus...
Seketika air hujan turun dengan sangat deras secara tiba-tiba. Sudah tidak ada pilihan lain selain meneduh. Karna jika tetap Rey lanjutkan perjalanan. Hanya akan membuat mereka kehujanan dan basah kuyup, bahaya kalau mereka berdua sakit bersama-sama.
__ADS_1
Motor Rey belok kesebuah ruko yang nampak tutup. Mereka langsung turu dari atas motor. Bukannya sedih karena kehujanan, sedangkan baju mereka yang basah. Kini keduanya malah tertawa lepas.
"Ingat sesuatu?" Celetuk Rey.
"Jangan dibahas kak." Ucap Qai sambil menyuapkan bakso bakar pada mulut Rey.
"Sepertinya ide pertamamu perlu dicoba Qai."
"Ya kali di kota nemu semak-semak kak." Qai jadi tertawa sendiri.
"Apa salahnya kan kita cari di google, semak-semak terdekat."
"Hahaha… nyeleneh lama-lama kakak ini."
"Maaf ya aku belum bisa belikan kamu kendaraan yang nyaman."
"Apaan sih kak. Kita sudah ada motor legend yang membawa kita kemana-mana. Kehujanan seperti ini malah akan menambah keseruan perjalanan kita kak." Ucap Qai. Tangannya terulur memainkan air hujan yang terus jatuh dan nampak enggan untuk berhenti secepatnya. Dengan kejahilannya, Qai menyiratkan air hujan kearah Rey.
"Wah ngajak berantem ini." Rey juga tak tinggal diam membalas apa yang baru saja di lakukan Qai padanya.
Keduanya lebih terlihat seperti anak kecil yang tengah bahagia karena di bolehkan bermain hujan-hujanan.
Cukup lama mereka menunggu hujan mereda. Mereka langsung pulang menerobos hujan, karena air hujan sudah jatuh rintik-rintik.
Setelah membersihkan diri, Qai langsung membuat teh hangat untuk mereka berdua.
"Teh kak." Ucap Qai saat melihat Rey keluar dari kamar mandi. "Biar hangat tubuhnya." Tambah Qai setelah menyesap teh hangat miliknya.
Rey langsung menggunakan pakaian yang sudah disiapkan Qai. Kemudian ia ikut menyesap the buatan Qai.
"Kurang hangat ini mah Qai." Ucap Rey setelah menyesap teh.
"Masak sih?" Qai yang penasaran langsung menyentuh gelas Rey. "Masih dominan panasnya gini kok." Gumam Qai. "Mau aku buatkan yang baru kak?" Tawar Qai.
Rey menggelengkan kepalanya. "Ada cara yang lebih ampuh agar kita merasa hangat Qai."
Qai menatap serius Rey karena rasa penasarannya. "Cara seperti apa kak?"
Rey langsung menghampiri Qai dan selanjutnya tubuh Qai terasa melayang karena Rey telah menggendongnya. Pelan-pelan Rey merebahkan tubuh mereka. Membuat Qai dalam penjaranya.
"Caranya seperti ini." Ucap Rey yang langsung mencecap mesra bi*bir Qai. Melancarkan aksi yang membuat Qai penasaran.
Rasanya percuma Rey tadi berganti baju. Karena pada kenyataannya sekarang baju mereka sudah berserakan di lantai. Menghangatkan tubuh dengan cara yang tepat. Versi Reyhan Abraham.
Bersambung...
Kalau versi pasangan kalian bagaimana gaess😂
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️